Mag-log in“Pesanan atas nama Pak Megan!”Suara pramusaji itu membuyarkan lamunan Megantara yang menggantung tanpa arah. Lelaki itu yang berdiri bersandar di dekat konter langsung menegakkan tubuhnya, seolah baru saja ditarik kembali ke kenyataan.Ia melangkah mendekat, menerima kantong kertas berisi pesanan dengan satu anggukan kecil. “Terima kasih.”Megantara berjalan meninggalkan restoran tersebut, langkahnya kembali menyusuri lorong rumah sakit yang tampak lengang. Senyap, kontras sekali dengan pikirannya justru semakin berisik.Tentang cara Hagia berbicara.Tentang jarak yang selalu ia jaga.Tentang setiap kalimat yang terasa seperti dorongan halus untuk menjauh.Megantara mengembuskan napas pelan. “Ternyata aku nggak tahu apa-apa tentang kamu, Nad…” gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.Kalimat itu terasa aneh keluar dari mulutnya sendiri. Karena dulu, Megantara pikir ia cukup tahu banyak hal tentang perempuan itu. Atau setidaknya… cukup untuk tidak merasa asing seperti sekarang. N
Ruang rawat itu dipenuhi cahaya temaram dari lampu dinding. Suasana di dalamnya jauh lebih tenang dibandingkan lorong di luar.Hanya ada suara napas pelan Ranu yang kini terlelap di atas ranjang kecilnya. Tangan mungilnya yang di-gips terbaring di atas selimut, sementara wajahnya sudah kembali tenang, seolah kejadian beberapa jam lalu hanya mimpi buruk yang mulai memudar.Megantara duduk di kursi dekat ranjang, tubuhnya sedikit condong kedepan. Tatapannya tak lepas dari Ranu, seakan memastikan bahwa anak itu benar-benar terlelap dengan nyenyak. Jemarinya sesekali bergerak, merapikan selimut, mengusap pelan rambut Ranu yang sedikit berantakan. Sementara di sudut ruangan, Hagia berdiri. Tidak benar-benar diam, tapi juga tidak benar-benar bergerak. Pandangannya sesekali tertuju pada Ranu, lalu beralih ke arah lain, lalu kembali lagi. Wajahnya masih terlihat gelisah. Dan Megantara menyadari hal itu.“Ranu sudah tidur, Mas. Jadi lebih baik sekarang kamu pergi.”Suara Hagia akhirnya memec
Lorong rumah sakit itu dipenuhi aroma antiseptik yang tajam, bercampur dengan suara langkah kaki yang hilir mudik tanpa henti. Perawat berlalu lalang, beberapa keluarga pasien duduk menunggu dengan cemas dan di sana Hagia berdiri, mondar-mandir tanpa arah yang benar-benar pasti.Di pelukannya, Ranu menangis.Tangisnya tidak keras seperti anak yang meraung karena marah. Lebih ke… tangis yang pecah-pecah, tersengal, seperti menahan sakit yang tidak ia mengerti bagaimana menjelaskannya. Tangan kecilnya yang kanan sudah terbungkus gips putih, masih terlihat terlalu besar untuk tubuh mungilnya. Dokter tadi mengatakan ada keretakan. Tidak parah, tapi cukup membuatnya harus dipasangi gips agar tulangnya bisa pulih dengan baik.Kalimat ‘tidak parah’ itu seharusnya menenangkan. Tapi bagi Hagia, tetap saja. Ia tidak semudah itu ditenangkan begitu saja melihat bagaimana keadaan Ranu saat ini. “Ssh… Ranu… sayang, Mama di sini…” bisiknya pelan, sambil mengusap punggung anak itu berulang kali. H
Suasana restoran siang itu tidak terlalu ramai, namun cukup untuk menyamarkan percakapan-percakapan pribadi di tiap mejanya. Cahaya matahari masuk dari jendela besar di sisi kanan ruangan, memantul lembut di permukaan meja kayu yang tertata rapi. Aroma makanan yang hangat bercampur dengan suara alat makan yang saling beradu. Semua terasa biasa, kecuali meja di sudut dekat jendela.Megantara duduk tegak, satu tangannya bertumpu ringan di atas meja. Sementara tangan lainnya sesekali memainkan gelas air di depannya. Ia tidak benar-benar lapar. Dari tadi, makanannya nyaris tidak tersentuh. Di hadapannya, Elvira duduk dengan postur sempurna seperti biasanya. Ia baru saja meletakkan sendok, lalu menyeka bibirnya dengan tisu secara perlahan. Gerakan kecil yang tetap terlihat elegan tanpa dibuat-buat.Untuk sesaat hanya ada hening. Lalu Elvira membuka suara, seolah percakapan yang tadi sempat tertunda kini menemukan momentumnya kembali.“Belum lama ini, Pak Jordan menghubungi kantor,” kata E
“Sumpah, cewek tadi siapa, Anjir?”Suara Arsenio yang meledak tanpa aba-aba langsung memecah keheningan di area kubikel mereka. Beberapa kepala di sekitar mereka sempat menoleh sekilas. Namun, Arsenio tampak tak peduli.Lelaki itu bersandar di kursinya tangannya terlipat di belakang kepala, ekspresinya penuh rasa penasaran yang tidak ditutup-tutupi. “Asli, gue kepo banget. Pak Kafka bilang kalau Pak Megan tuh belum pengen punya istri lagi. Tapi cewek… tadi?”“HTS-an ya kali, Mas,” celetuk Sinta cepat. “Tapi kalau dilihat-lihat dari kedekatan mereka, kayaknya nggak mungkin kalau cuma HTS doang, deh,” sahut Kaluna, matanya menyipit seolah sedang memutar ulang adegan di lobi tadi dalam kepalanya.“Iya, kan? Cara manggilnya aja beda. ‘Megan’, lho, bukan ‘Pak’,” tambah Arsenio, makin semangat.“Udah gitu reaksinya Pak Megan santai banget. Kayak nggak keberatan gitu pas si cewek itu ngomong kangen,” Sinta ikut nimbrung.“Mbak Risa sama Mbak Gia nggak mau komen?” Pertanyaan itu akhirnya di
Setelah menghabiskan waktu selama satu jam, mereka sudah kembali ke kantor. Langkah mereka sedikit tergesa begitu pintu lobi terbuka. Udara dingin langsung menyambut begitu mereka masuk, kontras dengan udara panas di luar sana.Langkah mereka terayun melewati lobi, bergerak menuju lift. Beberapa orang sudah terlihat sibuk berlalu-lalang. Beberapa dari mereka membawa berkas-berkas pekerjaan di tangannya.Tepat saat mereka hendak memasuki lift, suara seseorang yang memanggil nama Megantara seketika menghentikan langkah lelaki itu, tidak hanya Megantara, namun juga rekan-rekan yang lain. “Megan!”Pun begitu dengan Hagia yang berjalan beberapa langkah di belakang ikut berhenti, tanpa sadar menoleh ke arah sumber suara. Megantara membalikkan badan. Dan detik itu juga ia tertegun.Seorang perempuan berdiri di sana.Ia menerbitkan senyuman lebar. Matanya terlihat berbinar-binar begitu tatapannya tertuju pada Megantara. Penampilannya terlihat begitu sempurna. Gaun yang dikenakan jatuh pas di







