MasukMarilyn is a young mute mermaid who was forcibly taken out of the sea. She stays in a pool alongside other mermaids where they are displayed for werewolves to buy for sexual pleasure. She is determined not to be a possession of any wolf. But then, her determination is shaken when she met him. Who is he? Balin, the cold-hearted Alpha of the Bold Bite Pack. He suddenly develops a soft spot for a mermaid at first sight, making him take her home. What happens when he realizes that the mermaid he took home is his mate? Why was he unable to recognize her as his mate? Will members of his pack let a sea creature become their Luna?
Lihat lebih banyakSuara pekikan kecil terdengar diikuti oleh suara dentingan piring yang jatuh, membuat suasana pesta menjadi hening.
Ryan Pendragon menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang gadis kecil, mungkin berusia sekitar 10 tahun, berdiri kaku dengan wajah pucat.
Di depannya, seorang pria tinggi besar dengan mata tajam berdiri menjulang, jasnya yang mahal kini bernoda makanan yang tumpah.
"Ma-maafkan saya, Tuan," gadis kecil itu terbata-bata, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Pria itu menatap gadis kecil tersebut dengan tatapan dingin yang menusuk. Tangannya terkepal erat, dan Ryan bisa melihat urat-urat di lehernya menegang karena menahan amarah.
Melihat situasi yang semakin tegang, Ayah Ryan–William Pendragon bergegas menghampiri mereka. Ia berlutut di samping gadis kecil itu, mengeluarkan sapu tangan dari saku jasnya.
"Tidak apa-apa, Nak. Itu hanya kecelakaan," ujar William lembut sambil mencoba membersihkan noda di sepatu gadis itu. Kemudian ia berdiri dan menghadap pria yang terlihat marah itu. "Master Lucas, saya William Pendragon. Mohon maaf atas insiden ini. Biarkan saya membantu membersihkan jas Anda."
Namun, kebaikan William rupanya tidak diapresiasi. Master Lucas menatap William dengan pandangan merendahkan.
"Apa yang kau lakukan?!" bentaknya pada William. "Kau pikir sapu tanganmu yang murahan itu bisa membersihkan jas mahalku?!"
William tersentak, "Maaf, saya hanya bermaksud membantu. Mungkin kita bisa—"
PLAK!
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan. William terhuyung, pipinya memerah akibat pukulan pria itu.
Ryan membeku. Matanya melebar menyaksikan adegan di depannya. Ia ingin berlari, ingin menyelamatkan ayahnya, tapi kakinya seolah terpaku di lantai.
"Kau pikir kau siapa?!" teriak pria itu lagi. "Berani-beraninya kau menyentuhku dengan sapu tangan kotormu!"
William mencoba menjelaskan, "Tuan, saya hanya bermaksud membantu. Ini hanya kecelakaan kecil dan—"
"DIAM!" Pria itu semakin murka. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram kerah William. "Kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa menghancurkanmu dan seluruh keluargamu dalam sekejap!"
Ruangan itu mendadak sunyi. Tak ada yang berani bersuara, apalagi bergerak untuk membantu William.
Ryan akhirnya berhasil menggerakkan kakinya. Ia berlari mendekati kerumunan, berusaha menembus para tamu yang menonton kejadian itu dengan wajah pucat.
"Ayah!" teriaknya.
Namun sebelum Ryan bisa mencapai ayahnya, sesuatu yang mengerikan terjadi.
Master Lucas, dengan gerakan yang sangat cepat, menebas leher William Pendragon dengan tangan kosongnya. Seketika itu, kepala William menggelinding, diikuti robohnya tubuh William ke lantai.
"TIDAK!" Ryan berteriak histeris. Air mata mengalir deras di pipinya saat ia melihat ayahnya roboh ke lantai, darah mengalir deras dari lehernya.
Orang-orang mulai berteriak panik. Beberapa wanita pingsan menyaksikan kejadian berdarah itu.
Namun tak seorang pun berani mendekati William yang telah tewas, ataupun menghentikan pria yang baru saja membunuhnya.
Ryan berlutut di samping tubuh ayahnya, tangannya gemetar memeluk potongan kepala William. "Ayah ... Ayah!"
Ryan meraung, matanya liar mencari-cari bantuan. Ia melihat wajah-wajah familiar di antara kerumunan.
Orang-orang yang dulu selalu memuji keluarga Pendragon, teman-teman lama ayahnya, bahkan pamannya sendiri.
Tapi tak seorang pun bergerak. Mereka hanya berdiri diam, wajah mereka campuran antara ketakutan dan ... penghinaan? Seakan akhir seperti ini sudah sepantasnya diterima oleh keluarga Ryan!
Amarah membakar dada Ryan. Dengan gerakan cepat, ia meraih pisau makan dari meja terdekat dan menyerbu ke arah pembunuh ayahnya.
"KUBUNUH KAU!" teriaknya, mengayunkan pisau itu sekuat tenaga.
Namun pria itu terlalu kuat. Dengan satu tangan, ia menangkap pergelangan tangan Ryan, menghentikan serangannya dengan mudah.
Ryan menatap mata pria itu. Dingin, tanpa emosi. Seolah membunuh seseorang di depan umum adalah hal biasa baginya.
"Keluarga Pendragon dari Golden River, ya?" Pria itu berkata, suaranya sedingin es. "Kau pikir kau siapa? Bahkan jika kau adalah keluarga yang berada di posisi paling atas, aku tetap bisa membunuhmu dengan menjentikkan jariku!"
Ia melempar Ryan ke lantai dengan kasar. "Dan kau, dasar sampah tak berarti, kudengar kau terkenal di daerah ini karena tidak berguna. Haha, dan kau ingin membunuhku? Bahkan jika aku memberimu seratus tahun, kau tetap tidak berguna!"
Ryan tergeletak di lantai, tubuhnya gemetar karena shock dan amarah. Ia ingin bangkit, ingin membalas, tapi tubuhnya seolah kehilangan seluruh kekuatannya.
Tiba-tiba, seseorang menarik lengannya dengan kuat. Ryan menoleh, melihat ibunya, Eleanor, dengan wajah pucat dan berlinang air mata.
"Ibu?" bisiknya bingung.
Tanpa berkata apa-apa, Eleanor mendorong Ryan sekuat tenaga ke arah jendela besar yang mengarah ke Sungai Emas di belakang Paviliun Riverside.
PRANG!
Kaca jendela itu pecah, dan Ryan merasakan tubuhnya melayang di udara sebelum akhirnya tercebur ke dalam air sungai yang dingin.
Sebelum kesadarannya menghilang, Ryan melihat ibunya berlari ke arah pria pembunuh itu, wajahnya penuh tekad ... dan keputusasaan.
Air sungai yang deras menarik tubuh Ryan, menghanyutkannya entah kemana. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa semua ini terjadi? Mengapa tidak ada yang membantu? Mengapa ibunya mendorongnya?
Dan yang paling penting ... apa yang akan terjadi padanya sekarang?
Entah sudah berapa lama Ryan hanyut, ia tidak dapat menghitungnya. Ketika kesadarannya mulai berangsur menghilang, Ryan merasakan sebuah tangan kuat menariknya ke permukaan. Samar-samar, ia melihat wajah seorang pria tua sebelum semuanya menjadi gelap.
*Lima tahun kemudian*
Angin dingin berhembus kencang di puncak Gunung Langit Biru. Di sebuah gua yang tersembunyi, seorang pemuda berdiri tegak, matanya terpejam dengan konsentrasi mendalam.
"Fokus, Ryan!" Suara serak seorang pria tua terdengar. "Rasakan aliran energi di sekitarmu. Biarkan Teknik Matahari Surgawi mengalir dalam meridianmu!"
Ryan Pendragon membuka matanya. Cahaya keemasan berpendar dari tubuhnya, menerangi seluruh gua.
Dengan satu gerakan tangan, batu-batu besar di sekitarnya terangkat ke udara, melayang seolah tak memiliki bobot.
Pria tua itu tersenyum puas. "Bagus. Kau sudah siap."
Ryan menurunkan batu-batu itu kembali ke tempatnya. Ia berbalik, menatap pria yang telah menjadi gurunya selama lima tahun terakhir.
"Guru," katanya dengan suara dalam. "Apakah ini saatnya?"
Sang guru mengangguk pelan. "Ya, muridku. Kau telah menguasai Teknik Matahari Surgawi dan rahasia alkimia tingkat tinggi. Kini saatnya kau kembali dan menghadapi takdirmu."
Ryan mengepalkan tangannya. Bayangan masa lalu berkelebat di benaknya. Ayahnya yang terbunuh, ibunya yang mengorbankan diri, dan pria itu ... pria yang telah menghancurkan segalanya.
"Akhirnya," ucap Ryan, matanya berkilat penuh tekad, "dendam ini bisa kubalaskan."
Sang guru meletakkan tangannya di bahu Ryan. "Ingat apa yang telah kuajarkan padamu, Ryan. Kekuatan sejati bukan hanya tentang membalas dendam. Tapi tentang keadilan dan melindungi yang lemah."
Ryan mengangguk. Ia telah berubah. Bukan lagi pemuda lemah yang hanya bisa menangis saat melihat ayahnya dibunuh. Kini ia adalah seorang kultivator, sekaligus alkemis yang kuat, menguasai teknik yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh kebanyakan orang.
Saat fajar menyingsing, Ryan Pendragon melangkah keluar dari gua, meninggalkan kehidupannya selama lima tahun terakhir. Matanya menatap jauh ke cakrawala, ke arah kota Golden River yang tersembunyi di balik awan.
"Golden River," bisiknya. "Aku sudah kembali."
MARILYNIt had been two days already since I had that talk with Aylin and following after, I had a discussion with Balin. I felt like we couldn't be walking on eggshells anymore and we needed to address the issue and we did.Which was namely the reason why the celebration in the pack house had started but I was still standing in my room, my gaze locked on the vanity mirror, staring at my reflection. I looked different. And it was in a good way.The slight knock on my door made me jolt back to reality and quickly grab my lipstick knowing that it was probably Aylin.The door pushed open and Aylin shambled in, her green maxi dress accentuating her curves while her hair was tied up in a bun and adorned with flowers.That was the event of today. We had faced devastation not long ago but tonight…It was the celebration of summer and apparently flowers were a big part of the night which is why everyone had a flower on their person tonight.My hair was still casually dropped down as I was still
MARILYNIt has been two days and Balin was out of bed already and already resumed his duties in the pack while I still hung around.I don't even know what I was still doing here, I should leave but I was in no hurry, everyone was nice to me and kept thanking me for saving them.Even though I wanted to be angry at them, I knew how they must feel at this point. They didn't even know what to believe. Alicia had turned out to be a demon, I turned out to be not as weak as they knew, Dmitri finally attacked, they lost people. Things must be hard for them.So because of that, I was nice to them and accepted their every apology while listening to them and getting to know them on a more personal level.I think something that earned me more respect was the fact that everyone now knew that I was a Maren. Occasionally my mind would drift back to the mermaid foundation and I wondered if they were okay.Yes, the mermaids there hurt me and mae life a living hell for me. But I couldn’t stop myself from
MARILYNThe cool stone of the fountain stood in sharp contrast to the warmth of my own stormy feelings. I sat by myself, the soothing splashing of water providing background for the recurring scenes in my head.Balin intertwined with another woman, the vision of that night came back agonizingly clearly. It had been the reason for my leaving and the reason I was still madI felt doubt biting at me. Should I have judged more quickly? Had I let wrath distort my view?Aylin joined me beside the fountain, a consoling presence among my swirling thoughts."Marilyn," she asked softly, "are you okay?"Though it felt empty and stupid, I forced a grin. “Aylin, I'm good. Just... contemplating.”She sat next to me, staring across my field of vision. "Regarding Balin?"Not sure I could meet her eyes, I nodded."I know you're hurting," she said gently. “Still, I know Balin as well from the short time I spent here. And I would never think he would act in such a manner."Her remarks caught me off guard
BALIN"I'm awake." I blinked, my eyesight fuzzy, the world around me a hazy swirl of forms and hues. My body felt heavy, as though I had been asleep for a thousand years and my head throbbed with a dull agony.Marilyn's face came into focus as I tried to squint, her lovely features marked with a mixture of relief and... something else. Fury? Indifference?"Marilyn," I said, my voice hoarse from neglect. “You're here.”She showed a look of warmth, but it was fleeting and soon she was wearing a guarded look.I reached out to her, my hand shaking just a little. "I'm so glad you're safe," I said, heart aching with a love that refused to die.Her eyes hardening, she withdrew from my touch. "Don't," she murmured, her voice hard. "Just... do not."I felt confusion sweep over me. Why was she pulling away? She had not disappeared. She had stayed and she had been here. I could faintly still feel her lips on my head when I was coming back to consciousness even though I didn't hear what she had
MARILYN Balin gazed into my eyes and I suddenly felt my eyelashes become tired and heavy, I’m overtaken by a sudden urge to fall asleep. Before I knew what was going on, my eyes shut and I drifted off to sleep. But then, it didn’t last long. I woke up just when Jarek got to Balin’s room. I shut my e
BALIN “Someone else is also involved in this tragedy, and that person is here,” Alicia announced. I balled my fist, fuming. It seems like I have been too lenient with everyone. My face contoured in annoyance and irritation. I shot Smith a disgusted look. “Who is it?” I roared, releasing my Alpha aur
AYLIN The perverted beta and I were seated outside his room. I was clad in his pyjamas, while he was in just his boxers. I would have left a while ago, but I didn’t want anyone to get the wrong idea. If I should leave, and one of the ambitious she-wolves that wants him, sees me, it will be trouble f
MARILYN “Get ready. I need to take you somewhere,” Balin said, once he put down his phone. “You didn’t even need to tell me that,” I mumbled. “What do you mean? Don’t you want to come along?” he asked. “Who said I’m not coming? From now henceforth, I’m definitely tagging along wherever you go,” I de






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak