แชร์

chapter 7 Tamu

ผู้เขียน: Shoera_moon
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-02 16:54:28

Sinar mentari musim semi yang keemasan menyapu hamparan rumput hijau di taman kediaman Ashworth, menerangi sebuah pemandangan yang jarang terlihat. Di tengah taman, Felicity Ashworth berlari-lari dengan gaun sederhananya yang berkibar ditiup angin, mengejar seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun—Rowan, putra dari kepala tukang kebun. Tawa lepasnya bergema di udara, begitu bebas dan riang, sangat kontras dengan kesan sang "jenius terkutuk" yang melekat padanya.

"Tangkapi aku, Rowan!" teriak Felicity, wajahnya bersinar bahagia saat anak itu berhasil menangkapnya dengan pelukan erat. Mereka berdua terjatuh di atas hamparan bunga dandelion, tertawa terbahak-bahak tanpa beban.

Beatrice Croft, yang duduk di bangku taman tak jauh dari mereka, tak bisa menyembunyikan senyum lembut di bibirnya. Pelayan setia itu dengan hati-hati menyiapkan lemonade dan roti lapis—sebuah suguhan sederhana yang disukai Felicity. Matanya yang biasanya penuh kehawatiran kini berbinar melihat tuannya, meski hanya untuk sesaat, bisa melupakan segala beban dan kutukan yang menghantuinya.

Namun, di balik kaca jendela perpustakaan yang tinggi dan megah, ada sepasang mata tajam yang mengamati setiap gerak-gerik mereka dengan cermat. Theron Blackwood, seorang industrialis yang tak kenal ampun di era Victoria yang sedang mengalami revolusi industri, berdiri dengan tenang seperti predator yang mengintai mangsanya. Sebuah gelas kristal berisi brandy mahal berusia tiga puluh tahun berayun dengan ritme teratur di antara jari-jarinya yang terlatih—tangan yang sama yang tak segan memecat buruh yang menuntut kenaikan upah, atau menghancurkan kompetitor bisnis dengan taktik tak berperikemanusiaan.

Pria berusia pertengahan tiga puluhan ini, dengan setelan bisnis abu-abu antrak yang dijahit sempurna oleh penjahit terbaik di London dan tongkat ek yang diukir halus, adalah penguasa tak terbantahkan dari beberapa pabrik tekstil dan jalur kereta api terbesar di kerajaan. Asap hitam dari cerobong pabriknya-lah yang mengotori langit ibukota, dan mesin uapnya-lah yang mendefinisikan zaman baru ini—zaman yang dibangun di atas keringat dan darah para buruh yang bekerja lima belas jam sehari. Majalah The Times menjulukinya "Si Tangan Besi" setelah peristiwa pemogokan buruh kereta api tahun lalu yang berakhir dengan darah.

Dia berada di kediaman Ashworth hari ini untuk bertemu dengan Dowager Countess Evangeline—sebuah pertemuan "peluang investasi" yang membahas potensi komersial dari penemuan keponakan perempuannya yang jenius. Namun, pertemuannya sengaja dibuat tertunda oleh sang Countess—sebuah taktik yang membuatnya kesal, namun kini justru memberinya kesempatan emas.

Matanya yang berwarna abu-abu baja, biasanya hanya menunjukkan emosi ketika menatap grafik keuntungan yang naik, kini memancarkan kilatan penuh minat. Dia menyaksikan bagaimana Felicity, tanpa beban, membantu Rowan membuat rangkaian bunga dandelion, bagaimana tawanya yang tulus bergema di taman, dan bagaimana dia dengan lancar beralih bahasa antara percakapan rumit tentang mekanika fluida dengan Beatrice dan candaan kekanak-kanakan dengan Rowan.

Bagi Theron, yang memandang dunia hanya melalui kacamata efisiensi, produktivitas, dan nilai pemegang saham, pemandangan ini mengungkapkan sesuatu yang sangat berharga. Di sini, jauh dari tekanan istana dan ekspektasi masyarakat, terungkap sebuah celah dalam benteng pertahanan Felicity. Sementara para bangsawan lain—seperti sang Countess dan mungkin sang Pangeran—berusaha mengurungnya dalam sangkar emas tradisi dan kewajiban, Theron melihat sesuatu yang lebih mendasar: sebuah jiwa yang lapar akan kebebasan, jiwa yang sama pemberontaknya dengan mesin uap yang berusaha melepaskan diri dari tekanan berlebihan.

Sebuah rencana mulai terbentuk di pikirannya yang analitis, lebih kompleks dan lebih canggih daripada sekadar negosiasi bisnis biasa. Alih-alih menawarkan kemewahan atau gelar—yang jelas-jelas tidak diinginkan Felicity—mungkin kunci untuk mendapatkan kerja samanya dan mengontrol penemuannya yang berharga adalah dengan menawarkan jalan keluar yang ilusif. Sebuah "laboratorium pribadi" yang jauh dari sorotan dan batasan istana, di mana dia bisa bekerja dengan "kebebasan", namun sebenarnya berada di bawah kendali penuhnya. Imbalannya? Sebagian dari kebebasan liar yang dilihatnya di taman ini—sebuah ilusi yang akan dia ciptakan dengan hati-hati.

Saat dia menyaksikan Beatrice dengan penuh kasih membersihkan debu dari pipi Felicity, sebuah senyum tipis dan penuh perhitungan akhirnya muncul di bibir Theron. Permainan ini menjadi jauh lebih menarik daripada yang dia bayangkan. Dia tak lagi hanya berurusan dengan seorang jenius yang terkekang, tetapi dengan seorang gadis muda yang lapar akan kasih sayang dan kebebasan—kombinasi yang sangat berharga.

Ketika seorang pelayan akhirnya datang mengumumkan bahwa Dowager Countess siap menerimanya, Theron dengan enggan berbalik dari jendela. Namun, gambaran Felicity yang tertawa bebas, dengan bunga dandelion di rambutnya dan cahaya mentari di wajahnya, telah terpateri dalam benaknya. Itu adalah potret yang akan membentuk setiap strategi, setiap tawaran, dan setiap manipulasi selanjutnya. Bagi Theron Blackwood, memahami kelemahan manusia adalah mata uang yang paling berharga—dan hari ini, dia baru saja menemukan tambang emas.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 138 Di bawah langit kelabu

    Pintu ruang kerja Lady Evangeline tertutup dengan bunyi lembut yang justru terasa menyayat. Narasi yang telah diceritakan Theron tergantung di antara mereka seperti kabut tebal, membekukan setiap kata lebih lanjut yang mungkin terucap. Di koridor yang sunyi, mereka berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang tertahan, dibebani oleh kebenaran yang akhirnya terungkap sepenuhnya.Sesampainya di teras depan, pemandangan yang menyambut adalah formasi rapi sepasukan kecil prajurit kerajaan yang berseragam lengkap. Mereka datang dengan kuda-kuda yang masih mengeluarkan uap napas di udara yang dingin. Seorang perwira muda, dengan wajah penuh hormat dan simpati yang tersamar, maju beberapa langkah dan memberi hormat kepada Lysander."Yang Mulia Pangeran Lysander," ujarnya dengan suara formal. "Atas perintah Yang Mulia Raja, kami diutus untuk mengawal Anda kembali ke istana dengan segera." Suaranya rendah, menghormati kesedihan yang terpampang jelas di wajah putra mahkot

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 137 Keheningan Mencekik

    Ruang kerja Lady Evangeline Ashworth, yang biasanya merupakan benteng ketertiban dengan rak-rak buku yang rapi, meja tulis bersih, dan aroma kayu mahoni serta kertas tua, hari ini berubah menjadi ruang sidang bagi kesedihan yang tak terucapkan. Cahaya yang temaram menyelinap melalui jendela tinggi, menyinari debu yang berputar pelan, seakan enggan mengusik kesunyian yang membeku.Mereka bertiga duduk. Lady Evangeline di belakang meja tulisnya, kedua tangan terkatup di atas permukaan kayu yang gelap, bagai mencengkeram satu-satunya titik tetap di dunianya yang goyah. Theron dan Lysander duduk berhadapan dengannya, di dua kursi kulit yang biasanya diduduki tamu bisnis. Namun, tidak ada urusan bisnis hari ini. Hanya ada duka.Keheningan itu terasa padat, berisik oleh semua hal yang tak terkatakan. Napas Lysander terdengar pendek dan tidak teratur. Dia duduk membungkuk, menatap lurus ke lantai, kedua tangannya tergenggam erat di pangkuan. Tubuhnya yang tinggi itu seaka

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 136 Sisa rombongan

    Keesokan harinya menyaksikan sebuah rombongan yang suram memasuki gerbang Kediaman Ashworth. Mereka bukan parade kemenangan, melainkan prosesi kepedihan yang berjalan pelan. Di depan, Theron dan Lysander memimpin dengan langkah gontai, diikuti kereta pedati darurat yang mengangkut prajurit-prajurit yang terluka, terbaring di atas jerami dengan perban-perban kotor dan wajah yang menyeringit kesakitan. Bau obat, keringat, dan darah menyertai mereka seperti awan kelam.Lady Evangeline Ashworth telah menunggu di ambang pintu besar. Dia tidak mengenakan gaun duka yang dramatis, hanya baju rumah berwarna kelabu yang menyatu dengan wajahnya yang pucat dan lesu. Tatapannya, yang biasanya mampu meredam kegaduhan dengan sekali sorot, kini hanya menyimpan danau kesedihan yang dalam dan tenang. Dia menyapu pandangannya pada rombongan itu, dan untuk sepersekian detik, matanya yang telah membeku itu bergetar menyaksikan bukti fisik dari kekerasan yang menimpa keponakannya: memar di wajah

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 135 Duka kediaman Ashworh

    Dua hari setelah kekacauan di Three-Fork Crossing, kabar itu akhirnya merembes masuk ke kediaman Ashworth, bukan sebagai pengumuman resmi, tetapi sebagai bisikan getir yang dibawa angin musim gugur. Itu terasa pertama kali dalam keheningan tiba-tiba para pelayan, kemudian dalam tatapan mereka yang saling menghindar, dan akhirnya, terkristalisasi dalam selembar kertas laporan resmi yang dingin yang diletakkan di atas nampan perak di hadapan Lady Evangeline Ashworth. Kata-katanya tajam dan tanpa hiasan: "...serangan... korban jiwa... Lady Felicity Ashworth hilang, diduga terjun ke sungai... pencarian intensif sedang berlangsung..."Kata "hilang" menggantung di udara ruang tamu yang megah, berubah menjadi hantu yang lebih nyata daripada furnitur mahoni atau lukisan leluhur. Keheningan yang menyusul bukanlah ketenangan, melainkan vakum yang menyedot semua suara kehidupan dari rumah itu.Lady Evangeline Ashworth tidak menjerit. Tubuhnya yang selalu tegak bagai tiang kap

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 134 kembali ke medan luka

    Dengan langkah berat namun cepat, Lysander dan Theron meninggalkan gemuruh sungai yang menusuk hati dan menyusuri kembali jalur yang tadi mereka lalui. Hutan malam terasa lebih dingin, lebih bermusuhan. Bayangan-bayangan pohon seakan menyimpan ancaman baru di setiap lekuknya. Namun, keduanya tidak lagi terpusat pada rasa takut mereka sendiri fokus mereka kini tertuju pada tanggung jawab yang telah mereka akui.Mereka tiba di lokasi awal penyerangan, di mana kereta masih teronggak seperti bangkai raksasa. Suasana yang mereka tinggalkan penuh kegaduhan, kini berubah menjadi senyap yang menyayat. Rintihan para prajurit yang terluka, yang sebelumnya berbaur dengan teriakan perang, kini terdengar jelas dan menyedihkan di keheningan malam.Tanpa perlu berkoordinasi lebih lanjut, mereka langsung bergerak.Lysander, dengan otoritas alaminya sebagai putra mahkota yang kini telah ditempa oleh api kesedihan, berjalan dari satu prajurit ke prajurit lainnya. Ia berlutu

  • Insinyur Termalas Dari Dunia Lain   Chapter 133 puncak keputusasaan

    Kegelapan malam mulai menyelimuti sungai sepenuhnya, hanya diterangi cahaya tipis bulan sabit yang bersembunyi di balik awan. Pencarian mereka telah mencapai ujung yang pahit: nihil. Setiap batu telah mereka periksa, setiap semak mereka susuri, dan yang mereka temukan hanyalah keheningan alam yang seolah mengejek keputusasaan mereka.Theron akhirnya berhenti. Tubuhnya yang lelah bersandar pada sebuah batu, nafasnya keluar dalam kepulan uap putih di udara dingin. Wajahnya yang biasanya penuh kalkulasi kini kosong, terkikis oleh kenyataan yang tak terbantahkan. "Cukup," katanya, suaranya datar dan hampa. "Kita akhiri hari ini. Kita harus kembali ke tempat prajurit kita yang terluka. Mereka butuh bantuan medis sebelum terlambat."Tapi Lysander tidak bergerak. Dia berdiri di tepi air, menatap arus hitam yang berkilauan lemah oleh cahaya bulan. Tangannya masih mengepal erat, kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Dalam pikirannya, adegan-adegan berputar seperti siksaa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status