“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya, jika akan ada seseorang tinggal di rumah kita?” tanya Grayson, berbicara dengan isterinya melalui telepon.
“Maafkan aku, Sayang. Ini sangat mendadak, aku sampai lupa untuk memberitahumu.” “Dia anaknya siapa? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya,” tanya Grayson penasaran. “Isela anaknya teman semasa sekolahku dulu, orang tuanya telah tiada dan sebatang kara, karena itu aku membawanya. Kau bisa membantu proses beasiswanya? Aku berencana menjadikan dia pelayan untuk menggantikan Regina yang akan menikah. Dia bisa bantu-bantu Lilith saat keteteran melayani Avery, Sanders dan Riven.” Grayson mengusap keningnya dengan pijatan, ia tampak tidak begitu setuju denan rencana isterinya yang memberikan Isela bantuan sekaligus memberinya pekerjaan. “Dia masih muda, jika masih sekolah, lebih baik bawa dia ke panti asuhan,” ucap Grayson dengan serius. “Usianya sudah legal jika menjadi pekerja. Aku juga sudah berjanji pada ibunya, dia hanya tinggal menunggu satu tahun lagi untuk lulus sekolah, itu bukan waktu lama bagi kita mengurusnya,” jawab Dahlia memelas. Grayson menghela napasnya dengan berat, menimang-nimang apa keputusan yang dia ambil atas permintaan tida biasa isteriya. Dahlia adalah seorang artis papan atas, hampir setiap hari dia selalu sibuk dengan pekerjaannya, rasanya aneh ketika secara tiba-tiba Dahlia mendatangkan seorang anak perempuan dengan asal usul yang antah berantah. Bagaimana jika gadis itu membuat masalah selama tinggal di rumahnya? “Ayolah Grayson, untuk kali ini saja aku mohon padamu,” pinta Dahlia sekali lagi. “Baiklah,” jawab Grayson dengan berat hati menyetujui keinginan isterinya untuk mengizinkan Isela tinggal di rumahnya dan menyekolahkannya. *** Sebuah kamar sederhana berjajar dengan kamar pelayan lain akhirnya Isela dapatkan. Di kamar itu sudah tersedia kamar mandi, sebuah lemari dan ranjang kecil yang nyaman. Isela suka.. Akhirnya dia memiliki kamar yang terdapat jendelanya.. Isela terduduk disudut ranjang dengan rambut yang setengah basah, gadis itu membuka koper dan tas yang telah dibawanya untuk ditata di tempat baru. Saat Isela mengeluarkan beberapa berkas, tanpa sengaja dia menjatuhkan kaleng bekas minyak rambut milik ibunya yang ditempeli secarik kertas dengan tulisan tangan yang berantakan. Isela mengambilnya kembali dari lantai dan membacanya. ‘Itu uang yang aku tabungkan selama dua tahun terakhir, selebihnya aku mencurinya dan Issabel. Gunakanlah untuk semua keperluanmu.’ Dibukanya kaleng itu yang terdapat sebuah kartu dengan buku tabungan berisi uang sejumlah tiga ribu dollar dan segulung uang yang diikat oleh karet. Sudut bibir Issela sedikit terangkat mengukir senyuman sedihnya. Isela sudah pergi sampai sejauh ini karena perjuangan ibunya, maka dia harus bertahan dan berjuang agar tidak mengecewakan ibunya. Isela akan mencari kesempatan dan waktu yang tepat untuk memberitahu Grayson bahwa dia adalah putrinya. Isela tidak akan menuntut apapun andaipun Grasyon menolaknya, dia bicara hanya untuk memberitahu lelaki itu bahwa dia juga anaknya. Tok tok tok Lilith muncul diambang pintu. “Tuan Grayson ingin berbicara denganmu, temui beliau di lantai dua dan bawa berkas sekolahmu, dia ingin melihatnya. Jika kau tidak tahu jalan, telusuri saja ruangan samping dan cari tangga, tuan Grayson ada di ruangan paling ujung berpintu hitam.” Tanpa membuang waktu, Isela mengambil semua yang diperlukan, sejenak berdiri didepan cermin untuk mengatur napas, mengumpulkan kekuatan untuk tetap tegar dan tidak terbawa perasaan saat nanti berbicara untuk pertama kalinya dengan Grayson. Isela akhirnya keluar dari kamar. Setiap jengkal lantai yang Isela lalui tidak lepas dari kekaguman, satu demi satu ruangan yag tidak dikenal terlewati. Langkah Isela perlahan terhenti saat tidak sengaja melihat potret photo besar terpajang di dinding. Di potret photo itu, Grayson duduk berdampingan dengan seorang wanita cantik jelita, dikelilingi oleh ketiga anaknya yang memiliki paras menawan, terlihat harmonis dan begitu sempurna. Isela tersenyum samar, hatinya ditelusupi sakit, tertampar oleh kenyataan yang menyadarkan diri, bahwa kehadirannya sudah seperti setitik nila yang akan menghancurkan kesucian keluarga Grayson. Isela hanya seorang anak wanita penghibur, dia juga cacat. Apa yang bisa Isela harapkan? Tampaknya dia harus tahu diri tanpa perlu diingatkan siapapun. “Untuk apa kau berkeliaran di sini?” tegur Avery yang tidak sengaja berpapasan dengan Isela. Isela menurunkan pandangannya seketika begitu kedapatakan tengah memandangi potret photo keluarga Grayson. “Saya dipanggil tuan Grayson untuk menghadap ke ruangannya,” jawab Isela dengan suara bergetar. “Lain kali, jangan sembarangan berkeliaran.” “Saya mengerti, permisi.” Isela terburu-buru pergi mencari tangga yang telah disebutkan oleh Lilith. Avery melipat tangannya didada, gadis itu tidak berhenti memandangi kepergian Isela dengan tatapan yang sinis. Meski baru pertama kali bertemu dan melihatnya, entah mengapa Avery sangat tidak suka dengan keberadaan Isela. Disisi lain, Isela yang telah sampai di depan pintu ruangan kerja Grayson kini mengetuk pintu beberapa kali. “Masuk,” perintah Grayson. Memegang erat semua berkas sekolahnya, ragu-ragu Isela membuka pintu dan melihat keberadaan Grayson yang tengah duduk di kursi kerjanya. Dengan langkah gemetar, Isela menghadap Grayson, mempertahankan kepalanya agar tetap terangkat lurus tanpa menyembunyikan wajahnya lagi. “Anda memanggil saya?” Grayson mengangguk samar. “Silahkan duduk.”Wajah Isela terangkat, berusaha untuk tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang dan kaki gemetar lemas seperti jelly. Isela datang hanya untuk menegur, tapi pria itu membalasnya dengan cara yang kejam, menghadapkan langsung dirinya pada anjing besar yang siap menerkam. Geraman rendah dan hembusan napas panas hewan itu memperparah ketakutan Isela. “Aku datang untuk bicara denganmu, bukan untuk mati,” bisik Isela nyaris putus asa, “singkirkan anjingmu, aku mohon.” “Tidak mau,” tolak Jach menikmati ketakutan gadis dihadapannya seperti seekor kelinci yang terpojokkan. “Dia tidak akan menggigit kan?” tanya Isela lagi dengan napas tersengal. Jach menggeleng. “Hanya mengoyak.” Isela tercekat kaget. Dengan tangan gemetar dan sisa-sisa keberaniannya, Isela memutuskan untuk melepas kacamatanya, dan melemparkannya sejauh mungkin untuk mengalihkan perhatian anjing itu. Kilatan cahaya kaca yang terlempar langsung menarik perhatian anjing besar itu. Hewan itu melesat pergi mengambil be
Siang telah berlalu, Isela yang telah cukup lama beristirahat akhirnya pergi ke dapur untuk membantu Lilith dan Regina menyiapkan makan malam.Mengenyahkan segala kesedihan dan kecewanya dari kenyataan, Isela memutuskan untuk tidak terpuruk.Isela harus tetap memanfaatkan setiap kesempatan yang datang sekecil apapun itu, Isela harus optimis bahwa masih ada cahaya untuk masa depannya sekalipun rumah yang dia pikir akan menjadi tempatnya pulang hanya memberinya tempat berteduh sementara waktu.Isela tidak akan mengeluh, dia harus bertahan dan berjuang untuk mengubah masa depannya agar bisa menyelamatkan Catelyna.“Ibumu dan nyonya Dahlia pasti sangat dekat, sampai-sampai nyonya Dahlia bersedia menampung dan menyekolahkanmu disini,” kata Regina sambil bersandar di meja dapur.Isela hanya tersenyum tanpa kata, dia memilih fokus pada pekerjaannya mencuci satu persatu sayuran dan merapikannya di keranjang untuk dikeringkan."Bagaimana ibumu bisa mengenal artis papan atas seperti nyonya Dahl
Isela akhirnya duduk dihadapan Grayson, diam-diam gadis itu meremas berkas dalam genggamannya dengan napas memberat. Rasanya sangat sesak, duduk berhadapan dengan seseorang yang Isela tahu bahwa itu adalah sosok ayahnya, sementara ayahnya tidak mengenali siapa dirinya.Grayson menegakan tubuhnya perlahan, matanya bergerak lembut menyapukan pandangannya, melihat kembali lebam ditangan Isela yang sempat dia lihat satu jam lalu.Melihat kondisi gadis itu yang terlihat tidak begitu baik, Grayson sadar bahwa mungkin ini alasan isterinya bersedia menampung gadis itu di rumah.Isela mengalami sesuatu yang sulit dan dia butuh tempat untuk berlindung.“Isteriku sudah berbicara beberapa hal tentangmu. Setelah beberapa pertimbangan, aku mengizinkanmu tinggal di sini sampai nanti kau lulus sekolah menengah atas, kau bisa membantu pekerjaan rumah setiap selesai pulang sekolahmu, aku akan menghitungnya sebagai pekerja paruh waktu dengan gaji yang semestinya,” ucap Grayson memulai percakapan dengan
“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya, jika akan ada seseorang tinggal di rumah kita?” tanya Grayson, berbicara dengan isterinya melalui telepon. “Maafkan aku, Sayang. Ini sangat mendadak, aku sampai lupa untuk memberitahumu.” “Dia anaknya siapa? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya,” tanya Grayson penasaran. “Isela anaknya teman semasa sekolahku dulu, orang tuanya telah tiada dan sebatang kara, karena itu aku membawanya. Kau bisa membantu proses beasiswanya? Aku berencana menjadikan dia pelayan untuk menggantikan Regina yang akan menikah. Dia bisa bantu-bantu Lilith saat keteteran melayani Avery, Sanders dan Riven.” Grayson mengusap keningnya dengan pijatan, ia tampak tidak begitu setuju denan rencana isterinya yang memberikan Isela bantuan sekaligus memberinya pekerjaan. “Dia masih muda, jika masih sekolah, lebih baik bawa dia ke panti asuhan,” ucap Grayson dengan serius. “Usianya sudah legal jika menjadi pekerja. Aku juga sudah berjanji pada ibunya, dia hanya ti
Remang-remang cahaya terlihat di upuk timur… Empat jam setelah perjalanan menuju ibukota, bus yang mengantar akhirnya berhenti di taman kota. Isela turun dengan kesulitan, menggendong dan menyeret koper kecilnya menyusuri pinggiran jalan yang begitu sunyi sepi hanya menampakan sisa-ssa kegemerlapan ibukota melalui lampu-lampu yang masih menyala. Ini untuk pertama kalinya Isela pergi keluar kota, berjalan sendirian hanya mengandalkan secarik kertas berisi alamat tujuannya andai dia tidak menemukan wanita yang bernama Lilith. Setiap langkah yang Isela ambil terasa begitu berat, dijejaki kesedihan dan harapan yang masih abu-abu. Hatinya hancur berantakan terpisahkan dengan ibunya yang tidak Isela ketahui seperti apa nasibnya setelah membantunya kabur. Langkah Isela perlahan terhenti kala melihat wanita paru baya yang tengah duduk sendirian sambil melihat-lihat jalanan. Menyadari kedatangan seorang gadis, Lilith yang telah cukup lama duduk menunggu perlahan bangkit dan menghampiriny
Sebuah sedan hitam bergerak cepat melintasi kegelapan malam yang berkabut, suara mesin yang kasar terdengar berdecit setiap kali dipaksakan untuk melaju lebih kencang.Catelyna menghisap rokoknya dalam-dalam, menyebarkan asap didalam sedan yang tengah dia kendarai, wajah cantiknya terlihat penuh dengan luka lebam sampai bibirnya mengalami robekan dengan sisa-sisa darah yang mengering.Di sisi Catelyna, terdapat seorang gadis muda yang tengah memeluk erat tasnya dengan gelisah, dua pasang bola mata yang berbeda warna itu memandangi spion dengan penuh ketukan, dalam hatinya dia tidak berhenti merapalkan do’a agar orang-orang yang mengejar mereka tidak dapat menyusul.“Ibu akan mengantarmu sampai halte, akan ada bus terakhir yang lewat sebentar lagi menuju ibukota. Katakan pada sopirnya agar kau berhenti di taman kota, di sana kau akan bertemu dengan seseorang bernama Lilith, dia akan membawamu ke rumah ayahmu,” ucap Catelyna.“Kenapa aku harus pergi sendiri? Kita bisa pergi berdua,” bis