Home / Fantasi / Insinyur Termalas Dari Dunia Lain / chapter 2 Berkah/Kutukan

Share

chapter 2 Berkah/Kutukan

Author: Shoera_moon
last update publish date: 2025-09-30 13:28:21

Dia terlahir kembali sebagai Felicity "Flick" Ashworth. Sebagai anak ajaib, tingkahnya dianggap aneh. Di usia tiga tahun, tanpa sadar membuat skema hidrolik di pasir. Di usia delapan, membetulkan jam rumit hanya dengan sekilas. Setiap ide baru datang, tubuhnya tegang, matanya kehilangan fokus, seolah dikendalikan kekuatan luar.

Satu-satunya perlindungannya adalah orang tuanya, Count Gregory dan Lady Eleanor. Mereka melihat kelelahan di balik mata Flick yang selalu waspada. "Tenang, sayang. Dunia tidak akan runtuh jika kamu beristirahat," bisik sang Ayah. Pelukannya adalah satu-satunya hal yang bisa meredam desakan di kepala Flick.

Namun, musim dingin di usia Flick yang ke-16 membawa wabah mematikan. Pengetahuannya tentang mikrobiologi dan sanitasi modern berteriak dalam pikirannya, menawarkan solusi. Tapi siapa yang akan mendengarkan seorang gadis remaja tentang "bakteri"?

Gregory dan Eleanor tertular. Flick berjuang siang-malam di laboratorium pribadinya, mencoba membuat obat dan menyebarkan pemahaman sanitasi. Tapi semuanya terlambat. Di pertengahan musim semi, mereka meninggal, meninggalkan Flick sendirian.

Kematian mereka adalah kegagalan pertamanya yang paling menghancurkan. Pengetahuan yang dikiranya bisa menyelamatkan nyawa, ternyata tak berdaya. Cahaya terakhir dalam hidupnya yang terkutuk pun padam.

Di pemakaman, yang paling jelas terlihat adalah sosok Lady Evangeline Ashworth, bibinya yang tua. Seorang wanita tegak dengan nilai tradisi dan kehormatan keluarga. Kematian adiknya adalah tragedi, tapi juga peluang. Kini, dialah wali Flick—dan wali dari "jenius" yang mulai menarik perhatian kerajaan.

Seminggu setelah pemakaman, Evangeline memasuki kamar Flick. "Cukup berkabung. Kesedihan tidak akan mengembalikan mereka. Yang akan mengembalikan kehormatan keluarga ini adalah tindakan," katanya, suara dingin memotong kesedihan Flick.

Dia mengambil sketsa pompa air inovatif Flick. "Ini yang berharga. Raja telah mendengar tentang bakatmu. Pekerjaanmu sekarang adalah untuk kerajaan dan nama keluarga kita. Setiap penemuanmu adalah persembahan untuk mengenang orang tuamu."

Kata-kata itu seperti pukulan keji. Dengan menyandera kenangan orang tuanya, Evangeline membungkus rantai "berkah" Flick dengan pita kewajiban dan kesetiaan. Hidup Flick yang sudah terkutuk kini mendapat navigator yang kejam. Lady Evangeline akan memastikan bahwa "si jenius" tidak akan pernah berhenti bekerja.

Tiga hari setelah Felicity menyerahkan desain kincir airnya, seorang utusan kerajaan tiba. Jantung Felicity berdebar kencang, sementara bibinya, Lady Evangeline, menyembunyikan kepuasannya.

"Rapikan dirimu," bisik Evangeline, "Jangan mempermalukan keluarga kita."

Lord Lysander Finchley, Putra Mahkota Kerajaan, berdiri di ambang pintu ruang tamu hijau Kediaman Ashworth. Kehadirannya yang tak terduga membuat suasana berubah dalam sekejap.

Felicity mengangkat kepala, bersiap mengenakan topeng Lady Ashworth yang dingin. Tapi yang ia temui adalah sosok yang sama sekali berbeda dari bayangannya. Bukan utusan biasa, melainkan Putra Mahkota sendiri dengan wajah serius penuh penghormatan.

"Lady Evangeline, Lady Felicity," sapa Lysander dengan suara berwibawa, "Saya datang atas nama Yang Mulia Raja."

Saat matanya bertemu dengan Felicity, ada sesuatu yang terkilir di dalamnya - sebuah pengakuan diam-diam yang membuat Felicity sedikit terkesiap. Seolah-olah dia bisa melihat langsung melalui topeng rapuh yang selama ini ia kenakan.

"Desain irigasi House Ashworth telah membuat Yang Mulia terkesan," ujar Lysander, mengulurkan gulungan perkamen berstempel kerajaan. "Namun, Yang Mulia ingin memastikan keaslian karya ini secara langsung. Lady Felicity, keahlian Anda sangat dinantikan di Istana."

Lady Evangeline segera mencoba mengambil alih percakapan, suaranya meninggi penuh ambisi. "Tentu, Felicity akan dengan senang—"

"Tidak perlu khawatir, Lady Evangeline," sela Lysander dengan halus, tatapannya tetap pada Felicity. "Saya sendiri yang akan menjamin keamanan dan kenyamanan Lady Felicity."

Dalam pertukaran tatapan singkat itu, Felicity menangkap sesuatu yang tak terduga: pengertian. Sebuah pengakuan bahwa mereka berdua memahami permainan yang sama, meski berada di sisi yang berbeda.

Saat Lysander pergi, ruang tamu kembali sunyi. Lady Evangeline berbalik dengan wajah menghitung. "Mereka semua ingin sesuatu darimu, Felicity."

Tapi untuk pertama kalinya, kata-kata bibinya terasa hampa. Gulungan perkamen di tangan Felicity terasa berat, namun membawa harapan baru. Ini bukan sekadar undangan - ini adalah pengakuan atas identitasnya, dan mungkin, kunci menuju kebebasan.

Di antara ambisi bibinya dan tuntutan kerajaan, Felicity mulai melihat jalan ketiga. Sebuah kemungkinan dimana ia bisa menjadi dirinya sendiri, bukan sekadar pion dalam permainan kekuasaan.

Setelah pintu tertutup, Felicity masih gemetar, gulungan perkamen kerajaan terasa membara di tangannya. Kelelahan yang baru saja reda kembali menyerangnya. Dia hampir terjatuh di kursi, pandangan kosong.

"Flick?"

Suara lembut itu berasal dari Beatrice Croft, pelayan pribadinya yang sudah seperti saudara. Bea masuk membawa nampan dengan teh chamomile yang harum. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak mengkhawatirkan.

"Kudengar suara-suara tadi," ucap Bea sambil meletakkan nampan. Matanya yang tajam langsung menangkap kelelahan mendalam di wajah Felicity.

Bea berlutut di sampingnya, mengambil gulungan perkamen dari tangan Felicity dengan lembut. "Lepaskan dulu," bisiknya. Dia menuangkan teh hangat dan membungkus tangan Felicity yang dingin dengan tangannya yang hangat dan sedikit kasar.

"Bea, aku harus pergi ke Istana," lirih Felicity.

"Tapi Istana masih ada di sana besok pagi," jawab Bea praktis. "Malam ini, yang kau butuhkan adalah teh ini dan istirahat."

Berbeda dengan bibinya yang memandang Felicity sebagai mesin, Bea mengenalnya sebagai manusia. Dialah satu-satunya yang masih memanggilnya "Flick" - panggilan akrab dari masa kecilnya. Di hadapan Bea, Felicity akhirnya melepaskan tangisnya. Di ruangan yang semakin gelap itu, dengan Bea di sampingnya, dia bukan lagi Lady Ashworth yang terkutuk, melainkan hanya Flick - seorang gadis lelah yang bersyukur masih memiliki seseorang yang memahami.

-Bersambung-

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 199 Pesan terakhir (Tamat)

    Pemakaman Felicity telah selesai, semua orang kembali masuk untuk meratapi kesedihan masing masing tapi Theron tetap berdiri dihadapan batu nisan. Ia tidak menangis. Matanya kering, terlalu kosong. Ia hanya menatap batu nisan itu, membaca nama yang terukir di sana berulang kali, seolah jika ia membaca cukup lama, nama itu akan berubah, dan Felicity akan bangkit tersenyum padanya.Dalam kedipan mata sebuah amplop tergeletak di samping bunga kering itu.Jantungnya berhenti sejenak. Ia tahu dari siapa surat ini.Dengan tangan gemetar seperti orang demam, ia membukanya. Membacanya. Dan dunia di sekelilingnya runtuh."Theron, kau adalah kejutan terbesar dalam hidupku..."Ia membaca sambil berdiri air mata jatuh tanpa bisa ia bendung. Ia membaca tentang bagaimana Felicity melihat perjuangannya, tentang bagaimana ia menghargai keputusannya untuk melepaskan, tentang cinta yang tidak sempat terbalas."Aku akan selalu mencintaimu, Theron. Dari tempat yang lebih damai nanti."Surat itu jatuh. Th

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 198 Bunga Kering

    Dari dalam saku jas abu-abunya, ia mengeluarkan sesuatu yang kecil, terbungkus kain sutra tipis. Dengan tangan gemetar, ia membuka bungkusan itu.Bunga kering.Bukan bunga sembarangan. Ini adalah bunga yang ia petik, pada malam sebelum Isabella meninggal untuk pertama kalinya. bunga yang Isabella letakkan di rambutnya saat mereka berpiknik di bukit. Bunga yang sama yang ia simpan selama berabad-abad, melalui dua belas kehidupan.Setiap kelopaknya telah mengering, warnanya memudar menjadi coklat keemasan, tetapi bentuknya masih utuh—seperti cintanya yang tidak pernah layu meskipun waktu berlalu.Alexander meletakkan bunga kering itu di atas tangan Felicity yang tersilang. Tangannya bergetar hebat saat melakukannya, air mata jatuh membasahi kelopak-kelopak rapuh itu."Ini milikmu," bisiknya. "Sudah seharusnya aku mengembalikannya sejak dulu. Maaf aku menahannya terlalu lama."Ia memandang Felicity untuk terakhir kalinya. Wajah yang sama dengan Isabella. Jiwa yang sama, meskipun telah me

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 197 Tangis makhluk abadi

    Ia menarik napas panjang. Dadanya sesak, tetapi ia tersenyum—senyum yang getir, hancur, tapi tulus."Jika itu benar-benar keinginanmu... maka akan kukabulkan."Air mata jatuh dari mata Alexander. Untuk pertama kalinya di hadapan orang lain, makhluk abadi itu menangis.Felicity menatapnya, dan untuk sesaat, ada sesuatu di matanya. Mungkin keheranan. Mungkin pertanyaan. Mungkin secercah perasaan yang sudah lama padam.Tapi Alexander belum selesai. "Sebelum itu... apa kau ingin mengucapkan perpisahan pada orang-orang? Martha? Bernard? Atau..." ia ragu, "Theron?"Felicity terdiam lama. Matanya berpaling ke jendela, ke bulan yang bersinar dingin. Pikirannya melayang pada Martha yang memeluknya, pada Bernard yang mengajarinya memerah susu, pada Cokelat yang selalu mengekor, pada Liam yang berdiri di bawah pohon dengan mata basah.Juga pada Theron, yang telah mencarinya berminggu-minggu. Pada Bea, yang setia menemaninya sejak kecil. Pada Rowan, yang nakal tapi ia sayangi. Pada Bibi Evangelin

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 196 Kehancuran jiwa

    Dua minggu telah berlalu sejak kereta itu membawa Felicity menjauh dari Oakhaven. Kesedihan, penyesalan, serta Frustasi membuat Felicity Ashworth perlahan-lahan mati.Bukan mati secara fisik, tubuhnya masih bernapas, jantungnya masih berdetak. Tapi sesuatu yang lebih berharga dari sekadar nyawa telah padam di dalam dirinya.Jiwanya.Kamarnya di Ashworth Manor menjadi penjaranya. Para pelayan datang dan pergi dengan nampan berisi makanan yang kembali utuh. Lady Evangeline duduk di sampingnya berjam-jam, berbicara, memohon, bahkan menangis tapi Felicity hanya diam. Matanya yang dulu berbinar kini kelabu, kosong, seperti kaca mati yang hanya memantulkan cahaya tanpa menyerapnya.Bea mencoba segala cara. Ia membacakan buku favorit mereka, bercerita tentang kekonyolan Rowan, tidak ada reaksi. Higgins berdiri di pintu setiap hari, menatap majikan mudanya dengan hati hancur. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Rowan berhenti nakal. Bocah itu hanya duduk di pojok kamar Felicity, memeluk lutu

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 195 Perpisahan

    Felicity bangkit berdiri, meskipun lututnya gemetar. "Aku tidak peduli dengan tanggung jawab itu, Bibi! Aku lelah! Aku lelah menjadi harapan semua orang! Aku lelah ketakutan setiap malam! Aku lelah hidup dalam bayang-bayang!"Lady Evangeline menatapnya dengan mata membara. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau rasakan? Aku juga kehilangan! Aku juga takut! Tapi lari bukan jawaban!""Ini bukan lari, Bibi! Ini... ini memilih. Memilih hidup yang kuinginkan.""Memilih?" ulang Lady Evangeline, suaranya getir. "Kau masih anak-anak, Felicity. Belum cukup umur. Belum cukup matang untuk membuat keputusan sebesar ini. Dan tugasku sebagai wali adalah memastikan kau tidak membuat kesalahan."Felicity mundur selangkah, merasakan bahaya. "Bibi, jangan..."Lady Evangeline menarik napas dalam, berusaha mengendalikan diri. Selama beberapa detik, ia diam, berusaha bersabar. Tapi ketika Felicity tidak juga bergerak mengikutinya, kesabaran itu habis."Baiklah." Suaranya dingin seperti es. "Jika kau tidak

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 194 Kebahagiaan yang terhenti

    Di desa terpencil itu, Felicity tidak tahu apa yang akan datang. Ia sedang duduk di teras gubuk Liam, ditemani Cokelat yang setia, memandangi matahari terbenam. Liam duduk di sampingnya, lebih tenang dari biasanya. "Kau bahagia di sini?" tanya Liam tiba-tiba. Felicity menoleh, tersenyum. "Sangat." Liam mengangguk pelan. Ada sesuatu di matanya kesedihan yang dalam, tetapi juga... keikhlasan? Felicity tidak tahu. "Felicity," panggilnya lembut. "Apa pun yang terjadi, ingatlah... kau berhak bahagia. Kau berhak memilih." Felicity mengerutkan kening. "Liam, kau bicara aneh sekali hari ini." Liam tersenyum, senyum yang sama seperti pertama kali mereka bertemu. Hangat, akrab, dan penuh arti. "Hanya berpikir keras, mungkin." Mereka tertawa kecil. Di kejauhan, kabut mulai turun, menutupi desa Oakhaven seperti selimut pelindung. Tapi di balik kabut itu, badai sedang bersiap. Dan Felicity tidak tahu bahwa besok, dunianya akan kembali diguncang. --- Matahari bersinar lembut di ata

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   chapter 7 Tamu

    Sinar mentari musim semi yang keemasan menyapu hamparan rumput hijau di taman kediaman Ashworth, menerangi sebuah pemandangan yang jarang terlihat. Di tengah taman, Felicity Ashworth berlari-lari dengan gaun sederhananya yang berkibar ditiup angin, mengejar seorang anak laki-laki berusia sepuluh

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   chapter 6 siluet bunga

    Ketenangan itu terasa nyata, hampir seperti mimpi. Setelah berhasil lolos dari kewajiban sosial selama satu hari penuh, Felicity merasa sedikit lebih berani. Bea, dengan efisiensi seorang jenderal yang melindungi bentengnya, telah berhasil menangkis semua upaya bibinya untuk mengga

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 9 Benih kecil

    Ketegangan setelah kunjungan bibinya masih menggantung di udara seperti sisa aroma parfum yang menusuk, tapi Felicity berusaha mengusirnya dengan menyeruput teh chamomilenya yang mulai dingin. Bea membersihkan nampan dengan diam-diam, matanya yang waspada terus mengawasi jendela-jendela manor yan

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   chapter 8 Kehadiran-NYA

    Setelah bermain di taman dengan Rowan, keringat membasahi pelipis Felicity dan sedikit noda tanah menghiasi ujung gaun sederhananya. Dengan tubuh yang lelah namun hati yang ringan, dia bergegas menuju kamar pribadinya.Mereka memasuki kamar mandi pribadi Felicity, yang merupakan salah sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status