LOGINKeesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti jalanan pinggiran kota ketika sebuah mobil patroli berhenti mendadak di tepi jalan yang sepi. Dua orang polisi yang sedang melakukan patroli rutin turun setelah melihat sesuatu tergeletak tidak jauh dari bahu jalan."Pak... ada seseorang di sini!" seru seorang polisi muda dengan nada tegang.Mereka segera mendekat. Tubuh seorang pria terbaring tak bergerak dengan pakaian berlumuran darah. Dari kondisi luka di tubuhnya, jelas terlihat bahwa pria itu menjadi korban penembakan."Hubungi tim identifikasi dan ambulans. Cepat!" perintah polisi yang lebih senior.Beberapa menit kemudian, lokasi itu dipenuhi garis polisi. Tim identifikasi mulai bekerja, memotret setiap sudut tempat kejadian perkara dan mengumpulkan barang bukti yang tersisa."Korban laki-laki, usia sekitar tiga puluh lima hingga empat puluh tahun," ucap salah satu petugas forensik."Terdapat tiga luka tembak. Dugaan sementara, korban meninggal beberapa jam yang lalu."Seorang pe
Setelah melalui kejadian yang cukup menegangkan, akhirnya mobil yang dikendarai Guntur tiba di sebuah rumah yang terletak di tempat yang sepi, jauh dari kerumunan. Rumah itu adalah milik teman Edwin yang kini mereka tinggali secara gratis. "Kita sudah sampai." Ucap Guntur. "Dimana ini?" Tanya dokter Maya. "Ini adalah tempat persembunyian kami." "Apa kalian dapat dipercaya?" Sejenak dokter Maya Ragu. "Selama berpihak pada kami, kami akan menjaga Bu dokter. Ingatlah, aku tunangan Anita. Aku sudah sejauh ini hanya untuk membalas kematian kekasihku." Jawab Abram dingin tanpa basa-basi. Ia kemudian masuk ke rumah itu. "Jangan diambil hati. Semenjak Anita mati, sifatnya berubah drastis. Dia hanya ingin menemukan orang yang membunuh kekasihnya, tidak lebih." Edwin menjelaskan. "Baik. Aku percaya pada kalian." Jawabmya pada akhirnya. Semua sudah berada di dalam rumah yang sebenarnya cukup besar, hanya saja tidak ditempati dan dibiarkan begitu lama hingga membuat warna temboknya mulai
Tiga pasang lampu mobil itu semakin mendekat dengan cepat, membelah gelapnya jalan sepi. Suara mesin mereka terdengar keras, seolah tidak lagi berusaha menyembunyikan keberadaan. Abram langsung mengambil keputusan."Kita pergi sekarang.""Bagaimana dengan dia?" tanya Edwin sambil melirik Fardan yang masih terikat. Abram menatap Fardan sesaat."Dia tetap di sini."Wajah Fardan langsung pucat. Ia seolah sudah tahu apa yang akan terjadi padanya jika mereka tahu dirinya dalam keadaan seperti itu. Fardan sudah pasti curiga Fardan membocorkan sebuah rahasia."Tidak! Jangan tinggalkan aku! Mereka akan membunuhku!"Abram tidak menjawab. Ia hanya berbalik menuju mobil. Baginya, Fardan bukan korban. Pria itu telah mengakui pembunuhan terhadap Susi."Please, Abram! Tolong!"Suara Fardan terdengar panik. Namun Abram tetap berjalan. Beberapa detik kemudian, mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan lokasi. Dari kaca belakang, Fardan terlihat masih berteriak meminta bantuan. Lima menit kemudi
Fardan menundukkan kepalanya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya meski udara malam terasa dingin. Pengakuan itu akhirnya keluar dari mulutnya sendiri."Aku memang membunuh Susi..." ucapnya lagi dengan pelan. Abram menatapnya tanpa ekspresi."Tapi aku tidak melakukannya sendirian."Kalimat itu membuat suasana kembali tegang. Tentu semua yang ada di dekatnya penasaran siapa saja yang terlibat dalam kejadian waktu itu."Siapa?" tanya Edwin cepat.Fardan terdiam beberapa detik sebelum menjawab. Ia tampak ragu untuk mengatakannya, seolah ada tekanan yang tak kasap mata."Kapak Hitam.""Nama?" Tanya Abram singkat.Abram sudah menduga Fardan akan mengatakan kapak hitam. Namun dia butuh nama yang lebih detail lagi."Aku tidak tahu semua nama mereka. Aku hanya mengenal satu orang yang sering menghubungiku.""Siapa?" tanya Guntur."Pria yang dipanggil Raven."Abram mengingat nama itu, nama yang beberapa kali dikaitkan dengan kasus-kasus kriminal termasuk kematian Susi. Dia adalah eksekutor
Malam semakin larut, angin malam berhembus dingin, menabrak jaket Abram yang menutupi tubuhnya. Ia berdiri di samping pohon menunggu sebuah mobil melaju, mobil yang dicurigai mengikuti mobil yang dikendarai oleh Guntur."Aku tahu kamu siapa." Gumam Abram pelan.Mobil yang dikendarai Guntur sengaja terus berjalan pelan-pelan untuk memancingnya terus mengikuti di belakangnya. Tak lama kemudian mobil itu mulai melintas."Itu dia." Ucap Abram. Ia langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk menghubungi Guntur. "Tur, berhenti." Ucapnya. Guntur langsung berhenti, mobil yang mengikuti di belakangnya juga ikut berhenti.Abram mulai berjalan menyusuri sisi jalan dengan pelan-pelan menuju mobil hitam yang berhenti mengikuti mobil yang dikendarai Guntur. Dia tidak tahu Abram kini sudah berada di samping mobilnya."Keluar dari mobilmu sekarang!" Ucapnya Abram sambil menodongkan pistol ke arahnya."Abram!" Ia kaget tiba-tiba Abram berada di sebelahnya."Cepat turun!" Ucap Abram mengulangi. Ter
Semua mata tertuju pada lelaki misterius itu. Guntur dan Edwin mencoba menebak siapa yang datang. Namun mereka berdua tidak dapat mengenalinya. Tapi Abram, ia seperti mengenal suara itu di balik penutup wajahnya. "Dia begitu nekat...?" Gumam Abram. "Siapa dia, Bram?" Tanya Guntur. Namun belum sempat dia menjawab, pria misterius itu langsung memotongnya. "Cepat, Ikuti aku sekarang!" Raven juga melihat sosok tersebut, menaruh rasa penasaran dan mencoba mengenali. Namun tak ada satu mama pun yang melintas di otaknya. "Siapa dia...?" gumamnya. Tidak menyia-nyiakan waktu, lelaki itu melompat turun ke balkon bangunan sebelah, lalu berlari menuju tangga darurat diikuti oleh Abram, Guntur dan Edwin. "Dorong dr. Maya ke sana!" teriaknya. "Maju!" Ucap Guntur. Mereka berlari menuju bangunan itu. Raven berteriak. "Jangan biarkan mereka lolos!" Puluhan langkah kaki kembali menggema di gang sempit tersebut. Beberapa tembakan dilepaskan. Abram menarik dr. Maya berlindung di balik sebuah m







