Setelah setengah hari berkutat dengan gambar desain, revisi material, dan diskusi yang seolah tidak ada habisnya, Hagia akhirnya ikut turun bersama Arsenio, Sinta, Kaluna, dan Risa menuju warteg langganan mereka.Tempat itu selalu sama—ramai, hangat, dan penuh suara. Bau tumisan, sambal, dan lauk sederhana bercampur jadi satu, menciptakan kenyamanan yang tidak bisa dijelaskan.Mereka duduk berderet, masing-masing dengan piring nasi yang sudah terisi lauk pilihan.Arsenio langsung makan tanpa basa-basi. Sinta sibuk mencampur sambalnya. Kaluna sesekali tertawa kecil membaca sesuatu di ponselnya.Hagia sendiri memilih diam sembari menikmati makanannya.Tidak banyak bicara.Seperti biasa, ia memilih jadi pendengar.“By the way, kalian lihat tingkah Mbak Rachel hari ini, nggak?” tanya Arsenio tiba-tiba, memecah suasana.Hagia sedikit mengangkat wajahnya. Namun ia tetap diam.“Yang dia mulai kegatelan sama Pak Megan ya, Sen?” sambar Risa cepat.“Iya, Mbak!” Arsenio mendecak pelan. “Sumpah,
Last Updated : 2026-04-18 Read more