MasukAng first love ng asawa ko ay nag-post ng isang video sa kanyang social media. Sa video, nagpapasa silang dalawa ng playing card gamit ang kanilang mga labi. Nang mahulog ang card ay nagtagpo ang kanilang mga labi sa isang halik. Hindi sila huminto—parang nawala sa sandaling iyon, mapusok silang naghalikan sa loob ng isang minuto. Ang caption niya: [Still the same clumsy piggy! PS: Ang mga skills ni Steve ay kasing galing tulad ng dati!] Tahimik kong ni-like ang post at nag-iwan ng komento: [Congrats.] Sa sumunod na segundo, tumawag ang asawa ko, galit na galit na sumigaw, "Walang ibang babaeng kasing drama mo! Nakipaglaro lang ako kay Lanie. Bakit naman ummakto ka na parang baliw?" Noon ko napagtanto na ang pitong taon ng pag-ibig ay walang kahulugan. Oras na para umalis ako.
Lihat lebih banyak"Dia?!" tunjuk Grand Duke Everon. Mata para bangsawan lain tertuju pada wanita itu. "Dia yang akan menikah dengan Yang Mulia Raja?!" tanya Grand Duke Everon sekali lagi.
"Benar Yang Mulia Grand Duke," jawab Marquess Riven. Ia tak berani menatap Grand Duke Everon barang sedetik saja. Atau bangsawan manapun di ruangan itu.
Marquess Riven tertunduk dengan memegangi topi beludrunya. Wajah pria paruh baya itu memerah seperti mau menangis.
"Yang Mulia! Ini namanya penghinaan!" sahut bangsawan yang lain.
"Ya! Itu benar!" gemuruh gerutuan para bangsawan bersahut.
Pria yang duduk di kursi tahta menatapnya. Mungkin di seluruh ruang tahta, dia yang paling kaget. Mulutnya menganga seperti ikan kod. Entah sudah berapa lama. Mata emasnya memandang nanar. Belum lagi, dia adalah orang yang harus melakukan ikatan sakral dengan wanita ini.
Dari bawah ke atas, dari atas ke bawah. Hatinya mencelos. Dari panggung berundak dengan kursi tahta yang ia duduki sebagai puncaknya, dia bisa melihat itu semua. Melihat keseluruhan wanita itu menunduk menatap lantai marmer kuning keemasan yang mengilap.
Pria itu menelan ludah, perlahan tubuhnya bangkit. Para bangsawan di sana berbisik. Kakinya melangkah turun menuruni anak tangga marmer dengan bersahaja.
Perawakannya tinggi. Tubuhnya kekar proporsional. Dibalut jubah kerajaan yang resmi nan mewah berwarna biru tua, nyaris hitam. Sulaman emas menghias bagian bawah jubah itu. Rahang menawan dengan bibir merah muda alami. Ada jambang halus yang tertabur di pipinya. Mata pria itu berwarna emas, menyelidik seperti elang, mengilap seperti manik-manik. Hidungnya tinggi, halus dan tajam.
Tak lupa sebuah mahkota emas bertengger di kepalanya. Masih menampakkan sepasang telinga anjing kecil. Mengintip dari balik rambut hitam legam yang menutupi sebagian dahi.
Dialah Raja Ditrian von Canideus.
Kini, ia sudah berdiri jarak setengah meter dari bahan makian para bangsawan hari itu.
Seisi ruangan hening memperhatikan laku raja mereka.
"Berdirilah," ucap Raja Ditrian.
Perlahan dengan ragu dan penuh ketakutan, wanita itu berdiri. Ia belum berani menatap Raja Ditrian.
Seketika pria itu mengernyit muak. Jijik. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas wanita itu.
Kumal mengenakan baju terusan untuk tahanan. Bentuk giginya yang tak beraturan, berbalap dengan bibirnya yang tebal sekali. Bahkan hampir sulit untuk menutup mulutnya dengan rapat dan normal. Giginya sudah menjorok keluar seperti tidak bisa dikendalikan lagi. Hidungnya besar dengan beberapa kutil menempel di sana. Bentuk matanya aneh, terlalu berjauhan. Betul-betul tidak normal. Dia seperti gabungan antara kuda dengan ... entahlah. Katak mungkin.
Rambut wanita itu berwarna pirang keemasan, kusut serabutan dan kotor oleh tanah dan debu-debu. Baru kali ini ia melihat wajah wanita yang hampir mirip kuda. Mungkin ibunya saja yang bisa mencintai wajah itu.
"Yang Mulia, tolong pikirkan baik-baik. Kami tidak bisa memiliki ratu seorang manusia!" protes Grand Duke Everon lagi.
"Tetapi Yang Mulia Grand Duke ... ini adalah titah Baginda Kaisar Julius," suara Marquess Riven lirih berusaha menyanggah. Masih bisa terdengar oleh Raja Ditrian.
"Anda juga, Tuan Marquess! Kenapa Anda tidak protes pada Baginda Kaisar?!" balas Grand Duke Everon. Nada bicaranya meninggi. "Kalau sudah begini kita harus bagaimana?!"
"Cukup," ucap Raja Ditrian setengah berteriak.
Pria-pria itu membungkam mulut mereka seketika. Mata emas Raja Ditrian belum beralih dari wanita buruk rupa di hadapannya. Dia seperti berusaha keras, namun mulutnya cuma bisa bergetar pilu.
"Aku ... akan menikahi wanita ini-," ucapnya dengan lirih ... terdengar sangat terpaksa.
"Yang Mulia!" pekik Grand Duke Everon. "Kami mohon Yang Mulia!"
Kelancangan Grand Duke Everon membuat sang raja menggedik dan mengangkat tangan kanannya. Tepat sebelum bangsawan lain membuka mulut mereka.
"Aku akan menikahi wanita ini ... bukan sebagai ratu. Tetapi seorang selir."
Sesaat berikutnya timbul bisikan-bisikan lainnya. Mungkin mengutuk perempuan itu.
xxx
Dua hari berikutnya, pernikahan mereka pun tiba. Seperti yang diramalkan oleh Raja Ditrian, tak banyak bangsawan yang datang. Tapi di antara tamu-tamu itu, Grand Duke Everon hadir. Wajahnya masam dan terlihat kesal.
"Dengan ini, aku nyatakan kalian sebagai suami dan istri," tutup Pontifex. "Yang Mulia, Anda boleh mencium mempelai Anda."
Ditrian berdiri di altar dengan pakaian dan jubah biru tua yang rapi serta mewah. Sementara Putri Sheira mengenakan gaun putih anggun dengan renda emas yang telah disiapkan oleh dayang istana.
Perlahan tangan Ditrian mengangkat tudung putih transparan yang menutupi wajah istri barunya. Masih buruk rupa. Mata wanita itu sama sekali tak menatap. Wajahnya datar dan terlihat enggan dengan ini semua. Begitu juga Ditrian. Tapi ia harus mencium wanita itu agar semua ritual ini bisa diakhiri.
Kepalanya sudah mendekat, lalu ia mencium pipi putih Putri Sheira sesingkat itu.
Beberapa tamu di sana bertepuk tangan dengan malas. Grand Duke Everon bahkan hanya menatap sinis dari jauh sambil masih memasukkan tangannya ke kantung celana. Seusai ritual itu, selir baru Raja Ditrian digiring oleh para dayang. Para bangsawan menyelamatinya lalu pulang.
Bukan pesta pernikahan yang apik untuk seorang raja. Tidak ada suka cita.
Raja Ditrian duduk di salah satu meja yang sengaja disiapkan untuk pernikahannya. Ia duduk di sana, meminum anggur yang tadi disiapkan untuk momen bersulang. Kuil sudah lebih lengang, hanya ada beberapa ksatria, dan Patricius berlalu lalang dengan jubah putih mereka di dalam kuil.
"Aku tidak tahu harus memberimu selamat atau tidak," ucap Grand Duke Everon. Tangannya masih ada di dalam saku. Tubuhnya sudah berdiri dekat.
Ditrian tersenyum pahit lalu menuangkan botol anggur lagi ke dalam gelasnya. Everon menggeser kursi kosong di sana agar bisa duduk dekat dengan Ditrian.
"Aku sepupumu, sahabatmu dari kecil. Saat kau jadi raja, kupikir pernikahanmu akan jadi yang paling meriah. Kau bisa menikah dengan Direwolf yang paling cantik, diarak ramai-ramai ke seluruh kota dan rakyat di seluruh kerajaan bersorak untukmu."
Ditrian kembali menyesap anggur merah ke dalam mulutnya.
"Sebagian besar bangsawan menentang pernikahan ini. Bahkan Pontifex pun sebenarnya tidak mau menikahkanmu." Mata Everon menunjuk ke Pontifex di salah satu sudut kuil, membuat Ditrian memperhatikannya juga. Pria itu hanya melirik rajanya dengan iba, lalu kembali mengobrol dengan dua orang Patricius di sana.
"Kalau aku yang jadi raja, pernikahan ini tidak akan terjadi. Aku akan menolak mentah-mentah!"
Ditrian meletakkan gelas anggurnya, menyebabkan hentakan kecil pada meja itu.
"Lalu membangkang pada kekaisaran? Kau mau kita berperang lagi?" Ditrian terlihat lelah.
Everon hanya mendengkus sambil memutar matanya dengan malas. Ia juga paham soal itu. Ditrian hanya melakukan apa yang harus dilakukan seorang raja. Pria itu akan selalu begitu.
"Sudahlah." Ditrian menepuk bahu sepupunya. Ia menghela nafas dengan berat.
Wajah Everon masih pahit.
"Lalu, kau akan punya anak dengan selirmu itu?" ketusnya.
Ditrian hening sejenak. "Aku tidak tahu ... tapi dia istriku sekarang."
xxx
Ditrian menyusuri koridor istana ratu yang tenang. Sudah memakai jubah tidurnya. Ia tak menuju ke kamar ratu, tetapi menuju ke ruangan lain yang lebih kecil. Dahulu ini adalah bagian kastil yang selalu ia kunjungi, setidaknya saat makan siang untuk bertemu dengan mendiang ibunya, sang Ratu. Namun setelah kedua orang tuanya tiada, ia nyaris tak pernah lagi. Mungkin setelah sekian lama akhirnya ia menyusuri koridor berpilar yang punya pemandangan taman bunga yang asri. Seperti sebuah nostalgia. Meskipun begitu ... ia punya dugaan bahwa akan merasakan sesuatu yang asing malam ini.
Seperti yang telah dia sebutkan, Putri Sheira hanya dijadikan seorang selir. Jadi dia tidak berhak untuk menempati kamar ratu. Dua orang penjaga terlihat berjaga di depan sebuah pintu putih tinggi dari pohon ek. Ia telah sampai.
"Aku ingin menemui Putri Sheira," ucap Ditrian pada mereka. Keduanya membungkuk singkat, lalu meninggalkan pintu itu.
Ditrian bergeming di tengah koridor yang sepi. Ia menatap lurus cukup lama pada hiasan khas Kerajaan Canideus pada pintunya. Lalu menghela nafas. Sendu.
Istriku ....
Narinig ko ang mga sinabi ni Steven, wala akong naramdaman. Walang galit, walang lungkot—wala lang.Ito ay totoo. Sa sandaling tumigil ka sa pagmamahal sa isang tao, ang kawalang-interes na lang ang natitira."Steven, mahigit sampung beses kitang tinawagan noong araw na iyon, at tinanggihan mo ang bawat tawag ko," malamig kong sabi. "At anong ginagawa mo noong mga panahong iyon? Oh, naalala ko na. Nakikipaghalikan ka kay Melanie."Nakatayo sa malapit, inosenteng kumurap si Melanie at lumapit na may hawak na baso ng red wine.Matamis niyang sinabi, "Anya, hindi ko talaga alam na ganoon ka-urgent ang sitwasyon mo noon. Hindi mo ba mapapatawad si Steve?"Tignan mo—kakahiwalay mo lang sa kanya at nakahanap ka na agad ng kapalit. Pero hindi katulad mo, laging nasa iyo ang puso ni Steve. Let's let bygones be bygones. Hinayaan ko na ‘yon."Lumingon ang lahat sa akin, naghihintay ng reaksyon ko.Kinuha ko yung baso sa kamay niya tapos... ibinuhos ko ito ng diretso sa ulo niya.Ang red
Hindi nagtagal, natanggap ko ang mga text ni Melanie.Melanie: [Huwag mong isipin na maaari mong gamitin ang divorce bilang banta para nakawin ang pag-mamahal ni Steve!]Melanie: [Mahal niya ako. Ang kumpanya ni Steve, ang kanyang pera, ang kanyang bahay—lahat ay magiging akin.]Melanie: [Magiging asawa na ako ng amo ko!]kalmadong sagot ko sa kanya.Anya: [Well, ang totoo, mistress ka lang.]Sumagot naman ni Melanie.Melanie: [Ang hindi lang niya mahal ay ang maybahay.]Oh, ang kawawang tanga. Hindi niya siguro alam na nasa pangalan ko ang bahay.Tungkol sa kumpanya... Gumawa ako ng group chat kasama ang ilang pinagkakatiwalaang dating kasamahan mula sa dati kong pinagtatrabahuan—yung mga may kakayahan at maaasahan.Sinabi ko sa kanila ang tungkol sa aking bagong venture at nag-extend ng imbitasyon. Magiging pareho ang suweldo, at ang mga komisyon ay magiging mas maganda.Ang tugon nila ay maganda.[Anya, tama na ang kaguluhang dulot ng babaeng dinala ni Mr. Cobham !][Si
Sa aking narinig, isang alon ng pagkasuklam ang bumalot sa akin.Naalala ko ang isang partikular na araw nang sabihin ni Steven na gusto niya ng barbecue ribs. Dahil sa matinding sikat ng araw, bumili ako ng mga sariwang ribs at naghanda ng isang magandang plato ng malagkit, masarap na pagkain, at inihatid ito sa kanyang opisina.Tuwang-tuwa ako, umaasang matitikman niya ang luto ko. Sa halip, pinadalhan ako ni Melanie ng larawan ng kanyang "puppy" na kumakain ng ribs.Melanie: [Anya, ayaw ni Steve ng maalat. Bawasan mo ng asin sa susunod, okay?]Masakit ang alaala, ngunit habang tinitingnan ko ang gulong-gulong lalaki sa harapan ko, ang tanging naramdaman ko ay pang-aalipusta.Natuwa si Steven sa kilig sa paghabol kay Melanie, sa kanyang mapaglarong alindog at sa emosyonal na pagpapatunay na iniaalok niya. Ngayon, gusto niya ang kaginhawaan at nang maaasahan na ibinigay ko noon.Gusto niya ito sa dalawang paraan.Sa kasamaang palad, ang mundo ay hindi gumagana nang ganoon.Mal
Matagal kong tinitigan ang litrato, nawala sa pag-iisip.Tahimik na lumapit si mama, tinapik ang balikat ko. “ Annie, ang anak ni Tracy na si Liam ay kakabalik lang sa bansa. Tara kumain tayo ng magkakasama."Nag-alinlangan siya, tinitigan ako ng malapitan.Alam ko kung ano ang sinusubukan niyang gawin—ipakilala mo ako sa isang taong sa tingin niya ay magiging mabuting kapareha.Nag-aalala siyang tatanggihan ko ang ideya nang tahasan, dahil sa panghabambuhay kong paninindigan bilang tagapagtaguyod para sa "libreng pag-ibig."Binigyan ko siya ng isang mahinang ngiti na hindi mabasa. "Okay."Siguro dahil sa pagkakasala—alam kong nagdulot pa rin ako ng pag-aalala sa aking mga magulang kahit na nasa tamang edad na ako. O marahil ay napagtanto ko na ang aking panlasa sa mga lalaki ay napakahirap.Ang "tunay na pag-ibig" na pinaniniwalaan ko ay naging isang pagkukunwari. Marahil ang pag-ibig na binuo sa ibinahaging mga halaga at pantay na katayuan ay magtatagal.Nagliwanag ang aking
Hinimas ko ang aking tiyan, masakit pa rin dahil nakunan ako at naisip, I'm sorry, little one. Dumating ka sa maling oras.'Sa paglunok ng pisikal at emosyonal na sakit, ni-replay ko ang video ni Melanie Jacobson. Napuno ang screen ng kanyang namumulang pisngi, kumikinang na mga mata, at nag-uuma
Biglang naputol ang tali sa isip ko. Sa sandaling iyon, naging malinaw ang lahat.Ang pitong taong pag-ibig ay hindi kayang makipagkumpitensya sa isang matamis na pangungusap mula kay Melanie.Parang naubos ang kaluluwa ko sa katawan ko. Dahil sa pagod, napahiga ako sa kama at nakatulog ng mahimbi
Tama, pitong taon kaming nag-date ni Steven at limang taon na kaming kasal.Noong nasa school, halos usap-usapan sa campus ang paghahanap ko sa kanya.Pagkatapos magpakasal, lumipat kami sa hindi nagamit na villa ng aking mga magulang.Ibinigay ko ang aking ipon para tulungan siyang magsimula ng
Pagdating ko sa bahay ng mga magulang ko, mukhang nagulat ang tatay ko at nagtanong, "Sweetheart, bakit napauwi ka dito?"Napayuko ako, walang sinasabi.Nagdilim ang mukha ng nanay ko nang mapansin ang namumugto kong mga mata."Annie," tanong niya, "Sabihin mo sakin—sinaktan ka ba ni Steven?"Is






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.