Mag-log inHi, auntie-auntie... yang punya diamond atau koin boleh bagi ya... supaya performa novel ini semakin baik... makaciihhhh....
Di ruang kerja,Suara bentakan Budiman Surya memantul keras di dinding-dinding putih itu. Bingkai lukisan mahal di belakangnya bergetar halus ketika sebuah map tebal melayang dan menghantam lantai marmer.“Tidak becus!” raungnya. “Semuanya tidak becus!”Dua orang asistennya berdiri kaku di hadapan meja kerja, kepala menunduk dalam. Mereka tak berani mengangkat pandangan sedikit pun. Kertas-kertas laporan beterbangan, disusul pulpen, tempat kartu nama, bahkan sebuah cap kayu yang nyaris mengenai kaki salah satu dari mereka.“Kalian tahu berapa miliar yang saya gelontorkan buat nutup mulut pejabat desa dan kota itu, hah?!” Budiman menghantam meja dengan telapak tangannya. “Dan sekarang—semuanya bocor! Sertifikat palsu, proyek fiktif, semuanya naik ke berita nasional!”Salah satu asisten menelan ludah kasar. Dengan suara gemetar, ia memberanikan diri bicara.“Maaf, Pak… tapi, kami juga sudah melakukan semua yang bapak perintahkan. Tidak ada pejabat yang terlewat. Kami... kami juga tidak
Lampu bandara memantul dingin di lantai marmer saat Adrian melangkah keluar dari area kedatangan. Ia menarik topi lebih rendah, lalu menaikkan resleting jaketnya hingga menutup leher, tak ingin memberi celah untuk dikenali orang lain. Ia sudah berada di luar negeri.Baru beberapa menit lalu ia menyalakan ponsel setelah mengambil ranselnya dari area bagasi. Tiba-tiba sekali, ponsel itu bergetar panjang di saku jaketnya.Satu nama muncul di layar—Arlene Surya.Alis Adrian berkerut. Jarinya menggantung sepersekian detik di atas layar sebelum akhirnya menyentuhnya. Ia tak sempat mengikuti berita apa pun lagi sejak kabar penangkapan Jax meramaikan berita. Ia segera memesan tiket, berkemas seadanya, dan pergi dari apartemen. Secepat mungkin.“Hallo? Mau apa?” suara Adrian rendah, setengah berbisik, ketus.Di ujung sana, terdengar suara drama Arlene yang nyaris menangis. “Dri… kamu di mana? Aku butuh kamu.”Adrian berdecak. Pandangannya menyapu sekeliling, memastikan tak ada orang yang terla
Setelah berhari-hari Leo dan Nayla nyaris tak punya waktu berduaan—Leo tenggelam dalam urusan kerja, Nayla sibuk bolak-balik rumah sakit—akhirnya hari itu memberi mereka jeda. Karena, Surti dengan rela hati akan seharian menjaga Matilda di rumah sakit, ditemani Putra.Nayla duduk di sofa ruang keluarga, Matteo di pelukannya. Bayi itu menyusu tenang, jemarinya yang mungil menggenggam kain piyama Nayla yang tersingkap di bahu. Rambut Nayla masih sedikit berantakan—namun di mata Leo, istrinya itu tetap terlihat memikat dengan cara yang tak bisa dijelaskan.Di dekat jendela, Leo berdiri bersandar pada bingkai kaca. Ponsel menempel di telinga, tubuhnya tampak sudah lebih rileks dibanding hari-hari sebelumnya. Nada suaranya ringan, bahkan sempat diwarnai tawa kecil.“Hebat, Pak Kades,” ujarnya sambil terkekeh. “Wah, kayaknya tahun depan naik jabatan nih.”Dari ujung sambungan terdengar sahutan yang membuat Leo tertawa lebih lepas. Ia mengangguk-angguk kecil, seolah lawan bicaranya bisa meli
Kini, lorong di depan ruang perawatan Matilda tak lagi sekadar dinding putih rumah sakit. Deretan karangan bunga warna-warni menyesaki hampir seluruh sisinya—kontras dengan lantai pucat yang dingin. Mawar putih, lili, anggrek, tulip, hingga bunga terompet kuning cerah, seolah berlomba menghadirkan kehidupan di tempat yang biasanya hanya akrab dengan kecemasan.Bunga-bunga itu datang dari berbagai penjuru. Dari dalam negeri, dari luar negeri. Nama-nama besar tertera di pita-pita panjang, dilengkapi dengan kartu-kartu yang bertuliskan doa-doa singkat—beberapa di antaranya dalam bahasa asing.Lekas sembuh, Matilda.Bangun, Saudari! Mesir menunggu kita!Bangunlah, Mat. Petualanganmu belum selesai.Setiap pagi, Nayla selalu berhenti di sana. Berdiri lama, membaca satu per satu kartu ucapan itu. Sebagian besar bahasa asing bisa dengan mudah ia pahami, sebagian lagi bisa ia artikan setelah membuka g**gle, mencari arti kalimat demi kalimat—dan setiap kali tahu maknanya, dadanya terasa menghan
Warung kecil itu berdinding papan dengan cat yang sudah pudar dimakan panas dan hujan. Di depannya, pepohonan berjajar sejauh mata memandang, hijau dan tenang. Jax duduk di bangku kayu panjang, satu kaki ditekuk, satu lagi menjuntai, secangkir kopi hitam mengepul di tangannya. Sudah dua hari ia berada di kota itu. Jauh dari Jakarta. Jauh dari Pulau Jawa. Sebuah kampung yang namanya bahkan ditulis sangat kecil di peta. Di sinilah ia berniat memulai hidup baru—tanpa geng motor, tanpa kejaran polisi, dan segala kenangan tentang Nayla yang terus menggeram di belakang tengkuknya. Televisi kecil di sudut warung menyala, gambarnya sedikit bersemut. Pembawa berita siang itu berbicara datar. Jax menyeruput kopi, pahit dan panasnya lambat-lambat. “Pemirsa..." Tangan Jax berhenti di udara. “Diduga ibunya telah menjadi korban malpraktik, CEO Graha Utama, Leonard Prakasa Utama, menyatakan siap membawa kasus yang melibatkan salah satu rumah sakit besar di Jakarta ke ranah hukum.” Jax menurunk
Pagi itu, Nayla terbangun dengan wajah bengkak, dan badan pegal. Seolah seluruh tubuhnya belum sepenuhnya siap kembali ke dunia. Matanya terbuka, tapi kepalanya masih berat. Ada rasa mual tipis yang menggantung sejak semalam—bukan yang membuatnya ingin muntah, tapi cukup untuk membuat dada tak nyaman. Setelah Leo pergi ke rumah sakit, ia memaksakan diri tidur, menutup mata sambil berulang kali menarik selimut, berharap kelelahan bisa mengalahkan pikiran yang berisik. Ia berhasil tidur, meski harus bangun dengan kondisi seperti orang kurang tidur. "Mama..." batin Nayla begitu kesadarannya terkumpul. Nayla bangkit perlahan, menahan perutnya dengan telapak tangan. Ia mengintip ponsel di atas nakas, layar menyala memantulkan wajahnya yang kusut. Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan tak terjawab. Tidak ada nama Leo. Nayla menghembuskan napas pelan, berusaha menenangkan diri. Ya, suaminya itu pasti sibuk, pikirnya. Mama masuk ICU. Leo pasti sedang jungkir balik mengurus segalanya







