LOGINTampak semua mata masih memasang rasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Elvira, sahabat Anita. Abram begitu antusias mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Elvira.
"Apa yang dia katakan?". Tanya Abram. "Dia bilang bahwa ada orang yang menaruh perasaan pada dia. Ia terus mengejar-ngejar dirinya. Namun, Anita mengabaikan dan tak memperdulikannya. Ia tak ingin hubungan dengan Mas Abram terganggu hanya karena satu orang yang tidak ia sukai". Kata Elvira menjelaskan. "Anita tidak bilang bahwa dia punya tunangan?". "Ceritanya belum selesai Mas. Jadi, karena lelaki itu terus berusaha bahkan sedikit memaksa untuk bertemu dengan Anita, akhirnya dia putuskan untuk menemui lelaki itu tanpa sepengetahuan siapapun. Dia katakan semuanya tentang kedekatannya dengan Mas Abram". Yanti dan Iza mendengarkan dengan seksama seperti mendengar seorang guru yang sedang membaca dongeng pada murid-muridnya. Tentu mereka penasaran siapa lelaki yang dimaksud. Namun Elvira belum selesai menjelaskan. "Lelaki itu tetap berusaha meyakinkan bahwa dia lebih baik dari mas Abram dan menjanjikan kehidupan yang layak apabila nanti nikah dengannya. Namun, Anita tegas menolak ajakan itu dan tetap setia dengan mas Abram". Imbuhnya. "Siapa lelaki itu, Elvira?". "Namanya Hendrik. Dia satu angkatan dengan kami, hanya beda jurusan saja". Jawabnya. Yanti dan Iza kaget mendengar hal itu. Mereka tentu kenal dengan mahasiswa bernama Hendrik yang memang terkenal dari keluarga berada.a "Hendrik?". Tanya Yanti. "Iya, si laki-laki playboy itu". Jawab Elvira. "Ih, amit-amit sama dia. Pacarnya di mana-mana. Tidak Heran kalau banyak wanita mau aja sama dia karena diiming-imingi uang". Balas Iza. "Kalian tahu wajahnya?. Atau kalian punya fotonya?". Tanya Abram. "Aku gak punya fotonya, Mas. Tapi aku ngerti I*-nya". Jawab Elvira yang langsung menunjukkannya pada Abram. "Iya, makasih yah atas informasinya". Ucap Abram yang langsung meninggalkan mereka bertiga. Dalam hatinya Abram masih bertanya-tanya apakah laki-laki bernama Hendrik ada kaitannya dengan semua ini. Ia berniat untuk menyelidiki dan mencari tahu tentang Hendrik. Apakah dia memiliki kaitan dengan kematian Anita atau tidak. Sedikit demi sedikit Abram mulai menemukan petunjuk. Kali ini Abram tak ingin melibatkan Eriko. Masalah Hendrik ingin ia cari tahu sendiri kebenarannya. Saat ini Abram layaknya seorang detektif yang sedang bergerak untuk memecahkan masalah pembunuhan yang sudah dua mingguan lebih belum menemukan pelakunya. "Kenapa Anita tidak bicara padaku tentang masalah ini". Gumam Abram. Yanti dan Iza masih penasaran dan bertanya-tanya layaknya yang dirasakan Abram. Karena mereka juga tidak mendengar cerita itu secara langsung dari mulut Anita. "Kenapa dia tidak bicara pada kita berdua?". Tanya Yanti. "Sebenarnya dia ingin bicara juga pada kalian. Namun gak tahu kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran dan tak menceritakan hal itu, bahkan pada mas Abram juga. Aku pun juga diminta untuk tidak bicara tentang hal itu dulu". Jawab Elvira. "Sebenarnya ada apa ini? Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres hingga dia sendiri tidak bicara pada Mas Abram, padahal dia adalah tunangannya". Respon Iza. Kasus ini benar-benar meninggalkan luka yang begitu dalam sekaligus misteri Kematian yang begitu rumit, karena sampai saat ini belum diketahui siapa pelakunya dan apa motifnya. Polisi yang mendapat laporan juga belum menemukan petunjuk apapun. Hal itulah yang membuat Abram ingin bergerak sendiri mendapatkan keadilan untuk Anita. Setelah pertemuan dengan tiga sahabat Anita, Abram langsung bergerak untuk mencari tahu tentang seorang mahasiswa bernama Hendrik. Dia harus mencari tahu informasi terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan apakah Hendrik benar-benar pelaku pembunuhan itu atau tidak. Di zaman sekarang ini sudah banyak berita-berita pembunuhan akibat cinta yang ditolak. Dari mulai cintanya yang ditolak atau diputusin pacarnya sehingga dia dendam dan tega mengakhiri nyawa hanya karena masalah cinta. Perasaan yang begitu dalam dan berlebihan memang memberikan efek yang tidak bagus. Cinta ditolak bisa membuat seseorang mengakhiri hidupnya sendiri, atau mengakhiri hidup seseorang yang awalnya ia cintai, karena mendapatkan penolakan, sakit hati hingga akhirnya berujung pada kematian. Motif itulah yang coba diselidiki oleh Abram tentang kematian Anita. Saat ini ia harus bergerak sendiri, bukan karena dia merasa paling mampu, bukan karena tak ada yang dapat ia percaya. Tapi ia tak ingin merepotkan orang lain sekalipun Eriko adalah kakak kandung Anita. Abram merasa memiliki tanggung jawab untuk mengungkap kebenaran dari kasus ini. Meskipun dia sebenarnya belum menjadi pasangan yang sah dan tidak memiliki kewajiban apapun pada Anita, namun rasa cinta yang tertanam untuk Anita dalam dirinya membuatnya memiliki rasa tanggung jawab. Selain itu, ini adalah kasus pembunuhan. Mengungkap siapa pelaku dari kejadian ini bukanlah hal yang buruk. Malah sebaliknya, hal itu termasuk cara menegakkan kebenaran. Selain itu, ada rasa sakit hati yang mendalam dalam hatinya. Ada seprcik dendam yang tertanam,. membuatnya ingin membalas semua perbuatan yang dilakukan pada Anita, sekaligus merenggut kebahagiaan yang sebenarnya tak lama lagi ia dapatkan. Di dalam kamarnya, Abram mulai melihat semua platform media sosial milik Hendrik. Dari mulai I*******m, TikTok, dan YouTube, ia membuka satu persatu demi mencari tua siapa sebenarnya dia. Dia tak ingin gegabah langsung mendatangi Hendrik meskipun dia tahu dimana tempat menemukannya. "Jika memang kamu pelakunya, aku tidak akan memaafkanmu". Gerutu Abram dengan perasaan emosi yang ia tahan. Setelah satu jam mencari, Abram menemukan beberapa informasi tentang Hendrik, mulai dari jurusannya, tempat tinggalnya saat ini, kita asalnya dan beberapa teman-temannya yang ia lihat dari beberapa foto yang diupload di media sosialnya. Dan dari beberapa temannya, Abram mengenal satu orang, memang tidak akrab, namun pernah nongkrong bareng bersamanya dalam beberapa kesempatan. "Aku kenal orang ini, Agha. Dia harusnya sudah semester akhir. Sepertinya aku harus bertemu dia untuk meminta informasi tentang Hendrik". Ia langsung membuka aplikasi wa yang tersimpan di hp nya dan mencari kontak bernama Agha. Beruntung dia tidak membuang nomer Agha, karena dalam situasi ini hal tersebut benar-benar berguna untung mengumpulkan informasi. Ia menekan tombol hijau tanda memanggil. Tak butuh waktu lama suara di seberang sana terdengar merespon panggilan Abram. Tentu orang itu adalah Agha. "Halo". Jawab singkat. "Ini benar Agha?". Tanya Abram. "Iya. Ini siapa ya?" "Masih ingat aku, Gha? Aku Abram". Kata Abram mengenalkan dirinya. Sejenak Agha terdiam mengingat nama itu, karena memang sudah lama sekali mereka tidak bertemu. "Oh, mas Abram yang waktu itu nongkrong di dekat pelabuhan itu ya?". Tanya Agha mulai mengingat. "Iya benar. Aku ada perlu sama kamu, Gha". "Ada perlu apa ya kira-kira?" "Tapi aku gak bisa bicara lewat telepon. Aku mau ketemu". "Waduh Mas, aku sekarang KKN di Lamongan. Tapi tiga hari lagi udah selesai sih. Hari kamis bisa ketemuan langsung sepulang dari sini". Jawab Agha. "Oalaa... Ya udah kalau gitu. Hari kami saja ya. Nanti kabari kalau udah balik dari Lamongan". "Oke Mas Abram". Obrolan mereka berakhir. Abram bisa saja menemui Agha di Lamongan. Akan tetapi dia tak ingin mengganggu kegiatan sana. Apalagi menjelang selesai biasanya banyak kegiatan yang harus disiapkan untuk penutupan KKN di sana. Mereka akan bertemu tiga hari lagi, tepatnya pada hari kamis.Malam itu, hujan turun perlahan membasahi kaca gedung tua yang berdiri megah di tengah kawasan industri yang sepi. Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang biasa yang sudah lama tidak digunakan. Namun di balik pintu baja tebalnya, tempat itu menjadi salah satu pusat operasi Kapak Hitam.Raven melangkah menyusuri lorong panjang dengan wajah tanpa ekspresi. Sepatu kulitnya memantulkan suara langkah yang bergema di ruangan kosong. Dua pria bersenjata yang berjaga di depan sebuah pintu besi segera menundukkan kepala saat melihatnya."Beliau sudah menunggu," kata salah satu penjaga.Raven tidak menjawab. Ia hanya membuka pintu itu dan masuk. Ruangan di dalam cukup luas, namun penerangannya redup. Di ujung ruangan terdapat meja panjang dari kayu hitam. Seorang pria paruh baya duduk di sana sambil menikmati secangkir teh hangat.Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis. Ia mengenakan setelan sederhana, jauh dari kesan seorang pemimpin organisasi kriminal. Namun semua orang di Kapak Hit
Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti jalanan pinggiran kota ketika sebuah mobil patroli berhenti mendadak di tepi jalan yang sepi. Dua orang polisi yang sedang melakukan patroli rutin turun setelah melihat sesuatu tergeletak tidak jauh dari bahu jalan."Pak... ada seseorang di sini!" seru seorang polisi muda dengan nada tegang.Mereka segera mendekat. Tubuh seorang pria terbaring tak bergerak dengan pakaian berlumuran darah. Dari kondisi luka di tubuhnya, jelas terlihat bahwa pria itu menjadi korban penembakan."Hubungi tim identifikasi dan ambulans. Cepat!" perintah polisi yang lebih senior.Beberapa menit kemudian, lokasi itu dipenuhi garis polisi. Tim identifikasi mulai bekerja, memotret setiap sudut tempat kejadian perkara dan mengumpulkan barang bukti yang tersisa."Korban laki-laki, usia sekitar tiga puluh lima hingga empat puluh tahun," ucap salah satu petugas forensik."Terdapat tiga luka tembak. Dugaan sementara, korban meninggal beberapa jam yang lalu."Seorang pe
Setelah melalui kejadian yang cukup menegangkan, akhirnya mobil yang dikendarai Guntur tiba di sebuah rumah yang terletak di tempat yang sepi, jauh dari kerumunan. Rumah itu adalah milik teman Edwin yang kini mereka tinggali secara gratis. "Kita sudah sampai." Ucap Guntur. "Dimana ini?" Tanya dokter Maya. "Ini adalah tempat persembunyian kami." "Apa kalian dapat dipercaya?" Sejenak dokter Maya Ragu. "Selama berpihak pada kami, kami akan menjaga Bu dokter. Ingatlah, aku tunangan Anita. Aku sudah sejauh ini hanya untuk membalas kematian kekasihku." Jawab Abram dingin tanpa basa-basi. Ia kemudian masuk ke rumah itu. "Jangan diambil hati. Semenjak Anita mati, sifatnya berubah drastis. Dia hanya ingin menemukan orang yang membunuh kekasihnya, tidak lebih." Edwin menjelaskan. "Baik. Aku percaya pada kalian." Jawabmya pada akhirnya. Semua sudah berada di dalam rumah yang sebenarnya cukup besar, hanya saja tidak ditempati dan dibiarkan begitu lama hingga membuat warna temboknya mulai
Tiga pasang lampu mobil itu semakin mendekat dengan cepat, membelah gelapnya jalan sepi. Suara mesin mereka terdengar keras, seolah tidak lagi berusaha menyembunyikan keberadaan. Abram langsung mengambil keputusan."Kita pergi sekarang.""Bagaimana dengan dia?" tanya Edwin sambil melirik Fardan yang masih terikat. Abram menatap Fardan sesaat."Dia tetap di sini."Wajah Fardan langsung pucat. Ia seolah sudah tahu apa yang akan terjadi padanya jika mereka tahu dirinya dalam keadaan seperti itu. Fardan sudah pasti curiga Fardan membocorkan sebuah rahasia."Tidak! Jangan tinggalkan aku! Mereka akan membunuhku!"Abram tidak menjawab. Ia hanya berbalik menuju mobil. Baginya, Fardan bukan korban. Pria itu telah mengakui pembunuhan terhadap Susi."Please, Abram! Tolong!"Suara Fardan terdengar panik. Namun Abram tetap berjalan. Beberapa detik kemudian, mobil yang mereka tumpangi melaju meninggalkan lokasi. Dari kaca belakang, Fardan terlihat masih berteriak meminta bantuan. Lima menit kemudi
Fardan menundukkan kepalanya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya meski udara malam terasa dingin. Pengakuan itu akhirnya keluar dari mulutnya sendiri."Aku memang membunuh Susi..." ucapnya lagi dengan pelan. Abram menatapnya tanpa ekspresi."Tapi aku tidak melakukannya sendirian."Kalimat itu membuat suasana kembali tegang. Tentu semua yang ada di dekatnya penasaran siapa saja yang terlibat dalam kejadian waktu itu."Siapa?" tanya Edwin cepat.Fardan terdiam beberapa detik sebelum menjawab. Ia tampak ragu untuk mengatakannya, seolah ada tekanan yang tak kasap mata."Kapak Hitam.""Nama?" Tanya Abram singkat.Abram sudah menduga Fardan akan mengatakan kapak hitam. Namun dia butuh nama yang lebih detail lagi."Aku tidak tahu semua nama mereka. Aku hanya mengenal satu orang yang sering menghubungiku.""Siapa?" tanya Guntur."Pria yang dipanggil Raven."Abram mengingat nama itu, nama yang beberapa kali dikaitkan dengan kasus-kasus kriminal termasuk kematian Susi. Dia adalah eksekutor
Malam semakin larut, angin malam berhembus dingin, menabrak jaket Abram yang menutupi tubuhnya. Ia berdiri di samping pohon menunggu sebuah mobil melaju, mobil yang dicurigai mengikuti mobil yang dikendarai oleh Guntur."Aku tahu kamu siapa." Gumam Abram pelan.Mobil yang dikendarai Guntur sengaja terus berjalan pelan-pelan untuk memancingnya terus mengikuti di belakangnya. Tak lama kemudian mobil itu mulai melintas."Itu dia." Ucap Abram. Ia langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk menghubungi Guntur. "Tur, berhenti." Ucapnya. Guntur langsung berhenti, mobil yang mengikuti di belakangnya juga ikut berhenti.Abram mulai berjalan menyusuri sisi jalan dengan pelan-pelan menuju mobil hitam yang berhenti mengikuti mobil yang dikendarai Guntur. Dia tidak tahu Abram kini sudah berada di samping mobilnya."Keluar dari mobilmu sekarang!" Ucapnya Abram sambil menodongkan pistol ke arahnya."Abram!" Ia kaget tiba-tiba Abram berada di sebelahnya."Cepat turun!" Ucap Abram mengulangi. Ter
Jarum jam menunjuk angka satu ketika Eriko akhirnya tiba di rumahnya. Perjalanan dari kantor polisi terasa lebih panjang dari biasanya. Kata-kata Rafi terus terngiang di kepalanya."Beberapa bukti hilang.""Saksi mencabut keterangan.""Ada pihak tertentu yang ingin kasus ini berhenti."Semuanya ter
Nada sambung terdengar panjang. Edwin duduk sambil memukul-mukulkan jarinya ke meja sambil terus menggenggam ponselnya dengan ekspresi khawatir. Wajahnya tegang. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.“Ayo angkat… cepat…” gumamnya pelan.Tak lama kemudian, suara Abram terdengar dari seberang t
Pagi itu, langit Gresik tampak mendung. Edwin memarkir motornya di depan sebuah tempat service kecil yang berada di pinggir jalan sempit. Papan nama toko itu sudah kusam dimakan usia, sementara suara kipas angin tua terdengar berdecit dari dalam ruangan.Ia melangkah masuk sambil menatap rak-rak pe
Malam mulai menghilang dan pagi kembali menerangi bersama matahari yang indah. Namun keindahan itu tidak selaras dengan suasana hati Abram. Kasus kematian Anita yang belum terungkap, ditambah mimpi buruk yang ia alami beberapa jam sebelumnya membuat hatinya tidak tenang dan bertanya-tanya. Ia bingu







