Se connecterLeading a peaceful life with her loving parents, Elinda never thought that her passionate lover, Alexis Kozlov would be the reason for all her pain. She thought that getting rejected by her mate was the only worst thing that could happen in her life until her secret identity came out as the Royal lost princess of Vasiliev Dynasty, the ancient root of the Lycan clan. Years after she met her rejected mate again, he wasn't only close but her brother's best friend. But Alexis Kozlov wasn't the sweet boy that she met once. Behind his sweet smile, even the devil feared to meet him.Between hatred & social boundaries, could Elinda forget her rejected mate or Moon Goddess will play the role of a game changer in her fate.
Voir plusMartin mengecup perut Andini, membuat tubuh wanita muda itu menggelinjang. Suara desahnya dan gerakan sensualnya memancing hasrat kaum adam.
"Beb," ucapnya sembari menepis tangan lelaki yang semula bermain di dalam ceruknya. "Kenapa?" tanya Martin kebingungan karena penolakan Andini yang sangat tiba-tiba. "Kita hentikan saja. Aku nggak mau Intan anak kita harus menderita karena orang tua seperti kita." "Beb." Martin mengurut keningnya. Kepalanya terasa pening karena harus menahan libidonya. "Aku pasti akan buat kalian berdua bahagia." "Buktikan! Buktikan sekarang," tuntut Anjani, "putri kecil kita butuh banyak uang. Tapi ... kamu bahkan hanya mengandalkan uangku." Mendengar kalimat itu, membuat darah Martin mendidih. Ia bergegas pulang ke rumahnya. “Vania! Vania!” Martin berteriak sangat kencang disusul dengan suara debum pintu yang terbanting ke dinding. “Kamu ini budek apa tuli? Mana kunci motornya?” teriak laki-laki itu. Sepasang matanya melotot menatap perempuan yang sedang sibuk merapikan cucian keringnya. “Mau kemana Mas, udah malem gini,” ucap istrinya dengan sabar. “Kamu ini bodohnya nggak ilang-ilang. Pertanyaanku itu, dimana kunci motornya?” ulang laki-laki itu. “Kamu letakkan dimana benda sialan itu?” “Kunci motor, biar aku yang simpan, Mas,” jawab Vania dengan sabar. Dilipat dan dielusnya helai demi helai pakaian kering itu dengan setrikanya. “Memang Mas mau kemana sih, malem-malem gini? Bukannya istirahat. Lagian ini malam jumat, teman-teman Mas, pasti nggak pada nongkrong di luar.” Lelaki itu mulai gusar. Ia menjambak rambut istrinya, membuat kepala perempuan cantik itu mendongak, menatapnya. “Kenapa? Nggak usah ikut campur urusanku!” Martin melepaskan jalinan rambut Vania di tangannya. Ia menghela tumpukan pakaian hasil setrikaan istrinya hingga semburat di lantai. “Perempuan sial!” teriaknya. “Tugasmu itu hanya menyenangkan suami. Dan kamu nggak pernah bisa bikin aku senang! Jadi nggak usah banyak bacot.” “Mas!” Vania berdiri dari kursinya. Ia menatap laki-laki yang masih dengan kalapnya mencari benda kecil itu di setiap laci dan tempat tersembunyi di kamar mereka. Hatinya seperti teriris, perih saat melihat isi laci dan lemari yang biasa ditatanya dengan rapi itu, berantakan di atas lantai. Tiba-tiba Martin terdiam. Ia menatap sebuah buku di dalam laci lemari pakaian mereka. Diraihnya buku itu bersama dengan kunci motor yang ditemukannya di dekatnya. Vania menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Melihat gelagat suaminya, pikiran buruk pun mulai menghantuinya. “Mas, buat apa kamu bawa surat-suratnya,” cicit Vania, “kembalikan, Mas. Mas cuma butuh kuncinya, kan.” “Aku butuh duit. Aku butuh uang buat modal usaha,” sahut Martin dengan cepat, “atau kamu lebih suka melihat aku jadi pengangguran? Apa kamu senang semua orang memandang rendah suami kamu yang pengangguran ini?" “Tapi Mas. Itu motorku, aku butuh dia buat kerja Mas.” Vania meraih lengan suaminya dan berusaha merebut kembali surat kendaraan itu. “Halah!” teriak Martin dengan kesal. Ia menepiskan tangan istrinya dengan kasar. “Aku kepala rumah tangga di sini. Aku berhak untuk mengatur semuanya termasuk kamu!” Saking kasarnya Martin mendorong istrinya, membuat Vania terhuyung dan menabrak pintu lemari yang masih terbuka. Darah menetes dari keningnya yang terluka. Namun Vania tak menghiraukannya. Ia kembali mendekati Martin, hendak memohon kemurahan hatinya agar membatalkan niatnya untuk menjual satu-satunya kendaraan miliknya itu. Hanya dengan kendaraan itulah, ia bisa dengan cepat dan hemat berangkat menuju kantor tempatnya bekerja. “Mas … Mas, kita bicarakan lagi soal modal itu. Tapi jangan motor itu, Mas. Tolong dengerin aku sekali ini saja.” PLAK! Tangan kanan Martin mendarat dengan sempurna di pipi Vania, membuat kulit pucatnya jadi merona kemerahan bercap tangannya. “Kalau kamu nggak bisa nerima keputusanku, sebaiknya kita berpisah!” teriak Martin sebelum benar-benar meninggalkan rumah. Vania masih tertegun mendengar ucapan suaminya. Berpisah! Lelaki itu pada akhirnya mengucapkan kata-kata yang seharusnya dihindarinya. Sepasang kakinya mulai goyah. Tubuhnya terasa begitu lelah, selelah batinnya saat ini. Tiga tahun ia menikahi Martin, tapi hidupnya bukan semakin bahagia. Lelaki yang dulunya terlihat begitu mencintainya, bahkan membuat semua orang menatap iri kepadanya itu tiba-tiba saja berubah. Ia baru menyadari bahwa Martin bukan saja pemalas. Ia sama sekali bukan suami yang baik. Martin bukan saja tidak menunaikan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga, yang seharusnya memberinya nafkah lahir dan batin. Tetapi ia juga kerap kali melakukan kekerasan fisik seperti yang terjadi malam ini. “Astaga Nia! Apa yang terjadi?” tanya Tiwi. Sepasang matanya menatap sekeliling ruangan itu dengan wajah terkejut yang sangat kentara. “A–ada maling? R–rampoknya masih di rumah ini kah?” Perempuan setengah baya itu menghampiri putrinya yang menggelengkan kepalanya lemah sebelum mulai menangis di pelukannya. “Ibuu ….” “Ssh …. Cep – cep – cep ….” Tiwi mencoba menenangkan putrinya. Dibantunya putri semata wayangnya itu untuk duduk di atas ranjang, lalu cepat-cepat ia memberikan segelas air mineral kepadanya. “Minum dulu, Nduk. Tenangkan dirimu.” Vania meraih gelas yang diberikan oleh ibunya dan meneguk isinya hingga tandas. Perasaannya perlahan mulai tenang apalagi saat melihat tatapan teduh ibunya. “Kamu kenapa, Nduk? Bertengkar lagi sama Martin?” tebak Tiwi, tepat seperti seorang dukun. Vania tak menjawab. Ia merasa malu, apalagi ia sudah mengabaikan peringatan ibunya saat menikah dengan Martin tiga tahun yang lalu. Ia masih ingat bagaimana Tiwi tidak menyukai Martin, calon suaminya saat itu. “Dia belum punya pekerjaan tetap, Nduk. Mau makan apa kamu nanti?” Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Dan pertanyaan itu tergenapi pada akhirnya. Selama tiga tahun pula Vania menjadi sapi perah bagi Martin. Semua pendapatannya sebagai seorang sekretaris habis tak bersisa karena ulah suaminya. “Kalau kamu nggak cerita, ibu juga nggak bisa tahu apa yang terjadi,” sambung Tiwi karena tak mendapat jawaban dari puterinya. Perempuan paruh baya itu mengoleskan salep antiseptik dengan cotton buds. “Nggak papah, kalau kamu nggak mau cerita juga ibu bisa ngerti.” Diliriknya putrinya yang mendesis menahan pedih saat lukanya tersentuh itu. Lalu ia menempelkan plester untuk melindungi lukanya. “Selesai,” ucapnya dengan lega saat benda berwarna coklat itu melekat dengan sempurna di dahi putrinya. “Vania. Kamu adalah putri ibu. Ibu nggak suka jika kamu menurunkan value kamu demi lelaki seperti Martin,” nasihat Tiwi, “kamu ingat bagaimana dulu ayahmu memperlakukan kita?” Vania menganggukkan kepalanya. Ia tidak mungkin bisa melupakan alasan perpisahan ayah dan ibunya. Ia tidak mungkin bisa melupakan saat ayahnya membawa pulang seorang wanita yang usianya tak terpaut jauh dengan usianya saat itu. Ia tak mungkin melupakan bagaimana ayahnya memperlakukan dirinya dan ibunya seperti sampah. “Jika bukan kamu yang menetapkan value dirimu, lalu siapa lagi?” Tiwi menyematkan senyumannya. Sebuah senyuman yang menyejukkan di hati putrinya yang gersang. “Ibu, maafin aku,” lirih Vania, “seharusnya aku nurut sama ibu waktu itu.” Tiwi memeluk kembali putrinya. Dibelainya punggung Vania dengan lembut. “Nggak papah. Ibu sudah maafin kamu, kok.” “Apa yang harus Nia lakukan, Bu?” Isak Vania kebingungan, ia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Martin, suaminya. “Hanya kamu yang bisa memutuskan, Nia. Tapi saran ibu, kamu ajak dia bicara. Jika kamu merasa semua masih bisa diperbaiki, silahkan saja,” ujar Tiwi dengan lembut. “Tapi … gimana kalau tidak, Bu?” tanya Vania masih dengan perasaan ragu. Perempuan yang setengah rambutnya mulai memutih itu tersenyum dengan lembut. “Kamu tahu kok jawabannya.” “Tinggalkan dia.”Chapter 179 || ALEXIS'S POV ||I stood hidden alongside the gates of the academy, partially covered by the tall metal fence, my fists clenched within my coat pockets. The morning air was nippy, but the tightness in my chest had nothing to do with the chill. I had stood there for some time now, my eyes never leaving the pathway that led to the entrance. My gut told me I needed to be here, that something was going to take place—and I was right.Noah's black car pulled up beside the gate, and a moment later Elias climbed out. His lean form bounced effortlessly on the pavement, his bag slung loosely over his shoulder.But then Noah's hand clamped over his shoulder, turning him to face him, and I saw the boy's smile leave his face. "Elias," Noah said tightly, his tone allowing no argument, "you don't see Alexis anymore. Not now, not ever. Do you understand me?"My body tightened at that. So, Noah was trying to cut me off from Elias. Why? What was he hiding?Elias pouted, his eyebrows scow
|| CLARA'S POV ||I barely had a moment to breathe when the door to my chamber was flung open with a deafening bang.“Mikhail,” I whispered, startled. He looked like a storm wrapped in flesh — eyes blazing with betrayal, fists clenched as if holding himself back from shattering the walls. My heart began to pound.“Why are my wolves listening to you?” he growled, voice so low it was almost a snarl. “They report to me, Clara. Me. Not some girl who showed up out of nowhere.”I stepped back instinctively, my hands rising, not in defense but pleading. “You were sick,” I said, forcing calm into my voice though my legs trembled. “I took over because they needed leadership. You were bedridden for days. You don’t even remember—”“Liar!” A new voice spat the word like venom.I froze. Mikhail’s godmother, Alina, stepped into the room like a shadow from the past — regal in her age, eyes sharper than any blade I had faced. And in her hand, a talisman glowed faintly — the same one I’d hidden months
Chapter 177|| CLARA's POV ||I returned to Mikhail's mansion that evening with my heart pounding faster than necessary. The door guards straightened when they spotted me. They bowed, as they always did, their heads ducked in that cowering respect I had bullied into them all these years. But now, looking at them, there was no pleasure in me. There was only terror—because I already knew the truth inside. The spell that had protected me, the spell that had held them under my control, was gone.I swept them all aside with urgency, not even noticing their twisted salutations. The mansion still smelled the same.I walked straight to my room and closed the door, shaking fingers resting on the handle. I leaned against the door, staring blankly at the richly carved mirror on the opposite side of the room. I sat on the edge of the bed, my hands grasping the silken sheets. My mind spun around me, hardly held in check.The healer was right.I could feel the words he had spoken to me that morni
Chapter 176|| ALEXIS'S POV ||I was paralyzed, staring at Elias, my entire universe centered on these tiny golden dots that glittered like gold in his eyes. It was for a moment, but I caught it. I knew what I saw. That color—dazzling, fierce yellow, the same color that had burned in my own eyes when I first transformed as an Alpha—flashed in his eyes like a secret trying to break free. My own chest pulled tight, all of my muscles taut with shock and something far deeper, far heavier.I couldn't catch my breath for a moment. My hands trembled as I held him close to me, my fingers resting softly on his thin arms as if I were scared that if I let go of him, he would be gone from me. My mind chanted one thing over and over again. He's mine. He has to be mine. That yellow wasn't a trick of light. That was Alpha blood coursing through him, despite how young he was.Elias blinked up at me in wide confusion, unaware of the storm that had possessed my chest. His lips opened as if he were go
Chapter 172|| ALEXIS'S POV || I sat quietly alongside Elias's bed, watching the monitors flash regularly like the heartbeat of a machine working too hard to keep calm. But I wasn't going to be calm—not after what had happened. I wrapped my hand around the frigid metal frame of his hospital bed, f
Chapter 175|| ALEXIS'S POV ||My palms resting on the edge of the table, I stared out the window, watching the empty street. I had planned to visit ELINDA's place later in the day to see Elias, but in the meantime, I was content to rest here, beyond everyone's prying eyes.The sound of hurrying fe
Chapter 173|| Elinda's POV ||I leaned against the side of the hospital window, my arms firmly around Elias, who had just begun to sleep once more. His small fingers curled into my chest, and I could feel the increase of his fever slowing. The pale light filtered in through the glass, illuminating
Chapter 167|| ALEXIS'S POV ||I was fastening the last button on my shirt when I heard the gentle knock on the door to my chamber." Come in," I said without raising my head.Lysa slipped in quietly. Her robe was still cinched tight at her waist, her blond hair falling in loose waves, slightly tou






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.