MasukRudra, who resides in a tiny town, is passionate about seeking out historical mysteries. While doing so, he came into a mystery cave that is home to certain magical abilities. He was hit just as he was ready to leave the cave. Nobody is aware of his current whereabouts. Ambika was attacked by a bunch of individuals while trying to save her spouse. Jaishankar, the father of Rudra, spotted Ambika's bloody garments in the bush and learned that an animal had killed her. It remained a mystery why Rudra and Ambika had vanished. Rajeev, the son of Rudra and Ambika, is a doctor who leads a happy life and is well-liked by the residents of his little hamlet due to his kind disposition. He once came upon a gorgeous young girl with wounds in the woods. After that, he took her home and took care of her. He later learned that the girl had forgotten her recollections. The young woman Rajeev found is fascinating and is full of mysteries. Over time, Rajeev and her developed a relationship, leading to their marriage. The marriage has made a significant difference in his life. Rajeev was then repeatedly attacked, but the assailant was unable to hurt him since his buddy Ram and wife Gowthami were always defending him. Will Rajeev be able to learn the truth behind his family's untimely death? What challenges Rajeev faced during his life. Who precisely is looking for Rajeev? What about the enigmatic woman Rajeev wed
Lihat lebih banyak"Hei anak tanpa ayah, pergi kau dari sini!" usir beberapa anak dengan pakaian mewah, pada seorang anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun.
Darah anak kecil itu mendidih karena cacian dan hinaan itu. Dia tak bisa untuk diam, tapi dia tak bisa berbuat apapun. Anak kecil itu berbalik dengan wajah yang sendu, matanya berkaca-kaca, karena ucapan yang tak bisa diterima anak sekecil dirinya. Bukkkkkk!! Baru saja dia berbalik, satu tendangan keras hantam punggungnya, tendangan yang membuat tubuh anak kecil itu terjerembab jatuh dengan wajah yang mencium tanah. "Hahaha, dasar bodoh!" teriak anak-anak yang tertawa karena menjatuhkan anak kecil itu. Tidak hanya itu, tanpa peduli akan kondisi anak kurus itu, mereka masih lanjutkan dengan memukuli dan menendang tubuh kurus anak kecil berpakain hijau penuh tambalan. "Ampun! Ampun!" teriak anak kecil itu sambil menutupi wajahnya sendiri. Meksipun sudah menutupinya, tapi beberapa pukulan masih tetap menghancurkan wajahnya. "Tinggalkan dia, dasar tak berguna. Selamanya kau akan jadi sampah!" ucap mereka pada anak kecil itu. Bahkan tanpa sedikitpun rasa kasihan, mereka meludahi tubuh anak kecil itu dan tinggalkan dengan tubuh yang penuh dengan luka. Begitu beberapa anak itu pergi, anak kecil itu menangis terisak-isak, tubuhnya sampai gemetaran karena tangisan yang tak tertahan. "Apa salahku? Kenapa aku tak memiliki ayah?" teriak anak kecil itu. Dia bangkit, dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, anak kecil itu berlari cepat menuju rumahnya, rumah yang lebih layak disebut gubuk. "Aku pulang!" kata anak kecil itu dengan langkah yang tertatih-tatih. "Panji! Apa yang terjadi denganmu?" teriak orang yang ada di dalam rumah kecil itu. "Mereka kembali memukuli diriku, kek!" jawab Panji dengan mata yang berlinangan air mata. Lelaki itu, dia tak lain adalah tabib Sagara, dia juga tak tahu harus bagaimana untuk menghidarkan Panji dari pukulan anak-anak kaya di kota itu. "Kuatkan dirimu, Panji!" kata tabib Sagara dan menarik Panji ke dalam pelukannya. Panji, anak kecil yang dia tolong, ditolong saat melahirkan, tapi sayangnya ayah dan ibunya tewas saat Panji belum berumur satu hari. "Kakek!" jerit Panji. Tangisan anak kecil itu meledak di pelukan tabib Sagara. Dia tak mungkin bertahan, karena bagaimanapun juga dia masih anak kecil yang tak tahu apa-apa. Tabib Sagara hanya bisa memberikan pelukan hangat ke tubuh Panji. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan perasaan pilu yang menguasai tubuh Panji. "Bersihkan tubuhmu, setelah itu kakek akan obati lukamu!" kata tabib Sagara setelah merasa keadaan Panji sudah jauh lebih baik. "Baik, kakek!" jawab Panji tanpa sedikitpun bantah perintah dari tabib Sagara. "Hhmmm!" Tabib Sagara hanya bisa menarik napas yang dalam. Dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia pun hanya orang miskin di kota itu. Sejak Panji bersama dengan dirinya, awalnya bukan hanya dia yang merawat Panji, tapi ada nyai Litak yang menjaga Panji. Tapi, nyai Litak meninggal dunia saat Panji masih berusia lima tahun. Hingga sejak saat itu, hanya tabib Sagara yang menjaga dan merawat Panji. Hidup tabib Sagara memang tak jauh dari kata miskin. Dia memang tabib, tapi dia bukan tabib yang terkenal. Bahkan banyak yang anggap dia hanya tabib gadungan. Sehingga itu membuat banyak orang yang memilih untuk tak berobat padanya. Sejak usia sembilan tahun, Panji mulai berkeliaran di kota itu. Kota Melati yang indah. Tapi, sejak saat itu, di hari pertama, Panji juga sudah merasakan perundungan dari anak-anak seusianya. Hal itu karena hidup Panji yang miskin, yatim piatu, dan tak memiliki pendukung. Itu semakin membuat Panji tak bisa lepas dari perundungan yang dia dapatkan dari anak-anak orang kaya di kota Melati itu. Begitu selesai bersihkan tubuhnya, Panji mendekat ke arah tabib Sagara. "Lukamu tak terlalu parah, dalam satu atau dua hari ini, lukamu akan menghilang!" kata tabib Sagara sambil mengoleskan salep ke luka Panji. "Aduh, kakek, ini sangat perih!" teriak Panji. "Jangan cengeng, apa kau ingin luka ini bengkak dan kau demam?" "Tidak, kakek. Tapi ini memang sangat sakit!" teriak Panji. "Kau adalah pemuda yang kuat, jangan anggap luka ini akan membuat kau kesakitan! Ingat, tidak ada rasa sakit!" bentak tabib Sagara. Panji sampai mengigit kuat giginya sendiri hanya karena tak mampu menahan rasa perih karena obat tabib sagara. "Jika kau bertemu lagi dengan mereka, sebaiknya kau lari, Panji!" "Aku sudah berusaha kakek, tapi mereka jauh lebih cepat dari Panji. Aku juga bingung kenapa mereka lebih cepat dari pada Panji?" Tabib Sagara tak menjawab, dia tahu, kalau anak-anak yang mengganggu Panji adalah murid sebuah perguruan, sudah jelas mereka jauh lebih cepat dari pada Panji. "Kakek, jika mereka masih melakukan itu, Panji akan melawan mereka!" "Jangan!" bentak tabib Sagara dengan suara keras. "Kenapa kakek? Panji tak ingin diam saja. Mereka juga harus merasakan rasa sakit Panji!" "Itu hanya akan membahayakan hidupmu, Panji. Apakah kau tak sadar kalau mereka orang-orang kaya di kota ini. Jika kau lakukan itu, bukan hanya dirimu, tapi kakek juga akan menderita!" Panji tak bisa lagi menjawab, dia hanya bisa menahan diri. Tapi sampai kapan dia akan diam untuk tak melawan. "Kakek, kemana ayah, Panji?" tanya bocah polos itu tiba-tiba. Amarah di wajah tabib Sagara hilang seketika, dia menatap Panji, dan tak tahu harus jawab apa. Pertanyaan itu sudah berkali-kali Panji tanyakan, tapi hingga saat ini, tabib Sagara tak pernah menjawab pertanyaan itu. "Kenapa kakek diam?" tanya Panji. "Belum saatnya kau tahu tentang ayahmu, Panji!" kata tabib sagara. "Kenapa kakek? Sampai kapan?" "Tunggu saat usiamu sudah matang, baru kakek beritahu siapa ayahmu!" jawab tabib Sagara. Tabib itu sudah tahu siapa ayah Panji, dan selama ini dia menutupi siapa identitas ayah Panji, karena dia sadari satu hal. Ayah Panji bukan dari golongan yang lurus, dan jika Panji tahu tentang hal itu, pasti anak kecil itu akan lebih tertekan lagi. "Kapan kakek, kapan?" desak Panji pada tabib Sagara. "Tunggu saja, pasti akan kakek katakan!" "Tapi Panji ingin tahu kakek, Panji sangat ingin tahu!" kata anak kecil itu. Tabib Sagara hanya menunduk, rasanya berat untuk menceritakan semuanya pada Panji. Sesuatu yang sudah disembunyikannya cukup lama. Ayah Panji sebenarnya sudah tewas dibunuh oleh seseorang, namun tabib itu memilih untuk menutupinya sampai Panji pantas untuk mengetahui cerita yang sebenarnya. Brakkkkkkk! Saat kebingungan melanda tabib Sagara, pintu gubuk mereka di dorong, dan dua orang masuk ke dalam rumah itu. "Apakah kau seorang tabib?" tanya salah satu dari dua orang itu. "Iya, aku dulu seorang tabib!" jawab tabib Sagara. "Tolong bantu saudaraku ini, dia keracunan!" "Racun? Apakah itu racun yang berat?" tanya tabib Sagara. "Periksa saja bodoh! Jangan banyak tanya. Jika aku tahu, aku tak akan akan bawa dia padamu!" bentak orang yang baru datang itu. "Ba ... Baik!"As they ascended the steps, Ambika’s gaze lingered on Gowthami, her worry evident in the way she furrowed her brow. She gently called out, “Gowthami, come with me, dear. You need to rest.” Her tone was full of maternal concern, a softness that only grew deeper as she watched her daughter-in-law’s tired face. Rajeev, already attuned to his wife’s needs, had his arm wrapped around Gowthami, offering her support as they made their way up the stairs. “I’ll help her, Amma,” he said, his voice filled with quiet determination. He had been watching Gowthami closely, noticing how she had grown weaker throughout the evening. He wasn’t going to let her push herself any further. Gnapika, still holding her mother’s hand, glanced back at Gowthami too, her earlier anger fading as concern took over. Though she had her own frustrations with the family, seeing her sister-in-law unwell softened her heart. She stepped aside to let Rajeev guide Gowthami closer t
As everyone settled into the hall, the air grew thick with tension. Gurdeep, who had been silently observing, finally turned his gaze toward Rudra, his voice steady but sharp. “Where have you been all these years, Rudra?” he asked, his tone carrying the weight of years of unanswered questions. “Did you ever stop to think about Rajeev? You had another child, but how could you leave your son behind? What kind of parents do that?” His words hung heavily in the room, and then Gurdeep’s focus shifted to Ambika. His eyes were filled with disbelief and hurt. “And you, Ambika,” he said, his voice tinged with accusation. “How could you leave Rajeev? What kind of mother abandons her own child? How could you have turned your back on him like that?” The room was silent, the weight of Gurdeep's words pressing on everyone. Before Ambika or Rudra could speak, Gnapika, who had been sitting quietly until then, suddenly stood up, her face flushed with anger.
Before Rudra could respond, Abhi stepped in again, sensing the tension in the air. "It’s a long story, Dad," he said gently but firmly. "Once we get inside, I promise we’ll explain everything. But right now, Gowthami needs some rest." The concern in Gurdeep’s eyes immediately shifted to Gowthami, who was still leaning heavily on Rajeev. The worry lines on his face deepened as he took in her pale complexion. His fatherly instincts kicked in, overriding all other emotions. "You’re right," he said, his voice softening. "She needs to rest." He turned to Uma, his expression one of urgency and care. "Take her inside, Uma," he instructed, his voice firm yet gentle. "Make sure she’s comfortable." Uma nodded, still teary-eyed but focused on the task at hand. She moved quickly to Gowthami’s side, taking her other arm to support her. "Come, dear," Uma said softly, guiding her toward the
Nand was still lost in his thoughts, distracted by Venya's unexpected reaction and the complex emotions swirling around him. He didn’t even notice Gurdeep and Uma standing nearby, their faces frozen in a mixture of shock and overwhelming joy. They had been rendered speechless by the sight of Rudra, a man they had thought dead for 15 long years. Their hearts raced with a thousand questions, desperate to know how he had survived, where he had been, and why he had stayed away for so long. Just as they were about to speak, another car pulled up to the mansion, drawing everyone's attention. Rajeev swiftly stepped out and rushed to open the door, helping Gowthami and Ambika out. The moment Uma and Gurdeep saw Ambika, their eyes widened in disbelief. It was as if time had stood still, freezing this moment in their memories forever. Tears welled up in their eyes and began to spill over as they struggled to comprehend what they were seeing. The woman they had mourned, be
Gnapika sat quietly, her mind racing as she watched the exchange between her father and Nirbhay. The tension in the room was palpable, but what weighed on her the most was the unanswered question that lingered in her mind: why was Rudra hiding the truth about Athreya's death? She couldn’t fathom his
Gnapika’s sharp eyes caught sight of something unusual—a vacant seat among the shareholders, standing out starkly in the otherwise full room. She leaned toward Nand, her voice low but laced with curiosity. “Nand , why is that seat empty? Who holds it?” Nand stiffened, clearly
Gnapika, determined not to let this opportunity slip away, knew she had to act quickly and quietly. She couldn’t shake the feeling that Rudra was behind the disappearance of the photos, and she was convinced that the answer lay somewhere in Athreya’s old room. The room had always been shrouded in
Gnapika sat in her room, lost in thought, replaying Nirbhay's words over and over in her mind. She felt a growing unease within her, a feeling that had taken root the day she first met him. It was when Gowthami was in the hospital, her condition critical, that Nirbhay had approached her. At first
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.