เข้าสู่ระบบAnya hidup dalam bayang-bayang utang Ayahnya, ia dituntut untuk bekerjakeras melunasinya, ditambah Anya juga harus membayar pengobatan Ibunya di rumah sakit. Hingga suatu hari, temannnya menawarkan Anya bekerja di salah satu bar, karena tidak punya pilihan lain, Anya pun menerima tawaran tersebut dan disitulah Anya bertemu dengan pria yang tiba-tiba menawarkan pernikahan padanya, di mana pria itu berjanji akan membantu Anya untuk melunasi hutang Ayahnya dan tanpa Anya tahu siapa pria itu. Bagaimana kelanjutannya? Apakah Anya mampu melunasi hutang Ayahnya? Siapakah pria yang menawarkan pernikahan pada Anya.
ดูเพิ่มเติมJam dinding di lobi gedung Atmaja Group menunjukkan pukul setengah 8 malam, cahaya lampu mulai redup, menyisakan keheningan dan hanya terdengar suara ketukan jemari di atas keyboard laptopnya dan itu berasal dari seorang gadis benama Anya.
Dengan kemeja putih yang masih rapi meski sudah dipakai selama dua belas jam dan rambut cokelat yang digelung sederhana, ia menatap deretan angka di layar. Anya bukan sekadar sekretaris administratif, ia adalah salah satu orang kepercayaan di divisi operasional. Namun, gelar kepercayaan itu tidak cukup untuk membayar tagihan rumah sakit ibunya yang kian membengkak. Di tengah kesibukannya, tiba-tiba ponselnya bergetar, Anya melihat siapa yang meneleponnya di malam sibuknya dan nama Paman Andi muncul di layar, Anya menghela napas panjang sebelum mengangkatnya. [Ya, Paman?] - Anya. [Anya, rumah di kampung sudah didatangi orang-orang itu lagi. Ayahmu, dia ternyata menjaminkan sertifikat rumah untuk pinjaman yang lebih besar sebelum dia pergi] - Paman Andi. Mendengar perkataan Paman Andi, dunia Anya seakan runtuh. Ayahnya telah meninggalkan mereka dua tahun lalu, menyisakan tumpukan utang judi dan bisnis gagal yang tidak pernah Anya ketahui ujungnya. Setiap kali Anya merasa sudah melunasi satu lubang, lubang lain yang lebih besar menganga di depannya. [Berapa, Paman?] - Anya. [Dua miliar, Anya. Jika dalam sebulan tidak dibayar, ibumu harus keluar dari rumah sakit dan rumah itu disita] - Paman Andi. Dua miliar, bagi seorang karyawan dengan gaji manajer menengah sekalipun, angka itu adalah mimpi buruk. Tanpa mengatakan apapun, Anya menutup telepon itu dan menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kantor yang tinggi. Di sinilah ia, di salah satu gedung termegah di negara A, dikelilingi kemewahan yang bukan miliknya, sementara hidupnya sendiri berada di ujung tanduk. Anya masih terpaku pada langit-langit plafon yang dihiasi ukiran minimalis modern, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos, mengalir perlahan melewati pelipisnya. Dua miliar rupiah bukan sekadar angka, bagi Anya, itu adalah harga diri, tempat tinggal dan nyawa ibunya. Anya memejamkan mata, teringat bagaimana ibunya yang kini terbaring lemah di ruang ICU selalu tersenyum meski tubuhnya digerogoti penyakit. Ibunya adalah satu-satunya alasan Anya masih sanggup menelan pahitnya kehidupan di kota. Jika rumah di kampung disita, ke mana ia akan membawa ibunya saat keluar dari rumah sakit nanti dan jika biaya rumah sakit terhenti, Anya tidak sanggup membayangkan monitor jantung itu akan berubah menjadi garis lurus yang statis. "Satu bulan, Tuhan. dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu bulan?" bisik Anya dalam keheningan. Anya menghapus kasar air mata yang membasahi pipinya ia tidak boleh terlihat lemah di kantor, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia merapikan barang-barangnya memasukkan laptop ke dalam tas dan melangkah gontai menuju lift. Setiap denting lift yang berhenti di tiap lantai terasa seperti lonceng kematian bagi harapan-harapannya. Setibanya di lobi bawah, udara malam kota yang lembap menyambutnya, Anya tidak memesan taksi daring seperti biasanya saat lembur. Ia memilih berjalan kaki menuju halte busway terdekat, mencoba menghemat setiap uang yang tersisa di dompetnya. Di dalam bus yang pengap, kepalanya bersandar pada kaca jendela yang dingin, menatap lampu-lampu kota yang buram karena tertutup embun dan sisa air mata. Sesampainya di kosnya yang terletak di pinggiran kota, Anya merebahkan tubuhnya lalu meraih ponselnya, ia tidak tahu harus bagaimana lagi dan ini adalah harga diri terakhir yang harus ia korbankan. Anya mulai menggulir daftar kontaknya, nama pertama yang muncul adalah Bibi Ratna, adik dari ibunya yang cukup sukses di luar kota, dengan ragu Anya menekan tombol panggil. [Halo, Bibi? Ini Anya] - Anya. [Oh, Anya. Ada apa malam-malam begini? Bibi sedang sibuk menyiapkan acara arisan besok] - Bibi Ratna. [Bibi, maaf mengganggu. Anya sedang dalam kesulitan besar, rumah di kampung terancam disita karena utang Ayah dan ibu masih di ICU. Apa boleh Anya meminjam uang? Berapa pun yang Bibi punya, Anya akan mencicilnya setiap bulan] - Anya. Hening sejenak hingga suara Bibi Ratna berubah menjadi dingin dan tajam. [Anya, bukannya Bibi tidak mau membantu. Tapi, kamu tahu sendiri, anak Bibi baru masuk universitas, biayanya mahal. Lagi pula, utang ayahmu itu seperti sumur tanpa dasar, kamu seharusnya sudah membiarkan rumah itu pergi sejak lama, jangan seret keluarga Bibi ke dalam lubang yang dibuat ayahmu] - Bibi Ratna. Setelah itu, sambungan diputus sepihak. Dada Anya terasa sesak, ia mencoba menelan bongkahan pahit di tenggorokannya dan tidak menyerah. Anya mencoba menghubungi sepupunya, Danu yang bekerja di sebuah bank besar. [Danu, aku butuh bantuan...] - Anya. [Anya, kalau soal uang. Aku angkat tangan, skor kredit ayahmu itu merah di semua bank. Secara hukum, aku tidak bisa membantu proses pinjaman tanpa jaminan yang jelas dan sertifikat rumah itu? Itu sudah dianggap aset bermasalah. Maaf ya, nanti posisiku di kantor bisa terancam kalau aku memaksakan ini] - Danu. Satu per satu, orang-orang yang selama ini ia anggap keluarga memberikan punggung mereka, jawaban mereka beragam, mulai dari alasan ekonomi, urusan keluarga sendiri hingga terang-terangan menyalahkan Anya karena terlalu berbakti pada ibu yang hanya menghabiskan uang di rumah sakit. "Aku tidak punya pilihan lagi, aku harus menghubungi Vira. Mungkin dia bisa bantu aku," gumam Anya. [Halo, ada apa Anya?] - Vira. [Vir, aku boleh minta tolong sama aku. Aku butuh uang, Vir. Ayahku menjaminkan rumahku di desa dan biaya rumah sakit ibuku juga harus segera dibayar] - Anya. [Aku gak bisa bantu kamu Anya, aku juga butuh uang untuk kehidupanku] - Vira. [Apa gak bisa bantu dikit aja Vir, dulu pas kamu butuh uang buat semester kamu kan aku bantu] - Anya. [Kamu gak ikhlas] - Vira. [Bukannya gak ikhlas...] - Anya. [Halah! bilang aja gak ikhlas. Lagian ya kamu itu cuma pegawai kantor biasa, mau sampai umur berapa kamu melunasinya? Mending kamu cari om-om kaya aja deh di kota, wajahmu kan cantik pasti banyak yang mau sama kamu, percaya deh sama aku] - Vira. Anya mematikan ponselnya sebelum temannya itu menyelesaikan kalimatnya, Anya melempar ponsel itu ke atas kasur tipisnya, saran itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Anya meringkuk di atas lantai, memeluk lututnya sendiri. Dinginnya lantai semen tidak sebanding dengan dingin yang menjalar di hatinya, keheningan di kamar itu kini terasa mencekik. Anya merasa seperti pelaut yang kapalnya sedang tenggelam di tengah samudra luas dan semua pelampung yang ia coba raih ternyata terbuat dari batu. "Ibu, sekarang Anya harus gimana?" gumam Anya. Pikirannya kembali melayang pada tumpukan tagihan yang terselip di dalam tasnya, dua hari lagi adalah batas terakhir pembayaran uang muka administrasi rumah sakit agar ibunya tidak dipindahkan ke ruang bangsal umum yang fasilitasnya sangat minim. Tanpa uang itu, perawatan intensif ibunya akan dihentikan. . . . Bersambung.....Anya menaruh jas tersebut di sofa dan belum sempat ia bergerak jauh, sebuah tangan kokoh menyambar pergelangan tangannya. "Tuan!" pekik Anya. Anya begitu terkejut saat tubuhnya ditarik dengan satu sentakan kuat oleh Arkan dan dalam sekejap punggungnya sudah menempel pada pintu kayu jati yang dingin, sementara tubuh tegap Arkan mengurungnya tanpa celah, aroma sandalwood yang bercampur dengan parfum mahal pria itu kembali menyerang indra penciumannya membuatnya pening seketika. Arkan tidak mengatakan sepatah kata pun, matanya yang biasanya dingin kini tampak menggelap, penuh dengan kilatan yang sulit diartikan, sesuatu yang jauh lebih intens daripada sekadar akting di depan orang tuanya. Arkan menangkup wajah Anya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci pinggang Anya dan menekan wanita itu agar tetap menempel padanya, Arkan tidak membiarkan Anya menjauh darinya sedikitpun. Detik berikutnya, Arkan menunduk dan menyatukan bibir mereka. Berbeda dengan c**m*n di
"Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menyelesaikannya," ucap Arkan. Arkan dan Anya pun keluar dari mobil, Anya menatap rumah mewah dihadapannya dengan rasa takut yang besar. Arkan menggenggam tangan Anya dan membawanya masuk kedalam rumah megah tersebut. Begitu mereka masuk kedalam rumah tersebut, terlihatlah sepasang suami istri paruh baya yang tampak sangat elegan yang tengah duduk santai di ruang tamu. Mereka adalah Papa Arga dan Mama Luna, keduanya langsung melihat kearah Arkan dengan penuh tanya. "Arkan? Siapa wanita ini?" tanya Mama Luna. Matanya memicing menatap Anya yang tampak gemetar di balik jas yang disampirkan Arkan di bahunya. Arkan sendiri tidak menjawabnya dengan kata-kata, ia justru mengangkat tangan kanan Anya, menunjukkan cincin berlian yang melingkar indah di sana. "Perkenalkan, ini Anya, istriku. Kami baru saja meresmikan pernikahan kami di kapel pagi tadi," jawab Arkan. "Apa!" Papa Arga dan Mama Luna berseru bersamaan. Suasana seketika hening, Anya nya
Tepat saat Anya sedang mengagumi pantulan dirinya yang tampak sangat asing, pintu ruangan rias terbuka dengan suara yang tegas. Arkan melangkah masuk, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membungkus tubuh tegapnya dengan aura otoritas yang sangat kental.Langkah kaki Arkan terhenti beberapa meter di belakang Anya. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan itu, mata Arkan yang biasanya setajam elang dan dingin, kini meredup sesaat saat menatap punggung Anya yang terbalut gaun sutra. Arkan tertegun melihat bagaimana gadis yang semalam bersimbah alkohol dan luka, kini menjelma menjadi sosok yang begitu anggun.Anya membalikkan tubuhnya perlahan dan memegang pinggiran gaunnya dengan cemas, "Tuan Arkan," panggil Anya pelan."Arkan," potong pria itu dengan suara rendah namun tegas lalu melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma sandalwood yang menjadi ciri khasnya kembali merasuki indra penciuman Anya."Panggil aku Arkan," lanjutnya.Arkan mengulurkan tan
Rahang Arkan mengeras, informasi yang baru saja ia dengar dari mulut Anya seperti sebuah tamparan keras baginya. Sebagai pemimpin tertinggi Atmaja Group, ia selalu menekankan kebijakan kesejahteraan yang adil, termasuk instruksi khusus untuk menyamakan standar gaji antara pegawai tetap dan kontrak.Namun kenyataannya, wanita di depannya ini justru hidup terjepit dalam kemiskinan meskipun bekerja di bawah naungan perusahaannya. "Siapa atasanmu di divisi itu?" tanya Arkan yang suaranya kini terdengar sangat rendah dan berbahaya.Anya tentu saja bingung karena Arkan yang tiba-tiba terlihat sangat marah setelah mendengar soal pekerjaannya. "Bu Oliv, Tuan. Tapi itu sudah biasa, katanya potongan itu untuk biaya administrasi dan penjamin kontrak," ucap Anya.Arkan mengepalkan tangan di samping tubuhnya, 'Administrasi? Penjamin? Itu adalah bahasa halus untuk pemotongan gaji ilegal atau pungutan liar,' batin Arkan dan ia mencatat nama itu dalam benaknya.Besok, bukan hanya urusan pernikahan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.