Sydney sejak awal memang sudah menduga ada sesuatu di balik sikap baik Morgan pada Jerry.
“Aku akan mengikuti caramu.” Ucapan itu meluncur dari bibir Sydney dengan begitu tenang.Namun cukup untuk membuat Morgan mengernyitkan dahi. Alis pria itu langsung bertaut tajam, berusaha memahami jawaban sang istri.“Maksudmu apa, Darling?” tanya Morgan sambil terus menggenggam tangan Sydney di antara jemarinya.Sydney mengangkat bahu pelan dan mengukir senyum tipis.“Bukankah kau sedang menjaga musuh dalam selimut?” balas Sydney santai. “Aku juga akan melakukan hal yang sama. Waspada, tetapi menjaganya tetap dekat. Aku belajar dari yang terbaik.”Morgan mengerjapkan mata, terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan.Pria itu tersenyum tipis, lalu mengusap kepala Sydney dengan lembut.“Berhati-hatilah,” pinta Morgan.Sydney mengangguk. Lalu, wanita itu mencondongkan tubuh untuk mencium singkaJet pribadi yang disiapkan Morgan untuk penerbangan mereka ke Sevhastone, dilengkapi dengan beberapa peralatan kesehatan. Bahkan, Ken sengaja diminta untuk ikut sebagai dokter pribadi Sydney. “Zya tidak bisa ikut, anak kami masih terlalu kecil untuk ikut perjalanan singkat yang jauh ini,” ujar Ken begitu datang ke bandara. Morgan mengangguk. Tanpa menunggu dipersilakan, Ken masuk lebih dulu ke jet pribadi Morgan. Ken harus memasang beberapa alat untuk berjaga-jaga jika kondisi Sydney mendadak memburuk. Setelah Ken pergi, Morgan menoleh ke sisi yang satu lagi. Sydney berdiri di sisinya dengan rambut berterbangan terkena angin dan gaun sederhana berwarna putih. Wanita itu bersikap lebih dingin dari biasanya. “Ayo, kita masuk, Darling,” ajak Morgan sambil mengulurkan salah satu tangannya pada Sydney. Sydney tidak langsung menyambut tangan Morgan. Wanita itu hanya menatap tangan itu, lalu beralih pada mata Morgan. “Jika aku setuju dengan ide gilamu untuk mengungsikan kami ke l
Morgan bangkit dari duduknya. Pria itu segera melangkah menjauh dan menelepon seseorang. “Mereka semakin agresif. Hari ini mereka mengirim seseorang ke sekolah anakku. Istriku punya fotonya. Selidiki dia dan pastikan dia tidak mendekati anak-anakku,” perintah Morgan tegas pada seseorang di ujung ponsel. Saat Morgan menutup panggilannya, Sydney mendekat. “Apa tidak sebaiknya kita bawa anak-anak ke Sevhastone saja?” saran Sydney seraya mengangkat kedua alisnya. “Kita semua sedang diincar,” sahut Morgan sambil menatap lekat mata Sydney. “Sebaiknya kita semua tidak berada di satu tempat yang sama di depan publik.” Sydney terdiam, tidak membantah. Namun wanita itu tanpa sadar meremas kedua tangannya. Dia juga menggigit bibir merah mudanya. Morgan melangkah mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka. Pria itu menarik dagu Sydney dengan lembut hingga gigitan bibir wanita itu terlepas. “Jangan cemas, kau baru saja pulih,” pinta Morgan. “Anak-anak akan aman.” Sydney menghela n
Jantung Sydney berdebar lebih cepat dari sebelumnya.Di kelas anak-anaknya, hanya Jade dan Jane yang merupakan anak kembar. Dan toilet ini jauh dari ruang kelas lain.‘Siapa dia?’ batin Sydney sambil menggigit bibirnya.Dahi Sydney berkerut. Dia tengah memeras otaknya untuk menemukan apa yang harus dirinya lakukan untuk melindungi anak-anak.“Aku pulang saja!” Wanita itu berteriak kesal.Tidak lama kemudian wanita itu keluar dari toilet.Sydney tengah berpura-pura mencuci tangan. Dia menyembunyikan wajah dengan rambutnya yang jatuh.“Astaga!” Wanita itu memekik. “Aku tidak tahu kalau ada orang di sini.”“Apa aku mengganggumu?” tanya Sydney mencoba terdengar biasa tanpa menoleh.“Tidak juga,” sahut wanita berambut pendek yang mulai mencuci tangan di wastafel sebelah Sydney.Dari cermin, Sydney dapat melihat wanita itu memakai seragam pengasuh dari yayasan ternama di Highvale.“Kau menunggu siapa?” tanya Sydney membuka obrolan.Sydney akhirnya menegakkan punggung dan menoleh. Dia tidak
Jerry sudah bebas. Sebentar lagi, dia akan merekrut kembali anggota Echelon Vanguard. Bukan tidak mungkin, Jerry akan mengkhianati Morgan. “Hidupmu sekarang saja sudah ada di ambang kehancuran, Morgan. Kau akan kehilangan keluargamu dan mungkin juga jabatanmu, jika kita kalah,” sahut Jerry tajam. Morgan mengepalkan tangan. Jerry tidak sedang mengejek Morgan, tetapi memberikan fakta pada pria itu. Dalam artian, Jerry sudah tidak punya alasan untuk melakukan hal jahat pada Morgan. Karena apa yang selama ini Jerry inginkan dari Morgan–kebahagiaan, perlahan sedang direnggut paksa oleh Onix. “Lalu untuk apa kau menemuinya?” tanya Morgan dengan rahang mengeras. Jerry menghela napas. “Aku ingin minta maaf pada Bibi Debby karena dia jadi bernasib buruk karena berpihak padaku,” jawab Jerry jujur. “Selain itu … aku juga merindukannya.” Morgan terkekeh pelan. “Itu terlalu berisiko. Tempat perawatan Bibi Debby adalah rahasia,” tukas Morgan dengan tegas. Kali ini Jerry yan
Morgan membuka mata, lalu mengangguk.“Dirimu,” jawab Morgan sambil menyugar rambut Sydney yang jatuh ke dahi. “Kau meminta vitamin atau obat ampuh pada Ken, demi datang ke pernikahan Tim dan Nirina, tapi mengabaikan kesehatanmu.”Sydney terdiam. Morgan tampak masih ingin bicara.“Saat kau tidak sadarkan diri, duniaku gelap,” lanjut Morgan. “Aku tidak pernah membayangkan … hidup tanpa ada kau di dunia ini.”Morgan menarik napas, sebelum bicara lagi, “Hari pertama kau masuk ICU, jadi hari yang paling menegangkan. Keempat anak kita tidak berhenti menangis dan mencarimu.”Mata Sydney berkaca-kaca. Dia menunduk, merasa bersalah.Setiap mengingat cerita Morgan bagian itu, hati Sydney ikut merasakan sakit.Seandainya saja Sydney lebih hati-hati, dia tidak akan keracunan di depan anak-anak dan membuat mereka trauma.“Maaf .…” ucap Sydney lirih sambil membalas genggaman tangan Morgan.“Sekarang kau paham kenapa aku tidak mengizinkanmu pergi?” tanya Morgan sambil tersenyum.Perasaan penuh kasi
“Aku … akan segera mengabari kalian. Jangan khawatir,” sahut Sydney akhirnya.Dengan sedikit bujuk rayu, Nirina akhirnya mau menutup telepon tanpa mendapat jawaban pasti dari Sydney.Morgan yang sedang duduk di sofa sambil menggulir tabletnya, ikut memperhatikan percakapan itu.Pria itu sudah mengganti jasnya. Beberapa saat lagi dia akan mengantar si kembar pertama sekolah.“Timothy dan Nirina?” tebak Morgan sambil mengangkat salah satu alisnya.Sydney mengangguk dengan tatapan sendu.“Aku lupa memberitahu mereka tentang kondisimu,” tukas Morgan. “Dan aku tebak, kau juga belum memberitahu mereka?”“Mereka tidak perlu tahu, Honey. Mereka pasti sudah cukup stres dengan persiapan pernikahan,” balas Sydney lembut.Morgan tidak membalas lagi. Dia hanya mengangguk dan kembali ke tabletnya.Tidak lama kemudian Ken datang untuk pemeriksaan pagi.Ken memeriksa detak jantung dan tekanan darah Sydney.Pria itu juga menanyakan beberapa hal dasar seperti apakah Sydney tidur dengan nyenyak dan apak