Início / Rumah Tangga / Hello, Mantan! / 53. Rasa Bersalah Hagia

Compartilhar

53. Rasa Bersalah Hagia

Autor: IKYURA
last update Data de publicação: 2026-05-17 19:49:32

Malam sudah cukup larut. Lampu-lampu vila menyala temaram, berpadu dengan suara debur ombak yang terdengar samar dari kejauhan.

Sejak sore tadi, Hagia lebih banyak menghabiskan waktunya duduk santai di sofa ruang tengah sambil memperhatikan Ranu dan Megantara bermain puzzle bersama di lantai.

Ranu terlihat sangat antusias. Sesekali bocah itu tertawa keras saat Megantara pura-pura salah memasang potongan puzzle, lalu protes karena merasa ayahnya sengaja bermain curang.

Dan tanpa sadar, pemandang
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Colin
boleh... tentu saja boleh... nanti Nadi kupasin buahnya....
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Hello, Mantan!   56. Kegusaran Megantara

    Mereka akhirnya tiba di sebuah villa yang berada tidak jauh dari pusat kota Ubud, saat hari mulai menjelang sore.Langit perlahan berubah keemasan, sementara udara dingin khas Ubud terasa semakin jelas begitu mereka turun dari mobil.Ranu masih terlelap pulas sejak perjalanan tadi. Kepalanya bersandar nyaman di bahu Megantara yang kini mengambil alih menggendong bocah itu.Sementara Hagia berjalan lebih dulu menuju lobi untuk melakukan check in. “Atas nama siapa booking-nya?” tanyanya pelan sambil menoleh pada Megantara.“Nama kamu.”Hagia mengangguk kecil sebelum akhirnya berjalan menuju receptionist desk. Sementara Megantara tetap berdiri di tengah lobi sambil menggendong Ranu.Tak berselang lama, Hagia kembali sambil membawa access card di tangannya.“Udah.”Megantara mengangguk kecil. “Yuk.”Mereka kemudian meninggalkan area lobi dan berjalan menuju villa yang sudah disiapkan. Langkahnya pelan melewati jalan setapak kecil yang dipenuhi tanaman hijau dan lampu-lampu taman yang mula

  • Hello, Mantan!   55. Bali Zoo II

    Setelah cukup lama berkeliling, akhirnya mereka berhenti di area kandang gajah. Megantara dan Hagia duduk di kursi pengunjung yang berada tidak jauh dari area feeding.Walaupun matahari sudah bergerak tinggi, namun udara di sekitar masih terasa sejuk.Sementara di depan sana, Ranu tampak sibuk memberi makan seekor gajah bersama salah satu zookeeper. Wajah bocah itu terlihat begitu senang. Tawanya bahkan terdengar sampai ke tempat Hagia dan Megantara duduk.“Pelan-pelan, Sayang!” seru Hagia mengingatkan.“Iyaaaa, Mama. Omnya baik, kok!” jawab Ranu panjang sambil tetap tertawa.Megantara yang sejak tadi memperhatikan Hagia akhirnya membuka suara. “Mamanya Ranu happy?”Hagia yang sedang menatap ke depan langsung menoleh bingung. “Hah?”Megantara menahan senyum kecil. “Mamanya Ranu happy nggak?” ulangnya pelan. “Aku tanya.”Hagia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Mm… iya.”Namun jawabannya terdengar terlalu pelan. Megantara menoleh dengan kening mengerut. “Jawabn

  • Hello, Mantan!   54. Bali Zoo

    “Ranu udah siap jalan-jalan sama Papa, Mama?”Suara Megantara langsung menyambut langkah kecil Ranu yang baru saja keluar dari kamar. Bocah itu sudah berpakaian rapi dengan kaos kecil bergambar dinosaurus dan celana pendek warna krem. Rambutnya masih sedikit basah dan wangi habis mandi.Di belakangnya, Hagia berjalan sambil membawa tas besar berisi perlengkapan Ranu.“Siap dong, Pa!” jawab Ranu semangat sambil mengangkat kedua tangannya.Megantara langsung terkekeh kecil melihat tingkah anak itu. Pandangan Megantara kemudian beralih pada Mbak Asri yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum melihat mereka.Hari ini rencananya mereka akan pergi ke kawasan Ubud.“Mbak Asri,” panggil Megantara santai. “Udah tahu cara pesan gojek atau gocar, kan?”“Sudah, Bapak.”Megantara lalu mengangsurkan beberapa lembar uang pada perempuan itu. “Ini buat Mbak Asri.”Mbak Asri langsung terlihat sungkan. “Wah, nggak usah, Pak…”“Nggak apa-apa.” Megantara tersenyum kecil. “Saya, Nadi, sama Ranu bakal j

  • Hello, Mantan!   53. Rasa Bersalah Hagia

    Malam sudah cukup larut. Lampu-lampu vila menyala temaram, berpadu dengan suara debur ombak yang terdengar samar dari kejauhan.Sejak sore tadi, Hagia lebih banyak menghabiskan waktunya duduk santai di sofa ruang tengah sambil memperhatikan Ranu dan Megantara bermain puzzle bersama di lantai.Ranu terlihat sangat antusias. Sesekali bocah itu tertawa keras saat Megantara pura-pura salah memasang potongan puzzle, lalu protes karena merasa ayahnya sengaja bermain curang.Dan tanpa sadar, pemandangan itu menghadirkan rasa hangat kecil di hati Hagia. Hangat yang pelan-pelan menyebar… namun bersamaan dengan itu, ada nyeri lain yang ikut muncul. Nyeri karena menyadari bahwa selama ini banyak momen seperti itu yang tidak bisa ia berikan untuk Ranu.“Mbak… Ranu udah tidur?”Hagia baru saja masuk ke kamar saat mendapati Ranu sudah terlelap di atas kasur. Mbak Asri masih duduk di samping ranjang sambil memainkan ponselnya pelan, kemudian menoleh. “Udah, Mbak,” jawab perempuan itu sambil terseny

  • Hello, Mantan!   52. Kepolosan Ranu

    Mobil yang mereka kendarai akhirnya tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai saat waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.Langit Bali mulai berubah jingga samar. Area drop off bandara tampak ramai oleh kendaraan yang datang silih berganti.Megantara menghentikan mobilnya tepat di depan pintu keberangkatan. Begitu mobil berhenti, Arsenio mendorong pintu di sampingnya, turun lebih dulu dan disusul Hagia di belakangnya. Lelaki itu bergerak ke belakang bagasi untuk mengambil kopernya, sebelum kemudian berdiri di samping Hagia. “Jangan nakal lo, Mbak.” Arsenio langsung menunjuk Hagia penuh tuduhan. “Awas aja kalau khilaf sama mantan suami!”“Apaan sih, Sen?” Hagia mendecak sembari memutar matanya. “Udah deh, nggak usah berisik.”“Bodo amat gue berisik.” Arsenio mendengus. “Kan gue kepo sama mantan laki lo.”Hagia langsung menyipitkan mata. “Apaan coba yang bikin lo kepo, hm?”“Pertama…” Arsenio mengangkat satu jarinya dramatis. “Dia seganteng apa?”Hagia langsung memejamkan mata

  • Hello, Mantan!   51. Rencana Megantara

    “Sumpah ya, Mbak.” Arsenio berjalan di samping Hagia sambil membawa ranselnya dengan wajah kesalnya. “Jadi ini gue balik Jakarta sendirian? Dan lo nggak ngomong apa-apa sama gue? Ya Allah… tega banget lo, Mbak.”Hagia langsung melirik Megantara yang berdiri tidak jauh dari mereka, lelaki itu tengah berbincang dengan seseorang lewat telepon.Perempuan itu mengembuskan napas pelan. “Gue juga mendadak dapat kabar dari Papanya Ranu, Sen,” kilahnya cepat. “Katanya sekalian aja Ranu diajak liburan.”“Anjir…” Arsenio menggeleng tidak habis pikir. “Gue tuh nggak bisa ngebayangin lo liburan sama mantan suami lo, Mbak.”“Emang kenapa?” Hagia mendengus pelan. “Gue biasa aja sama dia. Toh dia ke sini buat nganterin Ranu. Jalan-jalan juga sama Ranu. Nggak ada niat lebih.”“Halah.” Arsenio langsung menyeringai. “Misal niatnya mau CLBK juga nggak apa-apa kali.”“Nggak usah aneh-aneh deh, Sen.” Hagia langsung memelototinya. “Gue kan emang udah pisah sama dia. Dan nggak mungkin juga gue balikan sama d

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status