Home / Romansa / Ibu Susu Bukan Pengganti / Bab 5 Ke Daerah Lain

Share

Bab 5 Ke Daerah Lain

Author: Phine Femelia
last update Last Updated: 2025-11-13 09:56:49

"Ya, tentu saja. Aku yang pernah cerita tentang mujizat sama kamu," kata sang istri.

Pria itu tersenyum dan berkata dengan nada pelan, "Kita gak akan pernah tahu kalau ternyata ada mujizat yang menanti di depan. Dokter boleh mendiagnosa tapi tetap kehendak 'takdir' yang bicara. Selama hidup bareng kamu, aku akan percaya tentang mujizat."

Mereka kembali berpelukan dan sang istri bicara dengan merasa bahagia, "Sayang, aku beruntung banget dijodohkan sama kamu."

Ya. Mereka bertemu karena perjodohan dari kedua orang tua masing-masing yang bertemu dalam urusan bisnis. Namun, mereka menyetujui perjodohan bukan karena bisnis tapi secara naluri saling menemukan kecocokkan, dan memiliki perasaan kuat bahwa jodoh sudah dekat.

"Aku yang bahagia. Kamu sosok yang lembut dan tangguh ya, meskipun keras kepala," kata sang suami dengan mengangkat bahu. Dia sengaja sedikit jahil agar bisa menghilangkan ketegangan yang baru saja terjadi di antara mereka, sedangkan sang istri pura-pura kesal dengan mengerucutkan bibirnya. Akhirnya mereka tertawa bersama. Sang istri pun merasa lega karena ternyata suaminya mau mengangkat anak meski belum menemukan alasan yang tepat di hadapan orang tua.

Di tempat lain ....

Merasa sudah jauh dari rumahnya yaitu di tempat yang terpencil, Denada terduduk di pinggir jalan.

"Aku harus ke mana?" batin Denada bingung. Suasana gelap dan sepi membuat dirinya waspada, khawatir ada orang jahat yang datang. Denada memaksa otaknya untuk berpikir. Selang beberapa jam kemudian, dia memutuskan untuk datang ke kota kecil dan terpencil, yang dulu sempat diceritakan mamanya.

"Aku pergi ke sana saja," batin Denada dengan berdiri. Gadis itu melangkahkan kakinya sampai ke jalan raya dan melihat taksi lewat lalu menghentikannya dengan tangan kanan. Taksi itu berhenti tepat di depannya lalu Denada membuka pintu dan masuk ke dalamnya.

"Mau ke mana, Mbak?" tanya dia dengan menoleh sebentar kepada Denada.

"Terminal, Pak," jawab Denada lirih. Supir taksi mengemudi kembali menuju tempat yang dituju konsumennya lalu gadis itu memikirkan kembali nasib yang menimpanya. Dia masih tidak mengerti dengan sikap kekasihnya itu. Tidak, bukan kekasihnya lagi melainkan sudah jadi mantan. Seharusnya Tristan juga berpikir tidak cuma dia yang tersiksa tapi juga dirinya. Meskipun gadis itu yatim piatu tapi tetap saja rasa bersalah terhadap mendiang orang tuanya, yang tidak bisa menjaga diri terus menghantui sejak hubungan terlarang itu terjadi.

Denada ditinggal oleh mamanya ketika masih duduk di bangku SMA, kelas XI. Ketika itu dirinya dijemput ketika jam pelajaran masih berlangsung. Dia bingung dan papanya masih terdiam sepanjang perjalanan. Melihat mimik beliau, Denada mulai punya firasat bahwa ada sesuatu yang gawat sedang terjadi. Ternyata benar, dirinya diajak ke rumah sakit. Ketika sampai di sebuah ruang rawat, dia melihat mamanya yang terbaring tidak berdaya dan sudah menutup kedua mata dengan suhu tubuh yang dingin. Seketika tangisannya pecah mengetahui hari itu juga dia kehilangan sosok mamanya.

Semenjak tidak adanya mama di sisi papa, beliau menjalani hidup tanpa semangat lagi. Beliau cerita bahwa kematian istrinya memang mendadak. Beliau tidak pernah tahu kalau selama ini dia punya penyakit jantung. Beliau menarik kesimpulan dia sengaja menyembunyikan hal itu. Entahlah alasannya apa? Seketika itu juga tangisan Denada pecah lagi.

Hari yang banyak dilewati, Denada melihat papanya menjalani hidup dengan terpaksa karena tanpa ada belahan jiwanya. Beliau mulai sakit sehingga sering tidak masuk kerja dan suatu hari dimana Denada kenaikan kelas, beliau tidak datang untuk mengambil rapot. Dia merasa sedih karena berpikir papanya sudah tidak peduli lagi. Tidak bisa dipungkiri, selama ini dia merasakan perubahan sikap beliau. Terkesan tidak menganggap dirinya ada.

Denada didatangi wali kelas untuk kesekian kalinya. Dia pikir beliau akan tanya tentang papanya yang belum juga datang mengambil rapot tapi ternyata bukan. Beliau mengatakan bahwa salah satu tetangga memberitahukan bahwa papanya ada di rumah sakit sedang ditangani dokter. Gadis itu segera mengucapkan terima kasih dan berlari untuk pergi ke rumah sakit. Sesampainya di sana, beliau sudah sadar tapi semakin lama dia melihat tatapannya kosong. Gadis remaja itu terus memanggil hingga beliau menoleh dan melihat dirinya dengan pelan.

"Anakku," panggil beliau lirih.

"Ya, Pa. Ini aku," kata Denada sedih. Beliau akan meraih tangan Denada meskipun dengan gerakan lemah. Dirinya yang paham akhirnya meraih tangan sang papa.

"Maafkan ... papa ya?" kata beliau lirih. Seketika air mata Denada jatuh membahasi tulang pipinya. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi.

"Papa kenapa? Kenapa papa harus menyiksa diri? Aku yakin kalau mama masih ada, pasti sedih melihat papa yang begini," kata Denada sedih.

"Maafkan papa tapi, papa mau kamu menjaga diri sendiri ya? Tetap jadilah anak, yang baik. Jangan mudah ... terjerumus. Sayangi diri kamu. Mama menitipkan kamu kepada papa tapi papa--"

Denada menyela ucapan sang papa dengan berusaha menenangkan orang tua satu-satunya itu, "Pa, sudah jangan bicara lagi. Iya. Aku pasti akan tetap jadi anak yang baik tapi tolong ... papa jangan terpuruk lagi. Kita tetap menganggap mama ada ya? Papa juga masih punya aku, kan?"

Napas beliau mulai tersengal-sengal sehingga membuat Denada bingung, tapi tetap membesarkan hatinya dengan berkata, "Papa akan baik saja, bukan? Iya. Papa harus baik-baik saja."

"Papa gak bisa, menjaga kamu lagi tapi meskipun begitu, papa selalu sayang kamu," kata beliau dengan anggukan lemah.

Denada semakin mengeluarkan air mata karena selama ini dirinya salah paham. Ternyata beliau masih begitu menyayangi persis seperti sebelum mamanya meninggal. Meskipun dengan tatapan yang sayu tapi hari itu kedua sorot mata beliau menunjukkannya, ya, masih menyayangi sebagai orang tua. Gadis remaja itu berkata dengan sedih, "Aku minta maaf, Pa."

Seketika napas beliau semakin memburu dan Denada yang tidak mengerti apa pun teriak memanggil. Semakin lama pegangan beliau lemah dan dia membelalakkan kedua mata dengan melihat sekilas tangan besar itu karena tidak merasakan lagi pegangannya. Secara perlahan beliau menutup kedua matanya dan alat di sebelahnya berbunyi ....

Tiiiiiiiiiiiit!

"Pa! Papa! Bangun! Bangun!" teriak Denada dengan memeluk beliau dan menangis keras.

***

Denada tersadar dari lamunannya, berusaha menahan air mata agar tidak keluar lalu melihat ke arah lain dengan penuh penyesalan. Dia tidak ingin supir taksi bertanya heran di dalam hati tentang dirinya yang menangis. Gadis itu sudah sangat malu karena hamil di luar pernikahan. Jangan sampai menambah malu lagi dengan menangis di dalam taksi.

"Pa, Ma, aku minta maaf. Ternyata aku gak bisa menjaga diriku. Aku sampai hamil anak dari cowok yang ternyata gak mau bertanggung jawab. Selama ini aku tertipu olehnya. Dia gak sebaik yang aku kira," batin Denada terpuruk.

Supir sudah berhenti menyetir tanda sampai di tempat tujuan yaitu terminal. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam yaitu jam satu, dini hari. Denada memberikan dua lembar uang berwarna merah dan supir itu mengambil dengan mengucapkan terima kasih lalu gadis itu keluar dari taksi dan masuk ke dalam terminal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Epilog

    Satu tahun kemudian ....Taman belakang kediaman Budiman yang asri disulap menjadi studio foto dadakan. Banyaknya bunga mawar dan lili bermekaran, menjadi latar sempurna di bawah naungan pohon flamboyan yang rindang. Seorang fotografer profesional sibuk mengarahkan gayanya."Baik, posisinya sudah bagus, Ibu Denada. Sekarang, Kakak Abram, bisa tolong berdiri di samping Mama? Sebentar saja, ya?" kata sang fotografer ramah.Abram, yang sudah hampir berusia dua tahun dan di puncak fase eksplorasinya, menggeleng dengan cepat. Kedua matanya yang bulat justru terpaku pada seekor kupu-kupu kuning yang hinggap di semak mawar."Nda mau! Upu-upu! Upu-upu cantiiik!" kata Abram berseru, lafal yang belum sempurna. Dia pun berlari kecil dengan langkah goyah, berusaha menangkap serangga bersayap itu."Abram! Sayang, sini sebentar saja sama mama. Nanti kita kejar kupu-kupunya bareng, ya? Janji," kata Denada lembut, coba menahan tawa."Nda! Mau se

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 172 Ini Berbeda

    Sembilan bulan berlalu seperti sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan, setiap harinya terasa bagai lembaran novel romantis yang ditulis khusus untuk mereka. Tidak ada lagi musim hujan yang membuat Denada gelisah menatap langit kelabu, cemas menghitung sisa beras ketika warung sepi pengunjung.Kenangan akan aroma tanah basah yang dulu identik dengan kecemasan, sekarang sudah berganti dengan hangatnya minyak esensial lavender yang selalu disiapkan Emas. Setiap malam, tanpa pernah absen, Emas akan duduk di tepi ranjang lalu mengangkat kaki Denada yang bengkak ke pangkuannya, dan memijat dengan jari yang hangat serta kuat."Sudah jadi tugas papa buat mama dan jagoan kita nyaman," bisik Emas, seolah hal itu adalah ritual paling sakral di dunia.Tidak ada lagi kekhawatiran yang menyesakkan dada ketika memikirkan biaya persalinan. Ingatan samar tentang menyisihkan uang receh di kaleng biskuit bekas terasa begitu jauh, seperti cerita dari kehidupan orang lain.

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 171 Hadiah Terindah

    Satu bulan kemudian .... Kehidupan berjalan normal seperti biasanya tapi dengan kehangatan yang berbeda. Rumah besar itu tidak lagi terasa seperti istana yang dingin, melainkan sebuah rumah yang penuh tawa Abram, cinta yang tulus antara Emas dan Denada. Pukul 19.30. Malam itu, Emas duduk di tepi ranjang, membaca beberapa dokumen pekerjaan di tabletnya dan Denada keluar dari kamar mandi. Dia baru saja menyusui dan menidurkan Abram. Kini, Abram dijaga oleh Lina. Wanita itu berjalan dan berdiri di dekat jendela, menatap taman bawah yang remang-remang. Biasanya dia berbaring di samping suaminya. "Sayang, pembangunan restoran sudah setengah jalan, besok kita pergi ke toko furniture ya? Kita harus mempersiapkan perabot buat restoranmu," kata Emas yang masih fokus dengan layar tabletnya. "Hmm," kata Denada, singkat. Emas mengernyit, merasakan keanehan cara menjawab sang istri lalu meletakkan tablet. D

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 170 Tanpa Batas Waktu

    "Dulu, aku gak memberikan cincin sekali pun sebagai tanda pernikahan kita," kata Emas yang kembali berdiri di hadapan Denada.Dia membuka kotak itu, memperlihatkan sepasang cincin emas putih polos tebal yang berkilau indah, dengan dua buah permata kecil di tengahnya."Mas!" panggil Denada tercekat."Nada, dulu kita menikah karena keadaan. Sekarang, di sini, di kota cinta ini, aku mau menikahimu lagi. Bukan di atas kertas, tapi dalam hati. Cincin ini aku berikan sebagai tanda pernikahan dan sebuah janji. Janji cinta sejati tanpa batas waktu. Maukah kamu menjadi istriku selamanya dengan segenap cinta dan kejujuran, sampai maut memisahkan?" tanya Emas, suara dan tatapannya sarat akan cinta.Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipi Denada. Dia langsung mengangguk, tidak mampu berkata hal lain lagi, "Ya ... iya, aku mau, Emas! Tentu saja aku mau!"Emas mengambil salah satu cincin yang lingkarannya lebih kecil dari satunya dengan tangan yang

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 169 Tidak Minta Melupakannya

    Koper itu juga diberi label priority yang mencolok dan Emas mengambilnya dengan sigap."Lihat, kan? Semua beres," kata Emas dengan senyum kemenangan, seolah efisiensi ini adalah bukti bahwa semua keputusannya benar.Denada hanya membalas dengan tersenyum tipis. Pandangannya menyapu, melihat sepasang kekasih berpelukan erat seolah melepas rindu, seorang pebisnis yang berjalan tergesa-gesa dengan menelepon. Pemandangan itu justru membuat hatinya terasa semakin hampa. Ketika mereka berjalan keluar dari pintu kedatangan otomatis, seorang pria berjas rapi mengangkat papan bertuliskan "Mr. Emas".Pria itu langsung menyambut mereka dengan ramah dalam bahasa Inggris lalu mengambil alih troli mereka dan berkata, "Selamat sore dan selamat datang di Paris, Tuan, Nyonya. Mobil sudah siap."Udara sore Paris yang sesungguhnya menyambut mereka. Angin senja yang lebih dingin dari perkiraan, menerbangkan beberapa helai rambut Denada. Langit di atas mereka bukan la

  • Ibu Susu Bukan Pengganti   Bab 168 Segalanya Terasa Diatur

    Denada sangat terkejut dan mengulang kembali tapi lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan, "Lusa? Mas, kamu gak bercanda, kan?" "Kapan aku pernah bercanda soal hal sepenting ini, Sayang?" kata Emas, masih memasang wajah ceria, sedikit pun tidak menyadari badai kecil yang mulai terbentuk dalam benak istrinya. "Tapi, lusa itu ... besok lusa! Aku belum menyiapkan apa pun!" kata Denada, suaranya meninggi satu oktaf dengan tangan bergerak gelisah di udara. "Koper saja aku gak tahu tempatnya. Baju musim dingin? Paspor? Ya Tuhan, aku bahkan belum menukar uang!" imbuh Denada berseru. Emas terkekeh, seolah kepanikan Denada adalah hal yang paling menggemaskan di dunia lalu berkata, "Tenang, tenang. Kalau menyiapkan isi koper, apa gunanya para asisten rumah tangga di rumah? Kalau paspormu sudah jadi, aku punya kenalan mitra yang khusus menangani hal semacam itu, jadi prosesnya cepet." Dia menunjuk tumpukan belanjaa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status