مشاركة

Bab 5

مؤلف: Echo
Aku mengeluarkan tawa kecil, seolah-olah dia baru saja mengajukan pertanyaan konyol. "Temanku, Merry, ingin pergi ke Eropa, tetapi paspornya sudah kedaluwarsa. Dia menanyakanku tentang proses perpanjangannya. Kamu tahu bagaimana sifatnya soal hal-hal seperti ini."

Suara dan nadaku ringan dan alami, tanpa sedikit pun ada kebohongan.

Ekspresi Reynald langsung melunak, bahkan dia terlihat sedikit malu-malu. "Maaf, Sayang. Tadi aku kira kamu berencana meninggalkanku."

Kata-katanya membuat para nyonya lain di meja dekat kami menatapku dengan tatapan iri yang murni. Lihat betapa setianya Reynald padanya.

Aku menyembunyikan senyum dingin di balik gelas anggurku.

Di mata dunia luar, kami masih tetap pasangan yang sempurna dan patut ditiru.

Jam setengah sebelas, pesta makan malam mulai mereda.

Saat hanya kami berdua yang tersisa di restoran, Reynald menghampiriku dan meraihku untuk memelukku. "Malam ini sempurna."

Saat dia mendekat, campuran aroma menyeruak. Asap cerutu, wiski mahal, dan … parfum melati murahan itu.

Aroma Jenny.

Wangi manis yang menusuk itu terpancar dari kerah dan manset suamiku. Dia bahkan tak berusaha menyembunyikannya. Atau mungkin dia bahkan tak sadar dirinya memiliki bau Jenny.

Gelisah di perutku kembali, kali ini lebih kuat.

Aku mendorongnya menjauh, menutup mulutku dengan tangan, dan berlari menuju kamar mandi.

“Alyssa? Sayang?” Reynald mengikuti. Suaranya penuh kekhawatiran.

Aku berlutut di depan toilet, muntah-muntah tanpa ada isi perut yang keluar. Perutku kosong, tetapi rasa pahit dan amarah yang tak terkendali terus muncul.

“Ada apa? Apa kamu alergi terhadap makanan laut?” Reynald berlutut di sampingku, mencoba menolongku bangkit. “Atau kamu terlalu banyak minum anggur?”

Aroma Reynald dan wanita itu kembali menyergapku, dan gelombang mual lain datang lagi.

“Jangan … jangan sentuh aku!” Aku menepis tangannya, tubuhku gemetar.

“Apa karena asap rokokku?” Reynald mengernyit. “Maaf, aku tadi merokok beberapa batang saat pertemuan itu.”

Mendengar kebohongan itu, api di dalam diriku akhirnya meledak.

Aku perlahan berdiri, memercikkan air dingin ke wajahku, dan menatap matanya di cermin. Dia berdiri di sana, tampak seolah prihatin dengan polosnya, seakan benar-benar tidak tahu apa yang telah dilakukannya.

"Cerutu?" Suaraku terdengar serak dan rendah. "Kamu tahu persis ini soal apa!"

Reynald membeku, terkejut. Dia belum pernah melihatku kehilangan kendali seperti ini. "Alyssa, apa maksudmu?"

Aku menyadari aku sudah keterlaluan dan memaksa diri untuk menenangkan diri. "Tidak ada apa-apa. Hanya perutku yang sakit."

Keesokan paginya, Reynald bersikeras membawaku ke rumah sakit.

Dokter memeriksaku. "Berdasarkan gejalamu, tampaknya ini gastritis akibat stres. Biasanya disebabkan oleh tekanan emosional atau stres. Apa Nyonya Alyssa akhir-akhir ini mengalami stres tertentu?"

Reynald mengernyit. "Tidak. Kami baru saja bersenang-senang kemarin."

“Ya, mungkin ini karena pergantian musim,” kata dokter sambil mulai menulis resep. “Aku akan memberinya sesuatu untuk menenangkan perutnya.”

Tiba-tiba, ponsel Reynald berdering.

Dia melirik layar, ekspresinya menegang. “Maaf, ini panggilan penting.”

“Angkat saja,” kataku datar.

Reynald melangkah ke lorong untuk menerima telepon, dan aku bisa mendengar suaranya yang pelan. "Apa? Sekarang? Tidak, aku sedang bersama istriku di dokter .… Baiklah, aku mengerti."

Dia kembali, dengan ekspresi menyesal di wajahnya. "Sayang, maaf sekali. Salah satu anak buahku perlu mengantarkan beberapa dokumen penting. Aku harus turun sebentar untuk mengambilnya. Aku akan kembali dalam lima menit."

"Pergilah," kataku, mengangguk dengan pura-pura mengerti.

Dokter Ricky melanjutkan diagnosanya, tetapi perhatianku berada di tempat lain. Aku berjalan ke jendela, pura-pura mengagumi pemandangan, tetapi mataku tertuju pada jalan di bawah.

Beberapa menit kemudian, aku melihat Reynald.

Namun, dia tidak menunggu di pintu masuk untuk mengambil dokumen apa pun.

Sebaliknya, dia berjalan cepat menyeberang jalan dan langsung masuk ke gedung di seberang. Sebuah klinik OB-GYN pribadi.

Saat aku melihatnya menghilang ke dalam, kemarahan yang aku rasakan digantikan oleh perasaan lega yang dingin dan mati rasa.

Tepat saat itu, ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.

[Maaf, Nyonya Alyssa. Sepertinya dia tidak bisa bersamamu hari ini. Cukup satu panggilan dariku, dia akan datang menghampiriku.]
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Identitas yang Dihapus   Bab 19

    Setelah meninggalkan rumah sewaan, aku pindah ke sebuah kota terpencil di bagian barat Glacivik, sebuah tempat di mana bisa melihat aurora.Pemilik rumah sewaanku adalah seorang pria tua yang baik bernama Gunnar. Dia tidak begitu fasih berbicara bahasa Inggris, dan kami sebagian besar berkomunikasi dengan gerakan dan kata-kata sederhana, tetapi kesunyian itulah yang benar-benar aku butuhkan.Setiap malam, aku memainkan biolaku di dekat perapian. Melodi yang familier bergema di kabin kecil itu, disertai suara angin laut dan pegunungan di kejauhan. Aku melukis, membaca, minum kopi, dan menyaksikan aurora menari di langit.Aku merasakan ketenangan yang sesungguhnya.Suatu sore, Gunnar mengetuk pintuku. Dia tampak ragu, memegang sebuah ponsel pintar lama di tangannya."Eva," katanya, menggunakan nama baruku. "Aku tidak tahu apakah aku harus menunjukkan ini padamu … tapi ada beberapa video yang beredar di internet … tentang seorang mafia di Ameriko. Mereka bilang … mereka bilang pria itu se

  • Identitas yang Dihapus   Bab 18

    Sudut pandang Alyssa.Ketika telepon berdering, aku sedang membuat secangkir kopi, sendok perak berdesing pelan menyentuh keramik saat aku mengaduk susu panas.Telepon di wisma terpencil ini jarang sekali berdering, apalagi di kamarku."Halo?"Sebuah suara yang familier menjawab. Suara yang dulu pernah memberiku kebahagiaan, lalu rasa jijik, dan sekarang, hanya ketenangan yang sunyi."Alyssa … apa itu kamu?"Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya berbicara, "Ada apa?""Oh, Tuhan, Alyssa, itu kamu … benar-benar kamu .…" Suara Reynald gemetar, nyaris menangis. "Aku pikir … aku pikir aku tak akan pernah mendengar suaramu lagi .…"Aku berjalan ke jendela dan menatap pemandangan Frostrvik. Pegunungan di kejauhan tertutup salju, berkilau di bawah sinar matahari senja. "Kamu mau apa?""Sayang, aku … aku sangat menyesal." Reynald mulai menangis tersedu-sedu. Pria yang dulu menguasai Kota Segara itu kini menangis seperti anak kecil. "Aku tahu apa yang kulakukan salah. Aku mengkhianatimu, aku meny

  • Identitas yang Dihapus   Bab 17

    Fabian menghela napas berat.Selama lebih dari sebulan, Reynald hampir tidak makan dengan layak atau tidur nyenyak semalam penuh.Seluruh bisnis Keluarga Dharmawangsa menderita."Ayah .…" Reynald mendongak, matanya bersinar penuh keputusasaan. "Aku sudah mencari di seluruh Ameriko Utara, seluruh Eropa. Aku telah mengirim semua orangku … kenapa aku tidak bisa menemukannya? KENAPA?!"Fabian berlutut dan meletakkan tangannya di bahu putranya. "Reynald, dengarkan aku. Jika cara konvensional tidak berhasil, maka kita akan menggunakan cara yang tidak konvensional.""Apa maksudmu?"Mata Fabian berkilau penuh tekad. "Keluarga Dharmawangsa telah beroperasi di dunia mafia internasional selama puluhan tahun. Saatnya menagih semua jasa yang pernah diberikan."Reynald mendongak. "Maksud Ayah …?""Kita sebarkan kabar secara global. Melalui jaringan kita di setiap benua, Camorra, Yakuza, Triad, Bratva … Kita beri tahu setiap organisasi, siapa yang dicari Keluarga Dharmawangsa."Isabella menatap suami

  • Identitas yang Dihapus   Bab 16

    Setelah berurusan dengan Jenny, Reynald berbaring di sisi tempat tidur, tempat Alyssa biasa tidur, merasakan apa pun selain kekosongan yang luas dan hampa.Jenny benar. Menyingkirkannya tidak akan membuat Alyssa memaafkannya.Dering ponselnya terdengar mengganggu di ruangan yang sunyi."Bos." Itu Mario, suaranya tegang dan bersemangat. "Kami punya informasi baru?"Jantung Reynald berdebar kencang. Dia menggenggam telepon. "Katakan padaku.""Seseorang di bandara melihat seorang wanita yang sangat mirip dengan Nyonya naik pesawat menuju Frostrvik, Glacivik. Tapi aku tidak menemukan namanya di daftar penumpang mana pun."Reynald terlompat dari kursinya. Entah mengapa, dia merasakan firasat yang kuat. Itu dia."Siapkan jet." Suara Reynald bergetar. "Kita berangkat malam ini."Angin musim dingin di Frostrvik, Glacivik begitu ganas, tetapi Reynald tidak merasakan dinginnya.Untuk pertama kalinya dalam sebulan, dia merasa dekat dengan Alyssa.Sebuah rombongan mobil hitam melaju di jalanan, ak

  • Identitas yang Dihapus   Bab 15

    Kawasan rumah bordil Kota Segara, sesaat setelah tengah malam.Sebuah SUV hitam berhenti mendadak di sudut jalan yang diterangi lampu neon. Pintu-pintunya terbuka lebar, dan dua pria bertubuh besar menyeret seorang perempuan keluar ke trotoar."Tidak! Tolong!" Jenny meronta, kukunya mencakar lengan para pengawal hingga meninggalkan guratan berdarah. "Aku bisa memberimu uang! Banyak uang!"Namun, wajah para pria itu tetap tanpa ekspresi, menjalankan perintah Reynald secara mekanis. Dalam pergulatan itu, lengan blus sutra mahal milik Jenny tersangkut di pintu mobil dan terkoyak dengan suara sobekan yang menusuk telinga. Kain halus itu rapuh seperti kertas, seketika berubah menjadi compang-camping."Ah!" Dia menjerit, berusaha menutupi dadanya, tetapi sudah terlambat. Para pria itu melepaskannya, dan tubuhnya terhempas ke trotoar yang kotor.Beton dingin menusuk kulitnya yang terbuka, dan pecahan kaca dari botol yang dibuang menyayat lututnya. Darah merembes menembus stokingnya yang robek

  • Identitas yang Dihapus   Bab 14

    Matanya memerah seperti darah, Reynald mengamuk menghampiri Jenny dan mencengkeram pergelangan tangannya."Kembalikan. sekarang." Suaranya rendah, mengerikan, seperti geraman yang merayap naik dari kedalaman neraka.Dia merenggut cincin itu dari jari Jenny. Gerakan kasar itu merobek kulitnya, dan Jenny menjerit sambil berusaha melepaskan diri, tetapi kekuatan Reynald begitu mengerikan.Begitu cincin itu kembali berada di tangannya, dia menggenggamnya dengan lembut, seolah-olah benda itu adalah hal paling berharga di dunia."Reynald! Kamu sudah gila, ya?" Jenny mencengkeram jarinya yang berdarah, suaranya melengking tinggi. "Kamu memukulku demi seorang wanita yang sudah meninggalkanmu? Dia tidak mencintaimu! Kalau memang iya, dia tidak akan pergi begitu saja!"Ucapannya terputus ketika Reynald mendorong ponsel tepat ke depan wajahnya.Pesan demi pesan, foto vulgar, ejekan beracun, semuanya terpampang jelas di bawah cahaya lampu yang terang.Jenny menatap layar itu, wajahnya berubah puca

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status