Masuk“Apa semua orang kaya begitu? Menikahi orang yang sama-sama kaya, tapi tetep mau memiliki pacar miskinnya? Serakah banget jadi orang kaya.” “Nggak semuanya saya rasa.” “Yakin Om juga nggak begitu? Om pasti punya istri dan pacar sekaligus kan?” “Saya nggak punya dua-duanya.” ========== Di tengah tuntutan keluarga untuk segera menikah, serta patah hati lantaran wanita incarannya malah menikah dengan pria lain, Wima Sagara tanpa sengaja bertemu dengan Jeevi Alesandra di bar milik sahabatnya. Di sanalah Wima mengenal Jeevi, wanita yang suka bertingkah ajaib dan mata duitan. Yang tidak Wima duga, ternyata Jeevi pacar dari Satya—keponakannya yang akan bertunangan dengan wanita lain. “Menikahlah dengan saya. Kamu bisa memanfaatkan kekuasaan saya untuk balas dendam pada Satya.”
Lihat lebih banyakKepala Wima nyaris meledak saat menginjakkan kaki di salah satu bar milik temannya. Dia mengendurkan dasi dan menyeret langkah ke meja bar. Dengan napas berat, pria itu memesan minuman sebelum beranjak duduk di stool.
Bartender bernama Lucas—sekaligus pemilik bar—segera menyajikan minuman yang Wima pesan. “Ada masalah?” tanya Lucas melihat wajah kecut temannya itu. “Saham anjlok? Investasi gagal? atau tekanan dari nyokap Lo lagi?” Wima menarik napas berat. Pria yang senantiasa terlihat rapi itu tampak kacau. Daripada gagal investasi ini jauh lebih buruk. Dia memijat kepalanya yang berdenyut. “Lebih dari itu.” “Berat banget dong.” Di saat yang sama seorang gadis dengan baju khas karyawan bar ini datang sambil pasang wajah merah padam. Tanpa permisi gadis itu mengambil minuman yang Lucas sajikan dan menenggaknya langsung. Mata Lucas kontan terbelalak melihat tingkah salah satu karyawannya itu. Sementara Wima yang duduk di atas bar stool melihat gadis itu dengan alis naik sebelah. “Jeevi?!” teriak Lucas tertahan dengan mata mendelik. “Apa yang lo lakuin?!” “Ya ampun, iya, iya, potong dari gaji gue deh. Gue lagi kesel banget soalnya.” “Bukan soal gaji, tapi itu minuman pelanggan. Lo nggak sopan main nyerobot seenaknya.” Alis bartender itu menukik tajam. Seakan baru sadar, gadis yang dipanggil Jeevi itu melirik horor pria yang duduk anteng di atas stool. Sumpah! Tadi lelaki itu nggak ada di sana. Gimana bentukannya tiba-tiba udah jogrog di situ? “Sori, Om—eh, Pak! Sori, sori. Saya bakal ganti minuman Bapak.” Gadis itu panik seketika melihat muka datar pria itu. “Kulkas, bikinin lagi gih!” perintahnya pada Lucas. “Heh, bocah!” Lucas nyaris saja melempar Jeevi dengan botol shaker kalau tidak ingat di sini masih ada Wima. Jeevi menyilangkan lengannya, menutupi kepala. “Ampun, Om. Eh, jadi om-om jangan emosian dong. Ntar cepet tua.” Bartender berambut two block itu menggeram, tanduknya perlahan keluar. “Jee—viiii….” Gadis yang dipanggil Jeevi itu mengerjap-ngerjap. Matanya melingkar bulat melihat tampang bartender sekaligus bosnya itu berubah menyeramkan. Secepat kilat dia mengambil nampan yang ada di meja bar. “Iya, iya, gue kerja lagi,” ujarnya panik sebelum lari terbirit-birit meninggalkan meja bar. Lucas kontan menarik napas panjang beberapa kali, guna meredakan emosi akibat kelakuan anak buahnya itu. “Sori, Wim. Jadi terdistraksi sama bocah itu.” Wima melirik gadis yang Lucas sebut bocah. Pemilik tulang hidung tinggi itu lantas menatap Lucas. “Anak magang?” “Ya begitulah.” “Lo bakal rugi kalau pelihara bawahan seperti dia.” Dengan kesadaran penuh Lucas mengangguk. “Tapi dia ponakan gue. Ponakan jauh sih.” Bahunya kontan meluruh. “Kalau nggak karena ibunya, udah gue tendang tuh bocah dari lama. Repotin, tapi kasihan juga kalau nggak dibantu.” Sudut bibir Wima berkedut. Dia memutar kepala ke bahu dan melihat gadis itu sedang membersihkan meja sambil nyanyi-nyanyi. Dengan cekatan gadis itu juga membawa gelas dan piring kotor. Ternyata ada sisi positifnya juga. “Balik ke Lo. Jadi apa yang bikin Lo muram durja?” tanya Lucas kembali ke topik. Dengan terpaksa pria berkulit pucat itu membuat minuman Wima lagi. “Kalla akhirnya nikah sama duda satu anak itu.” Jawaban itu membuat bartender di hadapan Wima melotot. Pasalnya dia tahu cerita tentang si gebetan bujang matang ini. “Serius?” Wima cuma mengangguk. Tangannya menyambar gelas kecil yang Lucas dorong, lantas menandaskan isinya dalam satu kali tegukan. Wajahnya meringis meningkahi sensasi asam manis yang melewati tenggorokannya. “Mungkin ini saatnya Lo move on, Wim. Penantian Lo nggak ada artinya sama sekali. Parah sih nih cewek.” Pentolan Sagara Grup itu menggeleng. Tidak menyalahkan wanita itu. “Gue yang salah karena masih ngotot nunggu. Jelas-jelas dia nggak cinta gue, dan cuma anggap gue … kakak.” Wima tersenyum miris. Menertawakan nasibnya sendiri. Di usianya yang sudah kepala empat, dirinya masih saja kena masalah patah hati. Orang-orang seusianya sudah sibuk mengurus anak-anak mereka yang sudah beranjak remaja. Sementara dirinya masih saja terjebak di cinta tak terbalas. Susah sekali dirinya membuka hati, giliran terbuka, malah patah kian parah. “Lo sama sekali nggak tertarik sama perempuan yang nyokap Lo pilih itu?” “Leona?” “Ah, dia. Dia cantik juga. Masih muda lagi. Dia bisa—” Wima mengangkat tangan. Lalu menggeleng. “Dia sudah nyerah. Sama seperti perempuan lainnya, yang datang dan pergi begitu saja. Lagi pula…dia cuma butuh suntikan modal dari nyokap gue.” Dia menandaskan lagi satu gelas alkohol. Lucas hanya memberinya sampai gelas ketiga. Ketika Wima meminta lagi, pria pucat itu menolak. “Lo datang nggak sama Rafli. Nggak ada yang jagain Lo.” “Ada lo.” Kepala Wima sudah seperti melayang. Dia mengerjap-ngerjapkan mata yang mulai tak fokus. “Sori, kerjaan gue banyak. Gue telpon asisten lo.” Lucas baru mau mengambil ponselnya ketika Wima mengibaskan tangan. “Percuma. Dia lagi ke Makassar, gantiin urusan gue di sana.” Wima turun dari stool dengan tubuh yang terasa begitu ringan. Dirinya masih sadar meskipun otaknya sudah mulai dikuasai reaksi alkohol. “Gue balik dulu. Gue masih bisa nyetir kok.” “Tapi, Wim—” Wima cuma mengibaskan tangan. Mengisyaratkan agar Lucas tak perlu cemas padanya. Ini masih bisa Wima atasi sendiri. Dia yang paling tahu kapasitas tubuhnya. Tiga gelas Tequila tidak akan bikin dia kolaps. Pria itu berjalan keluar dari bar. Langkahnya tampak biasa, meskipun sesekali harus berhenti untuk mengibaskan kepalanya. Aneh, padahal hanya tiga gelas kecil, biasanya lebih dari lima gelas juga baik-baik saja. Tangan besar Wima refleks bertopang pada body mobil saat tiba-tiba kepalanya terasa pening. “Makanya kalau udah tua jangan sok-sokan minum. Mana kuncinya?” Wima menoleh ketika tiba-tiba suara kasar seorang perempuan terdengar. Tatapnya melihat gadis dengan rambut kuncir ekor kuda tengah menengadahkan tangan padanya. Sudut bibirnya naik. Ternyata perempuan itu karyawan Lucas yang meneguk minumannya tanpa rasa bersalah. Kalau tidak salah namanya tadi… Jeevi? “Kamu… Mau nyupirin saya?” tanya Wima dengan alis terangkat seolah tidak percaya. Gadis pendek yang bisa diperkirakan masih sekolah itu mau sok-sokan nyetir? Wima yakin SIM saja pasti belum punya. Ditambah jenis mobil yang Wima pakai sekarang bukan jenis mobil yang orang kebanyakan punya. Pria itu terkekeh geli. Bisa-bisanya Lucas mengirim gadis ini padanya. “Kenapa ketawa? Om nggak percaya kalau saya bisa nyetir?” Wajah Jeevi sedikit menekuk. Sebelah tangannya merogoh saku celana jinsnya. Lalu mengeluarkan dompet kecil. Dia memamerkan kartu izin mengemudi pada Wima. “Nih! saya punya SIM!” Bibir Wima berkedut menahan senyum. “Oke. Saya percaya,” katanya mengangguk-ngangguk. Dalam keadaan setengah mabuk dia tidak mau berdebat dengan bocah yang entah dari mana bisa memiliki SIM itu. “Oke, kamu bisa antar saya.” Wima melempar kunci mobilnya—yang segera Jeevi tangkap—sebelum masuk ke bagian pintu penumpang. Dia ingin tahu apa reaksi gadis itu saat memasuki kendaraan pabrikan Inggris kesayangannya itu. Namun tidak ada reaksi apapun. Jeevi masuk, dan duduk dengan santai di balik kemudi tanpa kebingungan. Membuat Wima yang duduk di belakang mengernyitkan kening. Gestur tubuh gadis itu seolah sudah terbiasa memakai mobil mewah. “Om serius duduk di belakang? Saya berbaik hati gini nyupirin malah dijadiin supir beneran.” Wima yang sudah nyaman duduk di kursinya terkekeh. “Saya kasih f*e dua kali lipat dari yang Luke kasih.” Mata Jeevi langsung bersinar. Dia seketika bersemangat. “Wah kalau udah ngomongin dua kali lipat, itu beda cerita. Oke, berangkaaat….!” Wima menggeleng melihat tingkah absurd gadis itu. Lucu, mengingatkannya pada Kalla. Bedanya, Kalla tidak mata duitan. Ah, sial! Wima memejamkan mata. Bisa-bisanya dia kepikiran wanita yang sudah jadi milik orang itu.Matanya terbeliak saat menemukan pria jangkung yang masih saja berpenampilan rapi di tengah malam seperti ini, tepat di dekatnya. “Kamu…”“Ikut saya.”Jeevi terkejut saat tangannya disentak, ditarik menjauh dari unit milik Satya. Apa-apaan?! “Om! Kamu ngikutin saya?!”Di lorong unit yang lengang, Jeevi melepas tangannya dari cengkraman pria yang bahkan namanya saja tidak tahu. “Ibumu sedang sekarat dan kamu malah mendatangi apartemen laki-laki?” Jeevi kembali tersentak. Dia buru-buru lari ke arah lift. Tapi begitu berdiri di depan pintu besi, dia mendadak ragu dan berbalik lagi. Hal itu membuat Wima mengernyit. Ya, Wima-lah yang mengikuti wanita itu setelah tanpa sengaja mendengar obrolan Jeevi di telepon. Dia bisa menebak wanita itu menghubungi ponakannya alias Satya, dan tebakannya tepat. “Kamu mau ke mana?”Di depan pintu lift, wanita itu mendesah pelan. “Kalau saya kembali ke rumah sakit tanpa membawa uang pun percuma, saya tetap tidak bisa menolong mama.”“Kamu cuma perlu d
Waktu seakan berjalan melambat ketika Wima mendengar tawaran itu. Mata tajamnya belum lepas dari wajah putus asa yang terus menunduk di bawah sinar lampu koridor rumah sakit itu. Terdengar gila, tapi Wima tidak menyalahkan. Dia tidak tahu apa yang sudah wanita itu lewati sampai harus menawarkan dirinya seperti itu hanya untuk biaya operasi yang baginya tidak seberapa itu. “Kamu yakin masih perawan?” tanya Wima dengan nada suara yang begitu datar. Sebelah tangannya melesak ke saku celana. Gestur yang sering dia gunakan untuk mengintimidasi lawan bicaranya. “Bukannya kamu baru putus sama pacarmu? Kamu sama dia—” Jeevi menarik napas panjang. Lalu memberanikan diri mengangkat wajah dan bertemu langsung dengan sorot tajam pria jangkung di hadapannya. “Saya memang lama pacaran sama mantan saya. Tapi saya sama dia tidak sampai melakukan hal sejauh itu.” Di depannya, Wima menyipitkan mata. Seolah tidak yakin dengan ucapannya. Jeevi membuang napas. “Begini-begini saya juga punya harga di
Wima akhirnya menemukan gadis itu. Ah, lagi-lagi dia lupa Jeevi bukan gadis, tapi wanita dewasa yang terjebak di tubuh seorang gadis. Wima menemukan wanita itu di taman samping tempat parkir karyawan. Jeevi tengah berjongkok, sambil mencoret-coret tanah, persis anak kecil. Awalnya Wima ingin langsung menegur, tapi saat mendengar isakan kecil, dia mengurungkan niat. Dalam cahaya remang lampu taman, Wima pelan-pelan mendekat. Makin dekat dia bisa melihat bahu Jeevi bergetar. Tangannya baru akan terulur ketika tiba-tiba saja wanita itu menoleh dan—“Harrgg!”Wima terlonjak kaget melihat muka mengenaskan wanita itu. Dia spontan mengusap dada, menenangkan debaran jantungnya. Wajah Jeevi bersimbah air mata. Matanya pun bengkak. Hidungnya merah. Rambutnya yang dicepol berantakan seperti habis diterjang badai. Dia masih terisak ketika berdiri. Dengan kaos yang dipakai, Jeevi mengelap wajah dan ingusnya. Membuat Wima di depannya menatap ngeri. “Kamu oke?” tanya Wima menjaga jarak. Jangan
Malamnya Wima kembali ke bar Lucas. Bukan untuk menggalau lagi seperti kemarin, tapi untuk mengembalikan benda yang ditinggalkan Jeevi di mobilnya. Langkah panjangnya menapaki koridor terbuka bar sebelum sampai di bangunan utama. Namun sebelum masuk, suara tak asing tertangkap telinganya. Kakinya refleks berhenti bergerak. Bahkan posisinya yang sudah maju, kembali berjalan mundur. “Aku pikir itu solusi yang tepat buat hubungan kita.”Sepenggal kalimat keluar dari seorang lelaki. Suara yang tak asing bagi Wima.“Solusi kepalamu!” Dikombinasi suara sentakan wanita yang terdengar begitu kesal. Dan Wima tahu itu suara milik siapa. “Kamu itu udah selingkuh! Malah mau jadiin aku selingkuhan. Otak lo waras?!”“Jangan ber lo-gue ke aku, kita belum putus.”“Kalau gitu gue putusin sekarang. We're done, Satya!”Nah! Baru Wima ingat sekarang. Suara lelaki itu milik keponakannya, si Satya. Eh? Satya?Kening Wima mengernyit. Dia menggeser tubuhnya agar jarak pandangnya sampai—setidaknya sediki


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan