Chapter: Ending Suara mesin monitor jantung itu berhenti di ujung nada panjang yang membuat jantung Ana serasa ikut berhenti berdetak. Ia berdiri terpaku, matanya melebar. Dunia tiba-tiba menjadi sunyi—tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bersuara. Hanya tubuh Gavin yang perlahan kehilangan warna di hadapannya. "Gavin!" jeritnya memecah keheningan di ruangan tersebut. Ana mengguncang tubuh pria itu dengan kedua tangannya yang gemetar. "Kau dengar aku? Gavin, buka matamu!" Perawat dan dokter segera berlari masuk, mendorong Ana menjauh dengan lembut. Ruangan mendadak ramai oleh instruksi, suara alat medis, dan langkah cepat di lantai putih. Namun Ana tidak bergerak. Ia berdiri di sudut ruangan, memegangi dadanya sendiri, berdoa dengan suara yang nyaris tak terdengar.Ia pasti akan menyesal seumur hidup, apalagi kini dia sudah memaafkan pria itu, selepas menolong Kenan. "Tuhan, jangan ambil dia sekarang. Dia belum sempat menebus semua salahnya. Aku belum sempat membuatnya mengembalikan kebahagi
Last Updated: 2025-10-31
Chapter: Penyesalan Akan Datang Terlambat Sirine ambulans meraung memecah keheningan sorekota Brigston. Alanair berlari menembus koridor rumah sakit, sepatu haknya berdetak keras di lantai putih diikuti Zenaya dan Lucas. Napasnya memburu, keringat membasahi pelipis, sementara hatinya nyaris hancur oleh kabar yang baru saja diterimanya. Gavin... Nama itu menggema ribuan kali dalam benaknya, menyayat, menampar, dan membangunkan seluruh ingatan yang berusaha ia kubur selama bertahun-tahun. Setiap langkahnya terasa seperti jarak seabad. Tangannya bergetar ketika ia menahan pegangan di dinding, tubuhnya nyaris rubuh saat tiba di depan ruang UGD. Di sana, di balik pintu kaca, ia melihat tubuh Gavin terbaring tak berdaya—kepala pria itu dibalut perban, darah masih menodai kemeja putihnya yang kini lusuh dan robek. "Mrs. Smitt?" Seorang perawat mendekat, menatapnya penuh kehati-hatian, tidak mau menambah lara di hati wanita yang masih berstatus istri dari Gavin Wildberg itu."Tuan Wildberg, dia kehilangan banyak darah. Mobil m
Last Updated: 2025-10-31
Chapter: Gavin Kecelakaan Kenan duduk sendirian di bangku taman depan sekolahnya. Wajahnya masam, menatap kosong ke arah lapangan. Ia kesal—besok adalah Hari Ayah, dan seperti biasa, ibunya pasti akan melarang ayahnya datang ke sekolah karena hubungan mereka yang buruk. Entah apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, Kenan masih terlalu belia untuk memahami masalah kedua orang tuanya, yang telah membuat mereka berpisah selama hampir sepuluh tahun. "Aku mau Papa," gumamnya pelan sambil mencibir, bibirnya maju seperti anak kecil yang sedang ngambek. Setiap tahun, semua teman-temannya datang bersama ayah masing-masing, memamerkan hadiah buatan tangan, tertawa bersama, dan berfoto. Tapi dirinya? Selalu sendiri. Tahun demi tahun berlalu tanpa sekali pun ia bisa merayakan Hari Ayah bersama sang papa, dan tahun ini dia ingin sekali merayakannya bersama sang ayah. "Kenan, kenapa di sini sendirian? Ibu guru mencarimu dari tadi." Suara lembut terdengar di belakangnya. Kenan mendongak. Di sampingnya berdiri g
Last Updated: 2025-10-30
Chapter: Kenyataan Mengejutkan Setelah sampai di Brigston, hal pertama yang Nay lakukan adalah kembali ke rumah besarnya. Rumah itu masih berdiri kokoh seperti dulu, menjulang tinggi dengan arsitektur khas keluarga Wildberg yang megah dan berwibawa. Namun kini, sesuatu yang lain terasa—sesuatu yang dingin dan menyesakkan dada. Di gerbang besi yang dulu selalu dibuka dengan tawa ibunya, kini menempel plakat besar bertuliskan. 'Disita oleh Pihak Bank.' Napas Nay tercekat. Kakinya seolah kehilangan tenaga, tubuhnya bergoyang pelan. Jika saja Lucas tak cepat menahan lengannya, mungkin ia sudah terjatuh di jalan berbatu itu. "Tidak mungkin," bisiknya lirih, matanya membulat tak percaya. "Bagaimana bisa rumah ini… disita? Apa yang sebenarnya terjadi dengan keluargaku?" Lucas menatap wajah Nay yang pucat pasi. Ia bisa merasakan betapa hancurnya hati wanita itu. Tangannya terulur, menggenggam erat bahu Nay, menuntunnya agar tidak roboh. "Tenanglah, Nay. Kita akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hari ini buk
Last Updated: 2025-10-21
Chapter: Kepulangan Lucas dan NayUdara pagi menyelimuti kota Brigston dengan kabut tipis yang bergelayut di antara deretan gedung tinggi. Di jendela kaca apartemen mewah lantai dua puluh, Alan berdiri memandangi pemandangan kota yang baru terbangun. Secangkir kopi hitam di tangannya sudah mulai dingin. Ken masih tertidur di kamar, dan Gavin—entah sejak kapan—sudah pergi. Mungkin kembali ke hotelnya, atau mungkin ke tempat lain. Alan tidak tahu, dan tidak ingin tahu. Luka itu nyatanya masih membekas, meskipun Gavin bersikeras ingin kembali padanya. Namun, entah kenapa bayangan masa lalunya selalu hadir. Tentang perasannya pada Gavin yang begitu menggebu, dan sikap pria itu saat di kebun binatang kemarin bersama sang anak. Jika orang tidak tahu, mereka seperti keluarga bahagia, nyatanya semua itu palsu. Ia menggigit bibir bawahnya, frustasi. "Kenapa aku harus goyah lagi?" gumamnya. "Padahal semua sudah berakhir. " Tangannya bergetar saat mencoba meneguk kopi. Pandangan matanya kosong, memantul pada kaca jendel
Last Updated: 2025-10-19
Chapter: Membongkar Rahasia Kelam Masa LaluMobil sport merah milik Alan, kini terparkir di area taman hiburan yang terletak di kota Brigston. Ken yang duduk di jok belakang, kini tampak berbinar melihat hal-hal langka yang tidak pernah dia lihat sejak lahir karena memang Alan tidak pernah mengajak anaknya itu pergi jalan-jalan ke taman hiburan.Selain karena kesibukan, dia takut putranya bertemu dengan Gavin. Namun, kini apa yang terjadi, justru putranya itu lengket dengan laki-laki yang paling dia benci."Ken, jangan lari. Nanti jatuh!" seru Gavin, saat melihat putranya langsung menerobos keluar dari dalam mobil, dan berlari ke arah pintu masuk taman hiburan."Tempatnya bagus, Papa. Ken hanya ingin lihat dari dekat!" serunya. Jari mungilnya menunjuk tempat itu dengan senyum sumringah.Disaat Gavin tertawa lebar akan tingkah putranya, dia kemudian menoleh ke samping, di mana sosok Alan masih berdiri di sampingnya dengan gaya angkuhnya seperti biasa."Apa semalam kau tidak tidur, hem?" bisiknya pelan. Memanfaatkan kedekatan mer
Last Updated: 2025-09-21
Balas Dendam Istri Jenderal Qu
Shen Lihua adalah putri sulung dari klan terkemuka Shen. Sejak kecil dia bercita-cita ingin menjadi seorang tabib wanita pertama di dinasti Ruo. Namun, semua harapannya kandas ketika ayahnya memaksa dia menikah dengan Jenderal Qu Liang, dan melahirkan keturunan Qu.
Takdir tak pernah berpihak pada Shen Lihua, setelah 3 tahun menikah, Shen Lihua tak kunjung hamil. Hingga pagi menyesakkan itu tiba, pelayanan kediaman Jenderal—Su Minshan—hamil anak Qu Liang karena perselingkuhan.
Keluarganya menuduh Shen Lihua mandul, dan menjadi aib keluarga sendiri.
Dia dibuang, diusir klannya sendiri, dicaci maki.
Malam di mana dia diasingkan seorang pria tua menolongnya, dan menjadikannya murid. Pria itu adalah Lan Rui Hong—tabib legendaris yang memilih mengasingkan diri di gunung.
Lima tahun berlalu, akhirnya Shen Lihua kembali, dan menuntut balas.
Read
Chapter: Bab 27. Rasa Yang Mulai Bersemi Malam merangkak semakin tinggi, namun Shen Lihua tetap tak mampu memejamkan kedua matanya. Ia duduk di hadapan perapian yang masih menyala, memeluk lututnya sendiri. Suara kayu yang digerogoti api berderak pelan, terdengar begitu nyaring, seolah setiap letupannya memantul di relung hatinya. Bayangan pernikahan Jenderal Qu dan Su Minshan kembali berputar di kepalanya, tak mau hilang. Melekat seperti lem. Tiga tahun lalu… Dialah yang berdiri di sisi Qu Liang, sama persis seperti posisi Su Minshan tadi pagi. Meski pernikahan itu terjadi karena titah kaisar, Shen Lihua kala itu sungguh bahagia. Jenderal Qu adalah pria yang tampan, gagah, dan bertanggung jawab. Qu Liang tak pernah berkata kasar padanya. Bahkan di malam hari ketika pria itu kembali dari medan perang, pria itu selalu memperlakukannya dengan lembut—seolah ia adalah sesuatu yang harus dijaga dengan penuh kehati-hatian. Namun semua itu runtuh, tepat sejak Su Minshan memasuki kediaman Qu sebagai seorang pelayan.S
Last Updated: 2026-01-13
Chapter: Bab 26. SandiwaraAula Naga malam itu dipenuhi hawa dingin yang menekan urat nadi. Seperti hantu yang siap meneror kapan saja. Lentera-lentera istana bergoyang pelan tertiup angin, memantulkan bayangan panjang para pejabat yang berdiri berjajar rapi. Tidak ada satu pun yang berani mengangkat kepala. Di singgasana naga, Kaisar Lin duduk dengan wajah kelam. Urat-uratnya terlihat menonjol dari tangan yang mencengkeram jubahnya sendiri. "Panggil Putra Mahkota!" perintahnya lantang. "Baik Yang Mulia." Menteri Hong langsung bergerak, namun tak lama sosok Lin Ye Su muncul dari aula, dan kini berjalan menuju singgahsana kaisar Lin. Langkahnya tidak terburu-buru. Bahkan terlalu santai untuk ukuran seseorang yang dipanggil menghadap Kaisar dalam keadaan murka. Ia sempat berhenti di depan pintu, menepuk-nepuk sakunya seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. "Gula-gulaku jatuh ke mana, ya?" gumamnya pelan. Sesekali bibirnya maju dengan pipi menggembung. Seorang kasim hampir pingsan melihat kelak
Last Updated: 2026-01-12
Chapter: Bab 25. Tabir Misteri Malam telah turun sepenuhnya ketika Shen Lihua tiba di pondok Lan Rui Hong bersama Luo Qingyu. Angin pegunungan berembus pelan, membawa hawa dingin yang merayap hingga ke tulang. Begitu pintu kayu didorong terbuka, aroma obat-obatan yang khas langsung menyergap indra penciumannya. Lan Rui Hong telah menunggu di dalam. Pria tua itu berdiri di dekat meja obat, jubah lusuhnya tampak berayun ringan tertiup angin malam yang menyelinap dari celah jendela. Begitu melihat dua muridnya masuk, raut wajahnya sedikit melunak, namun kekhawatiran di kerut-kerut wajahnya sama sekali belum memudar. "Kalian sudah kembali?" ucapnya pelan, lalu pandangannya menyapu ke belakang Shen Lihua dan Luo Qingyu. "Di mana Lin Ru?" Gurat usia di wajah Lan Rui Hong semakin dalam. Sorot matanya tajam, tetapi kegelisahan tak bisa ia sembunyikan. Shen Lihua segera melangkah maju, menangkupkan tangan, lalu memberi hormat dengan sikap sempurna. "Murid memberi salam pada Guru." Ia lalu menegakkan tubuhnya.
Last Updated: 2026-01-12
Chapter: Bab 24. TaruhanTakjub, adalah hal pertama yang mereka semua rasakan. Ketika bilah pedang itu bergetar di udara, memantulkan cahaya dingin yang membuat aula semakin sunyi. Lie Bing. Pedang legendaris yang hanya akan mengakui satu tuan. "Itu Lie Bing." "Kau benar, tidak sembarang orang bisa menaklukann Lie Bing." Semua orang juga tahu, pedang itu hanya mampu dikendalikan oleh orang yang memiliki ilmu pedang tingkat tinggi. Semua mata membelalak. Beberapa pejabat mundur setengah langkah tanpa sadar. Bahkan Lin Hua Su yang tadi sok berani, kini refleks menurunkan tangannya. Namun—Detik berikutnya, sesuatu yang sama sekali tak terduga terjadi. Lin Ye Su menghela napas panjang, lalu… menguap. Ya, menguap. Ia menggaruk kepalanya dengan malas, kemudian memiringkan kepala sambil menatap pedang itu seolah melihat sapu dapur. "Eh?" katanya polos. "Kenapa pedangnya keluar sendiri? Aku kan belum menyuruh apa-apa." Suara itu. Nada bodoh itu. Seisi aula terdiam… lalu bingung. Lie Bing
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Bab 23. Pernyataan KontroversialAula kediaman Qu seketika hening karena ucapan sembrono putra mahkota. Waktu seolah berhenti. Semua orang menatapnya tak percaya. Kata-kata itu—menggema di telinga setiap orang yang hadir, menghantam kesadaran mereka tanpa ampun. Mangatakan kekasih dengan begitu mudahnya. Apa Lin Ye Su sudah gila? Benar jika kata bodoh tersemat pada sosok putra mahkota. Selain bodoh, Lin Ye Su juga tidak tahu malu. Shen Lihua membeku, begitupula dengan Luo Qingyu yang mengamati sang nona dari kejauhan. Gadis itu hampir menjatuhkan rahangnya. Sikap sembrono ini, begitu familiar bagi Luo Qingyu. "Kenapa dia mirip dengan si perampok gunung itu? Tapi mana mungkin, sungguh mustahil." Luo Qingyu menggelengkan kepalanya cepat. Tak mau menebak hal yang jelas mustahil terjadi. Lin Ye Su begitu tampan dan dia putra mahkota, meskipun bodoh dan tak tahu malu. Sedangkan Lin Ru—wajahnya mengerikan dengan luka memanjang di wajah, dan dia pria mata keranjang. Sementara itu Shen Lihua diam membeku.
Last Updated: 2026-01-11
Chapter: Bab 22. Identitas TersembunyiTubuh Shen Lihua masih terasa ringan di udara ketika dua lengan kuat itu menahannya dengan kokoh. Suasana aula seketika membeku. Musik pernikahan berhenti mendadak. Para tamu menahan napas, tak satu pun berani bergerak. Bahkan Nyonya Tua Qu yang biasanya lantang, kini membisu dengan wajah pucat, ketika melihat rombongan istana. Shen Lihua menatap pria di hadapannya. Menilai setiap sudut wajah rupawan itu dengan seksama. Jubah kuning keemasan itu— lambang naga berkuku lima— tak mungkin salah. Putra Mahkota Yanqing. Lin Ye Su. Jantungnya sempat berdegub sebentar sebelum dia mampu menguasai dirinya sendiri, dan memperbaiki posisinya. Pria itu menunduk sedikit, memastikan Shen Lihua berdiri dengan benar sebelum melepaskan pelukannya. "Apa Nona baik-baik saja?" tanyanya. Shen Lihua sempat mencerna, suara ini seperti familiar. Namun, dia mengabaikan segala pikiran liarnya. "Mana mungkin dia Lin Ru, tidak mungkin. Lin Ru memiliki luka memanjang di wajah, sedangkan p
Last Updated: 2026-01-10
Istri Jelekku Ternyata Komandan Polisi
Sepuluh tahun lalu, Axelia Aruna dinodai oleh pewaris Smitt, Alaric Deveraux Smitt. Ia Mengandung benih pria itu, namun Alaric justru mencampakkannya dan mengira dia adalah jalang yang yang bekerja di klub malam, tanpa dia mencari tahu siapa sebenarnya Axelia Aruna.
Sepuluh tahun kemudian, Axelia Aruna kembali, dia dipaksa menikah dengan Alaric oleh Tuan Smitt karena tahu Aruna melahirkan pewaris Smitt. Namun, Aruna tak ingin pernikahan ini didasari tanpa cinta dan hanya melihat rupa juga kekuasaan.
Dia menyamar sebagai wanita jelek, dan tidak memiliki apa-apa. Berharap Alaric bisa mencintai dia apa adanya, dan setelah itu dia akan memberitahu, jika sembilan tahun yang lalu dia melahirkan putra mereka. Akan tetapi, Alaric justru menghinanya, merendahkannya, dan menyuruh sahabat adiknya untuk berpura-pura menjadi kekasihnya agar Aruna meminta cerai.
Lalu, bagaiman hidup rumah tangga Aruna dan Alaric selanjutnya.
Read
Chapter: Bab 83 "Berengsek! Berani sekali kau datang kemari!" Alaric melangkah maju satu langkah, bahunya menegang, sorot matanya tajam seolah siap menerkam. Aura posesif itu tak sedikit pun ia sembunyikan. Alex Morgan tidak mundur. Pria itu justru menundukkan kepala lebih dulu—sebuah sikap yang jarang, nyaris tak pernah dilakukan oleh seseorang sepertinya. "Aku datang bukan untuk membuat masalah, Tuan Smith," ucap Alex tenang. "Aku datang untuk menyelesaikan segalanya." Aruna berdiri di antara dua pria itu. Wajahnya tenang, meski ia bisa merasakan ketegangan yang mengeras di udara. “Apa maksudmu?” tanya Aruna. Alex mengangkat wajahnya, menatap Aruna dengan sorot yang berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi ambisi untuk memiliki, tidak ada lagi ketertarikan yang berusaha dia raih. Hanya sorot mata yang penuh keikhalasan. "Aku ingin meminta maaf." Alaric menyeringai dingin. "Meminta maaf? Setelah semua sikapmu yang ingin merebut istriku." "Aku tahu," Alex mengangguk pelan. "Aku pern
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 82Hari ini adalah hari terakhir Aruna berada di Shane. Sore nanti dirinya harus kembali terbang ke Bersel untuk kembali bertugas mengemban kesatuannya di kepolisian. Apalagi dua hari kedepan dia harus segera menyiapkan persidangan tersangka kasus human traficking dengan tersangka atas nama Johan Whittaker. Ia telah mengepak semua pakaiannya kedalam koper ukuran sedang di sudut kamar apartemen milik Alaric. Tinggal menjemput Leonard dan juga Sean di rumah orangtuanya. Mata bulatnya merotasi seluruh ruangan kamar tersebut. Rasanya ia belum percaya, jika akhirnya ia telah berdamai dengan suami arogannya. Tak terasa bibirnya tersungging senyum tipis. Inilah yang ia impikan sejak dulu, berbahagia dengan orang yang ia cintai. Grepp Sepasang lengan melingkari perut ratanya. Terpaan napas hangat menyentuh leher jenjangnya, dan ia tahu siapa pelakunya. Siapa lagi jika bukan....... "Apa yang kau lakukan?" "Memeluk istriku, tentu saja." Alaric mulai menggombal. "Nanti ada yang liha
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 81"Jam berapa Leonard tiba di Bandara?" tanya Alaric yang duduk di belakang kemudi, sedangkan Aruna duduk di sisinya dengan ponsel yang sejak tadi menjadi fokusnya. "Sekitar jam 10 pagi, pesawatnya tidak delay, jadi dia akan sampai tepat waktu." Alaric mengangguk, lalu mengenggam tangan sang istri. Aruna yang merasa hangat di telapak tangannya, lalu menoleh ke samping guna untuk menatap tangannya sendiri. "Al." "Kenapa? Apa tidak boleh?" Aruna menggeleng pelan. "Tidak, hanya saja kita sudah tak muda lagi." "Untuk jatuh cinta pada seseorang tak perlu di waktu muda saja. Karena aku akan mencintaimu sampai kita menua bersama, Sayang." Dikecupnya tangan Aruna, membuat dada wanita itu berdesir hebat. Wajahnya merona hebat. Ia tak pernah merasakan perasaan membuncah seperti ini. Apa seperti rasanya dicintai sepenuh hati? "Kenapa, Sayang?" Aruna menggeleng cepat. "Tidak ada, aku hanya bahagia."Alaric kembali tersenyum, dikecupnya lagi tangan sang istri, lalu menatap mata sekelam
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 80Leonard dan Dylan berjalan pelan keluar dari area bandara. Sepanjang berada di pesawat Leonard menggerutu kesal, karena apa? Karena komandan menyebalkannya itu ternyata berada di pesawat yang sama dengannya dan Dylan.Andai saja dia tahu sejak awal, ia memilih untuk batalkan penerbangan, dan ikut penerbangan selanjutnya.Dia juga tak menyangka, kalau Klause Vincent juga memiliki jadwal libur yang sama dengannya. Atau mungkin pria itu mengambil cuti tahunannya.Dia bahkan baru tahu akhir-akhir ini, jika Klause Vincent berasal dari Shane.Kebetulan yang menyebalkan, bukan. Ia menyeret kopernya dengan brutal diikuti Dylan yang terus tertawa di sampingnya. Mata cokelatnya memincing dengan raut wajah kesal. "Tertawa saja terus, Sersan, dan habiskan kotak tertawamu biar wajah mu keriput dan Leona tak mau padamu." Leonard kesal sendiri. Kenapa nasibnya selalu sial begini. Sungguh sialan, dia harus segera mencari pacar agar dia tak disangka suka pria, dan lebih parahnya komandannya lah ya
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 79"Lesu sekali kau, Sersan?" Dylan meletakan segelas kopi di hadapan polisi muda berwajah tampan tersebut. Kepalanya yang tertelungkup di atas meja, kini mendongak menatap pemuda berpangkat sersan polisi yang kini memilih duduk di depannya. Dylan Yi, pemuda itu masih asyik meniup secangkir americano yang ia pesan di kantin kantor, seraya melirik Leonard yang masih memainkan ponselnya dengan tak bersemangat. Kepalanya menggeleng pelan, tak mengerti apa yang terjadi dengan pemuda pewaris ADS grub itu. "Hei, ada apa denganmu, kau sakit?" tanya Dylan sekali lagi. "Aku rindu Mommy dan Sean." Dengan jengah Dylan memutar bola matanya. "Sudah sebesar ini kau masih merengek? Astaga Sersan. Komisaris juga baru pergi kemarin, besok akhir pekan, kau ada jadwal jaga tidak?" "Tidak ada." Dia menjawab dengan gelengan kepala. "Kita ke sana, aku juga rindu Shane." "Bilang saja kau ingin mencari gadis-gadis cantik di sana?" Leonard mencibir. Beberapa detik kemudian, dia menegakkan tubuh
Last Updated: 2025-12-31
Chapter: Bab 78 (Warning 21+)Suara desahan saling bersahutan di kamar dengan nuansa romantisme yang terbangun di antara kedua pasangan yang kini merasakan kembali indahnya rasa cinta. Aruna mendongak memberi akses pada suaminya yang kini mengecup leher jenjangnya yang putih pucat. Wanita itu berusaha menahan desahannya di saat gelombang nikmat kini menghantamnya, hingga rasanya semua otot persendiannya melunak. "Ahhh, Kak Deve." "Yes Honey." "Sudah cukup aku...," Alaric merangkak naik. Membelai dada terbuka yang membuat hasratnya berada di puncak. Apalagi wajah cantik yang kini pasrah di bawahnya. Sepuluh tahun sudah dia menahannya. Sekarang Alaric tak lagi bisa membendungnya. Ingin mengeksekusi tubuh istrinya pagi ini. Bahkan tak ingin menunggu matahari kembali ke peraduannya. Nafsu untuk mencicipi tubuh putih mulus ini sudah tak bisa dirinya kuasai. "Runa, You are beautiful." "Jangan menggombal, Tuan muda Smith." "Aku tidak, bagi Alaric, Aruna sangatlah cantik." Termakan kata-kata manis suaminya. A
Last Updated: 2025-12-29
Chapter: Kedatangan Orang Di Masa Lalu"Ibu, apa yang terjadi? Ada apa dengan Kak Seonjoo." Lizza menggeleng lemah pada putranya. Saat ini pikirannya tengah kalut. Bingung harus berbuat apa."Kakak, kau mau ke mana?""Maaf Sean, Kakak permisi pulang."Seonjoo berlalu pergi dari rumah Lizza tanpa mengucapkan sepatah katapun pada wanita itu. Dia hanya berbicara pada Sean.Lizza menatap nanar punggung lebar Seonjoo yang semakin menjauh dari pandangan matanya. dia sudah menduga semua akan berakhir seperti ini."Bu, apa Kak Seonjoo marah?" tanyanya. Wajahnya mendongak menatap wajah cantik ibunya yang fokus pada pintu depan di mana sosok Senjoo menghilang."Mungkin Kak Seonjoo marah dengan Ibu," ucapnya.Sean memperhatikan ibunya yang tampak tak bersemangat setelah kepergian Seonjoo. Dia tidak tahu ada masalah apa antara ibunya dan pria muda itu. Bukanya mereka teman lantas kenapa Seonjoo begitu kecewa dengan ibunya. Sean tidaklah bodoh walaupun usianya baru 10
Last Updated: 2021-08-20
Chapter: Akhirnya Seonjoo TahuLizza berjalan terburu-buru sembari menenteng dua kantong besar berisi bahan-bahan makanan menuju flat kecilnya. Dia sudah terlambat untuk memasak makan malam untuk Sean. dia mampir ke tempat Seolwoo dulu tadi untuk mengajarinya memasak, karena Seolwoo sangat payah dalam memasak. Pemuda itu ingin pintar memasak seperti Lizza, karena dia tidak ingin terus merepitkan dengan menumpang makan di rumah wanita cantik itu. Dia tahu diri, apalagi sekarang Lizza tengah dekat Seonjoo, dia tak ingin melihat orang yang dia suka berduaan dengan pria lain.Lizza membuka pintu flat kecilnya, sambil berteriak memanggil Sean putranya."Sean, Ibu pul..., "Lizza urung melanjutkan ucapnnya karena melihat putranya tengah duduk bersandar pada kursi satu-satunya yang ada di flatnya dengan wajah penuh lebam."Astaga! Sean, kau kenapa sayang, kenapa wajahmu lebam begini, bicara pada Ibu.""Aku tidak apa-apa, Bu."
Last Updated: 2021-06-27
Chapter: IkatanSean berjalan menghampiri ibunya yang tengah asyik berkutat di dapur kecilnya, bau harum masakan menyeruak ke dalam indera penciuman seorang Sean Kim yang membuat perutnya seketika lapar. Bocah itu mengelus perut kecilnya, mendudukan tubuhnya di lantai ruang tengah rumahnya yang menyatu dengan dapur."Ibu? " Lizza menoleh mendengar Sean memanggilnya."Kau sudah lapar Sayang, sebentar ya Ibu akan membawanya ke situ."Sean menganguk lantas menidurkan kepalanya di atas meja, memperhatikan ibunya yang sibuk menata makanan."Nah sudah selesai ayo kita makan." Sean hanya mengangguk malas, Lizza memandang wajah lesu putranya, dia jadi kwatir."Sean, ada apa denganmu, hem. Kamu sakit?"Bocah itu menggeleng lemah, "Tidak, aku tidak apa-apa, Bu.""Sean, katakan pada Ibu, Sayang. Apa teman-temanmu mengganggumu lagi di sekolah?"Sean mendongakan kepalanya.
Last Updated: 2021-06-25
Chapter: Rahasia Kelam SeonjooHari ini masih sangat pagi, namun seorang Baek Seon Joo sudah duduk melamun di depan sebuah nisan. Suasana pemakaman begitu sepi, maklum hari masih sangat pagi dan hari ini adalah hari minggu, biasanya orang-orang akan menghabiskan waktunya di tempat tidur sambil bergelung nyaman denga selimut tebal, atau sekedar jalan-jalan untuk menyegarkan otak. Namun, Seon Joo malah memilih untuk pergi ke makam.Seon Joo mengusap lembut batu nisan bertuliskan Baek Seo Joon yang merupakan makam milik kakaknya. Makamnya tampak bersih, dan di tumbuhi berbagai macam bunga di sekitarnya, mungkin ibunya yang selalu merawatnya.Pikiranya menerawang jauh ke belakang mengingat sosok kakaknya yang begitu ceria, namun sosok itu tiba-tiba berubah setelah kepulanganya dari Cheongnam. Kakaknya berubah menjadi sosok yang tidak ia kenal sama sekali. Seojoon menjadi sosok pendiam dan puncaknya saat dirinya mendengar kabar bahwa Kakaknya kecelaka
Last Updated: 2021-06-18
Chapter: Apakah Ini CintaSudah sebulan lebih Seonjoo bekerja di Park company, dan semakin hari perasaan cintanya, semakin tumbuh pada Kim Yoonhee atau Lizza. Seonjoo menatap Lizza dalam diam. Saat ini mereka telah bersiap-siap akan pulang ke rumah. Seonjoo berdiri tak jauh dari tempat Lizza yang tengah membereskan barang-barangnya di dalam loker. Pemuda itu sengaja menunggu Lizza karena akan mengajak wanita itu berjalan-jalan sore sebentar menikmati waktu senja di tepi sungai Han. Sekaligus menyatakan perasannya pada perempuan cantik itu. "Ayo, jadi kita pergi?" tanya Lizza yang sudah bersiap dengan tas selempang berwarna putih menggantung di bahunya. Seonjoo memgangguk lalu dia berjalan lebih dulu diikuti Lizza yang berjalan di belakangnya. Sebenarnya, wanita itu begitu gugup sekarang. Karena tiba-tiba si pendiam Baek Seonjoo mengajaknya jala bersama. Lizza terus melamun, hingga tanpa sadar dia menubruk punggung pemuda tampan itu. "Kau tidak apa-a
Last Updated: 2021-06-14
Chapter: Seonjoo Yang Mencintai Lizza Dalam DiamLagi-lagi pemandangan menyakitkan itu membuat mata Seolwoo pedih. Dia menghela napasnya panjang. Dia sudah memutuskan untuk membuang perasaannya pada Lizza. Tetapi, kenapa setiap dia melihat Lizza dan Seon Joo semakin lengket setiap hari hatinya merasa begitu sakit."Tidak aku tidak boleh begini, kau bisa Seolwoo, kau bisa melespaskannya," ucapnya menyemangati dirinya sendiri. Dia lalu berlari menghampiri kedua orang itu—Lizza dan Seon Joo— yang tengah berjalan bersama."Kalian berdua, wah semakin lengket saja, apa kalian sudah bersama sekarang," ucapnya sembari menyenggol pelan bahu Lizza.Lizza sendiri tampak salah tingkah. "Kau ini bicara apa, kita hanya teman."Seolwoo menyipitkan kedua matanya. Memutari tubuh mereka berdua dengan satu jarinya dia ketuk-ketukan di atas dagu."Aku tidak percaya, ayo mengaku saja.""Kami hanya berteman dekat, Hyung," sambar S
Last Updated: 2021-06-12