MasukTheron tertidur lelap, tubuhnya yang kelelahan akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang tak tertahankan setelah pertarungan sengit dan kehilangan darah yang cukup signifikan. Dalam mimpinya yang tak menentu, dia masih bisa merasakan dengan jelas sentuhan lembut dan sejuk Felicity di dahinya yang panas, masih bisa mencium dengan nyata aroma khas lavender yang menenangkan bercampur dengan aroma minyak mesin dan logam yang selalu melekat pada gadis itu.
Ketika dia perlahan-lahan membuka mata yang berat, sinar matahari pagi yang keemasan sudah menerobos melalui jendela kaca patri yang indah, menciptakan pola-pola cahaya berwarna-warni di lantai kayu yang mengilap. Suara yang sangat familiar segera menarik perhatiannya—Felicity sedang terlibat diskusi serius dengan seorang pria paruh baya berkacamata tebal dan berjubah dokter yang berdiri dengan sikap profesional di samping tempat tidurnya."...dan pastikan dosis antibiotiknya tepat, Dokter Wells. Aku benar-benar tidak mDua hari setelah kekacauan di Three-Fork Crossing, kabar itu akhirnya merembes masuk ke kediaman Ashworth, bukan sebagai pengumuman resmi, tetapi sebagai bisikan getir yang dibawa angin musim gugur. Itu terasa pertama kali dalam keheningan tiba-tiba para pelayan, kemudian dalam tatapan mereka yang saling menghindar, dan akhirnya, terkristalisasi dalam selembar kertas laporan resmi yang dingin yang diletakkan di atas nampan perak di hadapan Lady Evangeline Ashworth. Kata-katanya tajam dan tanpa hiasan: "...serangan... korban jiwa... Lady Felicity Ashworth hilang, diduga terjun ke sungai... pencarian intensif sedang berlangsung..."Kata "hilang" menggantung di udara ruang tamu yang megah, berubah menjadi hantu yang lebih nyata daripada furnitur mahoni atau lukisan leluhur. Keheningan yang menyusul bukanlah ketenangan, melainkan vakum yang menyedot semua suara kehidupan dari rumah itu.Lady Evangeline Ashworth tidak menjerit. Tubuhnya yang selalu tegak bagai tiang kap
Dengan langkah berat namun cepat, Lysander dan Theron meninggalkan gemuruh sungai yang menusuk hati dan menyusuri kembali jalur yang tadi mereka lalui. Hutan malam terasa lebih dingin, lebih bermusuhan. Bayangan-bayangan pohon seakan menyimpan ancaman baru di setiap lekuknya. Namun, keduanya tidak lagi terpusat pada rasa takut mereka sendiri fokus mereka kini tertuju pada tanggung jawab yang telah mereka akui.Mereka tiba di lokasi awal penyerangan, di mana kereta masih teronggak seperti bangkai raksasa. Suasana yang mereka tinggalkan penuh kegaduhan, kini berubah menjadi senyap yang menyayat. Rintihan para prajurit yang terluka, yang sebelumnya berbaur dengan teriakan perang, kini terdengar jelas dan menyedihkan di keheningan malam.Tanpa perlu berkoordinasi lebih lanjut, mereka langsung bergerak.Lysander, dengan otoritas alaminya sebagai putra mahkota yang kini telah ditempa oleh api kesedihan, berjalan dari satu prajurit ke prajurit lainnya. Ia berlutu
Kegelapan malam mulai menyelimuti sungai sepenuhnya, hanya diterangi cahaya tipis bulan sabit yang bersembunyi di balik awan. Pencarian mereka telah mencapai ujung yang pahit: nihil. Setiap batu telah mereka periksa, setiap semak mereka susuri, dan yang mereka temukan hanyalah keheningan alam yang seolah mengejek keputusasaan mereka.Theron akhirnya berhenti. Tubuhnya yang lelah bersandar pada sebuah batu, nafasnya keluar dalam kepulan uap putih di udara dingin. Wajahnya yang biasanya penuh kalkulasi kini kosong, terkikis oleh kenyataan yang tak terbantahkan. "Cukup," katanya, suaranya datar dan hampa. "Kita akhiri hari ini. Kita harus kembali ke tempat prajurit kita yang terluka. Mereka butuh bantuan medis sebelum terlambat."Tapi Lysander tidak bergerak. Dia berdiri di tepi air, menatap arus hitam yang berkilauan lemah oleh cahaya bulan. Tangannya masih mengepal erat, kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Dalam pikirannya, adegan-adegan berputar seperti siksaa
Di sisi lain, pencarian yang dilakukan para prajurit Rourke berlangsung tanpa hasil. Selama berjam-jam mereka menyisir setiap jengkal tepian sungai, mengorek-ngorek kolam yang tenang, memeriksa setiap tumpukan ranting dan akar yang bisa menjebak tubuh. Suara panggilan mereka yang semula penuh semangat, berubah menjadi teriakan letih yang tenggelam dalam gemuruh air. Kaki mereka tergores batu tajam, seragam basah kuyup memberatkan langkah, dan dinginnya air sungai mulai merasuk ke tulang."Sial, tidak ada apa-apa!" geram salah seorang prajurit, melemparkan tongkat pengaduknya ke air. "Bahkan sehelai kain pun tidak!"Yang lain hanya mengangguk lelah, bersandar di batu besar. Mereka telah mencapai titik pertemuan dua anak sungai, jauh dari lokasi tebing, dan tetap kosong. Anggapan awal bahwa mayat atau orang hidup akan tersangkut di suatu tempat, terbukti salah. Sungai itu seolah menyembunyikan rahasianya dengan amat baik.Kapten Rourke, yang wajahnya semakin
Dengan langkah yang tak membuat batang gandum terkulai sekalipun, The Grey Gentleman melintasi tepian ladang yang mulai disiram cahaya keemasan senja. Rumah petani itu berdiri tegak di tengah ketenangan, bayangannya memanjang menyambutnya. Asap tipis dari cerobongnya membubung lurus ke langit kelabu yang perlahan berubah menjadi lembayung, tanda kehidupan yang sederhana dan berulang. Di ladang seluas beberapa petak itu, sepasang lansia sedang menyelesaikan pekerjaan hari itu. Sang suami, bertopi jerami usang, mencangkul dengan ritme lambat namun pasti, sementara istrinya membungkuk di antara bedengan sayuran, keranjang anyaman di pangkuannya perlahan terisi hijau segar.Kehadiran The Grey Gentleman baru dirasakan ketika ia sudah berada tepat di hadapan mereka, bagai muncul dari bayangan sendiri. Kedua orang tua itu terhenti, mata mereka yang keriput menyipit menatap sosok asing yang tak lazim: pria tinggi dengan pakaian bagus berwarna abu-abu, wajahnya sulit diingat meski b
Dunia kembali dengan gemuruh yang redup dan sensasi dingin yang meresap.The Grey Gentleman berdiri di tepian sungai yang berbatu, air deras menyentuh ujung sepatunya yang elegan namun tak membasahinya. Di lengannya, Felicity terbaring tak berdaya, tubuhnya yang ringan terasa seperti rangkaian burung yang patah. Gaunnya yang basah dan compang-camping melekat pada kulit pucatnya, rambutnya yang seperti sutra gelap menutupi sebagian wajahnya yang seperti porselen retak.Dengan gerakan yang hampir ritualistik, ia menurunkan tubuh gadis itu ke sebuah hamparan lumut tebal dan datar, terlindung oleh akar-akar besar pohon tumbang. Proses jatuhnya telah dimanipulasi dengan kekuatannya; momentum mematikan telah diubah menjadi luncuran terkendali, benturan dengan air didistribusikan, dan arus dibelokkan untuk membawa mereka ke tepian yang relatif tenang ini. Tak ada patah tulang yang fatal, tak ada luka dalam yang menganga. Secara fisik, dia selamat secara ajaib. Tapi tubuhn







