“Om, Om, bangun! Bangun, Om!”Cempreng dan agak kasar. Apa tidak bisa membangunkan orang dengan cara lembut? Wima tidak peduli dan cuma menggeliat malas. “Ahelah, Om. Ini udah sampe! Kamu tidur apa mati sih, Om?” Hampir saja Wima mendengus di tidurnya mendengar omongan sembarangan gadis itu. Tidak heran Lucas bilang bocah itu merepotkan. Wima tetap bergeming. Selain malas gerak, dia juga ingin tahu apa yang akan gadis itu lakukan. Wima mendengar pintu mobil dibuka, lalu ditutup kembali. Tak lama pintu sebelahnya terbuka. Dia bisa merasakan kehadiran gadis pendek itu. “Gini nih kalau nganterin orang mabok. Repotin,” gerutu Jeevi menatap sebal lelaki berjas itu. “Om, udah sampe apartemen nih. Bangun dong! Saya mau kerja lagi. Nggak cuma ngurusin orang mabok doang.”Lagi-lagi bibir Wima berkedut mendengar Jeevi tampak gusar. Dia merasakan Jeevi mendekat padanya, melepas seatbelt. Lalu sebuah tepukan pelan mendarat di pipinya. “Om, bangun dong. Tidurnya jangan di sini. Ntar dibegal l
Terakhir Diperbarui : 2026-06-25 Baca selengkapnya