Home / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 53. Rasa Bersalah Hagia

Share

53. Rasa Bersalah Hagia

Author: IKYURA
last update publish date: 2026-05-17 19:49:32

Malam sudah cukup larut. Lampu-lampu vila menyala temaram, berpadu dengan suara debur ombak yang terdengar samar dari kejauhan.

Sejak sore tadi, Hagia lebih banyak menghabiskan waktunya duduk santai di sofa ruang tengah sambil memperhatikan Ranu dan Megantara bermain puzzle bersama di lantai.

Ranu terlihat sangat antusias. Sesekali bocah itu tertawa keras saat Megantara pura-pura salah memasang potongan puzzle, lalu protes karena merasa ayahnya sengaja bermain curang.

Dan tanpa sadar, pemandang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Mira Lusia
halalin dulu dong bapak megantaraaa
goodnovel comment avatar
Colin
boleh... tentu saja boleh... nanti Nadi kupasin buahnya....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Mantan!   107. Anak Papa

    “Hei, everything’s gonna be okay.” Suara Megantara memecah keheningan di dalam mobil. Ia meraih tangan Hagia, kemudian menggenggamnya dengan erat. Hagia mengerjap pelan, kemudian menoleh ke samping. Megantara mengulas senyuman tipis. Lalu “Papa pasti baik-baik saja,” ucapnya lagi.Hagia hanya mengangguk kecil. Namun, kegelisahan di wajahnya tidak lagi bisa disembunyikan.Sejak menutup telepon dari Djiwa beberapa menit yang lalu, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Ia bahkan tidak sempat bertanya lebih jauh tentang kondisi Auriga.Beruntung Carmen bersedia menjaga Ranu sehingga Megantara dan Hagia bisa bergegas menuju ke rumah sakit saat itu juga.Hagia menarik napas pendek, berusaha menenangkan dirinya, walaupun hasilnya nihil. Pikirannya penuh, dan kini hanya tertuju pada satu orang.Auriga.“Mas…” Hagia menggigit bibirnya bagian dalam. “Aku takut.”Kalimat itu keluar begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh suara mesin mobil.Megantara mempererat genggaman tangannya. “

  • Hello, Mantan!   106. Kekesalan Carmen

    “Kalau Malin Kundang dikutuk jadi batu gara-gara durhaka sama ibunya...” Carmen mengaduk ramennya dengan ekspresi kesal. “Gimana kalau sekarang kita kutuk aja ibunya Mas Megan jadi batu karena durhaka sama anak sendiri?”Hagia yang sejak tadi menopang dagu justru terkekeh pelan.“Please ya, Men...”“Lah, emang salah?” Carmen terlihat kesal luar biasa. “Gue lagi kesel, ya. Sumpah, nggak suka banget sama kelakuan nenek-nenek ini.” Carmen menusuk telur ramennya dengan sumpit. “Kalau gue jadi kalian, gue nekat kawin lagi, sih. Syukur-syukur lo langsung bunting sekalian, kan. Biar mampus itu nenek-nenek.”Siang itu, Hagia sengaja menemui Carmen untuk makan siang bersama.Sudah cukup lama mereka tidak benar-benar duduk berdua tanpa terburu-buru. Setelah semua kekacauan yang terjadi beberapa hari terakhir, Hagia merasa ia membutuhkan seseorang untuk sekadar mendengarkan.“Lo tahu nggak sih...” gerutu Carmen. “Gue tuh pengen banget nyamperin tuh ibu-ibu terus bilang, ‘Bu, kalau nggak sayang s

  • Hello, Mantan!   105. Penjelasan Megantara

    “Hei… we need to talk, right?”Begitu pintu apartemen tertutup di belakang mereka, keheningan langsung menyelimuti ruangan. Tidak ada suara selain embusan napas keduanya.Hagia berjalan pelan menuju ruang tengah. Ia meletakkan kardus berisi barang-barangnya di atas lantai, tepat di samping sofa.Belum sempat ia melangkah lebih jauh, tangan Megantara sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya dengan lembut. Hagia menghentikan langkah, kemudian menoleh dan kini keduanya berdiri berhadapan.Sorot matanya dipenuhi perasaan bersalah. “Say something, Nadi,” kata Megantara. Suaranya terdengar pelan, nyaris terdengar seperti bisikan. Terdengar sedang memohon. “Kamu boleh marah, kamu boleh kecewa sama aku.” Ia menundukkan kepala, menatap kedua tangannya yang kini menggenggam tangan Hagia. “Atau tampar aku kalau memang kamu ingin melakukannya.” Megantara menatap perempuan itu lekat-lekat. “Tolong... jangan diam begini,” pintanya. “Aku lebih takut kamu diam daripada kamu marah.”Hagia hanya m

  • Hello, Mantan!   104. Hilangnya Harga Diri Hagia

    “Lo tuh gila ya, Gan.” Vanessa menggeleng tak percaya. “Mama pasti kecewa banget sama lo. Lo yang selama ini jadi anak penurut, anak yang baik, anak yang nggak neko-neko. Tapi lihatlah sekarang kelakuan lo.”Megantara hanya tersenyum tipis. Tatapannya masih tertuju pada Ranu dan Brian yang sedang berlarian di area playground, saling berebut perosotan sambil tertawa riang.“Aku nggak punya pilihan lain, Mbak.” Suara Megantara terdengar tenang. “Dulu, aku pisah sama Nadi juga karena rencana Mama. Dia yang bikin Nadi memutuskan untuk cerai sama aku.” Ia mengembuskan napas pelan. “Dan sekarang... aku nggak mau kehilangan Nadi untuk kedua kalinya.”Vanessa memijat pelipisnya. Ia mengenal adiknya lebih dari siapapun. Jika Megantara sudah mengambil keputusan, hampir mustahil membuatnya berubah pikiran.“Dan lo pikir Mama bakal tinggal diam setelah ini?”Megantara hanya diam.“Mama mungkin udah nggak bisa ngendaliin lo” lanjut Vanessa. “Tapi Mama masih bisa nyerang Hagia. Sama kayak yang Mama

  • Hello, Mantan!   103. Keputusan Maudy

    “Apa kabar, Hagia?”Pertanyaan terdengar sangat sederhana dan mudah dijawab. Namun bagi Hagia, pertanyaan itu terasa jauh lebih berat daripada yang terdengar.Butuh beberapa detik sebelum ia benar-benar mampu mengendalikan ekspresinya. Kini ia mengerti. Alasan mengapa sejak semalam Megantara terlihat berbeda dari biasanya. Mengapa lelaki itu memeluknya dengan erat dan memintanya untuk percaya tanpa benar-benar menjelaskan alasannya.Semuanya. Pasti ada hubungannya dengan perempuan yang kini duduk di hadapannya.“Baik, Bu,” jawab Hagia akhirnya.Maudy mengangguk tipis. Tatapannya masih seperti dulu. Tenang, dan tentu saja terlihat mengintimidasi.“Pembicaraan kita akan memakan waktu cukup lama.” Maudy bangkit dari kursinya, lalu berjalan menuju area sofa di sudut ruangan. “Silakan duduk.”Hagia menelan ludah dengan susah payah. Meski seluruh nalurinya ingin segera meninggalkan ruangan itu, namun ia tetap melangkah mendekat. Lalu mendudukkan diri tepat di hadapan Maudy dan hanya dipisa

  • Hello, Mantan!   102. Kegelisahan Hagia

    “Mas, kamu cuti hari ini?”Pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Hagia. Sejak semalam, ia merasa ada yang berbeda dengan Megantara. Lelaki itu memang tetap tersenyum, tetap mengobrol dengan Ranu, bahkan sempat bercanda seperti biasanya. Namun entah kenapa, Hagia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang dipendamnya. Megantara terlihat begitu tenang. Dan justru itu yang membuat Hagia khawatir.“Kamu sakit?” Hagia meletakkan spatula-nya di atas meja dapur, lalu melangkah mendekat. Tangannya terulur menyentuh dahi Megantara. Kemudian berpindah ke lehernya. “Mm…, tapi nggak panas.” Ia mengernyit. “Mas, jangan bikin aku khawatir, dong.”Megantara tersenyum kecil. Tangannya menggenggam jemari Hagia yang masih menempel di pipinya.“Aku nggak apa-apa, Nadi.”“Beneran?”“Iya.”“Tapi semalam kamu pulang kayak orang lagi banyak pikiran.”Megantara terdiam beberapa detik. Lalu mengusap punggung tangan Hagia pelan.“Aku cuma pengen menghabiskan waktu sama Ranu hari ini. Makanya aku ambil cuti.”H

  • Hello, Mantan!   21. Kalah Telak

    “Pesanan atas nama Pak Megan!”Suara pramusaji itu membuyarkan lamunan Megantara yang menggantung tanpa arah. Lelaki itu yang berdiri bersandar di dekat konter langsung menegakkan tubuhnya, seolah baru saja ditarik kembali ke kenyataan.Ia melangkah mendekat, menerima kantong kertas berisi pesanan

  • Hello, Mantan!   12. Permintaan Polos Ranu

    “Ranu kelihatan banget bahagia ya, Gan. Apa gara-gara lo sering nemuin dia akhir-akhir ini?”Celetukan Vanessa tadi masih terngiang, bahkan setelah mereka berpisah di depan rumahnya. Suara itu ringan, hampir seperti candaan, tapi cukup untuk membuat sudut bibir Megantara sempat terangkat tipis saat

  • Hello, Mantan!   11. Kekhawatiran Hagia

    “Jadi ini edisi lo kesepian. Makanya tiba-tiba banget ngajak gue nongkrong di apartemen lo?”Suara Carmen terdengar santai, tapi penuh makna. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terlipat di depan dada, matanya menyapu ruangan seolah sedang menilai sesuatu.Hagia yang baru saja keluar d

  • Hello, Mantan!   9. Vanessa Adiwangsa

    Megantara baru saja tiba di Despresso Coffee setelah mengantar Ranu ke sekolah.Langkahnya terayun pelan, tidak terburu-buru seperti biasanya. Pintu kaca kafe ia dorong, bunyi lonceng kecil menyambut kedatangannya. Aroma kopi langsung memenuhi indera, hangat dan familiar.Ia menyapu pandangan sekil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status