Home / Fantasi / Insinyur Termalas Dari Dunia Lain / chapter 3 Menghadap Raja

Share

chapter 3 Menghadap Raja

Author: Shoera_moon
last update Last Updated: 2025-09-30 15:18:57

Setelah badai di ruang pertemuan reda, keheningan menyelimuti koridor istana saat Felicity dipandu Lysander berjalan menuju ruang singgasana. Getaran kemarahan yang membawanya melalui presentasi mulai mereda, digantikan kelelahan yang terasa seperti beban di tulangnya.

Lysander melemparkan pandangan khawatir. "Tadi... Anda luar biasa," bisiknya. "Saya belum pernah melihat Profesor Sterling terdiam seperti itu."

Felicity mengangguk lemah. "Mereka hanya membutuhkan data, bukan kata-kata kosong." Yang tak diucapkannya adalah bahwa setiap kata terasa menyedot sedikit nyawanya.

Saat pintu terbuka, Raja Edmund duduk di singgasananya. Yang mengejutkan, di sampingnya berdiri Lady Evangeline. Bibinya yang ternyata menyusul tersenyum puas, tapi matanya menyampaikan pesan jelas: Jangan gagal.

"Lady Felicity Ashworth," sambut Raja Edmund. "Profesor Sterling mengirim pesan bahwa kami telah menyaksikan kelahiran seorang jenius."

Felicity membungkuk rendah. "Yang Mulia terlalu baik. Saya hanya melakukan apa yang perlu dilakukan."

"Desain Anda tidak hanya brilian, tetapi visioner." Raja berdiri mendekati Felicity. "Kerajaan berhutang budi pada Anda."

Di balik bahu raja, Felicity melihat bibinya membusungkan dada. Namun yang membuatnya nyaris tersedak adalah penampakan di sudut ruangan - sosok pria berjas abu-abu yang hanya bisa dilihatnya, dengan senyum puas yang mengutuk.

Sosok yang sama yang muncul pertama kali saat Flick menaiki tangga istana sebelum pertemuan penting ini. Kini dia hadir lagi, menyaksikan setiap detik dengan mata yang mengetahui segalanya.

"Harmoni yang indah," bisik suara itu langsung dalam pikirannya, sebuah "berkah" sekaligus kutukan yang melekat sejak kelahirannya kembali di dunia ini. Hanya Felicity yang bisa melihat dan mendengar dewa yang mengutuknya ini, sebuah pengingat akan takdirnya yang tak terelakkan: terus mencipta tanpa henti.

Felicity berusaha keras untuk tidak bereaksi. Pujian raja yang seharusnya menjadi kehormatan, justru terasa seperti rantai yang semakin mengencang di pergelangannya.

"Ada satu hal lagi," lanjut Raja. "Saya ingin menawarkan posisi sebagai Penasihat Teknis Kerajaan. Anda akan memiliki sumber daya untuk mewujudkan ide-ide Anda."

Tawaran itu mengguncangnya. Mimpi bagi siapa pun, tapi mimpi buruk baginya.

Sebelum Felicity menjawab, Lysander dengan halus mencuri perhatian. "Yang Mulia, mungkin keputusan ini bisa dipertimbangkan lebih lanjut? Lady Ashworth tampak sangat lelah."

Raja mengangguk bijak. "Pertimbangkan tawaran ini, Lady Ashworth."

Pintu ruang singgasana tertutup dengan bunyi gemeratak yang lembut, meninggalkan Felicity dan Lysander sendirian di koridor yang sunyi.

Felicity menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. Keangkuhan yang ditunjukkannya di dalam ruangan tiba-tiba memudar, meninggalkan kelelahan yang mendalam. Dia menutup matanya sebentar, mencoba mengusir bayangan senyum sang dewa.

"Lady Felicity," ucap Lysander dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, memecah kesunyian. "Apakah Anda baik-baik saja?"

Felicity membuka matanya dan menemukan tatapan Lysander yang penuh perhatian. Bukan tatapan penilaian atau ekspektasi seperti kebanyakan bangsawan, tapi sebuah ketulusan yang membuatnya sedikit lengah.

"Beban seorang 'jenius' ternyata cukup berat, Lord Finchley," jawabnya, berusaha santai, tapi nada kecutnya tak sepenuhnya berhasil disembunyikan.

Lysander tersenyum kecil. "Saya bisa membayangkannya. Ayah saya... Raja, tidak mudah memberikan pujian seperti itu. Tapi dia benar. Apa yang Anda tunjukkan tadi sungguh luar biasa." Dia memandangnya sejenak, seolah mempertimbangkan sesuatu. "Dan, jika saya boleh jujur, sedikit menakutkan."

"Menakutkan?" tanya Felicity, alisnya naik.

"Ya," akunya dengan jujur. "Melihat seseorang dengan kecerdasan seperti Anda bisa membuat orang seperti saya merasa... tidak cukup. Tapi juga, membuat saya ingin belajar lebih banyak."

Ini adalah sisi baru dari Putra Mahkota. Di pesta-pesta kerajaan sebelumnya, interaksi mereka tidak pernah melebihi salam formal dan obrolan ringan tentang cuaca atau acara sosial. Dia selalu tampak sempurna, terjaga, dan sedikit jauh. Kini, di koridor yang sepi, dia justru menunjukkan kerendahan hati dan rasa ingin tahu yang tulus.

Felicity merasa pertahanannya sedikit meleleh. "Saya yakin Anda hanya berbasa-basi, Lord Finchley. Seorang Putra Mahkota tidak perlu merasa 'tidak cukup' di hadapan siapa pun."

"Justru karena saya seorang Putra Mahkota, saya tahu betapa pentingnya mengelilingi diri dengan orang-orang yang lebih pintar dari saya," bantahnya dengan serius. "Kekuasaan tanpa kebijaksanaan dan pengetahuan hanyalah tirani yang menunggu waktu."

Kalimat itu menyentuh sesuatu dalam diri Felicity. Ini adalah perspektif yang jarang didengarnya dari kalangan bangsawan, yang kebanyakan hanya peduli pada kekuasaan dan warisan.

"Sebuah pernyataan yang sangat bijaksana," ujarnya, dan kali ini, nada sarkasme itu benar-benar hilang dari suaranya.

Lysander menawarkan lengannya. "Izinkan saya mengantar Anda ke taman, Lady Felicity. cuaca hari ini sedang bagus, dan saya rasa Anda bisa menggunakan sedikit udara segar sebelum kembali menghadapi... segala sesuatu ini."

Felicity ragu sejenak. Menerima tawaran ini berarti memperpanjang interaksi mereka, membiarkan dinding yang selama ini dia bangun antara dirinya dan dunia perlahan-lahan retak. Tapi kelelahan dan keinginan untuk menghirup udara bebas, bahkan untuk sesaat, terlalu kuat.

Dia meletakkan tangannya dengan ringan di lengan Lysander. "Terima kasih, Lord Finchley. Itu... Hal yang saya butuhkan."

Saat mereka berjalan menyusuri koridor menuju taman, percakapan mereka mengalir dengan mudah. Lysander bertanya tentang proses pemikirannya merancang kincir air, bukan dengan rasa ingin tahu yang sembrono, tapi dengan pertanyaan mendalam yang menunjukkan dia benar-benar mendengarkan presentasinya. Felicity, yang biasanya enggan membagikan pemikiran terdalamnya, merasa nyaman untuk menjawab.

Sebaliknya, Felicity menemukan diriinya bertanya tentang visi Lysander untuk pertanian kerajaan, dan terkejut mendengar pengetahuannya yang luas tentang tantangan yang dihadapi petani biasa—sesuatu yang tidak dia duga dari seorang pangeran.

"Kadang, duduk di balik tembok istana membuat kita lupa bagaimana bau tanah setelah hujan," ucap Lysander suatu kali, membuat Felicity tersenyum untuk pertama kalinya sejak tiba di istana. Itu adalah senyum yang tulus, kecil, dan sedikit malu, tapi cukup untuk membuat Lysander terdiam sejenak, memandanginya dengan ekspresi lembut yang membuat pipi Felicity memerah.

Di taman, untuk sesaat yang singkat, Felicity melupakan kutukannya, melupakan tuntutan bibinya, dan melupakan bayangan pria berjas abu-abu. Dia hanya dua orang muda yang saling menemukan kesamaan dalam ketidakcocokan mereka dengan dunia yang menjebak mereka.

Saat mereka harus berpisah, Lysander berkata, "Tolong pertimbangkan tawaran Ayah, Lady Felicity. Kerajaan membutuhkan pikiran seperti Anda. Dan... saya harap kita bisa berbicara lagi seperti ini."

"Begitu juga dengan saya, Lord Finchley," balas Felicity dengan suara lembut, dan dia menyadari bahwa itu bukanlah basa-basi.

Benih ketertarikan telah tertanam. Bukan hanya karena penampilan atau status, tapi karena saling pengertian dan rasa hormat terhadap pikiran satu sama lain. Di tengah semua tekanan dan kutukan, sebuah kemungkinan baru yang tak terduga mulai tumbuh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 157 Isabella&Alexander: Cinta sang ayah

    Malam itu, di dua tempat berbeda, dua insan manusia menatap bulan yang sama. Alexander di ambang pintu pondoknya, Isabella di jendela kamar penginapan. Mereka tersenyum, masing-masing memegang surat yang baru selesai ditulis, masing-masing berbisik pada angin malam. "Aku mencintaimu, Isabella," bisik Alexander. "Aku mencintaimu, Alexander," bisik Isabella. Angin malam membawa bisikan itu entah ke mana, tapi mungkin, hati mereka masing-masing mendengarnya. Di kejauhan, Nell yang sedang membuang air cucian piring mendongak. Ia merasa ada yang aneh di udara. Sesuatu yang manis, seperti aroma bunga di tengah malam. "Dasar anak muda," gumamnya sambil tersenyum. "Bikin mual." Tapi matanya berkaca-kaca. Entah kenapa, ia teringat masa mudanya dulu. Masa di mana surat-surat cinta juga pernah singgah di hidupnya. Dan ia berdoa dalam hati, semoga dua anak muda itu tidak pernah kehabisan kata-kata untuk dituliskan satu sama lain. --- Malam itu, penginapan Angsa Putih lebih sepi

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   chapter 156 Isabella&Alexander: Surat cinta(2)

    Surat Kedua Alexander ********** Untuk Isabella, Suratmu kubaca berulang kali sampai hampir hafal di luar kepala. Aku bahkan membacanya untuk sapi-sapiku, dan mereka mengangguk-angguk setuju. Hari ini aku gagal menanam bibit baru. Bukan karena bibitnya jelek, tapi karena aku terlalu bersemangat menyiramnya sampai hampir banjir. Kepala desa lewat dan bilang, "Alexander, kau mau bikin sawah atau ladang?" Aku hanya tersenyum malu. Pikiranku sedang melayang ke penginapan, ke seorang gadis berambut kastanye yang sedang memilah sutra. Kau tahu, sejak bertemu denganmu, aku jadi sering melamun. Kemarin aku hampir memberi makan sapi dengan topi jerami karena kupikir itu rumput. Beruntung sapi itu lebih cerdas dariku. Tapi serius, Isabella. Aku senang kau masih ada di sini. Setiap pagi ketika membuka pintu, aku selalu melihat ke arah penginapan dan berpikir, "Syukurlah, gerobak ayahnya masih ada di sana." Aku takut suatu hari nanti kau pergi, dan desa ini akan terasa kosong meskipun penuh

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 155 Isabella&Alexander: Surat cinta(1)

    Hari-hari setelah pemberian bunga liar itu berjalan begitu cepat, namun terasa lambat bagi Alexander. Ada kebahagiaan yang mengapung di dadanya, tapi juga ada kerinduan yang aneh. Isabella tidak selalu ada di penginapan. Kadang ia pergi bersama ayahnya ke desa tetangga untuk membeli kain, kadang ia sibuk membantu menghitung stok dagangan, kadang ia hanya lelah dan beristirahat di kamarnya. Alexander pun tidak bisa setiap hari datang ke penginapan. Ladangnya yang sempat terbengkalai selama masa "operasi pendekatan" kini menuntut perhatiannya kembali. Gulma tumbuh di mana-mana, pagar yang ia perbaiki dulu ternyata masih perlu diperkuat, dan sapi-sapinya mulai protes karena jarang diperah. Namun hati yang telah tersambung tidak bisa dipisahkan hanya oleh kesibukan. Maka lahirlah sebuah tradisi baru di Desa Oakhaven: tradisi bertukar surat. --- Surat Pertama Alexander untuk Isabella ********** Untuk Isabella, Semoga surat ini menemukanmu dalam keadaan sehat dan bahagia. Ak

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 154 Isabella&Alexander: Mencintaimu

    Matahari sudah cukup tinggi ketika Alexander tiba di Penginapan Angsa Putih. Ia berdiri di depan pintu dapur, menarik napas dalam-dalam sepuluh kali, sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk. Nell yang membuka pintu. Matanya langsung tertuju pada ikatan bunga di tangan Alexander. Alisnya terangkat tinggi—sangat tinggi—sampai nyaris menyatu dengan garis rambutnya. "Alexander," katanya pelan. "Itu... bunga?" "Iya," jawab Alexander dengan nada bertahan. "Bunga liar. Aku... merangkainya sendiri." Nell menatap bunga itu, lalu menatap Alexander, lalu kembali ke bunga itu. Selama beberapa detik, tidak ada suara. Kemudian, tanpa bisa ditahan lagi, Nell tertawa. Bukan tawa kecil, tapi tawa keras yang mengguncang seluruh tubuh tambunnya. "Astaga, Alexander!" pekiknya di sela-sela tawa. "Itu... itu rangkaian bunga atau... atau jerami bekas? Kenapa bisa miring begitu? Ikatannya kok pakai tali rami? Itu tali buat kandang kambing, bodoh!" Alexander merasa mukanya memanas. "Aku... aku

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 153 Isabella&Alexander: Bunga liar

    Pagi itu, Alexander bangun sebelum matahari terbit. Bukan karena kebiasaannya sebagai petani, melainkan karena hatinya terlalu bersemangat untuk memejamkan mata. Hari ini adalah hari yang ia janjikan: hari di mana ia akan datang tanpa membawa hasil kebun, hanya membawa dirinya sendiri dan setangkai bunga liar.Ia berdiri di tengah ladangnya, memandangi hamparan luas yang telah ia garap bertahun-tahun, tapi matanya tidak melihat ke sana. Pikirannya melayang pada Isabella, pada senyumnya, pada tawanya yang jernih bagai air sungai, pada cara ia memiringkan kepala ketika mendengar Alexander berbicara konyol."Sekarang, bunga liar," gumamnya pada diri sendiri. "Di mana gerangan bunga liar yang cantik?"Ia berjalan meninggalkan ladangnya yang gundul—korban dari operasi pendekatan selama empat hari terakhir—dan menyusuri pinggir hutan kecil di ujung desa. Di sanalah biasanya bunga-bunga liar tumbuh semusim, tanpa dirawat, tanpa diperhatikan siapa pun. Namun hari

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   chapter 152 Isabella&Alexander: Pendekatan(2)

    Hari Ketiga: Wortel dan "Kebetulan"Pada hari ketiga, Alexander datang tidak hanya dengan membawa wortel (yang katanya "kebetulan sedang panen raya"), namun juga membawa... sebuah buku.Ya, Alexander membawa buku. Sebuah buku tentang tanaman obat yang dipinjamnya dari pendeta desa. Ia telah membaca halaman pertama sebanyak sepuluh kali dan masih belum memahaminya, namun buku itu membuatnya terlihat cerdas—atau setidaknya itulah harapannya.Nell melihat buku itu dan langsung merasa curiga. "Sejak kapan kau bisa membaca, Alexander?""Sejak... lahir? Maksudku, ya, aku bisa sedikit membaca," jawabnya dengan nada defensif.Untungnya, Isabella keluar sambil membawa jahitan. Ia melihat buku itu dan matanya berbinar. "Wah, kau membawa buku? Boleh aku lihat?""Ini hanya buku biasa," kata Alexander merendah, meskipun dalam hatinya berteriak, Ia tertarik! Ia tertarik dengan kecerdasanku!Isabella membaca sampulnya. "Tanaman Obat Nu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status