LOGINPak Roger tengah berbicara lewat panggilan video di layar komputernya.
"Apa kau yakin dengan rencanamu?" tanya sosok di seberang. "Yakin dong. Aku kan bosnya," jawab Pak Roger santai. "Hhhh... kamu mah kebiasaan. Ya udah, aku coba omongin ke pusat," ujar orang itu sebelum memutus sambungan. Layar komputer berganti menampilkan sebuah dokumen berjudul “Kasus Beast dalam di Internet.” TOK TOK TOK! "Masuk." Albert masuk bersama Riyan dan Anton. "Ohh... ternyata kalian. Gimana? Sudah selesai?" tanya Pak Roger sambil menyandarkan tubuh. "Udah, makanya kita ke sini," jawab Albert. "Mereka juga udah setuju buat latihan. Iya, kan?" Riyan dan Anton mengangguk mantap. "Sip." Pak Roger berdiri dan menghampiri mereka. "Kalau gitu, kita ke Forge Room dulu buat pemanasan. Habis itu, ke Arsenal. Kamu juga ikut, Bert." "Hhhh... iya deh..." Mereka tiba di Forge Room, tempat latihan fisik bergaya gym modern. Duta, Rizal, dan Wawan terlihat sedang berolahraga, tapi Pak Roger tak menggubris mereka. "Baik, sekarang kalian pemanasan dulu. Bebas mau ngapain," ujar Pak Roger sembari mulai peregangan. Albert ikut menirukan. Riyan dan Anton saling pandang, bingung. "Ee... kita mau ngapain, Ton?" tanya Riyan sambil melihat alat-alat di sekitarnya. "Gatau juga..." Riyan melirik ke arah barisan treadmill yang kosong. "Kita pakai itu aja, yuk," ajaknya. "Ayok lah, gua bingung juga nih." Mereka mulai jogging. Selama kurang-lebih setengah jam, keduanya berlari hingga berkeringat. Beberapa saat kemudian... "Oke, cukup kalian," kata Pak Roger menghentikan mereka. Riyan dan Anton turun dari treadmill, napas mereka ngos-ngosan. "Nah, capek kan? Istirahat dulu lima menit, abis itu ke Arsenal." "Enggak kok, Pak. Kita gak capek," ucap Riyan, meski jelas masih terengah. "Iya Pak, kita udah siap," tambah Anton. "Oke, kalau gitu ayo." Mereka memasuki ruang sebelah. Luna terlihat sedang latihan menembak, fokus penuh pada sasarannya dan tak memperhatikan kedatangan mereka. Pak Roger membawa mereka ke ring pertarungan. "Kalian akan saya nilai dari gerakan bertarung. Satu lawan satu, oke? Naik ke atas ring," instruksinya. Riyan dan Anton naik dan bersiap. Tapi dua menit berlalu tanpa gerakan, keduanya hanya saling pandang. "Ee... Pak? Ini beneran harus satu lawan satu?" tanya Riyan. "Hahaha... kenapa? Gak bisa lawan temen sendiri ya? Dari tadi cuma plonga-plongo," jawab Pak Roger sambil tertawa. "Hehe, maaf, Pak," ucap Anton sambil menggaruk tengkuknya. "Yaudah, salah satu turun. Saya akan suruh Albert atur robot latihan sebagai lawan." Albert menyiapkan robot, lalu menekan tombol Start. Robot itu langsung memasang kuda-kuda. "Peraturannya simpel: siapa yang jatuh duluan atau keluar dari lingkaran kuning, dia kalah. Siapa yang mau duluan?" Anton menepuk bahu Riyan. "Gua percaya sama elu," katanya sambil tersenyum, lalu turun dari ring. "Kok gitu..." "Siap?" seru Pak Roger. "Satu... Dua... Mulai!" Robot melesat. Riyan tetap diam saja tidak melakukan apapun. Robot itu melayangkan pukulannya. Riyan menghindar dan memegang tangan robot. Dengan cepat, ia memutar tubuh lalu mengerahkan seluruh tenaganya untuk membanting robot ke matras. BRAKK! Layar di mata robot menyala dengan simbol ‘X’. Robot itu kalah. Prok, prok, prok! Suara tepuk tangan menggema. "Wow, hebat juga kamu, Riyan. Saya aja gak kepikiran cara itu," puji Pak Roger. "Hehe, terima kasih, Pak," balas Riyan sambil tersenyum malu. "Sekarang gantian Anton." Anton naik ke ring dan bersiap. Ia menarik napas dalam-dalam. "Peraturannya masih sama. Siap?" "Siap." "Satu... Dua... Mulai!" Pertarungan dimulai. Anton langsung menyerang, berbanding terbalik dengan gaya Riyan yang lebih mengutamakan strategi. Pukulan dan tendangan terus dilancarkan. Beberapa mengenai, sebagian ditangkis. Robot membalas. Pukulan telak mendarat di perut Anton, lalu sebuah uppercut membuatnya terhuyung. Robot berlari, siap memberi pukulan akhir. Tapi Anton sudah bersiap. Ia bertumpu pada matras dan melayangkan tendangan ke arah kepala robot. BRAKK! Robot terpental. Layar matanya memunculkan simbol ‘X’. Anton menang. "Bagus, Anton. Saya suka gaya bertarung kamu," kata Pak Roger sambil bertepuk tangan. "Terima kasih, Pak," ucap Anton sambil terengah. Ia turun dari ring. Riyan memberi tos padanya. "Oke, latihan fisik hari ini cukup. Sambil istirahat, kalian bisa lihat-lihat senjata di sana," ujar Pak Roger sambil menunjuk area penyimpanan senjata. "Saya balik ke kantor dulu. Bert, temani mereka ya." "Siap, Pak." Pak Roger meninggalkan ruangan, sementara Albert mendekat untuk menemani mereka berdua menjelajah Arsenal. "Hhhh... kebiasaan. Padahal tadi udah enak-enak santai," keluh Albert lesu sambil mengusap tengkuk. "Hahaha… sabar ya, Bert," sahut Riyan sambil menepuk bahunya. "Nah, yang mana nih tempat nyimpen senjatanya?" tanya Anton, tak sabar. "Sini, ikutin gua." Mereka bertiga berjalan menuju salah satu sisi Arsenal—tempat penyimpanan berbagai jenis senjata api dan bahan peledak. Rak-rak baja tertata rapi, masing-masing berisi pistol, senapan, granat, dan perangkat tempur lainnya. "Di sini semua senjata yang bisa bikin bunyi 'BOOOMMM' disimpan," jelas Albert sambil menunjuk ke arah deretan senapan dan granat. Riyan dan Anton melongo kagum, mata mereka berkeliling penuh rasa ingin tahu. "Itu juga ada arena tembak," tambah Albert sambil menunjuk ke arah Luna yang masih fokus membidik target. "Bisa dipake buat uji coba granat juga. Tapi mending jangan sih... boros manekin." "Kalo pistol-pistol ini, kelebihan dan kekurangannya apa aja?" tanya Riyan sambil menunjuk salah satu. Albert mengambil sebuah pistol dari rak yang ditunjuk Riyan. "Yang ini ringan, cocok buat jarak dekat sampai menengah. Cepet nembaknya, tapi akurasinya anjlok kalau udah jarak jauh." Ia lalu menunjuk senapan yang digunakan Luna. "Nah, yang dipake Luna itu jagoan di akurasi, daya tembak, dan senyap banget suaranya. Tapi ya... pelurunya cuma satu, jadi tiap tembak harus reload manual." Riyan dan Anton mengangguk, mulai mengerti karakteristiknya. "Kalian boleh coba juga sih... asal siap dimaki Ratu Es," bisik Albert sambil setengah menutupi mulutnya. "Ee… hehe, lanjut aja ya," ucap Anton sambil nyengir canggung. Mereka pindah ke area senjata jarak dekat. "Nah, ini tempat penyimpanan senjata melee," kata Albert. Rak-rak di sini memamerkan berbagai macam senjata: dari belati mungil, pedang bermacam bentuk, knuckle, hingga perisai kecil. Setiap senjata dipajang dalam wadah khusus dengan label dan kode masing-masing. "Gua saranin, kalian pilih senjata yang sesuai dulu. Nanti kita latihan." Riyan dan Anton mulai memilih, meski terlihat kebingungan. Karena mereka tak punya pengalaman dengan senjata-senjata ini. Riyan mengambil sebuah pedang yang familiar. "Ini sama kayak yang dipake pas tes, ya?" tanyanya sambil menyalakan bilah bercahaya biru. Pedang itu mengeluarkan dengungan khas. "Yap, itu light saber. Kelebihannya: ringkas, gampang dibawa, dan lumayan kuat," jawab Albert. "Tapi... kalau diganggu frekuensi getaran tertentu, kadang suka ngeblank." Anton tertarik pada pedang aneh dengan bilah kecil dan gagang besar. Saat ia tanpa sengaja menekan tombol di gagang, pedangnya tiba-tiba memanjang otomatis membentuk bilah penuh. "Wow..." ucap Anton takjub. "Itu namanya nano sword. Sebenernya sih enggak pake teknologi nano juga, cuma namanya udah telanjur keren. Pedang itu yang paling kuat yang kita punya sekarang." Albert menghela napas. "Cuma bentuknya... ya gitu deh. Aku udah coba modif, tapi malah nggak berfungsi." Tiba-tiba… SHINGGG! Suara gesekan logam mendadak terdengar dari belakang mereka. Riyan dengan sigap memutar badan dan menangkis serangan tiba-tiba itu. Anton refleks melompat mundur. "Luna??!"Sementara itu, tubuh Riyan masih tergeletak di sisi lain jembatan. *Riyan! Woy! Bangun!* teriak Ariel dalam hati. Namun tak ada respon. Tubuh Riyan dikerubungi beast yang hendak memisahkan Ariel darinya. Salah satu beast mencengkeram tubuhnya, siap membelah. *BANGUN WOY!!!* Namun masih tanpa belasan. *Karena lu gak bangun, terpaksa gua ambil alih!* Mata Riyan terbuka. Ia memegang tangan beast itu dan membantingnya. "GRRRAAAA!!" Teriakan beast menggema. Riyan berhasil bebas. Seekor beast menyerang dari belakang, namun ia menghindar dan segera menghubungi semua orang lewat whisp. "Halo!" "Riyan!? Lu gak apa-apa?" tanya Anton sambil menebas beast. "I-Ini Riyan!?" Mila terkejut, sampai-sampai kena pukul Thyss. "Bukan. Ini gua, Ariel." "Keadaan Riyan gimana!?"
Hari pun berganti. Riyan bersama tim khusus tengah menjalani latihan fisik sebagai bagian dari kewajiban rutin mereka. Seperti biasa, Duta berlatih angkat beban di Forge room, ditemani oleh Pak Roger, Albert, dan Wawan.Sementara itu, Anton dan Rizal sedang berlatih kelincahan di Arena Orion. Di tempat yang sama, Riyan membantu melatih Mila meningkatkan refleks dan kecepatan geraknya.Tak lama kemudian, ponsel Pak Roger berdering. Ia menurunkan barbel dan menjawab panggilan itu."Halo?" sapanya singkat. "Baik, kami akan segera ke sana. Jangan ambil tindakan apa pun sebelum ada perintah. Amankan lokasi.""Siapa, Pak?" tanya Wawan penasaran."Tim umum. Mereka lihat vessel yang kemarin." jawab Pak Roger. Lalu ia menoleh ke Albert. "Bert! Panggil yang lainnya. Suruh ke sini sekarang!""Yess! Oke, Pak." Albert dengan senang hati menghentikan latihannya, dan segera menuju Orion Arena.Beberapa saat kemudian, seluruh tim khusus
Mila menelusuri keramaian, mencari gadis yang mereka curigai. Namun karena semua orang berjalan ke arah yang sama dengannya, Mila kesulitan melihat wajahnya. Ia lalu mencoba mengingat baju gadis itu, warna, bentuk, dan coraknya.Beberapa saat kemudian, ia melihat seseorang yang mengenakan pakaian yang sama dengan bayangannya. Dengan cepat, Mila menyusul dan menyentuh bahunya dari belakang.Sang gadis menoleh."Ada apa?" Tanyanya."Jawab jujur. Kamu vessel, kan?"Gadis itu terkekeh kecil."Langsung nembak, ya? Biasanya orang basa-basi dulu kan?""Aku gak suka buang waktu. Kalo kamu gak jawab, aku anggap iya."Sang gadis memutar matanya. "...Terserah kamu.""Temenku bisa ngerasain aura beast dari kamu. Jelaskan, siapa kamu sebenarnya?"Sang gadis terdiam. "Kalau iya... terus kenapa? Mau tangkep aku?" Ucapnya menatap tajam."Serahkan diri kamu ke Chaser. Kami bisa bantu kamu.""N
Keesokan harinya.Riyan mengajak Mila makan siang di sebuah warung makan yang tak jauh dari markas."Tumben kita makan di luar. Jadi bingung besok balesnya gimana," ucap Mila sambil tersenyum ceria.Bersamaan dengan itu, makanan yang mereka pesan datang dibawa oleh pramusaji."Makasih," ujar Mila sopan."Kamu berhasil masuk Chaser aja udah lebih dari cukup," balas Riyan sambil mendekatkan piring ke hadapannya."Tuh kan, susah. Tapi tenang, kamu tunggu aja," sahut Mila santai."Siap! Aku tunggu. Yok makan dulu." Riyan langsung menyendok makanannya."Oke!"Mereka menyantap makanan dengan lahap, sesekali terdengar bunyi sendok bertemu piring. Suasana warung cukup tenang meski ada beberapa pengunjung lain.Tiba-tiba—DEG!!Sebuah gelombang hawa menyeruak di dada Riyan. Hawa yang asing... dan familier di saat bersamaan. Ia berhenti mengunyah, menoleh ke kanan dan kiri, menelusuri s
Mila melangkah masuk ke dalam gedung dengan monumen besar bertuliskan 'PRIORITY'. Ia sampai di depan lift, menunggu dengan sabar di lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, ia segera masuk dan menekan tombol lantai 4 ke ruang yang sering dijadikan tempat berkumpul tim khusus. Lift bergerak perlahan, menapaki satu per satu lantai. Mila bersandar pada dinding logam dingin, menatap samar pantulan wajahnya di pintu lift. *Aku mulai aja kali ya? Jadi..... aku mau gabung ke pasukan Chaser,* gumamnya dalam hati sambil membuka kamera ponsel untuk berkaca. *Kalian gak salah dengar. Aku mau jadi anggota tim khusus. Soalnya, mereka tuh yang pertama turun tangan waktu ada bahaya. Lama-lama aku tertarik juga. Sayang kan, punya kekuatan tapi gak banyak manfaatnya. Jadi… aku mau masuk!* Lift berhenti. Pintu terbuka perlahan, dan suara gaduh dari ruang Komando langsung terdengar. Mila menarik napas panjang, menegakkan bahu, lalu melangkah keluar. *Tapi… hari ini rasanya semuanya beda.* Ia
Mila, sini bentar!” panggilnya kepada Mila yang berada di dekat pintu bungker. “Pemeriksaan mayatnya udah selesai, kan, Pak?!” jawab Mila, masih cemas. “Udah kok. Santai aja!” Dengan langkah hati-hati, Mila mendekat. Wajahnya tetap tegang. “Tujuan kalian Bapak ajak ke sini itu sebenarnya untuk mencari tahu fungsi gapura itu. Kalau soal mayat, itu ‘bonus’ dari Tuhan,” ujar Pak Roger enteng. “Eee… kenapa harus kami, Pak?” tanya Riyan. “Karena menurut saya, gapura itu hanya bisa digunakan oleh beast. Dan beast di pihak kita cuma kalian.” Ia lalu menambahkan, “Atau Ariel tahu sesuatu, Riyan?” “Aku pernah tanya, Pak. Katanya dia cuma liat, belum pernah pakai.” “Ohh… begitu. Baiklah, langsung aja kalian coba.” Pak Roger membawa mereka ke depan g







