Home / Romansa / ISTRI POLOSKU YANG MENGGAIRAHKAN / KEPALSUAN DI ISTANA MEWAH

Share

KEPALSUAN DI ISTANA MEWAH

Author: Dita Sintiya
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-09 01:50:55

​Langkah kaki Arka bergegas meninggalkan kamar pengantin dengan dada yang bergemuruh hebat dan napas tersengal.

Ia tidak kembali ke kamar utama, melainkan melarikan diri ke kamar tamu, tempat ia menghabiskan malam sebelum resmi menikahi Melati.

Di dalam ruangan yang sunyi itu, pertahanan pria matang yang terbiasa memegang kendali dunia bisnis seketika runtuh berkeping-keping.

Arka menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang, mencengkeram kuat-kuat rambutnya dengan kedua tangan, lalu membiarkan isak tangis yang menyayat hati pecah dari tenggorokannya.

​Arka tersedu-sedu, air matanya tumpah menahan beban batin yang teramat berat.

Ia merasa jijik sekaligus hancur pada dirinya sendiri, selama sepuluh tahun pernikahannya dengan Kirana, ia selalu membanggakan diri sebagai seorang suami yang setia, pria yang menjaga kesucian ikrar suci tanpa pernah melirik perempuan lain barang sedetik pun.

Namun, malam ini, hanya karena kecantikan alami dan kepolosan luar biasa dari seorang gadis desa bernama Melati, ia tanpa sadar hampir mengkhianati belahan jiwanya.

​"Maafkan aku, Kirana... Maafkan aku..." rintih Arka berulang kali di dalam keheningan malam, merutuki kelemahan imannya sendiri.

​Meskipun ia dan Kirana belum dikaruniai seorang anak di usia pernikahan satu dekade mereka, Arka tidak pernah sedikit pun berniat untuk mendua, apalagi mencicipi tubuh wanita lain.

Namun takdir berjalan di atas jalur yang kejam.

Kini, ia resmi berstatus memiliki dua istri, dan batas kesucian itu telah ternoda oleh gairah yang tak mampu ia bendung.

Sepanjang malam itu, Arka sama sekali tidak bisa memejamkan mata.

Pikirannya kacau balau, terbelenggu oleh rasa bersalah yang teramat dalam pada Kirana dan rasa iba yang bercampur sesal terhadap Melati di kamar sebelah.

​Menjelang fajar menyingsing, ketika semburat jingga mulai menghiasi langit timur, ketukan pelan terdengar di pintu kamar tamu.

Suara lembut Melati menyelinap masuk, memanggil namanya dengan penuh kelembutan.

​"Mas... Mas Arka..." panggil Melati lirih dari balik pintu. "Hari sudah hampir subuh. Mari bangun, kita salat subuh berjemaah..."

​Awalnya, Arka merasa enggan untuk membuka pintu.

Ia masih diliputi rasa bersalah yang teramat pekat.

Namun, kesadaran menghantamnya bahwa Melati sama sekali tidak bersalah atas kekacauan ini, gadis itu adalah korban dari keadaan.

Dengan helaian napas berat, Arka bangkit dan membuka daun pintu.

​Di hadapannya, Melati berdiri dengan balutan mukena putih bersih.

Senyuman tulus terukir di wajah anggunnya, menyapa sang suami dengan kelembutan yang menyejukkan hati.

​"Mas Arka... mari kita salat subuh," ucap Melati manis.

​Arka mengerjap, menatap wajah polos itu sebelum akhirnya mengangguk pelan dan suara serak. "Iya, Melati. Tunggu aku sebentar di musala,"

​Beberapa menit kemudian, keduanya berdiri berdampingan dalam balutan ibadah.

Arka memimpin salat subuh dengan khusyuk, berusaha menepis segala kegalauan di kepalanya.

Selesai salat, saat Arka baru saja melipat sajadah, Melati tiba-tiba bergerak mendekat.

Dengan gerakan ragu namun penuh ketulusan, gadis itu merangkul lengan suaminya, menunduk dalam-dalam dengan pipi merona merah.

​"Mas..." bisik Melati dengan suara bergetar halus.

"Aku... aku minta maaf. Semalam... aku tahu aku masih sangat kaku dan bodoh dalam melayani suami. Aku takut membuat Mas Arka kecewa, makanya... makanya Mas Arka semalam berhenti..."

​Mendengar pengakuan polos itu, pertahanan hati Arka seolah dihantam palu godam.

Rasa bersalahnya meroket tajam.

Gadis ini, istri mudanya yang tulus, malah menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian semalam, padahal jelas-jelas dialah yang menghentikan semuanya karena bayangan Kirana.

Dengan senyuman paling lembut yang bisa ia simpulkan, Arka menatap Melati lekat-lekat.

​"Tidak apa-apa, Melati. Jangan menyalahkan dirimu sendiri," ucap Arka lembut sambil mengusap puncak kepala istrinya yang tertutup mukena.

​Melati mengangkat wajahnya, menatap Arka dengan binar penuh harap dan kesetiaan mutlak.

"Aku berjanji, Mas... Aku akan belajar menjadi istri yang baik. Aku akan melayani suamiku dengan sepenuh hati, dan segala kekuranganku akan kuperbaiki agar Mas Arka merasa senang bersamaku."

​Arka tertegun. Ketulusan luar biasa itu membuatnya tak kuasa berkata-kata.

Ia hanya bisa menghela napas panjang, lalu memeluk tubuh mungil Melati erat-erat ke dalam dekapannya, mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh kehangatan. "Baiklah... terima kasih, Melati."

​Siang hari menjelang kepulangan, suasana di rumah Bibi Rasti dipenuhi keharuan yang mendalam.

Arka mengajak Melati bersiap karena pekerjaan mendesak di ibu kota sudah menunggunya.

Sebelum berangkat, Melati berpamitan kepada bibi dan pamannya.

Bibi Rasti dan Paman Harun memeluk erat keponakan kesayangan mereka dengan air mata berlinang.

Kedua orang tua paruh baya itu merasa sangat sedih harus berpisah dari Melati, namun demi melihat masa depan dan kebahagiaan sang keponakan terjamin di kota besar, mereka rela melepaskannya pergi.

​Perjalanan darat menuju ibu kota memakan waktu hampir delapan jam penuh di dalam mobil mewah Arka.

Selama di perjalanan, suasana di kabin terasa cukup tenang.

Mereka sesekali berbincang ringan.

Melati, dengan mata berbinar-binar penuh takjub, terus memandangi pemandangan gedung-gedung dan suasana jalanan kota dari balik jendela mobil.

Bagi gadis desa itu, kota besar tampak begitu asing namun sangat indah, menumbuhkan senyuman di wajahnya tatkala ia membayangkan hari-hari barunya hidup bersama sang suami.

​Namun, di balik senyum Melati, Arka justru tenggelam dalam kecemasan yang luar biasa di kursi pengemudi.

Pikirannya melayang pada satu hal: Apa yang harus kukatakan kepada Kirana?

Arka sama sekali tidak ingin menyakiti istri pertamanya, perempuan yang sangat ia cintai setengah mati.

Mengungkapkan bahwa ia membawa pulang seorang istri kedua, terlebih dari situasi yang melibatkan kematian seorang buruh, pasti akan menghancurkan hati Kirana berkeping-keping.

Karena itu, Arka mengambil keputusan pengecut, setidaknya untuk saat ini, Kirana tidak boleh tahu yang sebenarnya.

​Mendekati gerbang kediaman mereka, Arka melirik Melati dari sudut matanya, lalu berdehem pelan untuk menarik perhatian sang istri baru.

​"Melati," ucap Arka serius, membuat gadis itu menoleh. "Nanti saat kita sampai di rumah, apa pun yang aku katakan atau tanyakan, kamu cukup diam saja, jika aku meminta sesuatu atau menjelaskan sesuatu, kamu cukup menjawab 'iya'. Mengerti?"

​Melati tertegun sejenak. Ada desir keanehan dan rasa tidak enak yang menusuk hatinya mendengar perintah itu.

Namun, rasa hormat dan kepatuhannya pada sang suami membuatnya tidak berani mendebat sedikit pun. Melati hanya mengangguk pelan. "Baik, Mas..."

​Tak lama kemudian, mobil mewah Arka berbelok memasuki kawasan perumahan elit, berhenti tepat di depan sebuah rumah megah bergaya American Classic yang berdiri gagah dengan pilar-pilar tinggi dan halaman yang luas.

Melati membelalakkan matanya tak percaya.

Ia terpaku menatap istana mewah di hadapannya.

Rumah sederhana miliknya sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kemegahan tempat yang kini menjadi kediaman suaminya.

​Arka turun lebih dulu, membukakan pintu mobil, lalu menurunkan koper pakaian Melati.

Namun, mereka tidak berjalan berdampingan, Arka berjalan di depan dengan langkah tegas, sementara Melati mengekor di belakangnya dengan kepala tertunduk.

​Begitu pintu utama terbuka dan mereka melangkah masuk ke dalam foyer rumah yang megah berlantai marmer mengkilap, aroma wangi parfum mewah langsung menyambut.

Seperti kebiasaannya setiap hari, Kirana dengan balutan pakaian rumah yang anggun dan senyuman manis terukir di bibirnya, melangkah cepat dari arah ruang keluarga untuk menyambut kepulangan suaminya.

​"Selamat datang kembali, Mas..." ucap Kirana hangat, langsung merentangkan tangan untuk memberikan pelukan kebiasaannya kepada Arka.

​Namun, langkah Kirana mendadak terhenti seketika saat matanya menangkap sosok asing di belakang suaminya.

Kirana mematung, Ia melihat seorang gadis muda berwajah sangat polos, mengenakan pakaian sederhana dengan tas jinjing di tangan, berdiri menunduk di ambang pintu rumah mereka.

Senyuman di wajah Kirana memudar, digantikan oleh kerutan kening penuh kebingungan dan selidik.

​Kirana menatap Melati dari atas sampai bawah, lalu mengalihkan pandangannya tajam kepada suaminya. "Mas... siapa gadis ini? Kenapa dia datang bersamamu?"

​Arka menelan ludah kelat, jantungnya berdegup kencang menahan beban kebohongan besar.

Dengan wajah kaku yang dipaksakan setenang mungkin, Arka menatap sang istri pertama, lalu melontarkan kalimat yang langsung meremukkan harga diri Melati seketika.

​"Dia..." Arka menarik napas dalam-dalam, "...dia adalah pembantu baru yang akan membantu pekerjaan rumah kita mulai hari ini, Kirana."

​Mendengar ucapan itu, Melati terkejut bukan kepalang.

Kedua matanya membelalak lebar, dadanya sesak seketika, dan rasa terhina menjalar hebat di seluruh tubuhnya.

Namun, di tengah keterkejutan dan air mata yang hampir tumpah, ingatan tentang pesan Arka di dalam mobil berputar keras di kepalanya: kamu cukup diam saja dan menjawab iya.

Melati menggigit bibir bawahnya hingga pucat, menahan seluruh rasa sakit itu di dalam hati. "Iya Nyonya, Saya pembantu baru yang di bawa Pak Arka dari Desa."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • ISTRI POLOSKU YANG MENGGAIRAHKAN   KEPALSUAN DI ISTANA MEWAH

    ​Langkah kaki Arka bergegas meninggalkan kamar pengantin dengan dada yang bergemuruh hebat dan napas tersengal. Ia tidak kembali ke kamar utama, melainkan melarikan diri ke kamar tamu, tempat ia menghabiskan malam sebelum resmi menikahi Melati. Di dalam ruangan yang sunyi itu, pertahanan pria matang yang terbiasa memegang kendali dunia bisnis seketika runtuh berkeping-keping. Arka menjatuhkan tubuhnya ke tepi ranjang, mencengkeram kuat-kuat rambutnya dengan kedua tangan, lalu membiarkan isak tangis yang menyayat hati pecah dari tenggorokannya.​Arka tersedu-sedu, air matanya tumpah menahan beban batin yang teramat berat. Ia merasa jijik sekaligus hancur pada dirinya sendiri, selama sepuluh tahun pernikahannya dengan Kirana, ia selalu membanggakan diri sebagai seorang suami yang setia, pria yang menjaga kesucian ikrar suci tanpa pernah melirik perempuan lain barang sedetik pun. Namun, malam ini, hanya karena kecantikan alami dan kepolosan luar biasa dari seorang gadis desa bernam

  • ISTRI POLOSKU YANG MENGGAIRAHKAN   MALAM PENGANTIN YANG GAGAL

    ​Suara sahutan para saksi dan tetangga yang mengamini akad pernikahan tadi masih menyisakan kehangatan di udara. Sesaat setelah penghulu menutup doanya, Melati Anjani menoleh ke samping. dengan gerakan yang masih canggung namun penuh rasa takzim seorang istri, gadis itu meraih tangan kanan Arka Dirgantara, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Air mata kelegaan meleleh di pipi mulusnya.​Melihat ketulusan luar biasa dari istri mudanya, Arka merasakan desiran hangat yang asing di dadanya. Pria matang itu mengangkat tangan kanannya, lalu menangkup lembut puncak kepala Melati yang tertutup jilbab putih sederhana. Di hadapan para kerabat dan Bibi Rasti yang memandang dengan senyum penuh haru, Arka memejamkan mata dan melantunkan doa dalam hati, memohon kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk melindungi, membimbing, dan adil pada takdir baru yang kini berada dalam genggamannya.​"Alhamdulillah... barakallah, Nak Melati, Nak Arka," ucap Bibi Rasti tersedu samb

  • ISTRI POLOSKU YANG MENGGAIRAHKAN   IKRAR SUCI di BAWAH LANGIT DESA

    ​Suara ketukan pelan di daun pintu kamar menyadarkan Melati dari isak tangisnya yang panjang. Gadis itu mendongak, menyeka sisa air mata di pipinya yang masih basah. Pintu berderit pelan, memperlihatkan sosok wanita paruh baya berwajah teduh melangkah masuk. Bibi Rasti menghampiri keponakannya, lalu duduk di tepi ranjang sempit itu. Tanpa kata, ia merengkuh tubuh gemetar Melati ke dalam dekapannya yang hangat. ​"Nangislah sepuasmu, Nak..." bisik Bibi Rasti seraya mengelus lembut rambut panjang Melati. "Keluarkan semua sesak di dadamu. Tapi setelah ini, kamu harus mendengar Bibi bicara dari hati ke hati." ​Melati mendongak, menatap mata bibinya yang juga berkaca-kaca. "Bi... apa benar Ayah pergi karena menyelamatkan pria asing itu? Dan pria itu... dia datang untuk meminta aku menikahinya?" Melati memegang tangan Rasti. "Bibi, aku takut. Aku tidak kenal siapa dia, dan aku tidak ingin hidup dalam keterpaksaan," ucap Melati lirih. ​Bibi Rasti tersenyum tipis, sorot matanya meny

  • ISTRI POLOSKU YANG MENGGAIRAHKAN   PENOLAKAN di TENGAH AIR MATA

    ​ Kata-kata Arka barusan menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan di antara deru napas tertahan Melati.​Gadis berusia delapan belas tahun itu terkesiap, mundur selangkah dengan mata terbelalak tak percaya. Di tengah badai duka yang meremukkan hatinya karena kehilangan sang ayah, tiba-tiba seorang pria asing berpenampilan mewah datang menawarkan diri untuk menikahinya, menjadikannya istri, menggantikan posisi seorang ayah.​"Menikah...?" suara Melati tercekat, terdengar begitu rapuh dan bergetar hebat. Ia menatap Arka dengan tatapan tidak suka sekaligus ketakutan yang nyata. "Anda ini bicara apa, Tuan? Jangan bercanda di atas makam Ayah saya! Ini sama sekali tidak lucu!"​Arka berdiri perlahan, merapikan jasnya yang sedikit kotor dengan gerakan kaku. Hatinya bergemuruh hebat, terasa sangat berat dan sesak saat bayangan wajah Kirana, istri tercintanya, tiba-tiba melintas tajam di benaknya. Rasa bersalah menghantam dada Arka seperti palu godam. Kirana... maafkan

  • ISTRI POLOSKU YANG MENGGAIRAHKAN   JANJI DI DEPAN KEMATIAN

    ​Deru angin proyek pencakar langit di pusat ibu kota mendadak berubah menjadi jeritan ngeri ketika bunyi besi bergemeretak patah di udara. Sebuah crane pengangkut material berat kehilangan keseimbangan, meluncur deras dari lantai atas dan menghantam struktur kerangka utama. Di bawahnya, Arka Dirgantara pria berusia 35 tahun tengah melakukan inspeksi lapangan bersama beberapa mandor. Pria berdarah dingin dan sukses besar itu terpaku seketika, menatap bayangan maut yang jatuh tepat ke arahnya tanpa sempat menghindar.​Namun, sebelum hantaman besi seberat ratusan kilogram itu meremukkan tulangnya, sebuah tubuh paruh baya menerjang dari samping dengan sekuat tenaga.​Brak!​Tubuh Arka terpelanting jauh keluar dari zona bahaya, jatuh berguling di atas hamparan beton kasar dengan napas terengah-engah dan luka lecet di sekujur tangan serta jas kerjanya yang robek. Tapi nahas bagi sang penyelamat. Slamet Riyadi yang sudah berusia 50 tahun, buruh bangunan senior yang bertaruh nyawa di det

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status