LOGINAku Istri, Tapi Bukan Satu-satunya Pernikahan yang kujalani bertahun-tahun kupikir dibangun dari kepercayaan dan pengorbanan. Aku istri yang sah, perempuan yang menjaga rumah, nama, dan harga diri suaminya. Hingga suatu hari aku sadar, status sebagai istri tak lagi menjadikanku satu-satunya. Kehadiran perempuan lain memecah hidupku menjadi dua: sebelum aku tahu, dan setelah aku tak bisa lagi berpura-pura. Aku dipaksa berdamai dengan kenyataan bahwa cintaku tak cukup untuk membuatku dipilih. Di antara pengkhianatan yang dibungkus dalih tanggung jawab, aku dan perempuan itu sama-sama menjadi korban dari seorang lelaki yang ingin memiliki segalanya tanpa kehilangan apa pun. Ketika keadilan tak pernah benar-benar berpihak, aku dihadapkan pada pilihan paling kejam: bertahan dan perlahan menghilang, atau pergi dengan membawa luka yang tak pernah sembuh. Dalam pernikahan yang melibatkan tiga hati, tak ada pemenang—hanya perempuan yang dipatahkan, dan cinta yang berubah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa disebut rumah.
View MoreAku selalu percaya, pernikahan adalah tentang menjadi satu-satunya.
Bukan yang paling cantik. Bukan yang paling sempurna. Tapi yang dipilih, lalu dijaga. Itu sebabnya aku tidak pernah meragukan cincin di jariku. Setiap pagi, aku bangun lebih dulu dari Arga. Menyiapkan air hangat, menyetrika kemeja yang akan ia kenakan ke kantor, memastikan sarapan tak pernah kosong. Semua kulakukan dengan keyakinan sederhana: aku istrinya. Perempuan yang sah. Perempuan yang namanya tercatat, yang doa-doanya menyatu dengan doanya. Arga selalu tampak sama di mataku—rapi, tenang, dan penuh wibawa. Lelaki yang tidak banyak bicara, tapi selalu tahu bagaimana caranya membuatku merasa aman. Ia jarang memuji, tapi juga jarang mengecewakan. Itulah mengapa aku jatuh cinta. Dan itulah mengapa aku bertahan. “Pulang agak malam hari ini,” katanya suatu pagi sambil mengancingkan manset kemeja. Aku mengangguk tanpa curiga. “Lembur lagi?” “Meeting,” jawabnya singkat. Aku tersenyum, lalu membantu merapikan dasinya. Tanganku sudah hafal garis lehernya, gerakan kecil yang selalu sama sejak tahun pertama kami menikah. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang terasa salah. Setidaknya, belum. Kami menikah tujuh tahun lalu. Tidak mewah, tapi penuh restu. Aku ingat jelas hari itu—bagaimana Arga menggenggam tanganku dengan erat seolah takut aku akan menghilang. Ia berjanji akan menjagaku. Dan aku, dengan bodohnya mungkin, percaya sepenuhnya. Tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Aku sudah melewati banyak hal bersamanya: masa-masa sulit ketika uang terasa selalu kurang, malam-malam sunyi ketika ia terlalu lelah untuk berbicara, juga hari-hari bahagia yang sederhana—menonton televisi sambil berbagi camilan, tertawa karena hal-hal sepele. Aku merasa cukup. Aku merasa utuh. Itulah mengapa aku tidak pernah merasa perlu memeriksa ponselnya. Tidak pernah bertanya berlebihan. Tidak pernah menginterogasi ke mana ia pergi dan dengan siapa. Aku percaya, karena aku istri. Dan istri seharusnya tidak hidup dalam kecurigaan. Hari itu berjalan seperti biasa. Aku membersihkan rumah, mencuci pakaian, lalu duduk di ruang tamu sambil menatap foto pernikahan kami yang tergantung di dinding. Aku selalu menyukai foto itu—Arga berdiri di sampingku, wajahnya tenang, matanya fokus ke depan. Aku tersenyum lebar, mungkin terlalu bahagia untuk menyadari apa pun selain cinta. Kadang aku bertanya-tanya, apakah di foto itu aku terlihat seperti perempuan yang benar-benar dicintai? Atau hanya perempuan yang kebetulan dipilih pada waktu yang tepat? Pikiranku sering berkelana, tapi tidak pernah sampai pada kecurigaan. Tidak sampai pada kemungkinan bahwa suatu hari aku harus berbagi tempat yang kupikir hanya milikku. Menjelang sore, aku menerima pesan singkat dari Arga. Akan pulang lebih larut. Jangan tunggu. Aku membalas cepat. Hati-hati di jalan. Kalimat yang sederhana. Kalimat istri yang percaya. Malam datang perlahan, membawa sunyi yang terlalu panjang. Aku makan sendiri. Menonton televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa pun. Jam di dinding terus bergerak, sementara aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya hari biasa. Arga pulang hampir tengah malam. Aku terbangun ketika mendengar pintu terbuka. Langkah kakinya pelan, seolah tak ingin membangunkanku. Tapi aku sudah terjaga, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang kosong. Ia masuk ke kamar, mengganti pakaian, lalu berbaring di sampingku. Tubuhnya hangat, seperti biasa. Tangannya menyentuh punggungku sebentar—sentuhan singkat yang dulu terasa menenangkan, kini entah mengapa terasa… berbeda. “Kamu belum tidur?” tanyanya. “Baru saja,” jawabku. Ia mengangguk, lalu memejamkan mata. Tidak ada cerita tentang meeting. Tidak ada keluhan lelah. Tidak ada apa-apa. Aku memunggunginya, mencoba kembali tidur. Tapi entah mengapa, malam itu terasa lebih berat. Seolah ada sesuatu yang tertinggal di udara—sesuatu yang tidak bisa kulihat, tapi bisa kurasakan. Aku menyalahkan diriku sendiri. Mungkin aku hanya terlalu sensitif. Terlalu banyak berpikir. Bukankah itu kebiasaan perempuan? Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Arga semakin sering pulang larut. Semakin sering sibuk dengan ponselnya. Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tak pernah kupedulikan: bagaimana ia tersenyum kecil saat membaca pesan, bagaimana ia menjauhkan layar ponsel ketika aku duduk di dekatnya. Tapi aku tidak berkata apa-apa. Karena aku istri. Dan istri yang baik tidak menuduh tanpa bukti. Suatu sore, aku menunggu Arga pulang sambil menyiapkan makan malam. Meja makan sudah tertata rapi, lilin kecil menyala di tengah—hal sederhana yang ingin kulakukan untuk mengingatkan kami pada kebiasaan lama. Pada waktu ketika pulang ke rumah adalah hal yang ditunggu-tunggu. Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika ponselku bergetar. Maaf, aku tidak pulang. Ada urusan penting. Aku membaca pesan itu berulang kali. Tidak pulang. Tanpa penjelasan. Tanpa kepastian kapan. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Bukan karena cemburu. Lebih karena kebingungan. Aku membalas: Urusan apa? Pesan itu tidak pernah dibalas. Malam itu aku duduk sendirian di meja makan, menatap makanan yang mulai dingin. Lilin kecil itu akhirnya padam dengan sendirinya. Aku merasa konyol—perempuan dewasa yang masih berharap pada hal-hal sederhana. Aku mulai bertanya-tanya: sejak kapan aku menjadi perempuan yang menunggu? Tapi bahkan saat itu, pikiranku belum sejauh ke sana. Aku masih percaya pada satu hal: Arga tidak akan menyakitiku. Ia bukan lelaki seperti itu. Ia bertanggung jawab. Ia suami yang baik. Setidaknya, itu yang selalu kukatakan pada diriku sendiri. Keesokan harinya, Arga pulang pagi-pagi sekali. Aku menemukannya tertidur di sofa, jasnya masih melekat di tubuhnya. Ada aroma asing yang samar—bukan parfumnya, bukan bau rumah. Aku berdiri di sana cukup lama, menatap wajahnya yang terlelap. Ada rasa asing yang menyelinap ke dadaku, perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Bukan marah. Bukan cemburu. Takut. Takut karena untuk pertama kalinya, aku tidak yakin sepenuhnya pada lelaki yang kupanggil suami. Aku menyentuh bahunya pelan. “Arga.” Ia terbangun, terlihat terkejut sesaat sebelum wajahnya kembali tenang. “Aku ketiduran.” Aku mengangguk. “Kamu tidak pulang semalam.” “Ada urusan,” katanya lagi. Nada suaranya datar, seolah itu cukup menjelaskan segalanya. Aku ingin bertanya lebih jauh. Ingin meminta kejujuran. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokanku. Aku takut jawaban yang akan kudengar. Jadi aku memilih diam. Aku selalu berpikir, diam adalah bentuk kedewasaan. Ternyata, diam juga bisa menjadi awal kehancuran. Hari itu, saat Arga pergi bekerja seperti biasa, aku berdiri di depan pintu lebih lama dari biasanya. Menatap punggungnya yang menjauh, aku merasakan sesuatu runtuh pelan-pelan di dalam diriku. Aku masih istrinya. Masih perempuan yang sah. Masih mengenakan cincin yang sama. Tapi entah sejak kapan, aku mulai merasa tidak lagi menjadi satu-satunya. Dan perasaan itu—sekecil apa pun—adalah awal dari luka yang kelak akan mengubah seluruh hidupku.Aku tidak pergi sejauh yang orang-orang bayangkan.Aku hanya pergi cukup jauh untuk tidak lagi menjadi diriku yang lama.Aku tinggal di kota kecil yang tidak mengenalku. Menyewa kamar sempit dengan jendela menghadap gang. Tidak ada pemandangan indah, tapi ada keheningan yang jujur. Di sini, aku tidak perlu menjelaskan siapa aku, dari mana aku datang, atau kenapa mataku sering kosong saat berbicara.Aku bekerja seadanya. Mengisi hari dengan rutinitas yang sederhana. Bangun pagi. Pergi. Pulang. Tidur. Hidupku menjadi garis lurus tanpa belokan emosi.Dan itu tidak membuatku bahagia.Tapi membuatku aman.Aku masih bernapas. Aku masih makan. Aku masih tertawa sesekali—secara mekanis. Orang-orang di sekitarku mengira aku baik-baik saja. Aku pandai memainkan peran itu sekarang.Mereka tidak tahu, di dalam tubuh ini, ada bagian yang tidak pernah ikut pindah.Arga mencariku.Aku tahu dari pesan-pesan yang masuk berbulan-bulan setelah aku pergi. Dari panggi
Aku tidak bangun dengan air mata hari itu.Aku bangun dengan keheningan yang aneh—tenang, ringan, seperti seseorang yang sudah selesai berperang tapi belum tahu harus pulang ke mana.Untuk pertama kalinya sejak lama, aku tidak merasa marah pada Arga. Tidak juga pada perempuan itu. Rasa sakit itu masih ada, tapi bentuknya berubah. Ia tidak lagi menusuk. Ia menjadi beban yang sudah terlalu lama kupikul, sampai tubuhku berhenti protes.Aku menyeduh kopi dan meminumnya perlahan. Rasanya pahit, tapi tidak menggangguku. Aku duduk di meja makan, sendirian, memperhatikan kursi-kursi kosong.Aku baru sadar—aku sudah lama makan sendirian.Bukan karena tidak ada orang.Tapi karena tidak ada yang benar-benar duduk bersamaku.Arga pulang malam sebelumnya tanpa suara. Aku tidak bertanya ke mana ia pergi. Ia juga tidak menjelaskan. Kami berdua seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi alamat.“Kamu mau ke mana hari ini?” tanyanya pagi itu.Aku menatapnya. “
Aku tidak pindah ke mana pun setelah hari itu.Aku tetap tinggal di rumah yang sama, memakai nama yang sama, menjalani rutinitas yang sama. Dari luar, hidupku terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam, ada bagian diriku yang berhenti bernapas.Arga mulai pulang dengan jam yang teratur. Terlalu teratur. Seolah ia ingin menunjukkan bahwa semuanya masih normal. Ia menyapaku dengan suara datar, menanyakan hal-hal kecil, seperti seseorang yang takut menyentuh luka tapi tetap ingin memastikan lukanya tidak berdarah di hadapannya.“Kamu sudah makan?” tanyanya suatu malam.“Sudah,” jawabku. Padahal aku hanya minum air putih sejak pagi.Ia mengangguk. Tidak memeriksa. Tidak peduli. Jawaban itu cukup baginya.Hari-hari setelah pernikahan itu terasa seperti hidup dalam jeda. Aku bangun pagi, membersihkan rumah, memasak dalam porsi kecil—untuk satu orang. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap.Yang paling aneh adalah tubuhku. Ia mulai menolak segala sesuatu yang dulu
Aku tahu hari itu akan datang.Aku hanya tidak menyangka caranya akan sesunyi ini.Arga pulang sore, lebih cepat dari biasanya. Tidak ada pesan. Tidak ada peringatan. Aku sedang melipat pakaian di ruang tengah ketika pintu terbuka. Ia masuk dengan langkah ragu, seolah rumah ini bukan lagi miliknya—atau mungkin, bukan lagi milikku.“Kita perlu bicara,” katanya.Kalimat itu terdengar klise. Tapi dari caranya berdiri—tidak mendekat, tidak duduk—aku tahu pembicaraan ini bukan tentang memperbaiki apa pun.Aku meletakkan pakaian di pangkuanku. “Bicara apa?”Ia menghela napas panjang, lalu duduk di kursi yang berseberangan denganku. Jarak di antara kami seperti jurang yang sengaja dipelihara.“Aku sudah mengambil keputusan,” katanya.Dadaku menegang. Aku menunggu. Anehnya, aku tidak gemetar. Aku sudah terlalu lama hidup dalam ketidakpastian untuk kaget pada kepastian.“Keputusan apa?” tanyaku.Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. “Aku tidak bisa m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.