LOGINDenada menyapu tempat itu untuk mencari bus yang tersedia dan bertanya dengan petugas di sana. Akhirnya diarahkan ke bus yang terparkir di ujung sendiri. Denada melangkahkan kakinya menuju bus itu dan tanya kepada seorang lelaki paruh baya tentang tujuan bus itu. Mendengar tujuan yang dicapai sesuai dengan rencananya maka gadis itu naik dan duduk di bangku bagian tengah.
Sementara itu, di tempat lain ...
Seorang wanita yang sudah terlelap, merasa dipeluk dan dicium mesra oleh seseorang. Dia membuka kedua mata dengan pelan. Sayup-sayup mendengar bisikan lembut di telinganya dan melihat sang suami yang ternyata sudah pulang.
"Kamu, Sayang?" tanya dia, untuk meyakinkan dirinya tidak salah lihat karena membuka kedua mata.
"Siapa lagi, Sayang? Hmm? Apa masih tanya?" bisik sang suami lembut. Kedua mata wanita itu sudah terbuka sepenuhnya, lalu tersenyum malu dan mereka saling menatap.
Namun, wanita itu melepaskan tatapan untuk melihat jam dinding. Sontak dia mengerucutkan bibirnya dan berkata dengan nada manja, "Kamu pulang terlalu malam lagi. Mau sampai kapan kamu seperti ini? Ingat kesehatan kamu, Sayang. Kamu itu sudah sukses, masih butuh kerja rodi?"
"Kamu paham lah, aku itu selalu kuat, bahkan aku pernah kerja hampir seharian penuh. Hari ini aku pulang lebih awal. Jangan manyun gini, dong, Sayang," kata pria itu dengan mengelus lembut pipi kiri istrinya. Tatapannya terlihat bahwa sangat mencintai sang istri. Meski sudah sepuluh tahun usia pernikahan tapi cinta di antara mereka tidak pernah padam, selalu bersemi. Dari penilaian sang suami meski dia lembut tapi wanita tangguh sedangkan dari penilaian sang istri, dia hangat, lembut, dan selalu memperlakukan spesial, bertanggung jawab atas semua hal.
Pria itu mengingat sesuatu dan lanjut berbicara dengan tersenyum, "Aku paham kamu ngomel gini karena kangen aku, kan? Kamu mau aku ada waktu banyak. Sayang, aku sudah pulang lebih awal. Jangan ngomel terus, lebih sabar sama aku ya?"
Sontak sang istri membelalak dan jadi merasa tidak enak lalu berbicara lirih, "Gak gitu juga, gimana pun aku lebih khawatir sama kamu."
Tatapan manja dari istrinya membuat pria itu tidak kuat menahan gejolak di dalam hati, sehingga bibirnya yang terbentuk sempurna menyambut bibir mungil milik istrinya. Wanita itu merasa senang dan membalas ciuman suaminya dengan saling bertautan, menciptakan napas panas dan mulai bergairah. Ciuman yang dimulai dengan lembut, semakin lama menjadi penuh hasrat, basah, dan dalam. Pria itu juga mulai mengelus punggung hingga anggota tubuh bagian bawah milik sang istri, lalu kecupan beralih ke tulang selangka yang terlihat karena dia memakai gaun tidur berwarna putih tulang, sedikit rendah dan tipis.
Wanita itu begitu menikmati setiap sentuhan dan ciuman dari suaminya. Menerima dan memberikan setiap sentuhan di setiap inci anggota tubuh terutama bagian yang sensitif, mereka mulai saling membuka pakaian lalu melempar pelan sehingga terjatuh di karpet. Tubuh polos mereka terpampang dan saling berpelukan erat. Suhu tubuh yang meningkat dengan mimik menginginkan lebih dan hasrat sang suami yang sudah melambung tinggi membuat mereka melanjutkan dengan aksi yang lain.
Sang istri duduk di atas kedua paha suaminya dan mereka saling memasukkan inti, lalu terjadi percintaan yang panas dan panjang. Mereka saling memberikan kepuasaan hingga keringat campur menjadi satu. Tak lupa dengan ciuman yang penuh hasrat, dan beberapa tanda kepemilikan di anggota tubuh sang istri. Namun, wanita itu masih meminta lebih sehingga suaminya yang sudah mengeluarkan cairan kebanggaannya, mengulum inti sang istri, semakin lama dengan gerakan cepat, sehingga membuat wanita itu terbuai dan mencapai puncak kenikmatan dengan menyemburkan sebuah cairan. Mereka saling mendesah dengan suara yang samar, tapi penuh makna.
Masih di posisi yang sama, mereka saling menatap dengan rasa cinta dan napsu. Campur jadi satu, bagi mereka napsu itu harus ada dalam hubungan karena akan menambah keintiman. Napsu yang pasti dipertanggung jawabkan. Kedua tangan wanita itu mendarat di pipi sang suami, lalu mereka saling mengecup dengan merasa bahagia dan mesra. Kini, mereka saling melepaskan inti dan berbaring dengan berhadapan. Berpelukan dengan erat seolah tidak ingin ada yang pergi lalu berbincang ringan, dan sesekali tertawa kecil. Setiap selesai melakukan percintaan, mereka memang begitu. Hal itu membuat mereka merasa semakin ada kedekatan satu sama lain.
1 minggu kemudian ....
Bermodal nekat, Denada menemukan tempat singgahnya yaitu di sebuah desa terpencil. Sudah berjalan seminggu dia ada di tempat kontrak. Dari hasil kerja yang ditabung, Denada bisa membayar kontrak kecil itu setidaknya untuk setahun ke depan. Denada mencari informasi lewat warga sekitar. Kadang juga lewat internet. Zaman yang begitu canggih tentu saja dimanfaatkannya untuk mencari informasi. Meskipun jauh dari kota, Denada menerima dengan rasa syukur.
Denada mulai berpikir cara dirinya untuk bertahan hidup dan menghitung sisa uang yang ada. Dia memperhitungkan semua kebutuhan untuk hari ke depannya lalu berbicara di dalan hati, "Gimana kalau aku buka warung kecil saja? Aku pasarkan juga lewat online. Biaya hidup ke depannya pasti akan semakin bertambah karena hadirnya si kecil."
Sejak itu, dirinya berjuang untuk membangun warung kecil yang sudah direncanakan dengan matang sehingga memanfaatkan teras rumah kontrakannya. Sejak hidup sebatang kara, Denada memang harus mampu membuat dirinya bisa melakukan apa pun karena sebelum bertemu Tristan tidak ada yang bisa membantunya. Hidup gadis itu memang untuk berjuang di kedua kakinya sendiri sehingga ketika mengalami peristiwa harus hamil, dirinya tidak kaget kalau harus hidup sendiri lagi.
Dengan pelu yang mengalir di seluruh wajah maupun tubuhnya, dia terus berjuang menyulap teras menjadi warung. Sudah berjalan hampir seminggu, dia melihat terus hasilnya dari depan warung itu. Meskipun kurang sempurna karena pekerjaan yang dilakukan oleh seorang wanita, Denada cukup puas.
"Baguslah. Akhirnya jadi juga," batin Denada dengan menghela napas. Setiap hari, dia mulai membuka warungnya, tidak lupa untuk foto dan memasang di sosial media. Hal itu salah satu cara Denada memasarkan warungnya.
Hari terus berlalu. Warung Denada mulai dikenal oleh beberapa warga di sekitarnya. Denada juga tidak berhenti mempromosikan.
Dan, beberapa bulan berjalan, warungnya juga semakin berkembang, dia sangat bersyukur banyak pelanggan dari segala tempat yang datang, tidak hanya di desanya tapi juga desa seberang, karena menurut mereka masakan Denada sangat lezat.
"Syukurlah, semoga saja warung ini semakin ramai. Aku harus ada tabungan buat persiapan persalinan nanti," gumam Denada dengan mengusap perutnya. Lalu, dia duduk bersandar dengan mengelus sebentar perutnya yang mulai tampak buncit. Lelahnya seakan terbayarkan, ternyata hidup di desa tidak terlalu mengerikan seperti yang orang pikirkan, bahkan yang dia duga. Dia melihat perutnya dengan memikirkan sesuatu.
Satu tahun kemudian ....Taman belakang kediaman Budiman yang asri disulap menjadi studio foto dadakan. Banyaknya bunga mawar dan lili bermekaran, menjadi latar sempurna di bawah naungan pohon flamboyan yang rindang. Seorang fotografer profesional sibuk mengarahkan gayanya."Baik, posisinya sudah bagus, Ibu Denada. Sekarang, Kakak Abram, bisa tolong berdiri di samping Mama? Sebentar saja, ya?" kata sang fotografer ramah.Abram, yang sudah hampir berusia dua tahun dan di puncak fase eksplorasinya, menggeleng dengan cepat. Kedua matanya yang bulat justru terpaku pada seekor kupu-kupu kuning yang hinggap di semak mawar."Nda mau! Upu-upu! Upu-upu cantiiik!" kata Abram berseru, lafal yang belum sempurna. Dia pun berlari kecil dengan langkah goyah, berusaha menangkap serangga bersayap itu."Abram! Sayang, sini sebentar saja sama mama. Nanti kita kejar kupu-kupunya bareng, ya? Janji," kata Denada lembut, coba menahan tawa."Nda! Mau se
Sembilan bulan berlalu seperti sebuah mimpi indah yang menjadi kenyataan, setiap harinya terasa bagai lembaran novel romantis yang ditulis khusus untuk mereka. Tidak ada lagi musim hujan yang membuat Denada gelisah menatap langit kelabu, cemas menghitung sisa beras ketika warung sepi pengunjung.Kenangan akan aroma tanah basah yang dulu identik dengan kecemasan, sekarang sudah berganti dengan hangatnya minyak esensial lavender yang selalu disiapkan Emas. Setiap malam, tanpa pernah absen, Emas akan duduk di tepi ranjang lalu mengangkat kaki Denada yang bengkak ke pangkuannya, dan memijat dengan jari yang hangat serta kuat."Sudah jadi tugas papa buat mama dan jagoan kita nyaman," bisik Emas, seolah hal itu adalah ritual paling sakral di dunia.Tidak ada lagi kekhawatiran yang menyesakkan dada ketika memikirkan biaya persalinan. Ingatan samar tentang menyisihkan uang receh di kaleng biskuit bekas terasa begitu jauh, seperti cerita dari kehidupan orang lain.
Satu bulan kemudian .... Kehidupan berjalan normal seperti biasanya tapi dengan kehangatan yang berbeda. Rumah besar itu tidak lagi terasa seperti istana yang dingin, melainkan sebuah rumah yang penuh tawa Abram, cinta yang tulus antara Emas dan Denada. Pukul 19.30. Malam itu, Emas duduk di tepi ranjang, membaca beberapa dokumen pekerjaan di tabletnya dan Denada keluar dari kamar mandi. Dia baru saja menyusui dan menidurkan Abram. Kini, Abram dijaga oleh Lina. Wanita itu berjalan dan berdiri di dekat jendela, menatap taman bawah yang remang-remang. Biasanya dia berbaring di samping suaminya. "Sayang, pembangunan restoran sudah setengah jalan, besok kita pergi ke toko furniture ya? Kita harus mempersiapkan perabot buat restoranmu," kata Emas yang masih fokus dengan layar tabletnya. "Hmm," kata Denada, singkat. Emas mengernyit, merasakan keanehan cara menjawab sang istri lalu meletakkan tablet. D
"Dulu, aku gak memberikan cincin sekali pun sebagai tanda pernikahan kita," kata Emas yang kembali berdiri di hadapan Denada.Dia membuka kotak itu, memperlihatkan sepasang cincin emas putih polos tebal yang berkilau indah, dengan dua buah permata kecil di tengahnya."Mas!" panggil Denada tercekat."Nada, dulu kita menikah karena keadaan. Sekarang, di sini, di kota cinta ini, aku mau menikahimu lagi. Bukan di atas kertas, tapi dalam hati. Cincin ini aku berikan sebagai tanda pernikahan dan sebuah janji. Janji cinta sejati tanpa batas waktu. Maukah kamu menjadi istriku selamanya dengan segenap cinta dan kejujuran, sampai maut memisahkan?" tanya Emas, suara dan tatapannya sarat akan cinta.Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipi Denada. Dia langsung mengangguk, tidak mampu berkata hal lain lagi, "Ya ... iya, aku mau, Emas! Tentu saja aku mau!"Emas mengambil salah satu cincin yang lingkarannya lebih kecil dari satunya dengan tangan yang
Koper itu juga diberi label priority yang mencolok dan Emas mengambilnya dengan sigap."Lihat, kan? Semua beres," kata Emas dengan senyum kemenangan, seolah efisiensi ini adalah bukti bahwa semua keputusannya benar.Denada hanya membalas dengan tersenyum tipis. Pandangannya menyapu, melihat sepasang kekasih berpelukan erat seolah melepas rindu, seorang pebisnis yang berjalan tergesa-gesa dengan menelepon. Pemandangan itu justru membuat hatinya terasa semakin hampa. Ketika mereka berjalan keluar dari pintu kedatangan otomatis, seorang pria berjas rapi mengangkat papan bertuliskan "Mr. Emas".Pria itu langsung menyambut mereka dengan ramah dalam bahasa Inggris lalu mengambil alih troli mereka dan berkata, "Selamat sore dan selamat datang di Paris, Tuan, Nyonya. Mobil sudah siap."Udara sore Paris yang sesungguhnya menyambut mereka. Angin senja yang lebih dingin dari perkiraan, menerbangkan beberapa helai rambut Denada. Langit di atas mereka bukan la
Denada sangat terkejut dan mengulang kembali tapi lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan, "Lusa? Mas, kamu gak bercanda, kan?" "Kapan aku pernah bercanda soal hal sepenting ini, Sayang?" kata Emas, masih memasang wajah ceria, sedikit pun tidak menyadari badai kecil yang mulai terbentuk dalam benak istrinya. "Tapi, lusa itu ... besok lusa! Aku belum menyiapkan apa pun!" kata Denada, suaranya meninggi satu oktaf dengan tangan bergerak gelisah di udara. "Koper saja aku gak tahu tempatnya. Baju musim dingin? Paspor? Ya Tuhan, aku bahkan belum menukar uang!" imbuh Denada berseru. Emas terkekeh, seolah kepanikan Denada adalah hal yang paling menggemaskan di dunia lalu berkata, "Tenang, tenang. Kalau menyiapkan isi koper, apa gunanya para asisten rumah tangga di rumah? Kalau paspormu sudah jadi, aku punya kenalan mitra yang khusus menangani hal semacam itu, jadi prosesnya cepet." Dia menunjuk tumpukan belanjaa







