Share

Insinyur Termalas Dari Dunia Lain
Insinyur Termalas Dari Dunia Lain
Author: Shoera_moon

chapter 1 Takdir

Author: Shoera_moon
last update Last Updated: 2025-09-30 12:45:10

("....Takdirmu yang sebenarnya dimulai dari sini....")

Ruang Pertemuan Insinyur Kerajaan

Ruangan itu luas, berpanel kayu gelap, dan dipenuhi oleh para pria berumur dengan janggut yang terawat rapi dan sorot mata yang penuh skeptisisme. Inilah singa-singa tua yang akan menguji anak kecil yang dianggap membawa mainan baru.

Di antara para pria tua itu, ada seorang wanita muda yg duduk dengan elegan Memakai gaun burgundy Serta tatanan rambut sederhana. Tatapannya menyapu ruangan, dan para insinyur itu terkejut. Mereka mengharapkan wanita muda yang pemalu, tetapi yang mereka temui adalah sepasang mata hazel yang membara dengan intensitas yang hampir menakutkan.

seorang profesor memecah kebekuan. "Lady Ashworth," mulainya dengan nada meremehkan, "Desainmu... cukup menarik. Namun, sebagai akademisi, saya harus bertanya. Prinsip tekanan hidrolik pada bagian ini," ia menunjuk sebuah titik di blueprint, "bukankah itu terlalu... spekulatif? Di dunia nyata, faktor keausan material dan sedimentasi akan—"

"Professor," sela wanita muda yang di kehidupan ini bernama Felicity Ashworth. Suaranya tidak keras, tapi memotong seperti pisau. Dingin. Jelas. Setiap orang di ruangan terdiam. "Apakah Anda sudah menghitung koefisien gesekan pada pipa tembaga versus besi cor? Dan apakah Anda sudah mempertimbangkan komposisi mineral dari sumber air utara yang akan digunakan?"

Profesor itu membeku. Mulutnya sedikit terbuka. Itu adalah perhitungan teknis yang sangat spesifik, biasanya hanya diketahui oleh para ahli yang telah bertahun-tahun mempelajarinya.

"Saya... itu bukan inti dari—"

"Bukan intinya?" Felicity menyela lagi, kini dengan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya. Dia berdiri, mendekati papan tulis besar di sampingnya. Dengan kapur, dia mulai menuliskan serangkaian rumus dan angka dengan cepat dan lancar, seolah-olah itu adalah bahasa ibunya. "Intinya adalah, asumsi Anda tentang 'dunia nyata' didasarkan pada data usang. Laporan geologi kerajaan dari lima tahun lalu jelas menunjukkan tingkat sedimentasi yang lebih rendah dari yang Anda kira. Desain saya sudah mengkompensasi hal itu dengan sudut kemiringan yang berbeda di sini... dan di sini."

Dia mengetuk-ngetuk papan tulis dengan kapur, suaranya berderak penuh keyakinan. Setiap kalimatnya adalah fakta. Setiap argumennya didukung oleh data yang tidak bisa mereka sangkal. Sarkasme yang biasanya dia simpan untuk percakapan pribadi kini berubah menjadi ketajaman intelektual yang mematikan.

Seorang insinyur lain mencoba berargumen. "Tetapi biaya untuk material yang Anda usulkan—"

"Lebih mahal di awal," sahut Felicity tanpa menoleh. "Tetapi tahan lima belas tahun lebih lama, mengurangi biaya perbaikan hingga tujuh puluh persen dalam satu dekade. Bukankah matematika keuangan juga termasuk dalam keahlian Anda, Tuan?"

Ruangan itu sunyi. Hanya suara gesekan kapur di papan tulis yang terdengar. Felicity tidak membela dirinya. Dia menyerang. Dengan presisi seorang ahli bedah, dia membongkar setiap keraguan, setiap pertanyaan, dengan logika dan data yang begitu solid sehingga tidak ada celah untuk bantahan.

Profesor yang awalnya mencibir itu, Wajahnya pelan-pelan berubah. Dari meremehkan, menjadi terkejut, lalu akhirnya... terpana. Profesor itu bernama Ignatius Sterling. Yang dia lihat saat ini bukan lah seorang gadis bangsawan biasa, tetapi insinyur dengan pikiran brilian yang bahkan mungkin melampaui dirinya.

Setelah Felicity menyelesaikan penjelasannya yang runtut, dia meletakkan kapur. "Ada pertanyaan lain?" tanyanya, suaranya kembali datar, tetapi kini membawa wibawa yang tidak terbantahkan.

Tidak ada yang menjawab. Beberapa orang hanya bisa menggeleng-geleng kepala pelan.

Profesor Sterling akhirnya berbicara, suaranya terdengar lebih tua dan lebih kagum dari sebelumnya. "Saya... menarik kesimpulan saya terlalu cepat, Lady Ashworth. Penjelasan Anda... sangat lengkap." Itu adalah pengakuan yang sulit diucapkan, tetapi tulus.

Felicity duduk kembali. Amarahnya telah mereda, digantikan oleh kepuasan yang dalam. Dia menatap para insinyur yang kini memandangnya dengan hormat. Dalam hatinya berkata " tentu teknologi yg ku ciptakan sempurna. Aku membuatnya dengan ilmu modern yang bahkan belum di temukan di dunia ini"

Felicity ashworth bukan lah jiwa asli dari dunia ini. Wanita itu mengalami peristiwa reinkarnasi. Di dunia lamanya felicity hanya seorang karyawan di perusahaan teknologi. Lahir sebagai anak bungsu dari keluarga sederhana dengan 4 bersaudara, membuatnya mengejar beasiswa penuh untuk bisa berkuliah. Pintar dan pekerja keras yg tangguh, itu lah kehidupan yg di jalani dulu. Namun sayang, penyebab kematiannya dulu karena kelelahan bekerja.

Ingatan peristiwa itu seolah baru terjadi kemarin.

Terkubur dalam kerja keras, Felicity tewas karena kelelahan. Alih-alih mendapat ketenangan abadi, dia justru bertemu sosok gaib yang mengirimnya ke dunia baru sebagai putri bangsawan.

"Kau akan memiliki kehidupan yang tenang," kata sosok itu, "dengan satu hadiah: pengetahuan dari duniamu yang lama."

Felicity, yang hanya ingin tidur nyenyak, panik. "Aku tidak mau! Aku sudah lelah!"

Namun, sosok itu bersikeras. "Istirahat akan menjadi hadiahmu. Kau akan tidur nyenyak... setiap kali berhasil menyelesaikan sebuah penemuan besar. Di antara proyek-proyek itu, pikiranmu akan terus membara, mendorongmu untuk mencipta tanpa henti."

Protesnya sia-sia. Dia terlahir kembali sebagai Felicity Ashworth, tangisannya sebagai bayi menyembunyikan keputusasaan. Kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan baru yang dikutuk untuk terus produktif.

-Bersambung-

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 157 Isabella&Alexander: Cinta sang ayah

    Malam itu, di dua tempat berbeda, dua insan manusia menatap bulan yang sama. Alexander di ambang pintu pondoknya, Isabella di jendela kamar penginapan. Mereka tersenyum, masing-masing memegang surat yang baru selesai ditulis, masing-masing berbisik pada angin malam. "Aku mencintaimu, Isabella," bisik Alexander. "Aku mencintaimu, Alexander," bisik Isabella. Angin malam membawa bisikan itu entah ke mana, tapi mungkin, hati mereka masing-masing mendengarnya. Di kejauhan, Nell yang sedang membuang air cucian piring mendongak. Ia merasa ada yang aneh di udara. Sesuatu yang manis, seperti aroma bunga di tengah malam. "Dasar anak muda," gumamnya sambil tersenyum. "Bikin mual." Tapi matanya berkaca-kaca. Entah kenapa, ia teringat masa mudanya dulu. Masa di mana surat-surat cinta juga pernah singgah di hidupnya. Dan ia berdoa dalam hati, semoga dua anak muda itu tidak pernah kehabisan kata-kata untuk dituliskan satu sama lain. --- Malam itu, penginapan Angsa Putih lebih sepi

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   chapter 156 Isabella&Alexander: Surat cinta(2)

    Surat Kedua Alexander ********** Untuk Isabella, Suratmu kubaca berulang kali sampai hampir hafal di luar kepala. Aku bahkan membacanya untuk sapi-sapiku, dan mereka mengangguk-angguk setuju. Hari ini aku gagal menanam bibit baru. Bukan karena bibitnya jelek, tapi karena aku terlalu bersemangat menyiramnya sampai hampir banjir. Kepala desa lewat dan bilang, "Alexander, kau mau bikin sawah atau ladang?" Aku hanya tersenyum malu. Pikiranku sedang melayang ke penginapan, ke seorang gadis berambut kastanye yang sedang memilah sutra. Kau tahu, sejak bertemu denganmu, aku jadi sering melamun. Kemarin aku hampir memberi makan sapi dengan topi jerami karena kupikir itu rumput. Beruntung sapi itu lebih cerdas dariku. Tapi serius, Isabella. Aku senang kau masih ada di sini. Setiap pagi ketika membuka pintu, aku selalu melihat ke arah penginapan dan berpikir, "Syukurlah, gerobak ayahnya masih ada di sana." Aku takut suatu hari nanti kau pergi, dan desa ini akan terasa kosong meskipun penuh

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 155 Isabella&Alexander: Surat cinta(1)

    Hari-hari setelah pemberian bunga liar itu berjalan begitu cepat, namun terasa lambat bagi Alexander. Ada kebahagiaan yang mengapung di dadanya, tapi juga ada kerinduan yang aneh. Isabella tidak selalu ada di penginapan. Kadang ia pergi bersama ayahnya ke desa tetangga untuk membeli kain, kadang ia sibuk membantu menghitung stok dagangan, kadang ia hanya lelah dan beristirahat di kamarnya. Alexander pun tidak bisa setiap hari datang ke penginapan. Ladangnya yang sempat terbengkalai selama masa "operasi pendekatan" kini menuntut perhatiannya kembali. Gulma tumbuh di mana-mana, pagar yang ia perbaiki dulu ternyata masih perlu diperkuat, dan sapi-sapinya mulai protes karena jarang diperah. Namun hati yang telah tersambung tidak bisa dipisahkan hanya oleh kesibukan. Maka lahirlah sebuah tradisi baru di Desa Oakhaven: tradisi bertukar surat. --- Surat Pertama Alexander untuk Isabella ********** Untuk Isabella, Semoga surat ini menemukanmu dalam keadaan sehat dan bahagia. Ak

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 154 Isabella&Alexander: Mencintaimu

    Matahari sudah cukup tinggi ketika Alexander tiba di Penginapan Angsa Putih. Ia berdiri di depan pintu dapur, menarik napas dalam-dalam sepuluh kali, sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk. Nell yang membuka pintu. Matanya langsung tertuju pada ikatan bunga di tangan Alexander. Alisnya terangkat tinggi—sangat tinggi—sampai nyaris menyatu dengan garis rambutnya. "Alexander," katanya pelan. "Itu... bunga?" "Iya," jawab Alexander dengan nada bertahan. "Bunga liar. Aku... merangkainya sendiri." Nell menatap bunga itu, lalu menatap Alexander, lalu kembali ke bunga itu. Selama beberapa detik, tidak ada suara. Kemudian, tanpa bisa ditahan lagi, Nell tertawa. Bukan tawa kecil, tapi tawa keras yang mengguncang seluruh tubuh tambunnya. "Astaga, Alexander!" pekiknya di sela-sela tawa. "Itu... itu rangkaian bunga atau... atau jerami bekas? Kenapa bisa miring begitu? Ikatannya kok pakai tali rami? Itu tali buat kandang kambing, bodoh!" Alexander merasa mukanya memanas. "Aku... aku

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 153 Isabella&Alexander: Bunga liar

    Pagi itu, Alexander bangun sebelum matahari terbit. Bukan karena kebiasaannya sebagai petani, melainkan karena hatinya terlalu bersemangat untuk memejamkan mata. Hari ini adalah hari yang ia janjikan: hari di mana ia akan datang tanpa membawa hasil kebun, hanya membawa dirinya sendiri dan setangkai bunga liar.Ia berdiri di tengah ladangnya, memandangi hamparan luas yang telah ia garap bertahun-tahun, tapi matanya tidak melihat ke sana. Pikirannya melayang pada Isabella, pada senyumnya, pada tawanya yang jernih bagai air sungai, pada cara ia memiringkan kepala ketika mendengar Alexander berbicara konyol."Sekarang, bunga liar," gumamnya pada diri sendiri. "Di mana gerangan bunga liar yang cantik?"Ia berjalan meninggalkan ladangnya yang gundul—korban dari operasi pendekatan selama empat hari terakhir—dan menyusuri pinggir hutan kecil di ujung desa. Di sanalah biasanya bunga-bunga liar tumbuh semusim, tanpa dirawat, tanpa diperhatikan siapa pun. Namun hari

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   chapter 152 Isabella&Alexander: Pendekatan(2)

    Hari Ketiga: Wortel dan "Kebetulan"Pada hari ketiga, Alexander datang tidak hanya dengan membawa wortel (yang katanya "kebetulan sedang panen raya"), namun juga membawa... sebuah buku.Ya, Alexander membawa buku. Sebuah buku tentang tanaman obat yang dipinjamnya dari pendeta desa. Ia telah membaca halaman pertama sebanyak sepuluh kali dan masih belum memahaminya, namun buku itu membuatnya terlihat cerdas—atau setidaknya itulah harapannya.Nell melihat buku itu dan langsung merasa curiga. "Sejak kapan kau bisa membaca, Alexander?""Sejak... lahir? Maksudku, ya, aku bisa sedikit membaca," jawabnya dengan nada defensif.Untungnya, Isabella keluar sambil membawa jahitan. Ia melihat buku itu dan matanya berbinar. "Wah, kau membawa buku? Boleh aku lihat?""Ini hanya buku biasa," kata Alexander merendah, meskipun dalam hatinya berteriak, Ia tertarik! Ia tertarik dengan kecerdasanku!Isabella membaca sampulnya. "Tanaman Obat Nu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status