登入Freya Blackwood is a rouge witch. Her birth parents were killed by vampires and she was abandoned by her adoptive parents when her powers began to manifest. She has survived by bounty hunting vampires, werewolves, and other creatures of the night. Freya was the best in the business and no one got away. Until she met Kieran, a handsome and dangerous vampire who just so happens to be her next victim.
查看更多"Ahhh... Om, jangan..." desis Nabila dengan napas yang memburu. Tangannya berusaha mendorong dada bidang Dewa yang menghimpitnya. Di balik aroma alkohol yang tercium dari tubuh pria berusia 41 tahun itu, ada intensitas yang membuat pertahanan Nabila goyah.
Dewa menatapnya dengan pandangan yang dalam tatapan pria matang yang penuh gairah, tak terpengaruh oleh penolakan sang gadis. "Kamu gak bisa membohongi dirimu sendiri, Nabila," bisik Dewa serak, suaranya seperti mantra yang membuat bulu kuduk Nabila meremang. Saat tangan Dewa mulai menelusuri lekuk tubuhnya dengan sentuhan yang menuntut namun penuh kendali, jantung Nabila berdegup kencang, bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena lonjakan gairah yang tak terduga. Nabila yang tadinya berniat terus menolak, jemarinya justru tanpa sadar mencengkeram kemeja Dewa, menarik pria itu lebih dekat. Logika Nabila perlahan mengabur, terkalahkan oleh sensasi asing yang memabukkan dari sentuhan pria yang merupakan ayah dari sahabatnya itu. Rasa bersalah yang sempat hinggap di kepalanya seketika lenyap, tertelan oleh rasa haus akan keintiman yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Nabila memejamkan mata, membiarkan pertahanannya luruh sepenuhnya. Tidak ada lagi kata 'stop'. Yang ada hanyalah pasrah yang berubah menjadi balasan, saat Nabila akhirnya membiarkan dirinya tenggelam dalam hasrat yang Dewa tawarkan di malam itu. ─── Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah tirai terasa begitu menyengat bagi Nabila. Ia terjaga dengan napas yang memburu dan tubuh yang terasa asing. Keheningan kamar itu hanya diisi oleh suara detak jantungnya sendiri yang berpacu. Ia menoleh ke samping, mendapati Dewa—ayah dari sahabatnya, Diana—masih terlelap. Nabila memejamkan mata erat-erat, mencoba menghapus memori semalam. Namun, saat ia memunguti pakaiannya dengan tangan gemetar, ada sebuah tarikan aneh di hatinya. Ingatan tentang kelembutan sentuhan Dewa, meski diawali dengan paksaan, kini bercampur dengan rasa sesak yang tidak bisa dijelaskan. Ia tidak hanya marah ia merasa terjebak. Sesampainya di depan kamar Diana, ia merasa seperti pengecut. Saat pintu terbuka dan Dewa tiba-tiba muncul di belakangnya, Nabila merasakan debaran yang bukan lagi sekadar ketakutan. Ada ketegangan yang membuat lututnya lemas. "Nabila..." bisik Dewa. Suara berat itu membelai pendengarannya. Nabila menoleh, menepis tangan Dewa, namun matanya tidak bisa berbohong. Ada bias emosi yang sulit ia jelaskan. "Jangan sentuh saya, Om," desisnya, meski pertahanan dirinya terasa retak. Dewa membawa Nabila ke ruang tengah. Suasana di rumah itu terasa mencekam, hanya ada deru napas mereka yang tertahan. Ketika Dewa menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan, Nabila merasakan pertahanannya goyah, namun egonya menolak untuk luruh. "Saya akan bertanggung jawab, Nabila. Saya tahu kejadian tadi malam—" ucap Dewa, namun kalimatnya terputus saat melihat tatapan tajam nan terluka dari gadis di depannya. "Cukup, Om," sela Nabila dengan suara bergetar. "Anggap itu tidak pernah terjadi. Lupakan." Dewa tertegun. "Lupakan? Bagaimana mungkin? Saya tidak bisa membiarkan kamu menanggung beban itu sendirian. Saya akan bicarakan ini dengan Diana, kita—" "Jangan berani-berani, Om!" sentak Nabila, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Kalau Om bicara sama Diana, Om bukan cuma menghancurkan hidup saya, tapi juga persahabatan saya dengan anak Om sendiri. Apa Om mau lihat Diana benci sama ayahnya dan kehilangan sahabatnya di hari yang sama?" Dewa terdiam, cengkeramannya pada jemari Nabila mengendur. Ia tampak terpukul oleh realitas yang diucapkan gadis itu. "Saya tidak akan menerima tanggung jawab dalam bentuk apapun dari Om," lanjut Nabila, suaranya kini merendah, nyaris berbisik namun penuh penekanan. "Tanggung jawab yang Om tawarkan justru akan menghancurkan segalanya. Kita harus mengubur kejadian semalam dalam-dalam. Anggap kita tidak pernah melakukan apa pun. Anggap saya tidak pernah datang ke rumah ini semalam." Dewa menatap Nabila lekat-lekat, mencoba mencari celah keraguan di mata gadis itu. Namun, yang ia temukan hanyalah ketakutan mendalam akan konsekuensi yang akan menimpa mereka. "Kamu benar-benar ingin kita berpura-pura tidak terjadi apa-apa?" tanya Dewa parau. Nabila menarik tangannya dari genggaman Dewa, menyeka sisa air matanya dengan kasar. "Itu satu-satunya cara. Diana tidak boleh tahu, sedikit pun. Kalau sampai dia tahu, saya tidak akan pernah memaafkan Om. Kita orang asing. Paham?" Dewa bungkam. Ia mengangguk pelan, meski ada kilatan kesedihan di matanya. Pria itu sadar, menuruti kemauan Nabila adalah cara satu-satunya untuk menjaga gadis itu tetap di dekatnya, meski dalam bayang-bayang kebohongan. Nabila pun beranjak pergi meninggalkan Dewa yang masih terpaku di ruang tengah. Ia melangkah keluar rumah dengan dada yang sesak. Ia berhasil memaksa Dewa untuk bungkam, namun ia sadar, rahasia ini kini telah menjadi duri dalam daging bagi hubungan mereka.I know I'm playing a dangerous game, but it's too much fun to stop now. I match his gaze but feigning innocence I ask, "Where are we going with the pizza?" He leans over the table until he is next to my ear and whispers, "or we can just skip the pizza. I‘ve always liked dessert before dinner anyway.” I can feel his breath on my neck in the most sensitive spot as heat rushes between my thighs at the thought of his face between my legs. Before things could go too far, Raina places the pizza between us and asks if we need anything. I look up at her but Kieran doesn't take his gaze off me. She notices and raises a brow at him then looks back at me in question. "I think we're all set," I reply holding his gaze. “Alrighty then, I guess I’ll leave you two to your… uh pizza.” Raina says walking away. When she’s out of earshot, Kieran finally speaks. "Still hungry?" He says with a low growl that send shivers through me. I’m hungry... but for something else now. Before I get a chan
My heart began pounding in my chest. I was not prepared for another witches rejection tonight, especially not in front of a the guy I’m trying to collect a bounty on. In a slight panic, I started planning out escape routes and other distractions. As I scanned the shops looking for something, my stomach growled loudly in protest. I looked down silently thanking the elements for the diversion. “But you promised me pizza and I haven’t eaten all day!” I said in my best indignant impression. He looked at me with a sideways grin that said he could see right through my bullshit but wisely chose not to comment. I got chills from the intensity of his stare. He grabbed my hand causing ripples of pleasure to shoot up my arm and said “Okay, pizza first. It’s right down there,” he said pointing to the little shop with a small elegant wrought iron fence encasing a small patio space. There were four small tables inside with a few people happily enjoying their meals. A small placard above the door
I turned to see Kieran smiling down at me. Luna trotted over to him wagging her tail and he reached down to pet her. This is the second time this man left me stunned. Luna did not just walk up to people she doesn’t know. Let alone a man.“She’s beautiful. What’s her name?” Kieran asked?“Luna.” I said beginning to silently summon power.“And yours?” He said, still giving Luna ear scritches while simultaneously staring into my eyes. A shiver ran down my spine and I’m not certain it was a bad one. “Freya.” I replied straightening my spine.“Mmm… What a powerful name, Freya.” He said with small moan. My body full blown betrayed me and instantly butterflies began dancing in my stomach. “I’m sorry we met under these circumstances, Freya. I can’t fully explain it but I feel drawn to you. Did you put a summoning spell on me?” He asks. “I don’t use summoning spells.” I scoff, rolling my eyes. ”They’re timing is unpredictable and I’d prefer not to have a random monster show up while I’m in m
The world is still not ready to learn what lurks in the dark. Or for my case, my adoptive parents couldn’t accept that magic was real and chose to kick me out at fourteen. Luckily for me, my best friend was a werewolf. Although, I didn’t know this until my powers manifested at puberty.Alcide Fenton has been my best friend since I moved to Virginia in 3rd grade when I was adopted after the murder of both my parents. They were slaughtered by what I now know were vampires.Alcide and I instantly bonded over the hatred of our math teacher Mrs. Ecker who had a sick pleasure of making everyone miserable. Alcide’s parents were happy to take in an orphaned witch and even helped me learn to control my powers. They attempted to get me into some of the surrounding covens but I was always rejected as soon as they heard my last name, Blackwood. So I’ve been a rogue witch ever since. Which is fine by me because now my powers are free to be all mine and not bound by the elders.Don’t worry, I use m
Hunting monsters is not your typical Friday night venture and I'm anything but typical. Instead of the movies or a club, I was spending my Friday night in a cemetery with a monster lurking about trying to find his next victim. The graveyard is completely empty with fog dancing across the tombstone






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.