Hello, Husband!

Hello, Husband!

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-08-04
Oleh:  Yuli F. RiyadiBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
3 Peringkat. 3 Ulasan-ulasan
7Bab
44Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

“Apa semua orang kaya begitu? Menikahi orang yang sama-sama kaya, tapi tetep mau memiliki pacar miskinnya? Serakah banget jadi orang kaya.” “Nggak semuanya saya rasa.” “Yakin Om juga nggak begitu? Om pasti punya istri dan pacar sekaligus kan?” “Saya nggak punya dua-duanya.” ========== Di tengah tuntutan keluarga untuk segera menikah, serta patah hati lantaran wanita incarannya malah menikah dengan pria lain, Wima Sagara tanpa sengaja bertemu dengan Jeevi Alesandra di bar milik sahabatnya. Di sanalah Wima mengenal Jeevi, wanita yang suka bertingkah ajaib dan mata duitan. Yang tidak Wima duga, ternyata Jeevi pacar dari Satya—keponakannya yang akan bertunangan dengan wanita lain. “Menikahlah dengan saya. Kamu bisa memanfaatkan kekuasaan saya untuk balas dendam pada Satya.”

Lihat lebih banyak

Bab 1

1. Patah Hati

Kepala Wima nyaris meledak saat menginjakkan kaki di salah satu bar milik temannya. Dia mengendurkan dasi dan menyeret langkah ke meja bar. Dengan napas berat, pria itu memesan minuman sebelum beranjak duduk di stool.

Bartender bernama Lucas—sekaligus pemilik bar—segera menyajikan minuman yang Wima pesan.

“Ada masalah?” tanya Lucas melihat wajah kecut temannya itu. “Saham anjlok? Investasi gagal? atau tekanan dari nyokap Lo lagi?”

Wima menarik napas berat. Pria yang senantiasa terlihat rapi itu tampak kacau. Daripada gagal investasi ini jauh lebih buruk. Dia memijat kepalanya yang berdenyut. “Lebih dari itu.”

“Berat banget dong.”

Di saat yang sama seorang gadis dengan baju khas karyawan bar ini datang sambil pasang wajah merah padam. Tanpa permisi gadis itu mengambil minuman yang Lucas sajikan dan menenggaknya langsung.

Mata Lucas kontan terbelalak melihat tingkah salah satu karyawannya itu. Sementara Wima yang duduk di atas bar stool melihat gadis itu dengan alis naik sebelah.

“Jeevi?!” teriak Lucas tertahan dengan mata mendelik. “Apa yang lo lakuin?!”

“Ya ampun, iya, iya, potong dari gaji gue deh. Gue lagi kesel banget soalnya.”

“Bukan soal gaji, tapi itu minuman pelanggan. Lo nggak sopan main nyerobot seenaknya.” Alis bartender itu menukik tajam.

Seakan baru sadar, gadis yang dipanggil Jeevi itu melirik horor pria yang duduk anteng di atas stool.

Sumpah! Tadi lelaki itu nggak ada di sana. Gimana bentukannya tiba-tiba udah jogrog di situ?

“Sori, Om—eh, Pak! Sori, sori. Saya bakal ganti minuman Bapak.” Gadis itu panik seketika melihat muka datar pria itu. “Kulkas, bikinin lagi gih!” perintahnya pada Lucas.

“Heh, bocah!” Lucas nyaris saja melempar Jeevi dengan botol shaker kalau tidak ingat di sini masih ada Wima.

Jeevi menyilangkan lengannya, menutupi kepala. “Ampun, Om. Eh, jadi om-om jangan emosian dong. Ntar cepet tua.”

Bartender berambut two block itu menggeram, tanduknya perlahan keluar. “Jee—viiii….”

Gadis yang dipanggil Jeevi itu mengerjap-ngerjap. Matanya melingkar bulat melihat tampang bartender sekaligus bosnya itu berubah menyeramkan.

Secepat kilat dia mengambil nampan yang ada di meja bar. “Iya, iya, gue kerja lagi,” ujarnya panik sebelum lari terbirit-birit meninggalkan meja bar.

Lucas kontan menarik napas panjang beberapa kali, guna meredakan emosi akibat kelakuan anak buahnya itu.

“Sori, Wim. Jadi terdistraksi sama bocah itu.”

Wima melirik gadis yang Lucas sebut bocah. Pemilik tulang hidung tinggi itu lantas menatap Lucas. “Anak magang?”

“Ya begitulah.”

“Lo bakal rugi kalau pelihara bawahan seperti dia.”

Dengan kesadaran penuh Lucas mengangguk. “Tapi dia ponakan gue. Ponakan jauh sih.” Bahunya kontan meluruh. “Kalau nggak karena ibunya, udah gue tendang tuh bocah dari lama. Repotin, tapi kasihan juga kalau nggak dibantu.”

Sudut bibir Wima berkedut. Dia memutar kepala ke bahu dan melihat gadis itu sedang membersihkan meja sambil nyanyi-nyanyi. Dengan cekatan gadis itu juga membawa gelas dan piring kotor. Ternyata ada sisi positifnya juga.

“Balik ke Lo. Jadi apa yang bikin Lo muram durja?” tanya Lucas kembali ke topik. Dengan terpaksa pria berkulit pucat itu membuat minuman Wima lagi.

“Kalla akhirnya nikah sama duda satu anak itu.”

Jawaban itu membuat bartender di hadapan Wima melotot. Pasalnya dia tahu cerita tentang si gebetan bujang matang ini.

“Serius?”

Wima cuma mengangguk. Tangannya menyambar gelas kecil yang Lucas dorong, lantas menandaskan isinya dalam satu kali tegukan. Wajahnya meringis meningkahi sensasi asam manis yang melewati tenggorokannya.

“Mungkin ini saatnya Lo move on, Wim. Penantian Lo nggak ada artinya sama sekali. Parah sih nih cewek.”

Pentolan Sagara Grup itu menggeleng. Tidak menyalahkan wanita itu. “Gue yang salah karena masih ngotot nunggu. Jelas-jelas dia nggak cinta gue, dan cuma anggap gue … kakak.” Wima tersenyum miris. Menertawakan nasibnya sendiri.

Di usianya yang sudah kepala empat, dirinya masih saja kena masalah patah hati. Orang-orang seusianya sudah sibuk mengurus anak-anak mereka yang sudah beranjak remaja. Sementara dirinya masih saja terjebak di cinta tak terbalas. Susah sekali dirinya membuka hati, giliran terbuka, malah patah kian parah.

“Lo sama sekali nggak tertarik sama perempuan yang nyokap Lo pilih itu?”

“Leona?”

“Ah, dia. Dia cantik juga. Masih muda lagi. Dia bisa—”

Wima mengangkat tangan. Lalu menggeleng. “Dia sudah nyerah. Sama seperti perempuan lainnya, yang datang dan pergi begitu saja. Lagi pula…dia cuma butuh suntikan modal dari nyokap gue.”

Dia menandaskan lagi satu gelas alkohol. Lucas hanya memberinya sampai gelas ketiga. Ketika Wima meminta lagi, pria pucat itu menolak.

“Lo datang nggak sama Rafli. Nggak ada yang jagain Lo.”

“Ada lo.” Kepala Wima sudah seperti melayang. Dia mengerjap-ngerjapkan mata yang mulai tak fokus.

“Sori, kerjaan gue banyak. Gue telpon asisten lo.” Lucas baru mau mengambil ponselnya ketika Wima mengibaskan tangan.

“Percuma. Dia lagi ke Makassar, gantiin urusan gue di sana.” Wima turun dari stool dengan tubuh yang terasa begitu ringan. Dirinya masih sadar meskipun otaknya sudah mulai dikuasai reaksi alkohol.

“Gue balik dulu. Gue masih bisa nyetir kok.”

“Tapi, Wim—”

Wima cuma mengibaskan tangan. Mengisyaratkan agar Lucas tak perlu cemas padanya. Ini masih bisa Wima atasi sendiri. Dia yang paling tahu kapasitas tubuhnya. Tiga gelas Tequila tidak akan bikin dia kolaps.

Pria itu berjalan keluar dari bar. Langkahnya tampak biasa, meskipun sesekali harus berhenti untuk mengibaskan kepalanya. Aneh, padahal hanya tiga gelas kecil, biasanya lebih dari lima gelas juga baik-baik saja.

Tangan besar Wima refleks bertopang pada body mobil saat tiba-tiba kepalanya terasa pening.

“Makanya kalau udah tua jangan sok-sokan minum. Mana kuncinya?”

Wima menoleh ketika tiba-tiba suara kasar seorang perempuan terdengar. Tatapnya melihat gadis dengan rambut kuncir ekor kuda tengah menengadahkan tangan padanya.

Sudut bibirnya naik. Ternyata perempuan itu karyawan Lucas yang meneguk minumannya tanpa rasa bersalah. Kalau tidak salah namanya tadi… Jeevi?

“Kamu… Mau nyupirin saya?” tanya Wima dengan alis terangkat seolah tidak percaya.

Gadis pendek yang bisa diperkirakan masih sekolah itu mau sok-sokan nyetir? Wima yakin SIM saja pasti belum punya. Ditambah jenis mobil yang Wima pakai sekarang bukan jenis mobil yang orang kebanyakan punya.

Pria itu terkekeh geli. Bisa-bisanya Lucas mengirim gadis ini padanya.

“Kenapa ketawa? Om nggak percaya kalau saya bisa nyetir?” Wajah Jeevi sedikit menekuk. Sebelah tangannya merogoh saku celana jinsnya. Lalu mengeluarkan dompet kecil. Dia memamerkan kartu izin mengemudi pada Wima. “Nih! saya punya SIM!”

Bibir Wima berkedut menahan senyum. “Oke. Saya percaya,” katanya mengangguk-ngangguk.

Dalam keadaan setengah mabuk dia tidak mau berdebat dengan bocah yang entah dari mana bisa memiliki SIM itu.

“Oke, kamu bisa antar saya.” Wima melempar kunci mobilnya—yang segera Jeevi tangkap—sebelum masuk ke bagian pintu penumpang. Dia ingin tahu apa reaksi gadis itu saat memasuki kendaraan pabrikan Inggris kesayangannya itu.

Namun tidak ada reaksi apapun. Jeevi masuk, dan duduk dengan santai di balik kemudi tanpa kebingungan. Membuat Wima yang duduk di belakang mengernyitkan kening. Gestur tubuh gadis itu seolah sudah terbiasa memakai mobil mewah.

“Om serius duduk di belakang? Saya berbaik hati gini nyupirin malah dijadiin supir beneran.”

Wima yang sudah nyaman duduk di kursinya terkekeh. “Saya kasih f*e dua kali lipat dari yang Luke kasih.”

Mata Jeevi langsung bersinar. Dia seketika bersemangat. “Wah kalau udah ngomongin dua kali lipat, itu beda cerita. Oke, berangkaaat….!”

Wima menggeleng melihat tingkah absurd gadis itu. Lucu, mengingatkannya pada Kalla. Bedanya, Kalla tidak mata duitan.

Ah, sial! Wima memejamkan mata. Bisa-bisanya dia kepikiran wanita yang sudah jadi milik orang itu.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Ivana Oktaviana
Ivana Oktaviana
yg dinanti udh datang.. ahh seneng bgt..
2026-08-04 22:33:33
0
0
Anies
Anies
finally.. wohohoho siap kawal sampe akhir cerita baru authot kece.. sukses karya barunya kak yulli
2026-08-04 20:55:26
1
1
Devi Marbun
Devi Marbun
yuhuuu....Bang Wima I'm coming. ......
2026-08-04 19:16:38
1
1
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status