เข้าสู่ระบบKetegangan setelah kunjungan bibinya masih menggantung di udara seperti sisa aroma parfum yang menusuk, tapi Felicity berusaha mengusirnya dengan menyeruput teh chamomilenya yang mulai dingin. Bea membersihkan nampan dengan diam-diam, matanya yang waspada terus mengawasi jendela-jendela manor yang seolah menyimpan seribu mata.
Tidak lama kemudian, Rowan muncul dari balik rumpun bunga mawar, wajahnya yang biasanya ceria kini tampak sedikit berkerut penuh arti. Di tangannya, tergenggam sepotong kertas yang dilipat sederhana tanpa sampul resmi, dan sebuah kantong kain kecil yang terikat pita. "Ada kurir dari Istana, Lady Flick," ujarnya dengan suara rendah, mendekat seperti membagikan rahasia. "Bukan kurir berkuda dengan seragam megah. Tampaknya seperti... pelayan pribadi Lord Lysander. Dia menyuruhku menyampaikan ini padamu secara pribadi." Felicity mengangkat alisnya, rasa penasaran mengalahkan kelelahan. Bea langsung mengambil posisi siaga, tubuhnya tegang seperti kucing yang mengendus bahaya. Dengan hati-hati, Felicity menerima surat dan kantong kecil itu. Kertasnya halus dan berkualitas, tetapi tak ada segel kebesaran keluarga—hanya lipatan rapi yang menunjukkan kerahasiaan. Tulisan tangannya elegan namun terburu-buru, seperti ditulis dalam kesempatan yang terbatas. Dia membukanya dengan ujung jari yang sedikit gemetar. *************** Untuk Lady Felicity, Saya dengar "migrain"-nya masih betah berkunjung. Semoga kabar ini tidak mengganggu masa tenangnya. Saya hanya ingin memastikan bahwa tidak ada "urgensi kerajaan" yang benar-benar menunggu di meja saya. Semuanya baik-baik saja di sini—para menteri masih berdebat tentang anggaran, dan profesor-profesor tua masih menggerutu tentang perubahan. Tidak ada yang baru. Sebagai tanda permintaan maaf karena telah mengacaukan ketenangan anda minggu lalu dengan kunjungan ke Istana, saya kirimkan sedikit sesuatu. Ini adalah biji dari tanaman yang disebut "Chamomile Kaisar" oleh para pedagang di negeri seberang. Konon, aromanya lebih menenangkan dari pada varietas biasa, dan bunganya berwarna keemasan seperti matahari terbenam. Mungkin bisa ditanam di sudut taman tertentu yang tenang, sebagai pengingat bahwa tidak semua hal dari Istana adalah berita buruk atau tuntutan. Atau, jika menanamnya terlalu merepotkan, bijinya bisa langsung diseduh sebagai teh—meski saya yakin anda akan dengan senang hati merawatnya. Pilihan ada di tangan ahlinya. Tidak perlu membalas. Nikmati saja cuti yang berhasil anda dapatkan. Kadang, memenangkan pertempuran kecil untuk ketenangan adalah kemenangan terbesar. — L.F. ****************** Felicity membaca surat itu dua kali, lalu tiga kali. Tidak ada satu pun pujian tentang kecerdasannya atau desain kincir air. Tidak ada pembicaraan tentang proyek kerajaan atau kewajiban. Hanya pengakuan halus akan kebutuhannya akan ketenangan, sebuah lelucon kecil tentang "migrain"-nya yang dibuat-buat, dan sebuah hadian yang sederhana, personal, dan... tepat sasaran. Dia membuka kantong kain kecil itu. Di dalamnya, biji-biji coklat keemasan mengeluarkan aroma yang lembut namun dalam—seperti chamomile biasa namun dengan sentuhan madu dan vanilla. Aromanya memang menenangkan, menyentuh sesuatu yang dalam di jiwanya yang lelah. "Orang yang aneh," ucapnya dengan suara rendah, hampir seperti gumaman. Tapi di sudut bibirnya, muncul senyum kecil yang tidak bisa ditahan. Bukan senyum lebar seperti saat bermain dengan Rowan, melainkan senyum hangat yang merambat pelan, seperti mentari pagi yang menyelinap melalui celah tirai. Bea, yang tak tahan menahan rasa penasaran, mendekat. "Apa isinya, Flick? Bukan ancaman dari bibimu, kan?" Felicity menyodorkan surat dan kantong biji itu. Bea membacanya dengan cepat, dan kerutan di dahinya pun merekah. "Lord Lysander ini... ternyata cukup pehatian. Dan cukup cerdik untuk tidak menggunakan segel kerajaan." Rowan, yang mengintip dari balik bahu Bea, ikut tersenyum. "Chamomile Kaisar, ya? Tanaman yang bagus. Tidak rewel. Akan tumbuh subur di sudut taman dekat pohon apel, di mana matahari pagi menyinarnya tapi teduh di siang hari." Ada sedikit nada persetujuan dalam suaranya, sebuah pengakuan dari ahli tanaman. "Lihat?" ujar Bea, memandangi Felicity yang masih menatap biji-biji itu seperti harta karun. "Tidak semua bangsawan itu seperti gambaran bibimu. Ada yang bisa membedakan antara seorang jenius yang harus dimanfaatkan dan seorang wanita yang hanya butuh diakui kemanusiaannya." Felicity mengangguk pelan, melipat surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya di saku gaunnya, dekat dengan jantungnya yang berdebar. Ancaman bibinya masih nyata seperti bayangan di jendela. Tekanan kutukannya masih menggayuti pundaknya. Tapi untuk saat ini, di taman yang mulai disinari mentari senja, ada sebuah kehangatan yang berbeda yang mengisi dadanya—sebuah pengingat bahwa di balik tembok istana yang dingin, ada seseorang yang melihatnya bukan sebagai aset atau monster, tetapi sebagai Felicity, manusia yang lelah namun pantas diperhatikan. "Dua hari," bisiknya pada diri sendiri, sambil menatap kantong biji di tangannya seolah itu adalah jimat. Mungkin, hanya mungkin, dua hari itu bisa terasa lebih panjang dan lebih damai berkat keanehan orang yang mengirimkan hadiah ini. "Rowan," ujarnya, menoleh ke tukang kebunnya dengan mata berbinar. "Apakah kamu punya spot yang tepat untuk Chamomile Kaisar ini? Tempat di mana dia bisa tumbuh dengan bebas, tanpa harus mengikuti pola taman yang formal?" Rowan tersenyum lebar, senyum yang memahami sepenuhnya. "Tentu, Lady Flick. Sudut paling tenang di taman, dekat dengan bangku kayu favoritmu. Di sana dia akan mendapatkan matahari yang cukup, dan yang paling penting—jauh dari keramaian dan pengawasan yang tidak diinginkan." Kali ini, senyum Felicity tidak segera menghilang. Itu tetap ada, lembut dan penuh harap, seperti biji chamomile pertama yang siap tumbuh di tanah subur.Pintu ruang kerja Lady Evangeline tertutup dengan bunyi lembut yang justru terasa menyayat. Narasi yang telah diceritakan Theron tergantung di antara mereka seperti kabut tebal, membekukan setiap kata lebih lanjut yang mungkin terucap. Di koridor yang sunyi, mereka berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang tertahan, dibebani oleh kebenaran yang akhirnya terungkap sepenuhnya.Sesampainya di teras depan, pemandangan yang menyambut adalah formasi rapi sepasukan kecil prajurit kerajaan yang berseragam lengkap. Mereka datang dengan kuda-kuda yang masih mengeluarkan uap napas di udara yang dingin. Seorang perwira muda, dengan wajah penuh hormat dan simpati yang tersamar, maju beberapa langkah dan memberi hormat kepada Lysander."Yang Mulia Pangeran Lysander," ujarnya dengan suara formal. "Atas perintah Yang Mulia Raja, kami diutus untuk mengawal Anda kembali ke istana dengan segera." Suaranya rendah, menghormati kesedihan yang terpampang jelas di wajah putra mahkot
Ruang kerja Lady Evangeline Ashworth, yang biasanya merupakan benteng ketertiban dengan rak-rak buku yang rapi, meja tulis bersih, dan aroma kayu mahoni serta kertas tua, hari ini berubah menjadi ruang sidang bagi kesedihan yang tak terucapkan. Cahaya yang temaram menyelinap melalui jendela tinggi, menyinari debu yang berputar pelan, seakan enggan mengusik kesunyian yang membeku.Mereka bertiga duduk. Lady Evangeline di belakang meja tulisnya, kedua tangan terkatup di atas permukaan kayu yang gelap, bagai mencengkeram satu-satunya titik tetap di dunianya yang goyah. Theron dan Lysander duduk berhadapan dengannya, di dua kursi kulit yang biasanya diduduki tamu bisnis. Namun, tidak ada urusan bisnis hari ini. Hanya ada duka.Keheningan itu terasa padat, berisik oleh semua hal yang tak terkatakan. Napas Lysander terdengar pendek dan tidak teratur. Dia duduk membungkuk, menatap lurus ke lantai, kedua tangannya tergenggam erat di pangkuan. Tubuhnya yang tinggi itu seaka
Keesokan harinya menyaksikan sebuah rombongan yang suram memasuki gerbang Kediaman Ashworth. Mereka bukan parade kemenangan, melainkan prosesi kepedihan yang berjalan pelan. Di depan, Theron dan Lysander memimpin dengan langkah gontai, diikuti kereta pedati darurat yang mengangkut prajurit-prajurit yang terluka, terbaring di atas jerami dengan perban-perban kotor dan wajah yang menyeringit kesakitan. Bau obat, keringat, dan darah menyertai mereka seperti awan kelam.Lady Evangeline Ashworth telah menunggu di ambang pintu besar. Dia tidak mengenakan gaun duka yang dramatis, hanya baju rumah berwarna kelabu yang menyatu dengan wajahnya yang pucat dan lesu. Tatapannya, yang biasanya mampu meredam kegaduhan dengan sekali sorot, kini hanya menyimpan danau kesedihan yang dalam dan tenang. Dia menyapu pandangannya pada rombongan itu, dan untuk sepersekian detik, matanya yang telah membeku itu bergetar menyaksikan bukti fisik dari kekerasan yang menimpa keponakannya: memar di wajah
Dua hari setelah kekacauan di Three-Fork Crossing, kabar itu akhirnya merembes masuk ke kediaman Ashworth, bukan sebagai pengumuman resmi, tetapi sebagai bisikan getir yang dibawa angin musim gugur. Itu terasa pertama kali dalam keheningan tiba-tiba para pelayan, kemudian dalam tatapan mereka yang saling menghindar, dan akhirnya, terkristalisasi dalam selembar kertas laporan resmi yang dingin yang diletakkan di atas nampan perak di hadapan Lady Evangeline Ashworth. Kata-katanya tajam dan tanpa hiasan: "...serangan... korban jiwa... Lady Felicity Ashworth hilang, diduga terjun ke sungai... pencarian intensif sedang berlangsung..."Kata "hilang" menggantung di udara ruang tamu yang megah, berubah menjadi hantu yang lebih nyata daripada furnitur mahoni atau lukisan leluhur. Keheningan yang menyusul bukanlah ketenangan, melainkan vakum yang menyedot semua suara kehidupan dari rumah itu.Lady Evangeline Ashworth tidak menjerit. Tubuhnya yang selalu tegak bagai tiang kap
Dengan langkah berat namun cepat, Lysander dan Theron meninggalkan gemuruh sungai yang menusuk hati dan menyusuri kembali jalur yang tadi mereka lalui. Hutan malam terasa lebih dingin, lebih bermusuhan. Bayangan-bayangan pohon seakan menyimpan ancaman baru di setiap lekuknya. Namun, keduanya tidak lagi terpusat pada rasa takut mereka sendiri fokus mereka kini tertuju pada tanggung jawab yang telah mereka akui.Mereka tiba di lokasi awal penyerangan, di mana kereta masih teronggak seperti bangkai raksasa. Suasana yang mereka tinggalkan penuh kegaduhan, kini berubah menjadi senyap yang menyayat. Rintihan para prajurit yang terluka, yang sebelumnya berbaur dengan teriakan perang, kini terdengar jelas dan menyedihkan di keheningan malam.Tanpa perlu berkoordinasi lebih lanjut, mereka langsung bergerak.Lysander, dengan otoritas alaminya sebagai putra mahkota yang kini telah ditempa oleh api kesedihan, berjalan dari satu prajurit ke prajurit lainnya. Ia berlutu
Kegelapan malam mulai menyelimuti sungai sepenuhnya, hanya diterangi cahaya tipis bulan sabit yang bersembunyi di balik awan. Pencarian mereka telah mencapai ujung yang pahit: nihil. Setiap batu telah mereka periksa, setiap semak mereka susuri, dan yang mereka temukan hanyalah keheningan alam yang seolah mengejek keputusasaan mereka.Theron akhirnya berhenti. Tubuhnya yang lelah bersandar pada sebuah batu, nafasnya keluar dalam kepulan uap putih di udara dingin. Wajahnya yang biasanya penuh kalkulasi kini kosong, terkikis oleh kenyataan yang tak terbantahkan. "Cukup," katanya, suaranya datar dan hampa. "Kita akhiri hari ini. Kita harus kembali ke tempat prajurit kita yang terluka. Mereka butuh bantuan medis sebelum terlambat."Tapi Lysander tidak bergerak. Dia berdiri di tepi air, menatap arus hitam yang berkilauan lemah oleh cahaya bulan. Tangannya masih mengepal erat, kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Dalam pikirannya, adegan-adegan berputar seperti siksaa







