Remang-remang cahaya terlihat di upuk timur…
Empat jam setelah perjalanan menuju ibukota, bus yang mengantar akhirnya berhenti di taman kota. Isela turun dengan kesulitan, menggendong dan menyeret koper kecilnya menyusuri pinggiran jalan yang begitu sunyi sepi hanya menampakan sisa-ssa kegemerlapan ibukota melalui lampu-lampu yang masih menyala. Ini untuk pertama kalinya Isela pergi keluar kota, berjalan sendirian hanya mengandalkan secarik kertas berisi alamat tujuannya andai dia tidak menemukan wanita yang bernama Lilith. Setiap langkah yang Isela ambil terasa begitu berat, dijejaki kesedihan dan harapan yang masih abu-abu. Hatinya hancur berantakan terpisahkan dengan ibunya yang tidak Isela ketahui seperti apa nasibnya setelah membantunya kabur. Langkah Isela perlahan terhenti kala melihat wanita paru baya yang tengah duduk sendirian sambil melihat-lihat jalanan. Menyadari kedatangan seorang gadis, Lilith yang telah cukup lama duduk menunggu perlahan bangkit dan menghampirinya dengan tatapan tajam. Di bawah cahaya lampu-lampu taman, Lilith memfokuskan diri pada sepasang mata Isela yang, satu-satunya ciri-ciri yang bisa Lilith ingat dari sosoknya. “Kau Isela kan?” tanya Lilith begitu melihat satu mata Isela yang sedikit memutih akibat kebutaan. Isela mengangguk dengan senyuman. “Benar.” “Aku Lilith. Ayo ikut aku sekarang,” jawab Lilith terdengar datar, tanpa berbasa-basi Lilith pun membantu menarikkan koper Isela dan membawanya pergi mencari taksi untuk mengantar mereka menuju tempat tujuan. Sepanjang jalan menuju rumah baru, jantung Isela mulai berdebar kencang tidak karuan karena gugup dan takut yang menjadi satu. Isela mulai membayang-bayang seperti apa rupa ayahnya dan apa reaksinya saat nanti mereka berjumpa untuk pertama kalinya. Ingin sekali Isela bertanya, mengapa selama ini ayahnya tidak pernah datang dalam kehidupannya dan mengharuskan Catelyna membesarkannya seorang diri. Apakah karena ayahnya malu memiliki anak yang kekurangan sepertinya? Bagaimana jika ternyata ayahnya memiliki keluarga dan mereka tidak menerima kehadiran Isela? Isela menjilati bibirnya yang mengering, beberapa kali dia mengatur napas agar tetap tenang dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi jika dia bertemu dengan ayahnya. “Kau berasal dari kota mana?” tanya Lilith ditengah kesunyian. “Saya dari kota Andreas,” jawab Isela pelan nyaris tidak terdengar. Lilith tidak lagi bertanya, tampaknya dia tidak begitu tertarik dengan apapun urusan Isela. Satu jam lebih setelah melewati perjalanan, akhirnya taksi itu sampai di depan sebuah rumah yang tertutup rapat oleh gerbang kayu yang menjulang tinggi. Lilith tidak membutuhkan izin untuk masuk, wanita itu langsung mendorong gerbang itu untuk sedikit bergeser dan membawa Isela masuk. Saat kaki Isela melangkah masuk ke dalam rumah itu, jantungnya berdebar semakin kencang dan tangannya gemetar berkeringat dingin. Isela terperangah takjub melihat rumah besar dan megah dihadapannya, hati kecilnya sampai bertanya, apakah benar ini rumah orang tuanya? Begitu jauh berbeda dengan rumah bedeng tempatnya tinggal selama ini, rumahnya bahkan tidak pernah bisa terlihat bagus sekalipun Isela berusaha merapikannya. Ditengah ketakjubnya, Isela mulai tertunduk memperhatikan penampilannya sendiri yang berpakaian lusuh dengan beberapa lebam bekas pukulan dan kondisi satu mata yang tidak bisa melihat. Tanpa sadar Isela senyuman malu, bahkan sepatunya yang penuh debu itu terlihat tidak cocok menginjakkan kakinya disetiap jalanan pekarangan rumah ayahnya. Langkah Lilith perlahan terhenti sebelum dia menginjakkan kaki di teras rumah besar itu. “Lilith, siapa dia?” suara merdu seseorang gadis terdengar. Isela menengok perlahan, seluruh kulitnya meremang dan detak jantungnya berdebar semakin kencang melihat seorang gadis cantik seusianya tengah duduk anggun. Di sisi gadis itu terdapat seorang pemuda yang tengah bermain dengan seekor anjing, dan diantara keduanya terdapat seorang pria paruh baya berwajah tampan duduk tenang terbalut pakaian golf. Pupil mata Isela gemetar kala pandangan bertemu dengan pria paruh baya itu. ‘Apakah itu ayahku?’ batin Isela bertanya. “Beri salam Isela,” bisik Lilith memperingatkan. Dengan gerakan kaku, Isela membungkukkan badannya untuk memberi hormat. Grayson beranjak dari tempat duduknya dan mendekat. Pandangan Grayson menyapu, terfokus pada lebam ditangan dan lengan Isela, begitupun dengan wajah sembabnya dengan satu mata yang memutih. Jika Grayson perhatikan, gadis itu sepantaran dengan putri bungsunya. “Dia siapa, Lilith?” tanya Grayson. Perlahan Isela tertunduk menahan tangisan, begitu sadar bahwa ternyata Grayson tidak mengetahui kedatangannya. Lantas siapa yang mengizinkan dia dibawa ketempat ini? “Namanya Isela. Dia anaknya teman nyonya Dahlia. Saya hanya ditugaskan untuk menjemput Isela di taman kota. Nyonya bilang, mulai sekarang Isela akan tinggal disini untuk melanjutkan sekola sekaligus menjadi pelayan baru yang akan menggantikan Regina mulai minggu depan,” jawab Lilith. Deg! Hati Isela mencelos, gadis itu membeku menatap getir Lilith yang memperkenalkan dirinya sebagai pelayan baru, bukan anak dari Grayson Benjamin. Rupanya, Isela datang ke rumah ini atas izin isteri Grayson. Kenapa Catelyna begitu percaya diri bahwa Isela akan disekolahkan dan mendapatkan kesembuhan dari batuan ayahnya, jika Grayson sendiri tidak tahu bahwa dia memiliki anak lain, yaitu Isela. “Ibu tidak pernah bercerita tentang hal ini sebelumnya,” sahut Avery. “Saya juga tidak tahu, Nona Avery. Biar nanti nonya yang menjelaskan,” jawab Lilith. “Bawa dia beristirahat, sepertinya kelelahan,” perintah Grayson. “Baik, Tuan.” Lilith mengedikan dagunya memberi isyarat agar Isela mengikutinya dari belakang. Tanpa bicara sepatah katapun, Isela tertunduk menatap jalanan sambil mengusap kasar matanya yang berair tidak dapat menahan tangisan karena harus menelan kenyataan yang jauh lebih pedih dari apa yang dia takutkan. Isela pikir, kedatangannya ditunggu.. Ternyata, jangankan untuk ditunggu, dikenalipun tidak. Apa mungkin karena ibunya seorang wanita penghibur, bagi Grayson, Catelyna hanya sebatas perempuan yang perlu diberi uang setelah berjasa menyenangkan? Tapi, kenapa Catelyna begitu percaya diri menyerahkan Isela ke rumah yang bahkan semua orang yang ada didalamnya tidak mengenali Isela? Langkah Isela memelan, gadis itu menengok ke belakang sejenak dan menatap sedih Grayson yang ternyata memiliki irish mata sama seperti dirinya. Isela kambali melihat jalanan yang dipijaknya, mengusap kasar wajahnya untuk menyingkirkan air matanya yang kembali jatuh.Wajah Isela terangkat, berusaha untuk tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang dan kaki gemetar lemas seperti jelly. Isela datang hanya untuk menegur, tapi pria itu membalasnya dengan cara yang kejam, menghadapkan langsung dirinya pada anjing besar yang siap menerkam. Geraman rendah dan hembusan napas panas hewan itu memperparah ketakutan Isela. “Aku datang untuk bicara denganmu, bukan untuk mati,” bisik Isela nyaris putus asa, “singkirkan anjingmu, aku mohon.” “Tidak mau,” tolak Jach menikmati ketakutan gadis dihadapannya seperti seekor kelinci yang terpojokkan. “Dia tidak akan menggigit kan?” tanya Isela lagi dengan napas tersengal. Jach menggeleng. “Hanya mengoyak.” Isela tercekat kaget. Dengan tangan gemetar dan sisa-sisa keberaniannya, Isela memutuskan untuk melepas kacamatanya, dan melemparkannya sejauh mungkin untuk mengalihkan perhatian anjing itu. Kilatan cahaya kaca yang terlempar langsung menarik perhatian anjing besar itu. Hewan itu melesat pergi mengambil be
Siang telah berlalu, Isela yang telah cukup lama beristirahat akhirnya pergi ke dapur untuk membantu Lilith dan Regina menyiapkan makan malam.Mengenyahkan segala kesedihan dan kecewanya dari kenyataan, Isela memutuskan untuk tidak terpuruk.Isela harus tetap memanfaatkan setiap kesempatan yang datang sekecil apapun itu, Isela harus optimis bahwa masih ada cahaya untuk masa depannya sekalipun rumah yang dia pikir akan menjadi tempatnya pulang hanya memberinya tempat berteduh sementara waktu.Isela tidak akan mengeluh, dia harus bertahan dan berjuang untuk mengubah masa depannya agar bisa menyelamatkan Catelyna.“Ibumu dan nyonya Dahlia pasti sangat dekat, sampai-sampai nyonya Dahlia bersedia menampung dan menyekolahkanmu disini,” kata Regina sambil bersandar di meja dapur.Isela hanya tersenyum tanpa kata, dia memilih fokus pada pekerjaannya mencuci satu persatu sayuran dan merapikannya di keranjang untuk dikeringkan."Bagaimana ibumu bisa mengenal artis papan atas seperti nyonya Dahl
Isela akhirnya duduk dihadapan Grayson, diam-diam gadis itu meremas berkas dalam genggamannya dengan napas memberat. Rasanya sangat sesak, duduk berhadapan dengan seseorang yang Isela tahu bahwa itu adalah sosok ayahnya, sementara ayahnya tidak mengenali siapa dirinya.Grayson menegakan tubuhnya perlahan, matanya bergerak lembut menyapukan pandangannya, melihat kembali lebam ditangan Isela yang sempat dia lihat satu jam lalu.Melihat kondisi gadis itu yang terlihat tidak begitu baik, Grayson sadar bahwa mungkin ini alasan isterinya bersedia menampung gadis itu di rumah.Isela mengalami sesuatu yang sulit dan dia butuh tempat untuk berlindung.“Isteriku sudah berbicara beberapa hal tentangmu. Setelah beberapa pertimbangan, aku mengizinkanmu tinggal di sini sampai nanti kau lulus sekolah menengah atas, kau bisa membantu pekerjaan rumah setiap selesai pulang sekolahmu, aku akan menghitungnya sebagai pekerja paruh waktu dengan gaji yang semestinya,” ucap Grayson memulai percakapan dengan
“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya, jika akan ada seseorang tinggal di rumah kita?” tanya Grayson, berbicara dengan isterinya melalui telepon. “Maafkan aku, Sayang. Ini sangat mendadak, aku sampai lupa untuk memberitahumu.” “Dia anaknya siapa? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya,” tanya Grayson penasaran. “Isela anaknya teman semasa sekolahku dulu, orang tuanya telah tiada dan sebatang kara, karena itu aku membawanya. Kau bisa membantu proses beasiswanya? Aku berencana menjadikan dia pelayan untuk menggantikan Regina yang akan menikah. Dia bisa bantu-bantu Lilith saat keteteran melayani Avery, Sanders dan Riven.” Grayson mengusap keningnya dengan pijatan, ia tampak tidak begitu setuju denan rencana isterinya yang memberikan Isela bantuan sekaligus memberinya pekerjaan. “Dia masih muda, jika masih sekolah, lebih baik bawa dia ke panti asuhan,” ucap Grayson dengan serius. “Usianya sudah legal jika menjadi pekerja. Aku juga sudah berjanji pada ibunya, dia hanya ti
Remang-remang cahaya terlihat di upuk timur… Empat jam setelah perjalanan menuju ibukota, bus yang mengantar akhirnya berhenti di taman kota. Isela turun dengan kesulitan, menggendong dan menyeret koper kecilnya menyusuri pinggiran jalan yang begitu sunyi sepi hanya menampakan sisa-ssa kegemerlapan ibukota melalui lampu-lampu yang masih menyala. Ini untuk pertama kalinya Isela pergi keluar kota, berjalan sendirian hanya mengandalkan secarik kertas berisi alamat tujuannya andai dia tidak menemukan wanita yang bernama Lilith. Setiap langkah yang Isela ambil terasa begitu berat, dijejaki kesedihan dan harapan yang masih abu-abu. Hatinya hancur berantakan terpisahkan dengan ibunya yang tidak Isela ketahui seperti apa nasibnya setelah membantunya kabur. Langkah Isela perlahan terhenti kala melihat wanita paru baya yang tengah duduk sendirian sambil melihat-lihat jalanan. Menyadari kedatangan seorang gadis, Lilith yang telah cukup lama duduk menunggu perlahan bangkit dan menghampiriny
Sebuah sedan hitam bergerak cepat melintasi kegelapan malam yang berkabut, suara mesin yang kasar terdengar berdecit setiap kali dipaksakan untuk melaju lebih kencang.Catelyna menghisap rokoknya dalam-dalam, menyebarkan asap didalam sedan yang tengah dia kendarai, wajah cantiknya terlihat penuh dengan luka lebam sampai bibirnya mengalami robekan dengan sisa-sisa darah yang mengering.Di sisi Catelyna, terdapat seorang gadis muda yang tengah memeluk erat tasnya dengan gelisah, dua pasang bola mata yang berbeda warna itu memandangi spion dengan penuh ketukan, dalam hatinya dia tidak berhenti merapalkan do’a agar orang-orang yang mengejar mereka tidak dapat menyusul.“Ibu akan mengantarmu sampai halte, akan ada bus terakhir yang lewat sebentar lagi menuju ibukota. Katakan pada sopirnya agar kau berhenti di taman kota, di sana kau akan bertemu dengan seseorang bernama Lilith, dia akan membawamu ke rumah ayahmu,” ucap Catelyna.“Kenapa aku harus pergi sendiri? Kita bisa pergi berdua,” bis