Home / Lainnya / Ikrar Dendam / Bab 2 - Menemukan Petunjuk

Share

Bab 2 - Menemukan Petunjuk

Author: Faiz Achmad
last update publish date: 2026-04-23 16:40:52

Setelah menemukan satu benda yang ia curigai milik pelaku, Abram langsung memasukkannya dalam kantong plastik berwarna hitam. Namun Abram tidak berhenti sampai di situ. Ia terus mencari petunjuk apapun yang dapat mengarahkan pada pelaku pemerkosaan dan pembunuhan kekasihnya, Anita. Tidak ada yang tahu berapa orang yang terlibat dalam kasus ini.

Abram merasa ada yang tidak beres dengan penanganan kasus tersebut. Sampai detik ini tak ada satu bukti pun dari kepolisian yang dapat mengarah ke para pelaku. Seolah kasus ini sengaja dibuat lambat. Namun Abram juga tak dapat mengambil kesimpulan secara sepihak mengenai prasangkanya.

Abram masih terus menelusuri area persawahan di tengah-tengah gelap yang hanya disinari cahaya hp android miliknya. Angin malam yang berhembus tak mengganggu dirinya. Tekad untuk menemukan bukti-bukti pelaku lebih besar dari hambatan yang akan menggagalkannya malam itu.

Tiba-tiba dia menginjak sebuah benda kecil. Ia pun mengangkat kaki kanannya dan mengarahkan senter beserta pandangannya ke arah benda tersebut. Sebuah Zippo yang terlihat begitu mewah dan unik ditemukan ditempat itu.

"Siapa sebenarnya dia." Gumam Abram melihat Zippo yang sudah digenggamnya.

Ia sedikit tahu tentang zippo. Yang ia pegang saat ini termasuk barang bagus dan mewah dengan desain yang begitu unik. Ia berpikir bahwa pelaku pemerkosaan sekaligus pembunuhan ini bukanlah orang yang memiliki ekonomi menengah ke bawah.

"Aku harus menanyakan hal ini pada seorang kolektor zippo untuk mengetahui kualitasnya. Mungkin dengan mengetahui standar dan harga jualnya, aku dapat mengira-ngira siapa sebenarnya dia." Ujar Abram yang masih berdiri di sana.

Malam semakin larut dan embun sudah mulai turun. Abram melangkah pergi dari tempat itu. Temuannya malam ini sudah ia rasa cukup. Abram bertekad untuk terus mencari petunjuk. Baginya, kasus ini tidak dapat dibiarkan begitu saja dan wajib dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Keadilan harus didapatkan oleh Anita.

***

Tak terasa pagi hari sudah tiba. Mentari sudah bangun dari tidurnya dan siap kembali menyinari isi bumi. Abram sudah rapi dan bersiap untuk menemui Eriko. Dia ingin menceritakan apa yang ia dapatkan malam itu.

Pagi ini jalan raya Gresik terlihat begitu padat. Pergantian sift pagi di salah satu pabrik besar di sana masih berlangsung. Hal itulah yang menyebabkan jalan raya begitu padat dan macet. Semua pengendara harus bersabar dengan kondisi seperti itu.

Setelah tiga puluh menit di tengah jalan, dia pun sampai di warung kopi yang sudah disepakati. Abram tak ingin pembicaraannya didengar oleh kedua orang tua Eriko. Ia hanya ingin Eriko saja yang mengetahui hal itu.

"Ada apa, Bram? Pagi-pagi begini udah ngajak ketemu aja." Tanya Eriko. Mereka sudah bersahabat lama semenjak SMA.

"Aku tadi malam mendatangi tempat itu?" Ucap Abram penasaran.

"Sawah itu maksudnya?" Tanya Abram yang langsung paham dengan maksud Abram.

"Iya, dan aku menemukan beberapa barang di sana."

"Barang?"."Tanya Eriko penasaran.

"Iya. Kemungkinan barang-barang yang aku temukan milik si pelaku bajingan itu." Jawabnya.

Ia pun mulai mengeluarkan dua barang yang ia dapatkan di sana, kalung titanium dengan liontin kapak dan sebuah Zippo. Abram memasukkan barang-barang itu ke dalam sebuah kantong plastik hitam. Dia tidak berani menyentuh langsung karena di sana ada sidik jari pelaku.

"Ini bisa jadi bukti untuk menemukan pelakunya, Bram." Ucap Eriko.

"Iya, ini bisa dijadikan bukti untuk menemukan para pelaku. Namun, aku agar ragu untuk menyerahkan barang bukti ini sekarang. Aku masih mencurigai sesuatu. Seperti ada permainan dengan kasus Anita."

"Lalu kita harus mencari keadilan kemana jika seperti ini?" Tanya Eriko.

"Sementara aku simpan dulu barang bukti ini sampai datang waktu yang tepat. Untuk saat ini aku akan cari tahu sendiri permasalahannya." Jawab Abram penuh keyakinan.

"Kalau begitu aku akan membantu. Anita adalah adikku, sudah kewajibanku membantu mendapatkan keadilan untuknya." Respon Eriko.

Setelah sekitar satu jam berada di warung kopi dan obrolan itu selesai, Eriko berpamitan pulang. Sedangkan Abram masih berada di warung kopi tersebut sambil memikirkan rencana selanjutnya.

Warung kopi itu buka dua pulu empat jam. Meskipun saat ini masih pagi, tapi yang nongkrong di sana selalu ramai. Kebanyakan dari mereka adalah para pekerja pabrik yang baru pulang dari pekerjaannya setelah pergantian sift malam ke pagi.

Mereka yang datang tidak hanya berasal dari satu pabrik, melainkan dari pabrik yang lainnya juga. Tidak hanya laki-laki, ada juga pekerja perempuan yang singgah untuk nongkrong di sana. Namun jumlahnya tidak sebanyak laki-laki.

Di tengah-tengah pandangan yang sesekali memerhatikan gerak-gerik para buruh pabrik yang berdatangan, tiba-tiba Abram teringat dengan beberapa teman bahkan sahabat Anita di kampus. Ia pun mulai berpikir untuk menemui beberapa dari mereka menanyakan tentang Anita akhir-akhir ini sebelum kematiannya.

Abram segera berdiri dan menuju ke meja kasir membayar dua gelas kopi dan beberapa cemilan. Setelah menyelesaikan pembayaran, ia pun langsung kembali ke motornya dan menuju kampus di mana Anita kuliah.

Dua puluh lima menit ia habiskan waktu di jalan menuju kampus yang ia tuju. Di sana sudah mulai berdatangan mahasiswa dan mahasiswi untuk melaksanakan kebiasaan pagi mereke, yaitu menuntut ilmu.

Abram adalah alumni kampus tersebut sehingga dia begitu paham kemana dia harus melangkah menemui teman-teman Anita. Dia juga mengenal beberapa teman Anita karena sebelumnya dia sering bertemu dengan mereka bersamanya, bersama kekasih yang gagal menjadi istrinya.

Di sebuah saung, duduk tiga mahasiswi dengan dandanan modis zaman sekarang. Seperti biasa, mereka nongkrong dan ngerumpi sebentar sebelum perkuliahan dimulai. Namun obrolan kali ini masih tentang Anita yang tidak ada yang menyangka dia akan mengembuskan nafas terakhirnya dengan umur yang masih muda.

"Mas Abram." Ucap salah satu wanita di sana. Namanya Yanti.

"Ada apa Mas? Tumben ke kampus?." Tanya teman di sampingnya bernama Iza.

"Aku butuh informasi dari kalian. Ini tentang Anita." Jawabnya. Perkataan itu membuat mereka bertiga kaget.

"Informasi apa Mas?." Kali ini giliran Elvira yang merespon karena penasaran.

Kini tiga gadis itu mulai membenarkan duduknya sambil menghadap ke arah Abram. Mereka sudah tidak sabar mendengarkan pertanyaan Abram.

"Begini, bukannya aku curiga sama Anita. Ini hanya untuk memastikan saja. Sebelum dia meninggal, apa Anita kenal dengan seseorang selain kalian atau pernah punya masalah dengan orang lain?." Tanya Abram memulai.

"Sepengetahuanku, Anita selalu bareng dengan kita, Mas. Dia juga bukan orang yang tipe-tipe nyari perkara. Mas Abram sendiri juga tahu bagaimana dia." Jawab Iza.

"Iya Mas. Aku juga tidak pernah tahu kalau dia akrab dengan orang lain selain kita". Yanti menimpali.

"Kalian yakin? Coba diingat-ingat lagi barangkali Anita pernah curhat sesuatu." Tanya Abram lagi meyakinkan mereka.

"Ada Mas. Satu minggu sebelum kematiannya, dia sempat bicara tentang seseorang." Jawab Elvira.

Ucapan itu membuat semua yang ada di sana mengernyitkan dahi, terutama Yanti dan Iza yang tidak menyangka Anita tidak bicara pada mereka berdua. Sedangkan Abram sedikit lega ada informasi yang dapat ditelusuri setelah pembicaraan itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ikrar Dendam    Bab 73 - Suasana menjadi kacau

    Ledakan itu mengguncang seluruh bangunan. Debu berjatuhan dari langit-langit. Lampu merah di sepanjang lorong berkedip cepat sebelum beberapa di antaranya padam. Abram dan Edwin masih berjongkok di balik sebuah meja besi ketika suara langkah kaki mulai terdengar dari arah gerbang.Langkah itu tidak terburu-buru. Justru terlalu teratur. Seolah orang-orang yang baru masuk itu sudah tahu persis ke mana mereka harus bergerak.“Apa itu orang-orangmu?” tanya Verin dari pengeras suara.“Tidak. Itu bukan kelompokku.” Jawabnya. Abram dan Edwin saling berpandangan.Suara tembakan kembali terdengar. Beberapa peluru menghantam pintu besi di sisi gudang. Dua orang yang berjaga di dekat gerbang langsung berlari mencari perlindungan.“Siapa mereka?” tanya Verin."Jangan-jangan mereka teman-temanmu. Jangan macam-macam kamu, Bram" Tuduh Verin.Nada suara Verin berubah drastis. Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, terdengar ketakutan dalam suaranya."Aku tidak tahu siapa mereka." Jawa

  • Ikrar Dendam    Bab 72 - Dua pilihan sulit

    Aku sudah tahu, Ini jebakan.” Kata Edwin pelan. "Apa?" Tanya Abram. "Berhenti ikut campur urusan kapak hitam... atau nyawa Pak Bima berakhir malam ini." Jawabnya membuat Abram naik pitam. Abram mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Namun kali ini Abram tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada layar yang kini telah kembali gelap. “Ulangi,” katanya. Verin terdiam beberapa detik. “Berhenti ikut campur urusan Kapak Hitam. Hentikan penyelidikanmu. Tinggalkan semua yang berkaitan dengan Proyek Kabut. Jika kau melakukannya, Pak Bima tetap hidup.” “Dan kalau tidak?” “Nyawanya berakhir malam ini.” “Aku tidak akan percaya hanya dengan kata-katamu.” “Bagus. Berarti kau mulai belajar.” “Tunjukkan dia lagi.” “Tidak.” “Tunjukkan Pak Bima sekarang!” “Jangan berteriak padaku, Abram. Kau datang ke sini bukan untuk memberikan perintah.” Edwin kembali mendekat. Ia bisa melihat kemarahan Abram mulai berada di titik berbahaya. “Tenang,” bisiknya. Abram menarik napas

  • Ikrar Dendam    Bab 71 - Negosiasi panjang

    Edwin perlahan mendekat ke arah Abram yang mulai terpancing emosinya setelah terlibat perbincangan beberapa menit dengan Verin. Suasana menjadi semakin tegang, sebab perbincangan itu belum menemukan solusi di antar kedua belah pihak."Jangan terpancing. Dia sengaja membuatmu marah." Ucap Edwin. Dari tadi ia terus mengawasi Abram agar tidak terpancing oleh ucapan Verin."Aku tahu," jawab Abram singkat."Kalau tahu, kendalikan dirimu."Edwin paham betul dengan karakter Abram. Dia adalah orang yang baik dan tenang. Namun kematian Anita telah mengubah segalanya. Tidak menghilangkan kebaikannya, tetapi membuat karakternya lebih liar dan menggebu-gebu. Tidak merasa takut, berani mengambil resiko, agresif dan bertindak sangat nekat.Abram menarik napas panjang. Tatapannya masih tertuju pada kamera di sudut ruangan. Orang yang sedang berbicara tidak terlihat batang hidungnya, hanya suaranya saja. Hal itulah yang membuat Abram emosi."Verin." Panggilnya dengan suara yang memecah kesunyian di d

  • Ikrar Dendam    Bab 70 - R.Satria hanyalah nama

    Lampu kecil di ujung ruangan masih menyala. Beberapa sosok berdiri diam di belakangnya. Wajah mereka tidak terlihat jelas, hanya siluet tubuh yang membuat suasana gudang semakin mencekam. Abram tidak bergerak. Edwin berdiri beberapa langkah di belakangnya, matanya terus mengamati sekeliling.Kemudian suara R. Satria kembali terdengar dari pengeras suara."Tenang, Abram. Kalau aku ingin mencelakai kalian, percakapan ini tidak akan pernah dimulai." Ucap R. Satria. Abram menatap kamera yang berada di sudut ruangan."Berhenti bersembunyi.""Kau benar-benar tidak dapat ditebak. Pantas banyak yang menganggap dirimu sebagai ancaman.""Jadi kau juga mengawasiku.""Sudah cukup lama.""Sejak kapan?""Sejak kau mulai menyelidiki kematian Anita."Nama itu membuat Edwin langsung menoleh kepada Abram.bAbram mengepalkan tangannya."Jadi semua ini berhubungan dengan Anita?""Lebih dari yang kau bayangkan.""Kalau begitu keluarlah. Kita bicara langsung.""Belum.""Takut?""Bukan takut. Aku hanya tidak

  • Ikrar Dendam    Bab 69 - Misi penyelamatan

    Abram dan Edwin akhirnya meninggalkan rumah persembunyian. Sebelum masuk ke mobil, Abram sempat menoleh ke arah Guntur."Jangan melakukan apa pun sebelum kami memberi kabar.""Aku tahu." Guntur mengangguk."Dan kalau ada sesuatu yang mencurigakan, bawa dr. Maya pergi dari sini.""Jaga dirimu, Bram."Abram hanya mengangguk. Edwin masuk ke kursi pengemudi. Mesin kendaraan menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman. Guntur berdiri di depan pintu sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan. Setelah itu ia kembali masuk. dr. Maya sudah duduk di depan laptop."Menurutmu mereka akan baik-baik saja?" tanyanya. Guntur menarik kursi dan duduk di sampingnya."Aku tidak tahu." Jawab Guntur. Jawaban itu membuat dr. Maya menoleh.Biasanya Guntur selalu memiliki jawaban untuk menenangkan orang lain. Namun kali ini tidak. Matanya justru tertuju pada layar laptop yang menampilkan posisi Abram dan Edwin. Sementara itu, mobil Abram terus melaju menuju kawasan pelabuhan.Jalan semakin sepi. Bangunan-

  • Ikrar Dendam    Bab 68 - Pak Bima diculik

    Hari ini mereka bangun agak siang. Beberapa hari selalu tidur larut karena menyelidiki informasi tentang projek kabut milik kapak hitam. Mereke kelelahan, terlebih Guntur yang malamnya terlibat kejar-kejaran hingga menyebabkan bajunya cedera dan diharuskan istirahat. Seperti biasa, dr. Maya sudah menyediakan beberapa gelas kopi yang siap diseruput di meja tamu. Dia belum berani kemana-mana, bahkan ke rumahnya sendiri. Ia masih diburu oleh kapak hitam karena memiliki informasi yang mereka harus lindungi. Namun mereka sudah terlambat. Informasi tentang proyek kabut sudah diketahui oleh Abram, Guntur dan Edwin. Kini mereka tinggal melakukan rencana agar dapat menghentikan pergerakan itu. "Aku masih kepikiran dengan orang yang ada di kampus." Ucap Abram. "R. Satria maksudmu?" Tanya Edwin. "Iya, aku kepikiran pak Bima. Aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Sebab orang itu melihatku ngobrol dengan pak Bima." "Lebih baik kamu hubungi dia, Bram." Suruh Edwin. "B

  • Ikrar Dendam    Bab 7 - Kecurigaan pada Pihak Berwajib

    Keesokan harinya, Abram duduk di meja kerja kamarnya menatap berkas laporan itu untuk kesekian kalinya. Setiap kata di dalamnya terasa ganjil, seolah disusun terburu-buru. Keterangan saksi tak lengkap, hasil autopsi tertutup sebagian, dan laporan kronologi berubah dari versi pertama yang ia terima.

  • Ikrar Dendam    Bab 6 - Pertemuan dengan Guntur

    Keesokan harinya, Abram sudah berada di depan gudang yang dimaksud Agha. Gudang tua di pinggir kota itu tampak kumuh, berkarat, dan dikelilingi rumput liar. Hujan masih menetes dari atap seng yang bocor, menimbulkan suara gemericik yang bergema di dalam ruangan. Lampu gantung tua menjadi penerang.

  • Ikrar Dendam    Bab 3 - Informasi dari Elvira

    Tampak semua mata masih memasang rasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Elvira, sahabat Anita. Abram begitu antusias mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Elvira. "Apa yang dia katakan?". Tanya Abram. "Dia bilang bahwa ada orang yang menaruh perasaan pada dia.

  • Ikrar Dendam    Bab 1 - Kematian Anita

    Berita kematian Anita menyebar dengan sangat cepat. Abram, yang merupakan kekasih Anita, seperti mendengar petir di siang bolong mengetahui kabar kematian wanita yang sangat dicintainya. Perasaan Abram sangat hancur, terluka seperti dihujam oleh senjata tajam dari belakang. Bagaimana tidak, malam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status