Beranda / Lainnya / Ikrar Dendam / Bab 3 - Informasi dari Elvira

Share

Bab 3 - Informasi dari Elvira

Penulis: Faiz Achmad
last update Tanggal publikasi: 2026-04-23 16:44:49

Tampak semua mata masih memasang rasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Elvira, sahabat Anita. Abram begitu antusias mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Elvira.

"Apa yang dia katakan?". Tanya Abram.

"Dia bilang bahwa ada orang yang menaruh perasaan pada dia. Ia terus mengejar-ngejar dirinya. Namun, Anita mengabaikan dan tak memperdulikannya. Ia tak ingin hubungan dengan Mas Abram terganggu hanya karena satu orang yang tidak ia sukai". Kata Elvira menjelaskan.

"Anita tidak bilang bahwa dia punya tunangan?".

"Ceritanya belum selesai Mas. Jadi, karena lelaki itu terus berusaha bahkan sedikit memaksa untuk bertemu dengan Anita, akhirnya dia putuskan untuk menemui lelaki itu tanpa sepengetahuan siapapun. Dia katakan semuanya tentang kedekatannya dengan Mas Abram".

Yanti dan Iza mendengarkan dengan seksama seperti mendengar seorang guru yang sedang membaca dongeng pada murid-muridnya. Tentu mereka penasaran siapa lelaki yang dimaksud. Namun Elvira belum selesai menjelaskan.

"Lelaki itu tetap berusaha meyakinkan bahwa dia lebih baik dari mas Abram dan menjanjikan kehidupan yang layak apabila nanti nikah dengannya. Namun, Anita tegas menolak ajakan itu dan tetap setia dengan mas Abram". Imbuhnya.

"Siapa lelaki itu, Elvira?".

"Namanya Hendrik. Dia satu angkatan dengan kami, hanya beda jurusan saja". Jawabnya. Yanti dan Iza kaget mendengar hal itu. Mereka tentu kenal dengan mahasiswa bernama Hendrik yang memang terkenal dari keluarga berada.a

"Hendrik?". Tanya Yanti.

"Iya, si laki-laki playboy itu". Jawab Elvira.

"Ih, amit-amit sama dia. Pacarnya di mana-mana. Tidak Heran kalau banyak wanita mau aja sama dia karena diiming-imingi uang". Balas Iza.

"Kalian tahu wajahnya?. Atau kalian punya fotonya?". Tanya Abram.

"Aku gak punya fotonya, Mas. Tapi aku ngerti I*-nya". Jawab Elvira yang langsung menunjukkannya pada Abram.

"Iya, makasih yah atas informasinya". Ucap Abram yang langsung meninggalkan mereka bertiga.

Dalam hatinya Abram masih bertanya-tanya apakah laki-laki bernama Hendrik ada kaitannya dengan semua ini. Ia berniat untuk menyelidiki dan mencari tahu tentang Hendrik. Apakah dia memiliki kaitan dengan kematian Anita atau tidak. Sedikit demi sedikit Abram mulai menemukan petunjuk.

Kali ini Abram tak ingin melibatkan Eriko. Masalah Hendrik ingin ia cari tahu sendiri kebenarannya. Saat ini Abram layaknya seorang detektif yang sedang bergerak untuk memecahkan masalah pembunuhan yang sudah dua mingguan lebih belum menemukan pelakunya.

"Kenapa Anita tidak bicara padaku tentang masalah ini". Gumam Abram.

Yanti dan Iza masih penasaran dan bertanya-tanya layaknya yang dirasakan Abram. Karena mereka juga tidak mendengar cerita itu secara langsung dari mulut Anita.

"Kenapa dia tidak bicara pada kita berdua?". Tanya Yanti.

"Sebenarnya dia ingin bicara juga pada kalian. Namun gak tahu kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran dan tak menceritakan hal itu, bahkan pada mas Abram juga. Aku pun juga diminta untuk tidak bicara tentang hal itu dulu". Jawab Elvira.

"Sebenarnya ada apa ini? Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres hingga dia sendiri tidak bicara pada Mas Abram, padahal dia adalah tunangannya". Respon Iza.

Kasus ini benar-benar meninggalkan luka yang begitu dalam sekaligus misteri Kematian yang begitu rumit, karena sampai saat ini belum diketahui siapa pelakunya dan apa motifnya. Polisi yang mendapat laporan juga belum menemukan petunjuk apapun. Hal itulah yang membuat Abram ingin bergerak sendiri mendapatkan keadilan untuk Anita.

Setelah pertemuan dengan tiga sahabat Anita, Abram langsung bergerak untuk mencari tahu tentang seorang mahasiswa bernama Hendrik. Dia harus mencari tahu informasi terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan apakah Hendrik benar-benar pelaku pembunuhan itu atau tidak.

Di zaman sekarang ini sudah banyak berita-berita pembunuhan akibat cinta yang ditolak. Dari mulai cintanya yang ditolak atau diputusin pacarnya sehingga dia dendam dan tega mengakhiri nyawa hanya karena masalah cinta.

Perasaan yang begitu dalam dan berlebihan memang memberikan efek yang tidak bagus. Cinta ditolak bisa membuat seseorang mengakhiri hidupnya sendiri, atau mengakhiri hidup seseorang yang awalnya ia cintai, karena mendapatkan penolakan, sakit hati hingga akhirnya berujung pada kematian.

Motif itulah yang coba diselidiki oleh Abram tentang kematian Anita. Saat ini ia harus bergerak sendiri, bukan karena dia merasa paling mampu, bukan karena tak ada yang dapat ia percaya. Tapi ia tak ingin merepotkan orang lain sekalipun Eriko adalah kakak kandung Anita.

Abram merasa memiliki tanggung jawab untuk mengungkap kebenaran dari kasus ini. Meskipun dia sebenarnya belum menjadi pasangan yang sah dan tidak memiliki kewajiban apapun pada Anita, namun rasa cinta yang tertanam untuk Anita dalam dirinya membuatnya memiliki rasa tanggung jawab. Selain itu, ini adalah kasus pembunuhan. Mengungkap siapa pelaku dari kejadian ini bukanlah hal yang buruk. Malah sebaliknya, hal itu termasuk cara menegakkan kebenaran.

Selain itu, ada rasa sakit hati yang mendalam dalam hatinya. Ada seprcik dendam yang tertanam,. membuatnya ingin membalas semua perbuatan yang dilakukan pada Anita, sekaligus merenggut kebahagiaan yang sebenarnya tak lama lagi ia dapatkan.

Di dalam kamarnya, Abram mulai melihat semua platform media sosial milik Hendrik. Dari mulai I*******m, TikTok, dan YouTube, ia membuka satu persatu demi mencari tua siapa sebenarnya dia. Dia tak ingin gegabah langsung mendatangi Hendrik meskipun dia tahu dimana tempat menemukannya.

"Jika memang kamu pelakunya, aku tidak akan memaafkanmu". Gerutu Abram dengan perasaan emosi yang ia tahan.

Setelah satu jam mencari, Abram menemukan beberapa informasi tentang Hendrik, mulai dari jurusannya, tempat tinggalnya saat ini, kita asalnya dan beberapa teman-temannya yang ia lihat dari beberapa foto yang diupload di media sosialnya. Dan dari beberapa temannya, Abram mengenal satu orang, memang tidak akrab, namun pernah nongkrong bareng bersamanya dalam beberapa kesempatan.

"Aku kenal orang ini, Agha. Dia harusnya sudah semester akhir. Sepertinya aku harus bertemu dia untuk meminta informasi tentang Hendrik".

Ia langsung membuka aplikasi wa yang tersimpan di hp nya dan mencari kontak bernama Agha. Beruntung dia tidak membuang nomer Agha, karena dalam situasi ini hal tersebut benar-benar berguna untung mengumpulkan informasi.

Ia menekan tombol hijau tanda memanggil. Tak butuh waktu lama suara di seberang sana terdengar merespon panggilan Abram. Tentu orang itu adalah Agha.

"Halo". Jawab singkat.

"Ini benar Agha?". Tanya Abram.

"Iya. Ini siapa ya?"

"Masih ingat aku, Gha? Aku Abram". Kata Abram mengenalkan dirinya. Sejenak Agha terdiam mengingat nama itu, karena memang sudah lama sekali mereka tidak bertemu.

"Oh, mas Abram yang waktu itu nongkrong di dekat pelabuhan itu ya?". Tanya Agha mulai mengingat.

"Iya benar. Aku ada perlu sama kamu, Gha".

"Ada perlu apa ya kira-kira?"

"Tapi aku gak bisa bicara lewat telepon. Aku mau ketemu".

"Waduh Mas, aku sekarang KKN di Lamongan. Tapi tiga hari lagi udah selesai sih. Hari kamis bisa ketemuan langsung sepulang dari sini". Jawab Agha.

"Oalaa... Ya udah kalau gitu. Hari kami saja ya. Nanti kabari kalau udah balik dari Lamongan".

"Oke Mas Abram". Obrolan mereka berakhir.

Abram bisa saja menemui Agha di Lamongan. Akan tetapi dia tak ingin mengganggu kegiatan sana. Apalagi menjelang selesai biasanya banyak kegiatan yang harus disiapkan untuk penutupan KKN di sana. Mereka akan bertemu tiga hari lagi, tepatnya pada hari kamis.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ikrar Dendam    Bab 70 - R.Satria hanyalah nama

    Lampu kecil di ujung ruangan masih menyala. Beberapa sosok berdiri diam di belakangnya. Wajah mereka tidak terlihat jelas, hanya siluet tubuh yang membuat suasana gudang semakin mencekam. Abram tidak bergerak. Edwin berdiri beberapa langkah di belakangnya, matanya terus mengamati sekeliling.Kemudian suara R. Satria kembali terdengar dari pengeras suara."Tenang, Abram. Kalau aku ingin mencelakai kalian, percakapan ini tidak akan pernah dimulai." Ucap R. Satria. Abram menatap kamera yang berada di sudut ruangan."Berhenti bersembunyi.""Kau benar-benar tidak dapat ditebak. Pantas banyak yang menganggap dirimu sebagai ancaman.""Jadi kau juga mengawasiku.""Sudah cukup lama.""Sejak kapan?""Sejak kau mulai menyelidiki kematian Anita."Nama itu membuat Edwin langsung menoleh kepada Abram.bAbram mengepalkan tangannya."Jadi semua ini berhubungan dengan Anita?""Lebih dari yang kau bayangkan.""Kalau begitu keluarlah. Kita bicara langsung.""Belum.""Takut?""Bukan takut. Aku hanya tidak

  • Ikrar Dendam    Bab 69 - Misi penyelamatan

    Abram dan Edwin akhirnya meninggalkan rumah persembunyian. Sebelum masuk ke mobil, Abram sempat menoleh ke arah Guntur."Jangan melakukan apa pun sebelum kami memberi kabar.""Aku tahu." Guntur mengangguk."Dan kalau ada sesuatu yang mencurigakan, bawa dr. Maya pergi dari sini.""Jaga dirimu, Bram."Abram hanya mengangguk. Edwin masuk ke kursi pengemudi. Mesin kendaraan menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman. Guntur berdiri di depan pintu sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan. Setelah itu ia kembali masuk. dr. Maya sudah duduk di depan laptop."Menurutmu mereka akan baik-baik saja?" tanyanya. Guntur menarik kursi dan duduk di sampingnya."Aku tidak tahu." Jawab Guntur. Jawaban itu membuat dr. Maya menoleh.Biasanya Guntur selalu memiliki jawaban untuk menenangkan orang lain. Namun kali ini tidak. Matanya justru tertuju pada layar laptop yang menampilkan posisi Abram dan Edwin. Sementara itu, mobil Abram terus melaju menuju kawasan pelabuhan.Jalan semakin sepi. Bangunan-

  • Ikrar Dendam    Bab 68 - Pak Bima diculik

    Hari ini mereka bangun agak siang. Beberapa hari selalu tidur larut karena menyelidiki informasi tentang projek kabut milik kapak hitam. Mereke kelelahan, terlebih Guntur yang malamnya terlibat kejar-kejaran hingga menyebabkan bajunya cedera dan diharuskan istirahat. Seperti biasa, dr. Maya sudah menyediakan beberapa gelas kopi yang siap diseruput di meja tamu. Dia belum berani kemana-mana, bahkan ke rumahnya sendiri. Ia masih diburu oleh kapak hitam karena memiliki informasi yang mereka harus lindungi. Namun mereka sudah terlambat. Informasi tentang proyek kabut sudah diketahui oleh Abram, Guntur dan Edwin. Kini mereka tinggal melakukan rencana agar dapat menghentikan pergerakan itu. "Aku masih kepikiran dengan orang yang ada di kampus." Ucap Abram. "R. Satria maksudmu?" Tanya Edwin. "Iya, aku kepikiran pak Bima. Aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Sebab orang itu melihatku ngobrol dengan pak Bima." "Lebih baik kamu hubungi dia, Bram." Suruh Edwin. "B

  • Ikrar Dendam    Bab 67 - Sentinel Consulting Group

    Sekitar pukul satu dini hari, Guntur tiba kembali di rumah persembunyian. Abram yang sejak tadi mondar-mandir langsung menghampirinya. Ia terlihat panik melihat sahabatnya tampak menahan sakit."Kau terluka?""Hanya memar."Edwin segera membawa kotak P3K, sementara dr. Maya memeriksa bahu Guntur yang terjatuh akibat mengindari kejaran dari orang-orang yang tidak ia kenal di tempat tersebut.Ia tak menyangka akan ada orang-orang selain dirinya yang sedang mencari dan mengintai gudang itu."Untung tidak patah," ujar dr. Maya setelah selesai memeriksa."Istirahat beberapa hari seharusnya pulih." Imbuh dr. Maya."Aku tidak punya waktu untuk istirahat," jawab Guntur pelan.Ia kemudian mengeluarkan buku kecil dari saku jaket, meletakkannya di atas meja, lalu menceritakan semua yang dialaminya malam itu.Suasana ruangan menjadi hening ketika ia menyebut nama Paket Alpha dan rencana pemindahannya pada 9 Agustus pukul 02.00 WIB. Edwin langsung membuka laptop."Lihat ini."Beberapa menit kemudi

  • Ikrar Dendam    Bab 65 - Mencari Jawaban

    Malam kembali turun perlahan. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di jalanan yang masih basah setelah hujan sore.Cuaca tahun ini memang tidak bisa diprediksi. Meskipun sudah musim panas, namun kadang hujan masih saja turun. Di rumah persembunyian, Abram, Edwin, dan dr. Maya masih sibuk menyusun kemungkinan rencana penyusupan ke PT Arunika Logistik Nusantara. Namun Guntur memiliki pemikiran lain."Aku keluar sebentar," ucapnya singkat sambil mengenakan jaket hitam. Abram menoleh."Mau ke mana?""Mencari jawaban.""Sendirian?" Tanya Abram mempertegas lagi. Guntur mengangguk."Kalau kita bergerak berempat, terlalu mencolok. Lagi pula, pekerjaanku dulu memang seperti ini."Abram terlihat ingin mencegahnya, tetapi akhirnya menghela napas. Ia hampir lupa bahwa pekerjaan memang seperti itu. Dari awal dia memang dibayar untuk memecahkan kasus berat ini.Namun seiring berjalannya waktu, kini ia tak meminta bayaran lagi dari Abram. Kali ini ia murni ing

  • Ikrar Dendam    Bab 64 - Lokasi PT. Arunika Logistik Nusantara

    Pagi berikutnya, langit masih diselimuti awan kelabu ketika keempatnya kembali berkumpul di ruang tamu. Aroma kopi hitam yang harus saja diracik oleh dr. Maya memenuhi ruangan, sementara laptop Edwin telah dipenuhi puluhan jendela berisi data dan peta digital."Aku mulai menelusuri PT Arunika Logistik Nusantara sejak tadi malam," kata Edwin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar."Hasilnya?" tanya Abram. Edwin menarik napas pelan."Perusahaan ini seperti sengaja dibuat agar tidak menarik perhatian." Jawabnya sambil memperbesar tampilan sebuah peta."Alamat kantor pusat yang terdaftar berada di kawasan pergudangan pinggiran kota. Gudangnya kecil, jumlah pegawai resminya hanya belasan orang, dan omzet yang dilaporkan biasa saja." Imbuhnya."Tapi itu cuma kedok?" sela Guntur. Edwin mengangguk."Kalau hanya melihat dokumen resmi, semuanya tampak bersih. Namun ketika aku mencocokkan data pengiriman dengan catatan yang ada di dokumen Proyek Kabut, muncul pola yang aneh.""Pola apa?""Set

  • Ikrar Dendam    Bab 7 - Kecurigaan pada Pihak Berwajib

    Keesokan harinya, Abram duduk di meja kerja kamarnya menatap berkas laporan itu untuk kesekian kalinya. Setiap kata di dalamnya terasa ganjil, seolah disusun terburu-buru. Keterangan saksi tak lengkap, hasil autopsi tertutup sebagian, dan laporan kronologi berubah dari versi pertama yang ia terima.

  • Ikrar Dendam    Bab 6 - Pertemuan dengan Guntur

    Keesokan harinya, Abram sudah berada di depan gudang yang dimaksud Agha. Gudang tua di pinggir kota itu tampak kumuh, berkarat, dan dikelilingi rumput liar. Hujan masih menetes dari atap seng yang bocor, menimbulkan suara gemericik yang bergema di dalam ruangan. Lampu gantung tua menjadi penerang.

  • Ikrar Dendam    Bab 5 - Menyewa Penyelidik

    Di sebuah saung yang terletak di salah satu kampus di kota Gresik, Agha sudah duduk bersama Hendrik dan beberapa temannya. Dia ingin menepati janjinya pada Abram untuk menyelidiki kecurigaan Abram padanya. Dari saku depan kemejanya, ia mengambil satu bungkus rokok dan mengambilnya. Lalu dinyalakan

  • Ikrar Dendam    Bab 4 - Kembali ke Kantor Polisi

    Abram melangkah dengan berat menuju kantor polisi. Sejak kematian Anita, kekasih yang dicintainya, hari-harinya terasa kosong. Rasa duka bercampur dengan amarah, membuatnya tak bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan ini. Di meja penerimaan, seorang petugas polisi menyambutn

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status