Accueil / Rumah Tangga / Senja di Ujung Istanbul / Bab 08. Tatapan yang Berbeda

Partager

Bab 08. Tatapan yang Berbeda

Auteur: Aleena
last update Date de publication: 2024-01-29 08:32:15
"Apa aku mengganggu?"

Jelas. Aku merasa sangat terganggu dengan kehadiran Sofie. Ini sudah terlalu malam bagi seorang wanita untuk bertamu ke rumah seorang pria.

Ingin rasanya menjawab bahwa kedatangannya tidak diharapkan. Namun, aku berusaha menahan diri agar tidak lepas kendali.

Mas Hamish menggeleng. Ekspresi dinginnya langsung berubah lembut.

"Nggak! Mana mungkin kedatanganmu menggangguku?"

Dia beralih bicara kepadaku.

"Ra, bawakan minuman untuk Sofie. Jangan bengong saja di situ
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 15. Ketahuan

    Seketika mulutku ternganga. Napasku tercekat, sementara jemariku mencengkeram ujung pakaian dengan gugup. Aku kesulitan menjawab pertanyaan yang baru saja dia lontarkan. “Ini punya siapa, Ra?” tanyanya lagi. Bibirku seolah terkunci. Tenggorokanku terasa kering. Tidak ada satu kata pun yang mampu keluar. “Katakan! Apa benar kamu hamil?” Suara itu menghantam dadaku. Tubuhku menegang, dan jantungku berdegup begitu keras hingga rasanya bisa didengar olehnya. Apakah ini sudah waktunya? Apakah sandiwara ini akan berakhir hari ini? “Dan ini!” Mas Hamish mengeluarkan kardus susu ibu hamil yang selama ini kusimpan di dalam laci. Gerakannya kasar, seolah benda itu adalah bukti kejahatan yang baru saja dia temukan. “Mengapa kamu simpan semua ini di sini? Siapa yang menghamili kamu, hah?” Bibirku bergetar. Aku membuka mulut, tetapi suaraku tertahan di tenggorokan. Apa dia akan percaya bahwa ini adalah anaknya? Apa dia akan percaya jika aku mengatakan semuanya dengan jujur? Aku... taku

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 14. Merawat Aira

    Sudah pasti Mas Hamish tidak akan melewatkan kesempatan untuk pergi bersama Sofie. Aku yakin dia juga menantikan hal itu. Meskipun hatiku begitu melarang Mas Hamish melakukannya, tidak ingin lelaki itu pergi berduaan dengan Sofie, aku bisa apa? “Sofie, sepertinya kita tunda dulu. Aira sakit. Aku nggak tega ninggalin dia.” Aku cukup terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan Mas Hamish kepada Sofie. Mas Hamish benar-benar peduli padaku. Dia bahkan memilih melewatkan keinginannya untuk pergi bersama Sofie. Padahal, aku yakin lelaki itu sudah menunggu-nunggu datangnya hari ini. “Tapi, Mas... kamu udah janji datang jemput aku, kan?” Apa? Mengapa Sofie bicara begitu? Mungkin merasa tidak enak karena jawaban Sofie tidak seperti yang diharapkan, Mas Hamish kemudian menjauh dariku. Dia berdiri di dekat jendela, menutupi cahaya matahari yang masuk dengan punggung tegapnya. Aku tak lagi mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Yang membuatku bingung, mengapa Sofie malah bersik

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 13. Takut Kehilangan

    Waktu terus berlalu. Hubungan kami semakin dekat. Layaknya sahabat. Mas Hamish tak segan menceritakan apa pun kepadaku. Bahkan, tentang hubungannya dengan Sofie yang kian membaik. Jangan tanya tentang hatiku! Aku sendiri tidak tahu bagaimana bentuk dan rupanya sekarang. Apalagi saat Sofie datang kemari dengan senyuman bak malaikat yang sampai sekarang tidak aku mengerti apa maksudnya. Seharusnya sandiwara itu tidak perlu terlalu lama dilakukan. Aku sudah menyuruhnya berhenti, tetapi dengan tegas Sofie mengatakan kalau semua ini demi kebaikan Mas Hamish. Aku seharusnya tidak boleh meragukan niatnya dalam membantu. Ya. Dia benar. Semua ini demi kebahagiaan Mas Hamish, bukan kebahagiaanku. Aku harus terus menahan rasa cemburu dan curiga yang sering kali datang tanpa bisa dicegah. Dan kini, aku berdiri di sini, menatap Mas Hamish yang mulai bisa melangkahkan kaki tanpa alat bantu berjalan. Meskipun pelan, aku bisa melihat keteguhan dan kesungguhannya untuk membuat kakinya kembali ber

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 12. Mengajaknya Pergi

    “Apa kamu mengingat sesuatu?”Ada harapan yang begitu kuat saat menanyakannya. Paling tidak, mungkin ada seberkas bayangan wajahku di kepalanya.“Tidak. Aku tidak mengingat apa pun.”“Lalu?”Itu tadi bayangan apa? Mengapa dia mengatakan dejavu? Apakah aku terlalu banyak berharap agar ingatannya kembali?“Mungkin dulu aku pernah terjatuh seperti ini bersama Sofie. Jadi aku merasa pernah mengalami ini sebelumnya.”Bukan. Bukan Sofie. Itu aku.Kami memang pernah terjatuh bersama saat itu, dengan Mas Hamish memelukku, melindungi kepalaku agar tidak terbentur lantai. Sama persis dengan kejadian yang baru saja terjadi.Namun, mana mungkin aku mengatakan hal tersebut?Aku menghela napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskannya perlahan.“Ayo, aku bantu berdiri!”“Hemm.” Dia bergumam.Sebaiknya Mas Hamish kembali ke kursi roda.Aku berdiri, lalu mengambil kursi roda yang sempat ditinggalkannya dan meletakkannya di dekatnya.“Hati-hati!” kataku tanpa menatap wajahnya.Entah hanya perasaanku

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 11. Dejavu

    Pagi itu, waktu seakan berjalan lebih lambat. Satu, dua, tiga detik yang terus berputar pada jarum jam dinding terasa begitu berarti. Hujan mulai mengguyur bumi sejak pagi, membuatku kesulitan untuk mengajak Mas Hamish pergi ke suatu tempat. Hari ini bertepatan dengan tanggal pernikahan kami. Tepat lima tahun. Walaupun Mas Hamish tidak mengingat apa pun, aku hendak mengajaknya ke suatu tempat yang mungkin bisa memunculkan kembali kenangan-kenangan indah kami. Namun, cuaca ternyata tidak bersahabat. Hujan turun sejak pagi, seolah tidak peduli pada banyak orang yang terpaksa menunda janji karena kehadirannya. Aku menjulurkan tangan, menengadah ke arah rintik hujan di luar jendela. Percikan air bagaikan buliran kristal yang terpecah, lalu menciprat ke permukaan wajahku hingga membuatku memejamkan mata. “Ra, kamu ngapain?” Kelopak mataku yang sempat terpejam seketika terbuka begitu suara Mas Hamish mengejutkanku. Aku menoleh dan mendapati lelaki itu sudah berdiri di belakangku.

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 10. Belum Siap

    Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, dokter datang tepat pukul delapan pagi. Mas Hamish sudah bersiap untuk mengikuti serangkaian proses terapi, mulai dari pemeriksaan hingga penyuluhan. Mereka terlibat dalam perbincangan serius.Aku menghampiri mereka, lalu berhenti tepat di samping kanan kursi roda Mas Hamish.“Bagaimana perkembangannya, Dok?”“Nah, tepat waktu sekali, Bu Aira datang.”Sejenak aku mengarahkan pandangan kepada Mas Hamish, seolah meminta penjelasan tentang maksud perkataan dokter. Namun, lelaki itu hanya diam.“Jadi begini,” dokter mulai menjelaskan. “Pak Hamish harus berlatih untuk menggerakkan kakinya. Nggak perlu terlalu berat. Cukup latihan duduk, kemudian berdiri. Bisa dibantu dengan penyangga, semacam meja di depannya. Nanti saya catatkan tahapan-tahapan yang sebaiknya dilakukan secara berurutan sesuai petunjuk.”Aku mengangguk mengerti.“Bu Aira tinggal memastikan Pak Hamish melakukan semuanya sesuai prosedur yang saya catatkan.”“Baik, Dok. Akan saya lakukan.”

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 06. Sifat yang Berbeda

    "Maaf, aku hanya cemas."Aku menjadi gugup. Bukan berarti aku tidak pernah melihat tubuh polos suamiku, tetapi saat ini situasinya berbeda. Mas Hamish mengira aku hanyalah orang luar sehingga tidak mungkin secara terang-terangan membantu membenarkan celananya."Sebentar, jangan lihat ke belakang! A

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 02- Kejutan Kedua

    "Pasien mengalami amnesia sebagian."Aku mendengar penjelasan tersebut dengan menguatkan hati. Aku dan Ibu mertua berada di ruangan dokter untuk membicarakan perkembangan kesehatan Mas Hamish."Maksud Dokter?" tanyaku meminta kejelasan."Ada beberapa jenis kehilangan memori ingatan pasca kecelakaan

  • Senja di Ujung Istanbul   Bab 01- Berita Baik dan Buruk

    "Selamat, ya, Bunda. Kehamilannya sudah memasuki usia empat minggu.""Sungguh, Dok?"Dokter wanita itu mengangguk. "Sekali lagi selamat, ya?"Aku menutup mulut yang terbuka lantaran begitu terkejut dengan hasil yang ada. Bagiku itu bukan lagi berita baik, melainkan sangat membahagiakan. Sudah lima

  • Senja di Ujung Istanbul   Prolog

    "Antara dicampakkan dan tidak dipedulikan, ada hal lain yang nyatanya jauh lebih menyakitkan, yaitu ... dilupakan." (Humaira Seza)"Aira!" Terdengar panggilan dari arah ruang tamu membuatku buru-buru mematikan keran air setelah puas memuntahkan seluruh makanan yang sempat masuk ke lambungku. Kubas

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status