180 Hari Sebelum Kau Menghilang

180 Hari Sebelum Kau Menghilang

last updateLast Updated : 2026-10-05
By:  NawasenaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
17views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Nawa Kirana tak pernah menduga bahwa aksi spontannya menolong seorang wanita lansia di tepi jalan akan membawanya pada pernikahan tak terduga. Arvin Raynar, sang cucu, adalah mantan lighting designer terkemuka yang kini mengurung diri di balik kursi roda pascakecelakaan tragis tiga tahun lalu. Kecelakaan itu merenggut fungsi gerak kaki Arvin sekaligus mematahkan karier adiknya, Elian, sebagai pianis konser. ​Didera rasa bersalah yang memunculkan depresi berat, Arvin menolak semua terapi pemulihan dan menetapkan tenggat waktu pribadi: dalam 6 bulan, ia akan menyerahkan seluruh warisannya pada Elian, menandatangani surat cerai untuk Nawa, lalu pergi mengasingkan diri selamanya hingga ajal menjemput. Namun, Nawa yang berprofesi sebagai arsitek lanskap hadir menyusupkan cahaya, tanaman, dan kehidupan ke dalam kehidupan Arvin yang gelap. Saat benih cinta mulai mengikis kebekuan Arvin, Nawa justru menemukan berkas rahasia "Batas 180 Hari" yang disiapkan suaminya. Nawa harus memilih: bertahan memperjuangkan jiwa yang terluka, atau melangkah pergi sebelum hatinya patah lebih dalam.

View More

Chapter 1

Bab 1

Siapa yang menyangka, keputusan sederhana untuk menolong seorang nenek yang kolaps di seberang toko tanaman sore itu justru menjadi pintu masuk Nawa Kirana ke dalam pernikahan paling gila dalam hidupnya?

​Aroma tanah basah sisa hujan gerimis masih menyengat kuat di udara Kota Bandung. Bau khas perpaduan tanah basah dan aroma wangi bunga yang tersapu angin menyeruak indra penciuman di tengah sore yang mulai diselimuti hawa dingin. Nawa Kirana baru saja merapikan lembaran kertas sketsa lanskapnya ke dalam tas kain, menepuk-nepuk sisa air di permukaan kanvas, ketika netranya secara tidak sengaja menangkap sosok wanita lansia yang berjalan terhuyung di dekat deretan pot mawar toko tanaman.

​Wanita itu memegangi dadanya dengan sebelah tangan yang gemetar hebat. Napasnya memburu kencang, pendek-pendek dan kepayahan, sebelum tubuh ringkih bergaun sebatas lutut berwarna hitam itu meluruh layu, menyandar kaku di sebatang tiang listrik.

​"Astaga! Ibu tidak apa-apa?"

​Nawa berhambur mendekat tanpa membuang waktu. Dengan sigap, jemari lentiknya menahan bahu wanita tua itu sebelum dahinya sempat membentur trotoar semen yang dingin. Nawa segera berlutut di atas lantai basah, merogoh kantong luar tas selempangnya dengan cepat untuk mengeluarkan termos kecil berisi teh hangat dan botol minyak kayu putih.

​"Pelan-pelan, Bu. Tarik napas dari hidung, lalu keluarkan dari mulut perlahan," bisik Nawa lembut, mengatur nada suaranya sehalus mungkin agar tidak menakuti wanita itu.

​Nawa mengoleskan sedikit minyak kayu putih di pelipis sang nenek, lalu menggosok kedua telapak tangannya sendiri hingga terasa panas sebelum menempelkannya di area dada wanita tersebut.

​Wanita tua itu terbatuk pelan, memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik hingga ketegangan di dadanya perlahan mereda. Saat kelopaknya terbuka kembali, sepasang mata senjanya yang digenangi air mata menatap Nawa dengan binar kelegaan.

​"Terima kasih, Nak. Kepala Nenek mendadak pusing sekali," ucap wanita itu dengan suara parau dan lemah. Tangannya yang keriput menggenggam erat pergelangan tangan Nawa. "Nama Nenek Halimah."

​"Saya Nawa, Nek," balas Nawa penuh empati sambil mengulas senyum teduh. "Rumah Nenek di mana? Saya panggilkan taksi atau hubungi keluarga Nenek, ya?"

​Nenek Halimah menggeleng pelan, mengulas senyum tipis yang sarat akan kepedihan mendalam. "Sopir Nenek ada di seberang jalan, Nawa. Tapi, maukah Nawa menemani Nenek sebentar saja minum teh di rumah? Nenek cuma mau mengucapkan terima kasih karena sudah ditolong. Entah apa jadinya kalau sampai Nawa tidak ada tadi."

​Ada ketulusan yang amat jujur sekaligus rasa sepi yang tak mampu disembunyikan dari nada bicara Nenek Halimah. Nawa—seorang arsitek lanskap berusia dua puluh empat tahun yang tidak pernah bisa berpaling dari seseorang yang membutuhkan pertolongan—akhirnya mengangguk pelan.

Nawa memapah Nenek Halimah menuju mobil, kemudian ikut duduk di sampingnya.

​Mobil hitam berukuran besar itu meluncur tenang membelah jalanan kota yang sejuk, hingga akhirnya berhenti di depan gerbang besi tinggi berukir rumit di kawasan hunian elite Bandung. Begitu roda kendaraan melintasi pekarangan, Nawa disambut oleh pemandangan rumah sangat megah bernuansa kolonial.

​Namun, di balik arsitektur mewah yang mengagumkan itu, rumah tersebut diselimuti keheningan yang tak lazim. Tidak ada gelak tawa, tidak ada musik yang mengalun merdu, dan tidak ada keceriaan yang terasa. Hanya gemerisik daun cemara yang diterpa angin sore.

​"Mari masuk, Nawa," ajak Nenek Halimah seraya melangkah dan disambut oleh seorang pelayan yang memapahnya berjalan ke dalam.

​Nawa mengikuti langkah Nenek Halimah menelusuri teras marmer yang dingin. Namun, langkah kaki Nawa mendadak terhenti di tengah jalan saat matanya secara tidak sengaja menengadah ke lantai dua paviliun barat rumah tersebut.

​Di balik jendela kaca besar yang tirai tebalnya tersingkap beberapa senti, tampak siluet seorang pria.

​Pria itu terduduk di atas kursi roda hitam berdesain modern. Tubuhnya tinggi tegap, tetapi kepalanya terkulai agak menyamping dengan rambut agak panjang yang berantakan. Ia sedang menatap kosong ke arah pohon cemara yang meranggas di sudut pekarangan. Wajahnya pucat pasi ditimpa bayang-bayang temaram. Sorot mata hazel gelap miliknya—kosong, hampa, dan tanpa riak kehidupan.

​Deg.

​Jantung Nawa berdesir hebat. Seluruh persendian tubuhnya mendadak kaku dan mematung.

​Empat tahun lalu, di sebuah kamar beraroma kapur barus yang dingin, Nawa pernah melihat raut wajah yang persis sama. Adiknya, Raka, duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan kosong menyapu dinding kamar—tatapan mati rasa dari seseorang yang sudah melepaskan seluruh genggamannya pada dunia, tepat tiga hari sebelum Raka ditemukan tak bernyawa akibat mengakhiri hidupnya sendiri.

​"Nawa, ada apa?" tanya Nenek Halimah dengan suara memecah lamunan pendek yang menyakitkan Nawa. Wanita tua itu rupanya menyadari arah pandangan Nawa.

​Nawa menyapu sudut matanya yang mendadak memanas. "Pria di atas sana siapa, Nek?"

​Nenek Halimah menghela napas panjang. Udara dingin yang keluar dari mulutnya terasa teramat berat. "Dia Arvin. Cucu sulung Nenek."

​Nenek Halimah mengajak Nawa duduk di bangku kayu teras, membiarkan angin sore berembus membelai wajah mereka. Dengan suara bergetar dan tatapan layu, wanita tua itu mulai membagikan luka tersembunyi keluarganya.

​"Tiga tahun lalu, sebuah kecelakaan tragis merenggut fungsi gerak kedua kakinya," lirih Nenek Halimah. "Arvin dulu seorang perancang cahaya yang sangat hebat dan jenius, Nawa. Tapi sejak malam itu dia mematikan seluruh lampu di hidupnya. Ditambah lagi, mantan tunangannya memutuskan hubungan dan pergi begitu tahu Arvin tak bisa berjalan lagi."

​Nawa meremas ujung outer cokelatnya hingga buku-buku jarinya memutih dan matanya memerah. "Dia tidak pernah keluar kamar, Nek?"

​"Tidak pernah," jawab Nenek Halimah dengan nada keputusasaan yang memilukan. "Dia menolak fisioterapi, mengusir semua dokter, dan membuang semua obat-obatan. Nenek sudah kehabisan cara, Nawa. Nenek takut. Setiap kali Nenek membuka pintu kamarnya di pagi hari, Nenek hanya takut akan menemukan jasad cucu Nenek sudah tidak bernyawa."

​Air mata Nenek Halimah akhirnya menetes membasahi kerutan di pipinya. Wanita tua itu memutar tubuhnya, meraih telapak tangan Nawa, lalu menggenggamnya rapat-rapat dalam kepasrahan.

​"Nenek tahu ini terdengar gila dan sama sekali tidak masuk akal untuk wanita muda sepertimu," ucap Nenek Halimah penuh kepasrahan. "Tapi sore ini, saat Nenek melihat caramu menolong Nenek. Melihat kehangatan di matamu. Nenek seperti melihat satu-satunya harapan yang tersisa. Maukah kamu menikah dengan Arvin?"

​Kata-kata itu berputar-putar di kepala Nawa bagai dentang lonceng yang bergema keras. Pernikahan? Menikahi pria asing yang lumpuh dan depresi?

​Logika dan akal sehat Nawa menjerit untuk menolak. Namun, bayangan wajah Raka yang memucat di atas bangsal rumah sakit kembali menghantam dadanya dengan rasa bersalah yang teramat sangat. Dulu, Nawa terlambat menyadari jeritan sunyi adiknya. Nawa gagal menyelamatkan Raka dari ketiadaan.

​Nawa perlahan mendongak, kembali menatap jendela lantai dua paviliun barat. Pria bernama Arvin itu masih di sana, membeku bagai patung batu yang terlupakan zaman.

​"Saya tidak butuh harta atau imbalan apa pun, Nek," tutur Nawa dengan suara tegas. Ia mengusap jemari Nenek Halimah lembut. "Jika kehadiran saya bisa menahannya untuk tidak menyerah pada hidup saya mau. Saya bersedia menikah dengannya."

​Nenek Halimah membeliak sesaat, kemudian memeluk Nawa dengan derai air mata lega yang tak terbendung.

​Namun, tepat di detik Nawa mengucap kesediaannya, sosok pria di balik jendela lantai dua itu mendadak menggerakkan jemarinya di atas ban kursi roda.

​Arvin memutar kursi roda secara perlahan hingga posisinya kini menghadap lurus ke bawah—menatap tepat ke arah tempat Nawa dan Neneknya saling berpelukan.

​Dari jarak belasan meter, Nawa bisa merasakan dinginnya sorot mata hazel itu menusuk matanya secara langsung. Tidak ada rasa bersyukur di sana, melainkan pijar kemarahan dan penolakan yang begitu pekat.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status