Beranda / Fantasi / Invasi Beast / Hari Pertama di Tim Khusus

Share

Hari Pertama di Tim Khusus

Penulis: Orang Ngetik
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-06 06:16:46

"Aku pulang!"

Seorang pria membuka pintu rumah. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah empat, jadi seharusnya ibunya sudah pulang. Benar saja beberapa saat kemudian seorang wanita muncul menyambutnya.

"Ehh... udah pulang Yan. Gimana lulus kan?" tanya Bu Cantika menantikan kabar bagus dari anaknya.

"Lulus kok bu, makasih doanya ya." jawab Riyan dengan ceria.

"Emmhhh..." nada sang ibu terdengar senang. "Sama-sama, pasti dong kamu lulus, kan sering olahraga juga." ucapnya sambil mengelus-elus pipi anaknya.

"Eh, kamu pasti laper? Tapi mandi dulu ya, masakan ibu belum mateng soalnya."

"Hah? masih sore loh bu, masa makan sih?" Balas Riyan mengikuti ibunya masuk kedalam.

"Gapapa, kan kamu habis kerja berat. Kamu mandi dulu sana, sekalian istirahat. Habis itu baru ke dapur." Ucap sang ibu.

"Iya bu."

Mereka lantas berpisah, Riyan ke kamarnya sedangkan ibunya pergi ke dapur. Riyan mandi lalu berganti pakaian, setelah itu ia pergi ke dapur. Di dapur sang ibu tengah menyiapkan makanan untuk ia dan anaknya.

"Nahh... pas banget, kamu sampai sini, eh makanan udah siap." Ucap sang ibu yang melihat Riyan telah hadir.

"Hmmm... masak apa bu? kok wangi banget." Riyan mencium aroma masakan yang sangat ia sukai.

"Opor ayam, lah." Jawab ibu sembari menyajikan makanan.

"Wah, asyik banget. Pasti enak, nih."

"Jelas... Siapa, dulu yang masak. Ayo makan." Ucap ibu sembari memberikan piring milk Riyan.

Riyan lantas memakan masakan ibunya dengan lahap. Rasanya memang seenak itu. Melihat anaknya sangat menikmati masakannya, sang ibu tersenyum.

"Lahap banget, sih."

"Laper, Bu." Jawab Riyan tetap lahap menyantap makanannya.

"Riyan, kamu kan udah lulus tes masuk, kan, terus kamu milih yang mana, yang ngelawan monster atau yang nyelametin manusia?" Tanya sang ibu tentang pilihan anaknya.

"Ee... yang ngelawan monster bu, kan sekalian , bisa nyelametin manusia juga."

"Iya juga. Oh iya kamu udah dapet temen belum?" Tanya Bu Cantika ingin tahu lebih banyak dari anaknya.

"Udah kok bu, dia satu sekolah sama aku dulu, orangnya asik juga."

"Emmm, syukur deh. Terus tadi udah disuruh ngapain aja?"

"Tadi Riyan disuruh ngelawan monster gitu. Tapi harus masuk mode virtual dulu." Jawab Riyan menceritakan tes masuk tim khusus.

"Bisa ngelawan nya gak?"

"Bisa kok bu, malah yang bisa bunuh monsternya cuma aku sama temenku doang."

"Wow, jago banget, kamu. Belajar berantem dimana?" Tanya Bu Cantika kagum dengan kemampuan anaknya.

"Pake insting dong." Jawab Riyan sambil menyentuh kepala dengan telunjuk. "Oh iya bu, Besok aku udah berangkat pagi, gapapa kan."

"Gapapa kok. Tenang, ibu akan menyiapkan semua kebutuhan kamu." Jawab Bu Cantika tersenyum.

"Maaf ya, Bu, kalo gak bisa bantu."

"Gak usah minta maaf, aku kan Ibu kamu." Ucap Bu Cantika dengan tulus.

Riyan tersenyum melihat tanggapan ibunya.

"Habisin, gih."

Riyan mengangguk.

Ia dan Bu Cantika melanjutkan santapan mereka dengan perasaan senang. Riyan sangat bersyukur memiliki ibu sebaik Bu Cantika

_______

Hari pun berganti. Sebelum jam 7 tiba, Riyan sudah sampai di gedung dengan monumen bertuliskan 'PRIORITY' didepannya.

Di lobby sebelum masuk lift, tersedia alat fingerprint untuk presensi. Sebagai anggota resmi tim inti, sidik jari Riyan jelas sudah terdaftar di sana. Ia menyentuh fingerprint untuk melakukan absen.

Tiba-tiba, bahunya ditepuk.

"Oyy!" Anton tersenyum.

"Wah jam berapa nih Ton? Perasaan belum ada jam 7." Ucap Riyan menyindir orang yang semasa sekolah sering datang terlambat.

"Udah, gausah bercanda. Ini bukan sekolah, tau." Balas Anton jengkel. Riyan tertawa kecil.

Anton lalu melakukan hal yang sama. Monitor yang tersambung dengan fingerprint menampilkan bukti absensi Anton.

"Yuk, naik." Ajak Anton.

Mereka lantas memasuki lift lalu naik menuju ke lantai kemarin.

Merekapun sampai di ruang Komando. Disana sudah berkumpul semua anggota tim untuk apel pagi.

Melihat kedatangan Riyan dan Anton, semua orang menyambut mereka dengan ramah—kecuali Luna yang hanya melirik sekilas tanpa berkata apa-apa. Ternyata anggota tim khusus cukup terbuka terhadap orang baru.

Tak lama kemudian, jam menunjukkan lewat pukul tujuh. Pak Roger datang.

Waktunya apel pagi.

Semua anggota langsung berbaris rapi. Duta, orang yang dipercaya untuk memimpin barisan maju ke depan, mengambil posisi sebagai kapten. Ia menyiapkan barisan, lalu memimpin penghormatan kepada sang jenderal.

Pak Roger pun membuka amanatnya.

"Selamat pagi, semua."

"Pagi!" serempak mereka menjawab.

"Hari ini belum ada misi yang masuk," lanjutnya. "Jadi kalian cukup latihan wajib minimal tiga jam. Setelah itu bebas, terserah mau ngapain. Tapi ingat, kalau ada misi masuk dari saya, kalian harus siap kapan pun."

Ia berhenti sejenak, lalu menoleh pada dua wajah baru.

"Oh iya, selamat datang juga buat Anton dan Riyan. Semoga betah dan bisa bertahan lama di sini."

Beberapa orang melirik Riyan dan Anton sambil tersenyum.

"Untuk latihan nanti akan saya atur. Sekarang kalian bisa pilih loker dulu, ya."

Ia menganggukkan kepala ke arah Duta, dan Duta langsung membubarkan apel.

Barisan pun berpencar, masing-masing menuju tugasnya. Pak Roger menghampiri Riyan dan Anton.

"Kalian berdua ikut Albert dulu, nanti sekitar jam delapan temui saya kantor saya. Oke?"

"Baik, Pak," jawab mereka serempak.

Pak Roger pun melangkah menuju kantornya.

"Nah, sekarang giliran gua yang urus kalian. Yuk, kita ke locker room," kata Albert sambil memberi isyarat agar mereka mengikutinya.

"Ngapain ke sana, mau ngumpet ya? Hayoo..." goda Anton.

"Dih, apaan sih. Kalo mau ngumpet mah ke ruang Polaris aja, aman. Pak Roger juga jarang masuk situ," jawab Albert sambil membuka pintu keluar.

"Eh, kemarin kan kita udah ke sana? Ngapain balik lagi?" tanya Anton sambil menyusul langkah Albert.

"Hehe, gue lupa kasih loker ke kalian. Nanti semua barang pribadi kalian simpan di sana aja, ya."

"Oke," jawab Riyan.

Mereka pun sampai di depan dua ruangan yang pintunya bersebelahan: locker room milik laki-laki dan perempuan. Tanpa banyak basa-basi, mereka masuk ke locker room laki-laki.

"Nah, pilih aja loker yang masih kosong," kata Albert sambil membuka beberapa loker tak terkunci—belum ada penggunanya.

Riyan dan Anton memilih loker yang saling berdekatan. Albert memberikan kunci untuk masing-masing, lalu mereka pun menyimpan tas dan barang bawaan di dalamnya.

Setelah beres, Albert mengajak mereka keluar lagi.

"Hehe, gue penasaran deh. Loker cewek isinya apa, ya?" gumamnya sambil melirik ke arah pintu locker room perempuan.

"Masuk aja, Bert. Tapi siap-siap pulang dalam keadaan koma kalau dihajar Luna," celetuk Anton dengan senyum menyeringai. Riyan ikut tertawa.

"Ratu es? Tinggal dilawan lah," balas Albert santai.

"Hah? Kamu bisa lawan Luna?" tanya Riyan.

"Bisa. Bisa kalah," jawab Albert sambil nyengir.

"Kirain bisa menang."

Mereka pun tertawa bersama dan pergi ke kantor Pak Roger.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Invasi Beast   Ketika Beast dan Vessel Bersatu

    Sementara itu, tubuh Riyan masih tergeletak di sisi lain jembatan. *Riyan! Woy! Bangun!* teriak Ariel dalam hati. Namun tak ada respon. Tubuh Riyan dikerubungi beast yang hendak memisahkan Ariel darinya. Salah satu beast mencengkeram tubuhnya, siap membelah. *BANGUN WOY!!!* Namun masih tanpa belasan. *Karena lu gak bangun, terpaksa gua ambil alih!* Mata Riyan terbuka. Ia memegang tangan beast itu dan membantingnya. "GRRRAAAA!!" Teriakan beast menggema. Riyan berhasil bebas. Seekor beast menyerang dari belakang, namun ia menghindar dan segera menghubungi semua orang lewat whisp. "Halo!" "Riyan!? Lu gak apa-apa?" tanya Anton sambil menebas beast. "I-Ini Riyan!?" Mila terkejut, sampai-sampai kena pukul Thyss. "Bukan. Ini gua, Ariel." "Keadaan Riyan gimana!?"

  • Invasi Beast   Pertempuran di Jembatan

    Hari pun berganti. Riyan bersama tim khusus tengah menjalani latihan fisik sebagai bagian dari kewajiban rutin mereka. Seperti biasa, Duta berlatih angkat beban di Forge room, ditemani oleh Pak Roger, Albert, dan Wawan.Sementara itu, Anton dan Rizal sedang berlatih kelincahan di Arena Orion. Di tempat yang sama, Riyan membantu melatih Mila meningkatkan refleks dan kecepatan geraknya.Tak lama kemudian, ponsel Pak Roger berdering. Ia menurunkan barbel dan menjawab panggilan itu."Halo?" sapanya singkat. "Baik, kami akan segera ke sana. Jangan ambil tindakan apa pun sebelum ada perintah. Amankan lokasi.""Siapa, Pak?" tanya Wawan penasaran."Tim umum. Mereka lihat vessel yang kemarin." jawab Pak Roger. Lalu ia menoleh ke Albert. "Bert! Panggil yang lainnya. Suruh ke sini sekarang!""Yess! Oke, Pak." Albert dengan senang hati menghentikan latihannya, dan segera menuju Orion Arena.Beberapa saat kemudian, seluruh tim khusus

  • Invasi Beast   Beast di Tubuh Manusia

    Mila menelusuri keramaian, mencari gadis yang mereka curigai. Namun karena semua orang berjalan ke arah yang sama dengannya, Mila kesulitan melihat wajahnya. Ia lalu mencoba mengingat baju gadis itu, warna, bentuk, dan coraknya.Beberapa saat kemudian, ia melihat seseorang yang mengenakan pakaian yang sama dengan bayangannya. Dengan cepat, Mila menyusul dan menyentuh bahunya dari belakang.Sang gadis menoleh."Ada apa?" Tanyanya."Jawab jujur. Kamu vessel, kan?"Gadis itu terkekeh kecil."Langsung nembak, ya? Biasanya orang basa-basi dulu kan?""Aku gak suka buang waktu. Kalo kamu gak jawab, aku anggap iya."Sang gadis memutar matanya. "...Terserah kamu.""Temenku bisa ngerasain aura beast dari kamu. Jelaskan, siapa kamu sebenarnya?"Sang gadis terdiam. "Kalau iya... terus kenapa? Mau tangkep aku?" Ucapnya menatap tajam."Serahkan diri kamu ke Chaser. Kami bisa bantu kamu.""N

  • Invasi Beast   Besi yang Mengalir, Rasa yang Tertinggal

    Keesokan harinya.Riyan mengajak Mila makan siang di sebuah warung makan yang tak jauh dari markas."Tumben kita makan di luar. Jadi bingung besok balesnya gimana," ucap Mila sambil tersenyum ceria.Bersamaan dengan itu, makanan yang mereka pesan datang dibawa oleh pramusaji."Makasih," ujar Mila sopan."Kamu berhasil masuk Chaser aja udah lebih dari cukup," balas Riyan sambil mendekatkan piring ke hadapannya."Tuh kan, susah. Tapi tenang, kamu tunggu aja," sahut Mila santai."Siap! Aku tunggu. Yok makan dulu." Riyan langsung menyendok makanannya."Oke!"Mereka menyantap makanan dengan lahap, sesekali terdengar bunyi sendok bertemu piring. Suasana warung cukup tenang meski ada beberapa pengunjung lain.Tiba-tiba—DEG!!Sebuah gelombang hawa menyeruak di dada Riyan. Hawa yang asing... dan familier di saat bersamaan. Ia berhenti mengunyah, menoleh ke kanan dan kiri, menelusuri s

  • Invasi Beast   Tenang di Sini, Berdarah di Sana

    Mila melangkah masuk ke dalam gedung dengan monumen besar bertuliskan 'PRIORITY'. Ia sampai di depan lift, menunggu dengan sabar di lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, ia segera masuk dan menekan tombol lantai 4 ke ruang yang sering dijadikan tempat berkumpul tim khusus. Lift bergerak perlahan, menapaki satu per satu lantai. Mila bersandar pada dinding logam dingin, menatap samar pantulan wajahnya di pintu lift. *Aku mulai aja kali ya? Jadi..... aku mau gabung ke pasukan Chaser,* gumamnya dalam hati sambil membuka kamera ponsel untuk berkaca. *Kalian gak salah dengar. Aku mau jadi anggota tim khusus. Soalnya, mereka tuh yang pertama turun tangan waktu ada bahaya. Lama-lama aku tertarik juga. Sayang kan, punya kekuatan tapi gak banyak manfaatnya. Jadi… aku mau masuk!* Lift berhenti. Pintu terbuka perlahan, dan suara gaduh dari ruang Komando langsung terdengar. Mila menarik napas panjang, menegakkan bahu, lalu melangkah keluar. *Tapi… hari ini rasanya semuanya beda.* Ia

  • Invasi Beast   Penghubung Dua Dunia

    Mila, sini bentar!” panggilnya kepada Mila yang berada di dekat pintu bungker. “Pemeriksaan mayatnya udah selesai, kan, Pak?!” jawab Mila, masih cemas. “Udah kok. Santai aja!” Dengan langkah hati-hati, Mila mendekat. Wajahnya tetap tegang. “Tujuan kalian Bapak ajak ke sini itu sebenarnya untuk mencari tahu fungsi gapura itu. Kalau soal mayat, itu ‘bonus’ dari Tuhan,” ujar Pak Roger enteng. “Eee… kenapa harus kami, Pak?” tanya Riyan. “Karena menurut saya, gapura itu hanya bisa digunakan oleh beast. Dan beast di pihak kita cuma kalian.” Ia lalu menambahkan, “Atau Ariel tahu sesuatu, Riyan?” “Aku pernah tanya, Pak. Katanya dia cuma liat, belum pernah pakai.” “Ohh… begitu. Baiklah, langsung aja kalian coba.” Pak Roger membawa mereka ke depan g

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status