Home / Lainnya / Ikrar Dendam / Bab 70 - R.Satria hanyalah nama

Share

Bab 70 - R.Satria hanyalah nama

Author: Faiz Achmad
last update publish date: 2026-08-11 21:03:35

Lampu kecil di ujung ruangan masih menyala. Beberapa sosok berdiri diam di belakangnya. Wajah mereka tidak terlihat jelas, hanya siluet tubuh yang membuat suasana gudang semakin mencekam.

Abram tidak bergerak. Edwin berdiri beberapa langkah di belakangnya, matanya terus mengamati sekeliling.Kemudian suara R. Satria kembali terdengar dari pengeras suara.

"Tenang, Abram. Kalau aku ingin mencelakai kalian, percakapan ini tidak akan pernah dimulai." Ucap R. Satria. Abram menatap kamera yang berada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ikrar Dendam    Bab 70 - R.Satria hanyalah nama

    Lampu kecil di ujung ruangan masih menyala. Beberapa sosok berdiri diam di belakangnya. Wajah mereka tidak terlihat jelas, hanya siluet tubuh yang membuat suasana gudang semakin mencekam. Abram tidak bergerak. Edwin berdiri beberapa langkah di belakangnya, matanya terus mengamati sekeliling.Kemudian suara R. Satria kembali terdengar dari pengeras suara."Tenang, Abram. Kalau aku ingin mencelakai kalian, percakapan ini tidak akan pernah dimulai." Ucap R. Satria. Abram menatap kamera yang berada di sudut ruangan."Berhenti bersembunyi.""Kau benar-benar tidak dapat ditebak. Pantas banyak yang menganggap dirimu sebagai ancaman.""Jadi kau juga mengawasiku.""Sudah cukup lama.""Sejak kapan?""Sejak kau mulai menyelidiki kematian Anita."Nama itu membuat Edwin langsung menoleh kepada Abram.bAbram mengepalkan tangannya."Jadi semua ini berhubungan dengan Anita?""Lebih dari yang kau bayangkan.""Kalau begitu keluarlah. Kita bicara langsung.""Belum.""Takut?""Bukan takut. Aku hanya tidak

  • Ikrar Dendam    Bab 69 - Misi penyelamatan

    Abram dan Edwin akhirnya meninggalkan rumah persembunyian. Sebelum masuk ke mobil, Abram sempat menoleh ke arah Guntur."Jangan melakukan apa pun sebelum kami memberi kabar.""Aku tahu." Guntur mengangguk."Dan kalau ada sesuatu yang mencurigakan, bawa dr. Maya pergi dari sini.""Jaga dirimu, Bram."Abram hanya mengangguk. Edwin masuk ke kursi pengemudi. Mesin kendaraan menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman. Guntur berdiri di depan pintu sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan. Setelah itu ia kembali masuk. dr. Maya sudah duduk di depan laptop."Menurutmu mereka akan baik-baik saja?" tanyanya. Guntur menarik kursi dan duduk di sampingnya."Aku tidak tahu." Jawab Guntur. Jawaban itu membuat dr. Maya menoleh.Biasanya Guntur selalu memiliki jawaban untuk menenangkan orang lain. Namun kali ini tidak. Matanya justru tertuju pada layar laptop yang menampilkan posisi Abram dan Edwin. Sementara itu, mobil Abram terus melaju menuju kawasan pelabuhan.Jalan semakin sepi. Bangunan-

  • Ikrar Dendam    Bab 68 - Pak Bima diculik

    Hari ini mereka bangun agak siang. Beberapa hari selalu tidur larut karena menyelidiki informasi tentang projek kabut milik kapak hitam. Mereke kelelahan, terlebih Guntur yang malamnya terlibat kejar-kejaran hingga menyebabkan bajunya cedera dan diharuskan istirahat. Seperti biasa, dr. Maya sudah menyediakan beberapa gelas kopi yang siap diseruput di meja tamu. Dia belum berani kemana-mana, bahkan ke rumahnya sendiri. Ia masih diburu oleh kapak hitam karena memiliki informasi yang mereka harus lindungi. Namun mereka sudah terlambat. Informasi tentang proyek kabut sudah diketahui oleh Abram, Guntur dan Edwin. Kini mereka tinggal melakukan rencana agar dapat menghentikan pergerakan itu. "Aku masih kepikiran dengan orang yang ada di kampus." Ucap Abram. "R. Satria maksudmu?" Tanya Edwin. "Iya, aku kepikiran pak Bima. Aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Sebab orang itu melihatku ngobrol dengan pak Bima." "Lebih baik kamu hubungi dia, Bram." Suruh Edwin. "B

  • Ikrar Dendam    Bab 67 - Sentinel Consulting Group

    Sekitar pukul satu dini hari, Guntur tiba kembali di rumah persembunyian. Abram yang sejak tadi mondar-mandir langsung menghampirinya. Ia terlihat panik melihat sahabatnya tampak menahan sakit."Kau terluka?""Hanya memar."Edwin segera membawa kotak P3K, sementara dr. Maya memeriksa bahu Guntur yang terjatuh akibat mengindari kejaran dari orang-orang yang tidak ia kenal di tempat tersebut.Ia tak menyangka akan ada orang-orang selain dirinya yang sedang mencari dan mengintai gudang itu."Untung tidak patah," ujar dr. Maya setelah selesai memeriksa."Istirahat beberapa hari seharusnya pulih." Imbuh dr. Maya."Aku tidak punya waktu untuk istirahat," jawab Guntur pelan.Ia kemudian mengeluarkan buku kecil dari saku jaket, meletakkannya di atas meja, lalu menceritakan semua yang dialaminya malam itu.Suasana ruangan menjadi hening ketika ia menyebut nama Paket Alpha dan rencana pemindahannya pada 9 Agustus pukul 02.00 WIB. Edwin langsung membuka laptop."Lihat ini."Beberapa menit kemudi

  • Ikrar Dendam    Bab 65 - Mencari Jawaban

    Malam kembali turun perlahan. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di jalanan yang masih basah setelah hujan sore.Cuaca tahun ini memang tidak bisa diprediksi. Meskipun sudah musim panas, namun kadang hujan masih saja turun. Di rumah persembunyian, Abram, Edwin, dan dr. Maya masih sibuk menyusun kemungkinan rencana penyusupan ke PT Arunika Logistik Nusantara. Namun Guntur memiliki pemikiran lain."Aku keluar sebentar," ucapnya singkat sambil mengenakan jaket hitam. Abram menoleh."Mau ke mana?""Mencari jawaban.""Sendirian?" Tanya Abram mempertegas lagi. Guntur mengangguk."Kalau kita bergerak berempat, terlalu mencolok. Lagi pula, pekerjaanku dulu memang seperti ini."Abram terlihat ingin mencegahnya, tetapi akhirnya menghela napas. Ia hampir lupa bahwa pekerjaan memang seperti itu. Dari awal dia memang dibayar untuk memecahkan kasus berat ini.Namun seiring berjalannya waktu, kini ia tak meminta bayaran lagi dari Abram. Kali ini ia murni ing

  • Ikrar Dendam    Bab 64 - Lokasi PT. Arunika Logistik Nusantara

    Pagi berikutnya, langit masih diselimuti awan kelabu ketika keempatnya kembali berkumpul di ruang tamu. Aroma kopi hitam yang harus saja diracik oleh dr. Maya memenuhi ruangan, sementara laptop Edwin telah dipenuhi puluhan jendela berisi data dan peta digital."Aku mulai menelusuri PT Arunika Logistik Nusantara sejak tadi malam," kata Edwin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar."Hasilnya?" tanya Abram. Edwin menarik napas pelan."Perusahaan ini seperti sengaja dibuat agar tidak menarik perhatian." Jawabnya sambil memperbesar tampilan sebuah peta."Alamat kantor pusat yang terdaftar berada di kawasan pergudangan pinggiran kota. Gudangnya kecil, jumlah pegawai resminya hanya belasan orang, dan omzet yang dilaporkan biasa saja." Imbuhnya."Tapi itu cuma kedok?" sela Guntur. Edwin mengangguk."Kalau hanya melihat dokumen resmi, semuanya tampak bersih. Namun ketika aku mencocokkan data pengiriman dengan catatan yang ada di dokumen Proyek Kabut, muncul pola yang aneh.""Pola apa?""Set

  • Ikrar Dendam    Bab 7 - Kecurigaan pada Pihak Berwajib

    Keesokan harinya, Abram duduk di meja kerja kamarnya menatap berkas laporan itu untuk kesekian kalinya. Setiap kata di dalamnya terasa ganjil, seolah disusun terburu-buru. Keterangan saksi tak lengkap, hasil autopsi tertutup sebagian, dan laporan kronologi berubah dari versi pertama yang ia terima.

  • Ikrar Dendam    Bab 3 - Informasi dari Elvira

    Tampak semua mata masih memasang rasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Elvira, sahabat Anita. Abram begitu antusias mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Elvira. "Apa yang dia katakan?". Tanya Abram. "Dia bilang bahwa ada orang yang menaruh perasaan pada dia.

  • Ikrar Dendam    Bab 2 - Menemukan Petunjuk

    Setelah menemukan satu benda yang ia curigai milik pelaku, Abram langsung memasukkannya dalam kantong plastik berwarna hitam. Namun Abram tidak berhenti sampai di situ. Ia terus mencari petunjuk apapun yang dapat mengarahkan pada pelaku pemerkosaan dan pembunuhan kekasihnya, Anita. Tidak ada yang t

  • Ikrar Dendam    Bab 1 - Kematian Anita

    Berita kematian Anita menyebar dengan sangat cepat. Abram, yang merupakan kekasih Anita, seperti mendengar petir di siang bolong mengetahui kabar kematian wanita yang sangat dicintainya. Perasaan Abram sangat hancur, terluka seperti dihujam oleh senjata tajam dari belakang. Bagaimana tidak, malam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status