Share

chapter 8 Kehadiran-NYA

Penulis: Shoera_moon
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-02 17:29:23

Setelah bermain di taman dengan Rowan, keringat membasahi pelipis Felicity dan sedikit noda tanah menghiasi ujung gaun sederhananya. Dengan tubuh yang lelah namun hati yang ringan, dia bergegas menuju kamar pribadinya.

Mereka memasuki kamar mandi pribadi Felicity, yang merupakan salah satu 'proyek' pertamanya yang berhasil diwujudkan. Ruangan ini adalah oasis modern di tengah dunia kuno. Ubin putih bersih, keran kuningan yang mengalirkan air—baik dingin maupun hangat yang dialirkan dari tangki pemanas di loteng—dan yang paling penting, toilet dengan sistem pembuangan yang efisien.

Saat dia berendam di bak mandi, membiarkan air hangat melumerkan ketegangan di pundaknya, pikirannya kembali melayang kepada pertemuan mengerikan dengan The Grey Gentleman. Dia teringat dengan jelas saat itu—baru saja turun dari kereta kuda, hendak menaiki tangga besar menuju istana.

Dan di sana, di tengah-tengah keramaian dan kemewahan istana, dia berdiri. Di atas tangga besar, bersandar pada sebuah pilar marmer dengan santainya yang mengganggu. Pakaiannya yang abu-abu silver tampak ganjil di antara warna-warna cerah pakaian kerajaan.

Tidak ada seorang pun yang tampak memperhatikannya. Lysander, yang masih memegang lengannya, berbicara sesuatu tentang jadwal pertemuan, tetapi suaranya seperti berasal dari ujung terowongan yang panjang. Seluruh perhatian Felicity tertuju pada sosok itu.

Saat mereka hampir sejajar, bibirnya bergerak. "Lihatlah baik-baik, Felicity Ashworth. Takdirmu yang sebenarnya dimulai dari sini. Panggung telah disiapkan. Sekarang, menarilah."

Kemudian, secepat munculnya, sosok itu menghilang seperti kabut yang tersapu angin.

Felicity menyelam sebentar ke dalam air, berusaha menenggelamkan kenangan itu. Tapi kata-kata "Sekarang, menarilah" itu tetap melekat dalam pikirannya, seperti kutukan yang tak bisa dihilangkan.

Setelah mandi, dia mengenakan gaun tidur katun lavender yang longgar dan nyaman—hadiah dari Beatrice. Sambil menyisir rambutnya yang masih basah, Felicity memandangi gaun bola yang tergantung angkuh di sudut kamar. Pakaian mewah itu adalah persiapan bibinya untuk acara-acara resmi berikutnya, pengingat bahwa "tarian" yang dipaksakan The Grey Gentleman akan segera dimulai lagi.

Dia menghela napas panjang, merasakan kenyamanan gaun tidurnya yang sederhana sambil membayangkan pertempuran berikutnya yang harus dihadapi. Setidaknya untuk malam ini, dia bisa beristirahat dari semua tuntutan itu.

---------------

Lima hari. Seratus dua puluh jam kedamaian yang berharga. Felicity duduk di gazebo, cangkir teh chamomile hangat terasa seperti jimat di tangannya. Dia menyaksikan kupu-kupu hinggap di bunga lavender, dan untuk pertama kalinya, pikirannya benar-benar hening. Tidak ada desakan untuk mencipta, hanya kehadiran yang tenang.

Ketenangan itu pecah dengan derap langkah tegas yang terlalu familiar menyusuri jalan setapak. Dowager Duchess Evangeline mendekat, wajahnya mencoba menampilkan senyum hangat, tetapi matanya tetap tajam dan penuh perhitungan.

"Felicity, sayang. Senang melihatmu sudah tampak lebih segar," ujarnya, duduk tanpa diminta.

"Bibi," sapa Felicity, nada datar. Dia tidak mempercayai kemunculan mendadak ini.

"Kesehatanmu adalah prioritas utama, tentu saja," lanjut Evangeline, menyikat lipatan gaunnya yang sempurna. "Tapi, kabar baik tentang kesuksesanmu di Istana telah menyebar. Seorang pengusaha muda yang sangat berbakat, sangat visioner, ingin bertemu denganmu. Dia memiliki proposal untuk mengembangkan industri tekstil baru yang katanya akan merevolusi kerajaan."

Felicity menempatkan cangkirnya di atas nampan dengan bunyi 'klik' yang halus. Dia bisa merasakan jerat itu kembali dijalin. "Seorang pengusaha? Atau seorang kapitalis yang mencium aroma uang?"

Evangeline tersenyum tipis. "Dia seorang yang punya visi, Felicity. Seperti kamu. Bayangkan, kolaborasi seperti itu—"

"Bibi," potong Felicity, suaranya lembut seperti sutra, tapi mematikan. Dia menatap langsung ke mata bibinya, dan untuk pertama kalinya, tatapannya tidak mengandung kelelahan, tetapi ketegangan baja yang dingin. "Lima hari ini adalah lima hari terakhir yang benar-benar tenang dalam hidup saya selama bertahun-tahun. Saya belum siap untuk 'revolusi' apa pun."

"Tapi, Felicity—"

"Dua hari lagi," ucap Felicity, memotongnya lagi. "Dua hari di mana satu-satunya 'industri' yang akan saya pikirkan adalah industri tidur siang saya. Dan industri mematikan semua gangguan."

Wajah Evangeline berkerut. "Kau tidak bisa terus menerus menyendiri. Kewajibanmu—"

"Kewajiban saya," sela Felicity, dengan penekanan yang dalam, "adalah untuk tetap waras. Dan saya yakin, baik Raja maupun siapapun yang berkepentingan, akan lebih menghargai seorang 'jenius' yang waras daripada seorang yang kelelahan dan menghasilkan karya yang ceroboh karena dipaksa sebelum waktunya." Dia sedikit membungkuk ke depan, dan suaranya berubah menjadi bisikan yang tegas dan berbahaya. "Kecelakaan... sangat mudah terjadi ketika pikiran sedang lelah, bukan begitu, Bibi? Sebuah kesalahan perhitungan kecil saja bisa menghancurkan segalanya."

Dia tidak mengancam secara fisik. Itu lebih halus, lebih cerdik. Dia mengancam dengan kegagalan. Dengan sengaja merusak nilai dirinya sebagai "aset" jika dipaksa terlalu jauh.

Evangeline membeku. Dia mendengar ancaman yang terselubung dengan sempurna itu. Matanya membelalak, marah sekaligus terkesan oleh kelicikan keponakannya yang tiba-tiba ini. Dia menyadari bahwa Felicity tidak lagi menjadi korban yang pasif. Dia telah belajar bermain game mereka.

Keheningan yang tegang tergantung di antara mereka, hanya diputuskan oleh kicauan burung.

Akhirnya, Evangeline berdiri, wajahnya dingin. "Dua hari," dia menyetujui, suaranya datar. "Manfaatkanlah dengan baik. Karena setelah itu, dunia tidak akan menunggu lagi."

Dia berbalik dan pergi, langkahnya berderap marah.

Felicity mengambil cangkir tehnya lagi. Tangannya tidak gemetar. Sebaliknya, ada rasa kepuasan yang aneh. Dia baru saja memenangkan dua hari lagi. Dia telah menggunakan nilai dirinya sebagai senjata, dan itu berhasil.

Dia melihat ke arah manor, di mana bibinya pasti sedang merencanakan balasannya. Pertempuran kecil ini dimenangkan, tetapi perangnya masih panjang. Namun, untuk saat ini, dia akan menikmati kemenangan kecilnya dengan secangkir teh dan kesunyian yang telah diperjuangkannya. Dua hari lagi. Itu adalah kekayaan yang tak ternilai harganya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 138 Di bawah langit kelabu

    Pintu ruang kerja Lady Evangeline tertutup dengan bunyi lembut yang justru terasa menyayat. Narasi yang telah diceritakan Theron tergantung di antara mereka seperti kabut tebal, membekukan setiap kata lebih lanjut yang mungkin terucap. Di koridor yang sunyi, mereka berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang tertahan, dibebani oleh kebenaran yang akhirnya terungkap sepenuhnya.Sesampainya di teras depan, pemandangan yang menyambut adalah formasi rapi sepasukan kecil prajurit kerajaan yang berseragam lengkap. Mereka datang dengan kuda-kuda yang masih mengeluarkan uap napas di udara yang dingin. Seorang perwira muda, dengan wajah penuh hormat dan simpati yang tersamar, maju beberapa langkah dan memberi hormat kepada Lysander."Yang Mulia Pangeran Lysander," ujarnya dengan suara formal. "Atas perintah Yang Mulia Raja, kami diutus untuk mengawal Anda kembali ke istana dengan segera." Suaranya rendah, menghormati kesedihan yang terpampang jelas di wajah putra mahkot

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 137 Keheningan Mencekik

    Ruang kerja Lady Evangeline Ashworth, yang biasanya merupakan benteng ketertiban dengan rak-rak buku yang rapi, meja tulis bersih, dan aroma kayu mahoni serta kertas tua, hari ini berubah menjadi ruang sidang bagi kesedihan yang tak terucapkan. Cahaya yang temaram menyelinap melalui jendela tinggi, menyinari debu yang berputar pelan, seakan enggan mengusik kesunyian yang membeku.Mereka bertiga duduk. Lady Evangeline di belakang meja tulisnya, kedua tangan terkatup di atas permukaan kayu yang gelap, bagai mencengkeram satu-satunya titik tetap di dunianya yang goyah. Theron dan Lysander duduk berhadapan dengannya, di dua kursi kulit yang biasanya diduduki tamu bisnis. Namun, tidak ada urusan bisnis hari ini. Hanya ada duka.Keheningan itu terasa padat, berisik oleh semua hal yang tak terkatakan. Napas Lysander terdengar pendek dan tidak teratur. Dia duduk membungkuk, menatap lurus ke lantai, kedua tangannya tergenggam erat di pangkuan. Tubuhnya yang tinggi itu seaka

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 136 Sisa rombongan

    Keesokan harinya menyaksikan sebuah rombongan yang suram memasuki gerbang Kediaman Ashworth. Mereka bukan parade kemenangan, melainkan prosesi kepedihan yang berjalan pelan. Di depan, Theron dan Lysander memimpin dengan langkah gontai, diikuti kereta pedati darurat yang mengangkut prajurit-prajurit yang terluka, terbaring di atas jerami dengan perban-perban kotor dan wajah yang menyeringit kesakitan. Bau obat, keringat, dan darah menyertai mereka seperti awan kelam.Lady Evangeline Ashworth telah menunggu di ambang pintu besar. Dia tidak mengenakan gaun duka yang dramatis, hanya baju rumah berwarna kelabu yang menyatu dengan wajahnya yang pucat dan lesu. Tatapannya, yang biasanya mampu meredam kegaduhan dengan sekali sorot, kini hanya menyimpan danau kesedihan yang dalam dan tenang. Dia menyapu pandangannya pada rombongan itu, dan untuk sepersekian detik, matanya yang telah membeku itu bergetar menyaksikan bukti fisik dari kekerasan yang menimpa keponakannya: memar di wajah

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 135 Duka kediaman Ashworh

    Dua hari setelah kekacauan di Three-Fork Crossing, kabar itu akhirnya merembes masuk ke kediaman Ashworth, bukan sebagai pengumuman resmi, tetapi sebagai bisikan getir yang dibawa angin musim gugur. Itu terasa pertama kali dalam keheningan tiba-tiba para pelayan, kemudian dalam tatapan mereka yang saling menghindar, dan akhirnya, terkristalisasi dalam selembar kertas laporan resmi yang dingin yang diletakkan di atas nampan perak di hadapan Lady Evangeline Ashworth. Kata-katanya tajam dan tanpa hiasan: "...serangan... korban jiwa... Lady Felicity Ashworth hilang, diduga terjun ke sungai... pencarian intensif sedang berlangsung..."Kata "hilang" menggantung di udara ruang tamu yang megah, berubah menjadi hantu yang lebih nyata daripada furnitur mahoni atau lukisan leluhur. Keheningan yang menyusul bukanlah ketenangan, melainkan vakum yang menyedot semua suara kehidupan dari rumah itu.Lady Evangeline Ashworth tidak menjerit. Tubuhnya yang selalu tegak bagai tiang kap

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 134 kembali ke medan luka

    Dengan langkah berat namun cepat, Lysander dan Theron meninggalkan gemuruh sungai yang menusuk hati dan menyusuri kembali jalur yang tadi mereka lalui. Hutan malam terasa lebih dingin, lebih bermusuhan. Bayangan-bayangan pohon seakan menyimpan ancaman baru di setiap lekuknya. Namun, keduanya tidak lagi terpusat pada rasa takut mereka sendiri fokus mereka kini tertuju pada tanggung jawab yang telah mereka akui.Mereka tiba di lokasi awal penyerangan, di mana kereta masih teronggak seperti bangkai raksasa. Suasana yang mereka tinggalkan penuh kegaduhan, kini berubah menjadi senyap yang menyayat. Rintihan para prajurit yang terluka, yang sebelumnya berbaur dengan teriakan perang, kini terdengar jelas dan menyedihkan di keheningan malam.Tanpa perlu berkoordinasi lebih lanjut, mereka langsung bergerak.Lysander, dengan otoritas alaminya sebagai putra mahkota yang kini telah ditempa oleh api kesedihan, berjalan dari satu prajurit ke prajurit lainnya. Ia berlutu

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 133 puncak keputusasaan

    Kegelapan malam mulai menyelimuti sungai sepenuhnya, hanya diterangi cahaya tipis bulan sabit yang bersembunyi di balik awan. Pencarian mereka telah mencapai ujung yang pahit: nihil. Setiap batu telah mereka periksa, setiap semak mereka susuri, dan yang mereka temukan hanyalah keheningan alam yang seolah mengejek keputusasaan mereka.Theron akhirnya berhenti. Tubuhnya yang lelah bersandar pada sebuah batu, nafasnya keluar dalam kepulan uap putih di udara dingin. Wajahnya yang biasanya penuh kalkulasi kini kosong, terkikis oleh kenyataan yang tak terbantahkan. "Cukup," katanya, suaranya datar dan hampa. "Kita akhiri hari ini. Kita harus kembali ke tempat prajurit kita yang terluka. Mereka butuh bantuan medis sebelum terlambat."Tapi Lysander tidak bergerak. Dia berdiri di tepi air, menatap arus hitam yang berkilauan lemah oleh cahaya bulan. Tangannya masih mengepal erat, kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Dalam pikirannya, adegan-adegan berputar seperti siksaa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status