Beranda / Fantasi / Ikatan Darah dan Giok Anora / Bagian 5, The New Girl’s Entrance

Share

Bagian 5, The New Girl’s Entrance

Penulis: qworamora
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-14 13:09:14

Bell sudah berbunyi dua menit yang lalu, namun lorong dan halaman masih riuh oleh langkah-langkah tergesa para murid yang berlari menuju kelas. Beberapa sudah masuk, ada juga yang tertahan di gerbang oleh anak-anak OSIS, wajah mereka tampak panik sekaligus kesal karena terlambat. Suara peringatan dan teguran bercampur dengan pembelaan para siswa yang terlambat—menciptakan kekacauan yang khas di pagi hari sekolah.

Di parkiran, Anora baru saja membuka pintu mobilnya. Dia menatap keramaian itu sejenak, anak-anak OSIS yang sigap menahan murid-murid terlambat dan lorong yang mulai dipenuhi siswa-siswi yang sudah masuk kelas.

Dengan langkah tenang tetapi mantap, Anora menyusuri jalan setapak menuju gerbang, tasnya tergenggam rapi, tetapi baru saja hendak melewati keramaian osis di sana. Dia dihentikan oleh salah satu osis di sana.

“Tunggu, sudah bell sedari tadi. Malah masuk begitu saja, baris!” ucapnya dengan tegas, mencekal lengan Anora.

Anora melirik lengannya yang tergenggam, kemudian menatap orang yang mencekal lengannya dengan menaikkan satu alis seolah bertanya.

“Masuk barisan yang terlambat!” ujar osis itu setelah melepas cekalan di lengan Anora.

Anora melihat murid-murid yang terlambat baris di tempat osis tadi tunjuk. Para murid yang berbaris itu beberapa ada yang menatap Anora sinis dan juga membicarakannya secara terang-terangan.

Anora menatap kembali pada seseorang osis di depannya. “Aku anak baru, kata Bu Guru yang anak baru bisa masuk kelas 5 menit setelah bel. Karena bersama beliau masuknya...” ucap Anora menjelaskan.

Osis di depannya menatap dirinya dengan tatapan menyelidik, melihat apakah ada kebohongan di wajah Anora. Anora dengan santai menatap balik dengan berwajah datar.

“Kalau begitu, ikut aku. Ke ruang guru,” ujarnya, dia menatap anggota osis lainnya dan berbicara untuk izin pergi terlebih dahulu untuk mengantarkan Anora.

“Ayo,” ucap osis itu berjalan terlebih dahulu menuju ruang guru yang diikuti Anora di belakangnya.

‘Kan gara-gara kau, kita terlambat!’ suara Ink terdengar di kepalanya.

‘Kita? Hanya aku Ink yang terlambat, kau tidak terlihat!’ balas Anora di kepalanya menjawab Ink yang bisa mendengar ucapannya.

‘Salah kau sendiri, tadi mengapa kau mampir-mampir untuk membeli makanan manusia?!’ ucap Ink yang kesal.

‘Aku penasaran Ink, ternyata enak ya makanannya...’ balas Anora santai.

‘Sudah kuduga, kau saja tadi habis tiga mangkuk bubur ayam,’ ucap Ink yang memutar bola matanya malas, walaupun Anora tidak bisa melihatnya.

‘Tapi kau tidak bisa mengandalkan makanan itu, energimu hanya bisa dari darah,” ucap Ink memberi tahu.

‘Aku tahu, aku tahu...’

‘Kau juga harus ingat, tidak boleh terlalu sering mengonsumsi itu ada beberapa makanan manusia yang tidak bisa tubuhmu terima. Itu bisa membuatmu lemah, kau bisa jadikan hiburan sesekali saja!’ ucap Ink panjang lebar memperingatkan Anora, karena Anora terlihat ceroboh di mata Ink.

“Aku tahu!” ucap Anora yang tanpa sadar berbicara dengan suaranya–karena kesal dengan Ink–bukan di kepalanya.

Osis itu menghentikan langkahnya menatap Anora yang juga ikut menghentikan langkahnya.

“Kau tahu apa?” tanyanya menatap Anora yang berekspresi bingung.

“Mmm aku tahu, pasti kau osis kan? Hahaha...” ujar Anora dengan tawa canggungnya, dia melihat kanan kiri dengan gelisah menahan rasa malu.

“Kau aneh!” ucap osis itu sambil melanjutkan jalannya.

“Terima kasih,” balas Anora yang mengikuti osis itu, di belakang.

“Itu bukan pujian.”

Anora mengabaikan itu, dia kembali berbicara dengan Ink lewat telepati. Setelah tadi tanpa sengaja Anora berbicara dengan suaranya, sedari itu lah Ink mengatai Anora bodoh.

‘Dasar Anora payah!’ ucap Ink mengatai Anora lagi.

‘Salah kau!’ balas Anora yang ikut kesal dengan Ink.

‘Kau payah!’

‘Sudahlah aku malas denganmu, Ink!’ ucap Anora yang sudah kesal. Dia harus menghemat energinya, berurusan dengan Ink akan menguras energinya dengan banyak.

‘Tutupi aura mu agar tidak ada yang tahu jika kau vampir,’ ucap Ink menasehati, tetapi Anora mengabaikannya.

‘Anora!’ teriak Ink memanggil Anora, yang tidak mendapat balasan apa pun dari pemilik nama tersebut.

‘Nona Draven!’ seru Ink yang terakhir memanggil Anora. Kali ini Anora dengan malas menanggapinya.

‘Aku tahu! Kau tidak usah berisik.’

“Sudah sampai, tunggu sebentar biar aku yang panggilkan–“ ucap osis itu yang terpotong, karena ada seorang guru perempuan yang keluar dari ruang kantor di depan mereka.

“Eh, kamu anak baru itu ya. Nona Anora?” ucap Guru itu menatap Anora dan osis yang bersamanya bergantian.

“Kebetulan sekali, Alaric. Dia Anora murid baru yang berada satu kelas denganmu...” ucap guru itu dengan lembut menatap Anora dan osis itu–Alaric, bergantian.

“Ayo, kita masuk kelas,” lanjut guru itu mengajak keduanya untuk mengikuti guru itu melangkah.

Anora berjalan berdampingan dengan Alaric, dia menatap guru itu dengan teliti, dengan sesekali mencium aroma yang keluar dari tubuh guru itu.

‘Dia seorang Elf?’ tanya Anora pada Ink.

‘Iya, umurnya sudah ratusan lebih...’

‘Aku tahu,’ ucap Anora yang sedari tadi banyak mencium aroma yang membuat fokusnya ketajaman indera penciumnya berkurang. Itu bisa membuat dirinya pusing.

‘Hal ini kau tahu, tapi dulu saat ada musuh kau tidak bisa membedakannya,’ ucap Ink mengejek Anora.

‘Kau tidak usah meledek, itu menyebalkan!’

‘Entahlah, tetapi mungkin karena aku banyak mencium bau semua penduduk di daerah sini. Ketajamanku berkurang?’ lanjut Anora yang juga tidak yakin dengan dirinya.

‘Memang, itu poin lain. Poin utama bukan hanya karena itu–‘

Ink mendadak terdiam.

‘Ink?’ panggil Anora pelan, tapi tak ada respons.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 109, A Thread Bound by Eternity

    Anora berdiri di balkon, menikmati angin malam yang berembus pelan. Rambutnya berkibar tertiup angin, menyentuh pipinya lalu terlepas kembali, sementara tatapannya terarah ke langit gelap yang dipenuhi kilau bintang, membawa keheningan yang menenangkan."Kau terbangun?" tanya Alaric di belakang Anora. Dia menghampiri Anora, lalu memeluknya dari belakang."Vampir memang makhluk malam, bukan?" Anora menyenderkan kepalanya pada tubuh Alaric.Alaric tertawa pelan. "Hampir lupa kalau kita vampir."Hening.Mereka berdua sama-sama terdiam, menikmati hembusan angin malam yang menyejukkan.Tidak lama, Anora mendengar lolongan serigala yang berasal dari hutan–tidak jauh dari tempat hutan Ashlyn."Kau mendengarnya?" tanya Anora.Alaric diam mencoba mendengar apa yang Anora bilang. "Tidak, sepertinya pendengaranmu semakin tajam...""Sungguh? Aku mendengar lolongan Serigala," jawab Anora. Anora terdiam, melihat lurus ke arah hutan. "Kau tahu, mate Selvara?""Suara yang aku dengar tadi, itu dia.

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 108, A Gentle Beginning

    Malam turun dengan lembut.Anora bersandar di bahu Alaric, menatap bintang-bintang yang berkilau tenang. Kepalanya tidak lagi sakit. Yang tersisa hanya rasa lelah yang manis."Alaric?" bisiknya."Hm?""Kalau suatu hari aku lupa… atau berubah…""Aku akan mengingatmu," jawab Alaric tanpa ragu. "Dalam bentuk apa pun."Anora tersenyum, memejamkan mata.Di kejauhan, Sebastian berdiri sendiri di bawah langit yang sama. Angin malam menyapu mantel putihnya. Dia menatap bintang paling terang, Senyumnya tipis, hampir tak terlihat—namun tulus."Jika ini sudah takdirku di kehidupan ini…" gumamnya nyaris tak terdengar, "…maka biarlah aku bahagia melihatmu bahagia."Langit tetap diam. Tapi bintang-bintang bersinar lebih terang dari biasanya.Dan untuk malam itu, dunia membiarkan mereka semua berbahagia.---Malam semakin dalam. Udara dingin mengalir pelan, tapi kehangatan di antara mereka tak berkurang sedikit pun.Alaric menyesuaikan posisinya, satu lengannya melingkari Anora dengan hati-hati, seo

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 107, A Quiet After the Storm

    Rasa sakit itu tidak berlangsung lama.Anora terhuyung, jemarinya masih mencengkeram sisi kepalanya ketika denyutan tajam itu perlahan mereda, menyisakan rasa lelah yang dalam. Napasnya terengah sejenak sebelum akhirnya kembali stabil. Ruangan kerja itu sunyi, hanya cahaya lampu kecil yang temaram menemani.Udara terasa dingin di kulitnya. Detik-detik berlalu dengan lambat, seolah dunia sengaja memberinya waktu untuk kembali berpijak pada kenyataan. Detak jantungnya masih sedikit lebih cepat dari biasanya, namun tidak lagi kacau."Aneh…" gumamnya pelan.Suara itu hampir tenggelam dalam keheningan. Tidak ada jawaban. Tidak ada gema sihir yang biasanya menyusul setiap gangguan seperti ini.Dia berdiri lebih tegak, mengusap pelipisnya perlahan. Tidak ada darah. Tidak ada sisa sihir liar yang terasa. Hanya sensasi seperti ingatan yang nyaris muncul—lalu menguap begitu saja.Perasaan itu membuat dadanya sesak sesaat, seperti kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia genggam. Tapi Anor

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 106, False Calm

    Setelah kesadaran Kael benar-benar pulih, Anora akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.Dia sempat kembali ke ruang perawatan, sekadar memastikan Kael stabil. Sebastian sudah menangani lukanya dengan tenang dan teliti, sihir penyembuhnya bekerja perlahan namun pasti. Tidak ada lagi kepanikan. Tidak ada lagi napas yang tersendat atau detak jantung yang nyaris menghilang.Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu berakhir, Anora mengizinkan dirinya sendiri untuk beristirahat.Malam telah turun sepenuhnya ketika ia berdiri di depan jendela kamarnya. Kota membentang luas di bawah sana, berkilauan dalam cahaya lampu-lampu yang menyala seperti bintang jatuh yang tak pernah padam. Dari ketinggian itu, semuanya tampak tenang—terlalu tenang, bahkan."Banyak sekali yang berubah," gumam Anora lirih.Kata-kata itu meluncur begitu saja, seolah keluar bersama embusan napas yang dia lepaskan perlahan. Bahunya turun sedikit, tubuhnya terasa lebih ringan namun pikirannya justru semakin penuh."

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 105, The One Who Stayed

    Hari-hari berlalu tanpa benar-benar meninggalkan jejak.Apartemen Anora tetap berada dalam keadaan yang sama—perlindungan sihir berdenyut stabil, cahaya tipis mengalir di dinding seperti nadi yang tidak pernah tidur. Di dalamnya, waktu bukan lagi garis lurus, melainkan lingkaran kecil yang terus berputar di sekitar satu hal: napas Kael.Anora menjadi pusat lingkaran itu.Dia jarang benar-benar tidur. Jika pun matanya terpejam, itu hanya beberapa menit—cukup untuk membuat tubuhnya tidak roboh. Begitu napas Kael berubah, sekecil apa pun, Anora selalu terjaga. Seolah ada benang tak terlihat yang menghubungkan kesadarannya dengan ritme di ranjang itu.Pada hari ketiga, Sebastian mencatat sesuatu."Napasnya," katanya pelan, sambil mengamati simbol sihir yang bergetar halus di udara. "Mulai menyesuaikan."Ink menoleh. "Menyesuaikan bagaimana?""Sinkron," jawab Sebastian. "Saat Anora tenang, napas Kael ikut stabil. Saat dia lelah—irama Kael ikut goyah."Anora mendengarnya. Dia tidak menoleh.

  • Ikatan Darah dan Giok Anora   Bagian 104, Between Breaths

    Apartemen Anora tidak pernah terasa setenang ini. Perlindungan sihir aktif di setiap sudut—lapisan cahaya tipis berdenyut lembut di dinding, jendela, dan lantai. Dunia di luar boleh saja runtuh, tapi di dalam sini, segalanya terkunci. Aman. Sangat aman. Kael dibaringkan di tengah lingkaran perlindungan utama—di atas ranjang Ink. Dadanya naik turun teratur. Napasnya ada—kembali, sebelum tadi sempat menghilang. Kulitnya tidak sedingin sebelumnya. Secara teknis, semua tanda kehidupan masih melekat pada tubuh itu. Namun tidak ada satu pun yang terasa benar. Anora duduk di sampingnya sejak mereka tiba. Jaketnya masih berlumur debu dan sisa sihir, rambutnya acak-acakan, tapi dia tidak peduli. Tangannya bertumpu di sisi Kael, jari-jarinya sesekali bergerak kecil—merapikan kerah baju, meluruskan lipatan kain. "Kau selalu keras kepala," gumamnya pelan, seperti mengomel biasa. "Tidak pernah mengeluhkan apa pun, ke siapa pun..." Kael tidak menjawab. Sunyi itu merayap pelan, bukan menghant

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status