Share

Alan yang Malang

Penulis: Andrea_Wu
last update Terakhir Diperbarui: 2021-06-09 09:48:59

Nay tak kuasa melihat sahabat merangkap kakak iparnya itu tersiksa dengan tindakan bodoh Gavin yang mencampakan wanita sebaik Alan dan memilih wanita penuh topeng di wajahnya yang menyebalkan.

Prok

Prok

Prok

Suara nyaring tepuk tangan membuat dua wanita itu mengalihkan atensi ke arah sosok Luna yang kini berdiri angkuh di depan pintu dapur yang menghadap langsung ke arah taman belakang. Kakinya yang jenjang melangkah mendekat ke arah mereka berdua dengan bibir terulas senyum remeh.

"Drama yang cukup menarik, mengharukan sekali," ucapnya remeh.

"Kau!" Nay emosi melihat wajah munafik wanita itu.

"Apa? Aku tidak peduli apa yang ingin kau lakukan, Nay. Gavin sudah menjadi milikku, dan kau tahu sendiri, kan. Mama begitu menyayangiku, semua orang di pihakku, dan akan mudah sekali untuk mendepakmu dari sini Kakakku tersayang."

"Tutup mulut sialanmu itu, sampai mati pun istri Kakakku hanya Alan!" teriak Nay.

"Cih, dia hanya akan membuat malu di keluarga Wildberg. Wanita gelandangan yang mengemis hidup pada keluargaku, ironis sekali," ucapnya dengan kaki yang kemudian berbalik meninggalkan mereka berdua

"Luna Welington!"

Alan menggelengkan kepalanya dengan satu tangannya mencengkeram erat pergelangan tangan Nay yang ingin menyusul Luna. 

"Kenapa Al, aku ingin menyumpal mulut sialannya itu."

"Tidak perlu, yang dia katakan itu benar, aku memang hanya anak pungut mereka yang diambil dari jalanan." Wajah Akan semakin terlihat menyedihkan sekarang.

Nay hanya bisa menahan emosinya yang telah sampai di ubun-ubun.

***

Suasana pagi di ruang makan mansion Wildberg terlihat sunyi. Walau beberapa orang sudah duduk nyaman di kursi masing-masing. Ada sosok Nyonya dan Tuan besar Wildberg, Nay, dan juga Alan. Mereka duduk dalam keheningan tanpa ada yang mau memulai untuk mencairkan suasana tegang yang menyelimuti ruang makan tersebut. Namun, hanya butuh waktu beberapa detik untuk membuat wajah cantik Grifida Wildberg berbinar cerah saat netranya menangkap putra sulungnya dan menantu kesayangannya tengah berjalan memasuki ruang makan dengan begitu mesra, lihat saja kini tangan kurus Luna seperti lem yang terus bergelayut di lengan kekar suaminya, membuat kepala Alan semakin menunduk. 

"Selamat pagi Papa, Mama." Suara Gavin mulai memecah keheningan. Pria tampan dengan rambut coklat lurusnya itu mengambil tempat duduk tepat di depan istri pertamanya yang masih enggan untuk mengangkat kepalanya. Dia tidak sanggup melihat romansa pengantin baru di depannya. Sudah cukup,

 hatinya tercabik-cabik mendengar suara desahan dari kamar milik Alan yang ditempati bersama Luna, bagai alunan musik dari neraka.

"Ayo kita makan, Luna sayang makanlah yang banyak agar cucu Mama tumbuh sehat. Mama sudah tidak sabar menantikannya lahir, pasti dia akan lucu sekali. Akhirnya keluarga Wildberg memiliki penerus baru, andai dari awal Gavin menikahimu bukannya wanita aneh yang tidak jelas ini." Mata biru Grifida melirik sinis ke arah di mana menantu pertamanya duduk.

Sakit yang Alan rasakan. Tangannya mengepal di atas pangkuannya, air matanya tak terasa jatuh menetes. Bodoh, kenapa dia harus secengeng itu.

"Hentikan, Grifida!" Joseph berbicara dengan nada tinggi, membuat wanita angkuh itu semakin benci dengan sosok Alan. Kenapa juga suaminya terus membela wanita norak itu.

"Yang aku katakan itu benar, kau tidak malu memiliki menantu gelandangan, atau jangan-jangan dia anak seorang jalang."

"Cukup Grifida! Aku tidak ingin berdebat di meja makan, bagaimanapun Alan tetaplah istri Gavin. Dia menantu di rumah ini, dan kau Gav, bersikaplah adil dengan kedua istrimu," titah Joshep.

Gavin menatap datar ke arah Alan. Wajah aristokratnya terpancar tanpa ekspresi. Laki-laki itu memang jarang berbicara. Dia tipe pendiam dan dingin. Namun, banyak wanita yang tergila-gila padanya. Tubuh yang bagus, wajah yang tampan dengan rahang tegas, kumis tipisnya yang menggoda, juga mata birunya yang menawan tak lupa kekayaan yang melimpah, dan seorang pewaris tahta.

"Akan kucoba, tapi aku tidak bisa berjanji," ucapnya dingin seperti biasanya.

Alan meremat dressnya kuat-kuat. Mencoba menahan rasa sesak di hatinya. Dia tahu, dia tak pernah terlihat di mata Gavin. Laki-laki itu tak memiliki secuil perasaan untuknya. Dia yang bodoh. Dia yang naif dengan perasaannya. 

"Laki-laki sejati harus bisa bertanggung jawab, Alan adalah istri pertamamu. Jadi, kau harus bisa bersikap adil, apa kau tak merasa iba. Setiap hari kau hanya bersama Luna." Joseph mulai naik pitam.

"Alan tidak hamil, aku hanya ingin menjaga calon anakku," jawabnya.

Joseph kehilangan nafsu makan. Dia mencekal lengan Alan yang duduk tepat di samping kirinya. Lalu dia berdiri dengan menggenggam tangan kurus menantu pertamanya.

"Gavin, lihatlah. Alan adalah istrimu, tidak pantas kau berbicara seperti itu. Kau bisa menyakiti hatinya."

Grifida ingin menyela, namun buru-buru ditepis oleh suaminya. Amarah pria tua itu berkobar bagai api. Matanya berkilat marah.

"Apa yang Papa inginkan, aku sudah menurutimu menikah dengan Alan, lalu apa lagi."

"Jangan sakiti perasaan Alan."

"Aku bahkan tidak pernah memukulnya, lalu apalagi. Aku bukan robot yang terus mengikuti perintahmu, kau tahu. Aku tidak pernah mencintai wanita ini, sedikitpun tidak ada perasaan untuknya!" Dia berteriak. Napasnya memburu. Gavin yang terkenal tidak suka banyak bicara kini meledakkan amarahnya.

"Lalu apakah kau mencintai, Luna!"

"Aku merasa nyaman dengannya, itu sudah cukup," tutur Gavin.

"Lalu, bagaimana dengan Alan, kau ingin terus menyakitinya."

"Maka aku akan menceraikannya," ucapnya final.

Deg

Napasnya terasa sesak. Kata laknat itu lagi. Dia tidak pernah menginginkan perceraian. Baginya, menikah hanya satu kali. Tetapi, apa daya orang yang begitu besar ia cintai adalah orang yang begitu membencinya. Orang yang membuat hatinya bagai tersayat belati tajam.

"Tidak kuijinkan kau menceraikan, Alan!" teriak Joshep.

"Aku tidak peduli, aku akan tetap menceraikannya, aku tidak ingin harga diriku jatuh karena memiliki pasangan seperti dia."

Brak

"Cukup, Gavin!"

Semua orang terperanjat mendengar suara gebrakan dan teriakan keras dari Nay yang sejak tadi memilih diam membisu. Hatinya sakit mendengar cercaan yang kakaknya lontarkan pada sahabatnya itu.

"Jangan pernah menghinanya, Gav. Kau tidak tahu kebusukan wanita yang kau nikahi itu."

Plak

Alan segera mendongakan wajahnya mendengar tamparan keras yang Gavin layangkan pada adiknya. Pipi pucat Nay terlihat kemerahan.

"Jangan pernah menghina istriku, Nay. Sekalipun kau adikku." 

Gavin bergegas menggandeng tangan Luna ke luar dari ruang makan tersebut meninggalkan sosok Nyonya Wildberg yang kini menatap tajam ke arah wanita lugu itu, "Kau itu kesialan untuk keluarga Wildberg, dan kau Nay, Mama kecewa padamu." Setelah itu Grifida ikut pergi meninggalkan ruangan itu dengan emosi yang tersulut.

"Tolong maafkan istriku, Alan, dan kau Nay, cepat obati lukamu."

"Tidak perlu Papa, lukaku tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit yang Alan rasakan."

"Maafkan aku, Nay."

"Bukan salahmu, Al. Kita pergi ke luar saja, ok."

Alan mengangguk, dia mengikuti langkah kaki Nay setelah berpamitan dengan Joseph.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Nita Kusnitawati
benci dgn karakter perempuan lemah yg mau aja di tindas suaminya..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku   Ending

    Suara mesin monitor jantung itu berhenti di ujung nada panjang yang membuat jantung Ana serasa ikut berhenti berdetak. Ia berdiri terpaku, matanya melebar. Dunia tiba-tiba menjadi sunyi—tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Hanya tubuh Gavin yang perlahan kehilangan warna di hadapannya. "Gavin!" jeritnya memecah keheningan di ruangan tersebut. Ana mengguncang tubuh pria itu dengan kedua tangannya yang gemetar. "Kau dengar aku? Gavin, buka matamu!" Perawat dan dokter segera berlari masuk, mendorong Ana menjauh dengan lembut. Ruangan mendadak ramai oleh instruksi, suara alat medis, dan langkah cepat di lantai putih. Namun Ana tidak bergerak. Ia berdiri di sudut ruangan, memegangi dadanya sendiri, berdoa dengan suara yang nyaris tak terdengar.Ia pasti akan menyesal seumur hidup, apalagi kini dia sudah memaafkan pria itu, selepas menolong Kenan. "Tuhan, jangan ambil dia sekarang. Dia belum sempat menebus semua salahnya. Aku belum sempat membuatnya mengembalikan kebahagi

  • I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku   Penyesalan Akan Datang Terlambat

    Sirine ambulans meraung memecah keheningan sorekota Brigston. Alanair berlari menembus koridor rumah sakit, sepatu haknya berdetak keras di lantai putih diikuti Zenaya dan Lucas. Napasnya memburu, keringat membasahi pelipis, sementara hatinya nyaris hancur oleh kabar yang baru saja diterimanya. Gavin... Nama itu menggema ribuan kali dalam benaknya, menyayat, menampar, dan membangunkan seluruh ingatan yang berusaha ia kubur selama bertahun-tahun. Setiap langkahnya terasa seperti jarak seabad. Tangannya bergetar ketika ia menahan pegangan di dinding, tubuhnya nyaris rubuh saat tiba di depan ruang UGD. Di sana, di balik pintu kaca, ia melihat tubuh Gavin terbaring tak berdaya—kepala pria itu dibalut perban, darah masih menodai kemeja putihnya yang kini lusuh dan robek. "Mrs. Smitt?" Seorang perawat mendekat, menatapnya penuh kehati-hatian, tidak mau menambah lara di hati wanita yang masih berstatus istri dari Gavin Wildberg itu."Tuan Wildberg, dia kehilangan banyak darah. Mobil m

  • I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku   Gavin Kecelakaan

    Kenan duduk sendirian di bangku taman depan sekolahnya. Wajahnya masam, menatap kosong ke arah lapangan. Ia kesal—besok adalah Hari Ayah, dan seperti biasa, ibunya pasti akan melarang ayahnya datang ke sekolah karena hubungan mereka yang buruk. Entah apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, Kenan masih terlalu belia untuk memahami masalah kedua orang tuanya, yang telah membuat mereka berpisah selama hampir sepuluh tahun. "Aku mau Papa," gumamnya pelan sambil mencibir, bibirnya maju seperti anak kecil yang sedang ngambek. Setiap tahun, semua teman-temannya datang bersama ayah masing-masing, memamerkan hadiah buatan tangan, tertawa bersama, dan berfoto. Tapi dirinya? Selalu sendiri. Tahun demi tahun berlalu tanpa sekali pun ia bisa merayakan Hari Ayah bersama sang papa, dan tahun ini dia ingin sekali merayakannya bersama sang ayah. "Kenan, kenapa di sini sendirian? Ibu guru mencarimu dari tadi." Suara lembut terdengar di belakangnya. Kenan mendongak. Di sampingnya berdiri g

  • I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku   Kenyataan Mengejutkan

    Setelah sampai di Brigston, hal pertama yang Nay lakukan adalah kembali ke rumah besarnya. Rumah itu masih berdiri kokoh seperti dulu, menjulang tinggi dengan arsitektur khas keluarga Wildberg yang megah dan berwibawa. Namun kini, sesuatu yang lain terasa—sesuatu yang dingin dan menyesakkan dada. Di gerbang besi yang dulu selalu dibuka dengan tawa ibunya, kini menempel plakat besar bertuliskan. 'Disita oleh Pihak Bank.' Napas Nay tercekat. Kakinya seolah kehilangan tenaga, tubuhnya bergoyang pelan. Jika saja Lucas tak cepat menahan lengannya, mungkin ia sudah terjatuh di jalan berbatu itu. "Tidak mungkin," bisiknya lirih, matanya membulat tak percaya. "Bagaimana bisa rumah ini… disita? Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluargaku?" Lucas menatap wajah Nay yang pucat pasi. Ia bisa merasakan betapa hancurnya hati wanita itu. Tangannya terulur, menggenggam erat bahu Nay, menuntunnya agar tidak roboh. "Tenanglah, Nay. Kita akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hari ini buk

  • I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku   Kepulangan Lucas dan Nay

    Udara pagi menyelimuti kota Brigston dengan kabut tipis yang bergelayut di antara deretan gedung tinggi. Di jendela kaca apartemen mewah lantai dua puluh, Alan berdiri memandangi pemandangan kota yang baru terbangun. Secangkir kopi hitam di tangannya sudah mulai dingin. Ken masih tertidur di kamar, dan Gavin—entah sejak kapan—sudah pergi. Mungkin kembali ke hotelnya, atau mungkin ke tempat lain. Alan tidak tahu, dan tidak ingin tahu. Luka itu nyatanya masih membekas, meskipun Gavin bersikeras ingin kembali padanya. Namun, entah kenapa bayangan masa lalunya selalu hadir. Tentang perasannya pada Gavin yang begitu menggebu, dan sikap pria itu saat di kebun binatang kemarin bersama sang anak. Jika orang tidak tahu, mereka seperti keluarga bahagia, nyatanya semua itu palsu. Ia menggigit bibir bawahnya, frustasi. "Kenapa aku harus goyah lagi?" gumamnya. "Padahal semua sudah berakhir. " Tangannya bergetar saat mencoba meneguk kopi. Pandangan matanya kosong, memantul pada kaca jendel

  • I'm Your Wife : Bukan Dia Tapi Aku   Membongkar Rahasia Kelam Masa Lalu

    Mobil sport merah milik Alan, kini terparkir di area taman hiburan yang terletak di kota Brigston. Ken yang duduk di jok belakang, kini tampak berbinar melihat hal-hal langka yang tidak pernah dia lihat sejak lahir karena memang Alan tidak pernah mengajak anaknya itu pergi jalan-jalan ke taman hiburan.Selain karena kesibukan, dia takut putranya bertemu dengan Gavin. Namun, kini apa yang terjadi, justru putranya itu lengket dengan laki-laki yang paling dia benci."Ken, jangan lari. Nanti jatuh!" seru Gavin, saat melihat putranya langsung menerobos keluar dari dalam mobil, dan berlari ke arah pintu masuk taman hiburan."Tempatnya bagus, Papa. Ken hanya ingin lihat dari dekat!" serunya. Jari mungilnya menunjuk tempat itu dengan senyum sumringah.Disaat Gavin tertawa lebar akan tingkah putranya, dia kemudian menoleh ke samping, di mana sosok Alan masih berdiri di sampingnya dengan gaya angkuhnya seperti biasa."Apa semalam kau tidak tidur, hem?" bisiknya pelan. Memanfaatkan kedekatan mer

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status