Se connecterAku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya Pernikahan yang kujalani bertahun-tahun kupikir dibangun dari kepercayaan dan pengorbanan. Aku istri yang sah, perempuan yang menjaga rumah, nama, dan harga diri suaminya. Hingga suatu hari aku sadar, status sebagai istri tak lagi menjadikanku satu-satunya. Kehadiran perempuan lain memecah hidupku menjadi dua: sebelum aku tahu, dan setelah aku tak bisa lagi berpura-pura. Aku dipaksa berdamai dengan kenyataan bahwa cintaku tak cukup untuk membuatku dipilih. Di antara pengkhianatan yang dibungkus dalih tanggung jawab, aku dan perempuan itu sama-sama menjadi korban dari seorang lelaki yang ingin memiliki segalanya tanpa kehilangan apa pun. Ketika keadilan tak pernah benar-benar berpihak, aku dihadapkan pada pilihan paling kejam: bertahan dan perlahan menghilang, atau pergi dengan membawa luka yang tak pernah sembuh. Dalam pernikahan yang melibatkan tiga hati, tak ada pemenang—hanya perempuan yang dipatahkan, dan cinta yang berubah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa disebut rumah.
Voir plus"Woah! Galing naman ni Zarrie, naubos na niya ang foods niya! Yey! Wash your hands na dali!" Nakangiting pang-uuto ko sa anak ko.
"Yay! Okie po, Mama!" masiglang sabi n'ya at pumunta na sa lababo para maghugas ng kamay.
Natawa na lang ako at napa-iling, masyado ko yatang bini-baby ang anak ko.
Biglang nag-ring ang cellphone ko at agad ko itong sinagot nang makita ang pangalan ni Lav sa caller ID.
"Hey Lav, napatawag ka?"
[Zaffi, nabalitaan mo na ba?] nag-aalinlangang tanong niya.
"Ang alin?"
Tumayo ako at pumunta sa refrigerator. Inipit ko ang cellphone ko sa pagitan ng tainga at balikat ko para makapagsalin ng tubig sa baso.
[Sean Mirzseil is back,] tensyonadong sabi n'ya.
"Ah oka– What?" Kasabay ng pagkagulat ko ang pagbagsak ng baso.
He's back? Oh fvck!
"Akala ko ba sa New York na s'ya for good?" gulat pa rin na tanong ko. Ramdam ko ang mabilis na pagdaloy ng kaba at halo-halong emosyon sa puso ko.
[Akala ko rin, pero he's back for marriage preparation... He's getting married.]
Para akong binuhusan ng malamig na tubig dahil sa narinig. M-marriage preparation?
Nagsimulang manuyo ang lalamunan ko, hudyat na ilang sandali na lang ay tutulo na ang luha ko.
"Hala! What's happened, Mama?"
Agad kong napatay ang tawag at nalipat ang atensyon ko sa anak kong nakatakip ang kamay sa kaniyang bibig. Lalapit sana sa 'kin si Zarrie ngunit sinenyasan ko s'yang huwag dahil may mga bubog.
"Z-zarrie ahm, brush your t-teeth na and go to bed." Nagpilit ako ng ngiti at kahit nagtataka ay tumango s'ya at mabilis na sumunod.
Kahit na natataranta ay mabilis kong inalis ang basag na baso at nagwalis nang mabuti para matiyak na walang matitirang bubog. Hinugasan ko rin muna ang pinagkainan namin bago pumunta sa kwarto.
Napatitig ako sa inosenteng mukha ni Zarrie na mahimbing na natutulog. Hinalikan ko s'ya sa noo at napangiti nang mapait kasabay ng pagtulo ng luha ko.
Huli na ba talaga ang lahat? Hindi na ba talaga makakasama ng anak ko ang ama nya? Wala na ba talagang pag-asa?
Tumayo ako at lumabas dahil sa takot na magising ang anak ko sa paghikbi ko. Kasabay ng bawat pag-agos ng luha ko ang pagbalik ng mga alaalang matagal ko ng binaon sa limot, six years ago.
Ada masa di mana aku percaya bahwa aku sudah melewati semuanya.Bukan karena aku kuat.Bukan juga karena aku benar-benar sembuh.Tapi karena aku sudah terlalu lelah untuk merasakan apa pun.Dan anehnya… itu terasa seperti kesembuhan.Sampai Arga muncul lagi.Sejak hari itu, ada sesuatu dalam diriku yang berubah—lagi.Bukan hancur seperti dulu.Lebih seperti retakan lama yang tiba-tiba terbuka kembali, memperlihatkan bagian yang selama ini kupaksa diam.Aku masih datang ke toko. Masih bekerja. Masih tersenyum secukupnya. Dari luar, tidak ada yang berbeda.Tapi di dalam… pikiranku tidak pernah benar-benar tenang.Setiap suara pintu terbuka membuatku refleks menoleh.Setiap langkah kaki yang mendekat membuat dadaku menegang.Aku tidak tahu apakah aku takut dia datang…atau takut dia tidak datang.Dan aku membenci diriku sendiri karena tidak tahu jawabannya.Dimas tetap datang.Tidak setiap hari. Tidak seperti dulu. Tap
Aku pikir aku sudah cukup jauh.Bukan dari kota.Bukan dari orang-orang.Tapi dari semua hal yang pernah menghancurkanku.Aku pikir jarak bisa menghapus sesuatu.Atau setidaknya… mengaburkannya.Ternyata tidak.Masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali—dalam bentuk yang tidak pernah kita siapkan.Hari itu dimulai seperti biasa.Aku bangun, menyeduh kopi, menatap jendela kecil di kamarku yang tidak pernah menawarkan pemandangan apa pun selain gang sempit dan dinding kusam. Aku sudah terbiasa dengan itu. Tidak ada yang berubah.Dan justru itu yang membuatku tenang.Aku berangkat kerja tanpa banyak pikiran. Jalanan terasa sama. Langkahku ringan dalam cara yang netral—tidak berat, tidak juga bersemangat.Di toko, semuanya berjalan seperti biasa.Pelanggan datang dan pergi. Suara mesin kasir. Plastik yang berdesir. Sapaan singkat yang tidak meninggalkan arti.Aku berdiri di balik meja, menjalani hari seperti garis lurus yang tidak pernah ber
Aku pikir rasa sakit adalah musuh terbesarku.Ternyata bukan.Yang paling menakutkan adalah ketika rasa itu mulai hilang… dan digantikan oleh sesuatu yang tidak bisa kupercaya lagi.Bahagia.Bukan bahagia yang besar.Bukan juga yang meledak-ledak.Hanya… ringan.Seperti udara yang tiba-tiba terasa lebih mudah dihirup.Seperti langkah yang tidak lagi terasa berat tanpa alasan.Dan justru itu yang membuatku ingin lari.Sejak hari aku menjauh dari Dimas, semuanya kembali seperti semula. Atau setidaknya, terlihat seperti semula. Aku kembali diam. Kembali menjaga jarak. Kembali menjadi versi diriku yang aman—yang tidak berharap apa pun.Tapi ada satu masalah kecil.Aku tahu rasanya hampir bahagia.Dan setelah itu, semua jadi berbeda.Aku berdiri di balik kasir seperti biasa, tapi sekarang setiap detik terasa lebih panjang. Aku tidak lagi hanya menjalani waktu—aku menahannya. Seolah jika aku tidak bergerak, sesuatu tidak akan berubah
Ada hal-hal kecil yang tanpa sadar mulai berubah.Aku tidak lagi selalu menunduk saat berbicara.Aku mulai menjawab sedikit lebih panjang.Dan yang paling aneh… aku mulai menunggu.Bukan menunggu seseorang dengan harapan besar.Hanya… menunggu sesuatu yang tidak ingin kuakui.Dimas datang seperti biasa, tapi sekarang kehadirannya tidak lagi terasa seperti gangguan. Ia menjadi bagian dari ritme hariku—tenang, tidak memaksa, tapi selalu ada.Hari itu, ia datang lebih awal. Matahari belum sepenuhnya turun, cahaya sore masih masuk dari kaca depan toko.“Kamu belum tutup,” katanya.“Belum,” jawabku.Ia mengambil minuman, lalu berdiri di depan kasir. Tapi kali ini, ia tidak langsung bicara. Ia hanya berdiri, memperhatikanku seperti sedang membaca sesuatu yang tidak tertulis.“Kamu lagi mikir apa?” tanyanya.Aku menggeleng. “Tidak apa-apa.”Ia tersenyum tipis. “Kamu sering bilang itu.”“Karena memang tidak ada yang perlu dibicarakan.”






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.