Share

Isela: Putri yang Terbuang
Isela: Putri yang Terbuang
Author: Asayake

Chapter 1

Author: Asayake
last update Huling Na-update: 2025-07-21 23:23:50

Sebuah sedan hitam bergerak cepat melintasi kegelapan malam yang berkabut, suara mesin yang kasar terdengar berdecit setiap kali dipaksakan untuk melaju lebih kencang.

Catelyna menghisap rokoknya dalam-dalam, menyebarkan asap didalam sedan yang tengah dia kendarai, wajah cantiknya terlihat penuh dengan luka lebam sampai bibirnya mengalami robekan dengan sisa-sisa darah yang mengering.

Di sisi Catelyna, terdapat seorang gadis muda yang tengah memeluk erat tasnya dengan gelisah, dua pasang bola mata yang berbeda warna itu memandangi spion dengan ketakutan, dalam hatinya dia tidak berhenti merapalkan do’a agar orang-orang yang mengejar mereka tidak dapat menyusul.

“Ibu akan mengantarmu sampai halte, akan ada bus terakhir yang lewat sebentar lagi menuju ibukota. Katakan pada sopirnya agar kau berhenti di taman kota, di sana kau akan bertemu dengan seseorang bernama Lilith, dia akan membawamu ke rumah ayahmu,” ucap Catelyna.

“Kenapa aku harus pergi sendiri? Kita bisa pergi berdua,” bisik Isela dengan suara bergetar menahan tangisan.

“Kau lupa aku ini siapa? Aku ini pelacur, mana ada orang yang mau menerima kehadiran seorang pelacur di rumahnya. Jika aku memaksakan diri pergi denganmu, kau akan kembali mendapatkan masalah karena pekerjaanku.”

Bibir Isela terkatup rapat menelan kepedihan menghadapi kenyataan bahwa ini adalah malam terakhirnya bersama ibunya.

“Kenapa, baru sekarang Ibu memberitahu bahwa aku memiliki ayah?” bisik Isela nyaris tidak terdengar.

Catelyna menggenggam erat kemudinya, sorot matanya berubah sendu menyembunyikan begitu banyak perasaan bersalah yang sulit untuk dia ungkapkan.

Ada banyak alasan mengapa selama ini dia diam, namun Catelyna tidak ingin menjelaskannya karena itu akan sangat melukai hati Isela.

Ada rahasia besar yang harus Catelyna simpan, dan orang yang berhak membuka rahasia itu bukanlah Catelyna, melainkan orang lain.

Sebentar lagi, rahasia itu pasti akan segera Isela dengar setelah dia berjumpa ayahnya, dan Catelyna harus siap jika pada akhirnya Isela tidak lagi bersedia menemuinya.

“Kau tidak perlu bertanya apapun dan kau tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Ayahmu pasti akan mengobati matamu dan menyekolahkanmu. Jadi, kau tidak perlu menangisi kehidupan miskin yang akan segera kau tinggalkan, kau harus bahagia disana dan lupakan saja aku.”

“Aku juga bahagia saat bersama Ibu.”

“Tapi aku tidak bisa menjamin masa depanmu Isela, karena itu kau harus pergi,” jawab Catelyna dengan suara yang meninggi untuk menutupi kesedihannya.

Sebagai seorang ibu yang sudah mengurus Isela selama 18 tahun lamanya, sangat berat untuk Catelyna melepas putrinya begitu saja, disisi lain Catelyna sadar bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk masa depan putrinya.

Catelyna tidak akan membiarkan Isela melalui jalan yang sama seperti dirinya.

Meski Isela hidup dengan uang dari ibunya menjadi seorang wanita penghibur, Isela harus harus hidup lebih baik dari Catelyna.

Catelyna tidaklah membuang Isela, dia hanya mengembalikan Isela pada keluarga dan tempat seharusnya.

Jari-jari kurus Isela saling bertautan dipangkuan, gadis itu membuang muka menyembunyikan tangisan pedihnya, semakin jauh mereka melakukan perjalanan, semakin dekat pula waktu perpisahannya dengan sang ibu.

“Bisakah suatu hari nanti kita bertemu?”

“Sebaiknya tidak perlu, setelah menjadi anak dari keluarga terhormat, kau tidak perlu mengenal orang sepertiku lagi,” jawab Catelyna menolak.

Tangan Isela meremas kuat tasnya, air mata yang telah dia tahan kembali berjatuhan membasahi pipi, “Kau adalah Ibuku.”

Catelyna tersenyum menelan kesedihan. “Kau boleh menemuiku, setelah nanti kau bisa membuktikan bahwa kau bisa hidup lebih baik dariku.”

“Suatu hari nanti aku akan membawa Ibu dari tempat terkutuk itu,” lirih Isela kembali menangis, menyembunyikan wajahnya dibalik tas yang dia peluk.

Catelyna adalah seorang penari erotis di rumah bordil, seorang wanita penghibur bagi para pria hidung belang yang mencari kesenangan.

Karena pekerjaan Catelyna, sejak kecil Isela pun akhirnya tinggal di rumah bedeng kawasan bordil, menyaksikan setiap kejahatan dan kemaksiatan.

Saat memasuki bangku sekolah, Isela mulai merasakan bagaimana sulitnya memiliki ibu seorang wanita penghibur, dia kerap kali menjadi sasaran bully dan mendapatkan hinaan orang-orang.

Catelyna telah berusaha untuk berhenti dari pekerjaannya, namun sang muncikari tidak pernah membiarkan hal itu terjadi. Catelyna hanya boleh berhenti asalkan mampu membayar tebusan dalam jumlah yang sangat besar. Sementara Catelyna tidak memiliki siapapun untuk bisa membantunya.

Kini masalah kembali bertambah, muncikari itu berencana menggantikan Catelyna yang sudah mulai tua, dengan Isela tepat setelah nanti dia lulus sekolah SMA.

Semalam, Catelyna bertengkar hebat dengan muncikari itu kala mencoba mengambil Isela untuk dibawa ke rumah khusus. Sebisa mungkin Catelyna bertahan menghalanginya meski harus dipukuli sampai babak belur.

Ditengah malam saat semua orang mulai beristirahat, Catelyna meminta Isela untuk segera beres-beres dan membawanya pergi meninggalkan kota dengan mobil curian milik muncikari.

Isela cukup terkejut saat Catelyna bercerita bahwa dia memiliki ayah bernama Grayson Benjamin dan mulai besok Isela akan tinggal dengannya.

Isela tidak dapat menolak permintaan ibunya karena dia tahu, Catelyna ingin Isela aman.

Catelyna memegang erat kemudi dan berkendara secepat mungkin melewati beberapa kendaraan didepannya.

“Turun Isela!” perintah Catelyna begitu memarkirkan mobilnya di depan halte perbatasan kota.

Isela melompat keluar membawa tas dan kopernya, dilihatnya Catelyna dengan air mata berlinangan, menatap ibunya dengan lekat, meresapi wajahnya yang akan sangat dia rindukan.

Catelyna yang telah berusaha tegar sepanjang malam akhirnya tangisannya terpecah, wanita itu mendekat terburu-buru dan memeluk Isela dengan erat, mengecupi wajah putrinya yang telah basah oleh air mata.

“Jaga kehormatanmu Isela, jangan pernah seperti ibu. Jika nanti kita tidak sengaja bertemu dan kau malu melihat ibu, bersikap asinglah, ibu tidak akan pernah marah. Kau harus sehat dan selalu menjadi anak yang baik, janji Isela?”

Air mata Isela kian berderai merintih pilu, Isela mengangguk dengan berat.

Perlahan pelukan Catelyna mengurai, melepas pergi putrinya. “Pergilah Isela.”

Kaki Isela terpaku ditempatnya, begitu berat harus pergi, satu gerakan saja kakinya melangkah membelakangi Catelyna, maka itu adalah perpisahan mereka.

“Pergi Isela!” bentak Catelyna agar putrinya tidak membuang waktu.

Akhirnya, Isela pun berbalik dan berlari masuk ke dalam bus yang kebetulan sudah berhenti menunggu akan akan segera berangkat.

Catelyna terisak memandangi kepergian Isela yang harus dia relakan dengan ikhlas.

Catelyna akhirnya memasuki mobilnya, pergi melanjutkan perjalanan untuk mengecoh orang-orang yang telah mengejarnya.

Dan benar saja, van hitam yang telah mengejarnya selama berjam-jam mulai kembali terlihat dari belakang.

Catelyna berkendara secepat yang dia bisa selama itu bisa melancarkan kepergian Isela. Catelyn sadar bahwa dia akan menerima hukuman yang setimpal setelah mencuri mobil dan sejumlah uang untuk bekal Isela.

Catelyna tidak menyesal telah melakukannya, selama dia berhasil membebaskan Isela, itu sudah lebih dari cukup baginya meski bagian yang terburuknya dia akan dilenyapkan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Isela: Putri yang Terbuang   Chapter 203

    Ditengah kekacauan yang kini sedang berlangsung, orang-orang berdiri merapatkan barisan agar apa yang kini sedang terjadi tidak menjadi tontonan.Grayson bergeser dengan hati-hati, dia meraih tangan Catelyna yang kembali jatuh ke aspal. Jarinya bergerak pelan tak merasakan ada denyut nadi di pergelangan tangannya.“Kita harus membawanya sekarang sebelum polisi datang,” bisik Nick mulai angkat bicara.Pelukan Isela menguat, dengan suara isakannya yang lemah dan pakaian ternodai darah segar Catelyna, gadis itu bangkit sekuat tenaga mengangkat tubuh Catelyna tanpa meminta bantuan siapapun, tanpa bicara apapun.Kakinya gemetar goyah, namun tekadnya yang begitu terus menatap ke depan membawa orang yang paling dalam hidupnya dalam pelukan.Isela tak sedekitpun melihat Grayson, tak bicara sepatah kata pun untuk meminta tolong pada ayahnya, mempertegas bahwa inilah kenyataannya yang terjadi. Isela hanya memiliki Catelyna.Semua orang yang ada disekitarnya tertunduk merasa bersalah.Grayson ba

  • Isela: Putri yang Terbuang   Chapter 202

    Kobaran api menyala, membumbung tinggi di bawah langit biru berhujan salju.Letupan senjata yang saling menyerang hilang ditelan keheningan.Catelyna, satu-satunya orang yang ditargetkan untuk dilenyapkan telah berhasil dilumpuhkan. Begitupun dengan Nick, orang yang harus dia lindungi kini telah gagal diselamatkan.Sudah tidak ada alasan untuk melanjutkan penyerangan...Para penembak yang bersembunyi, mengakhiri genjatannya karena tugasnya telah selesai, mereka mundur perlahan, meninggalkan Nick dalam keadaan tangannya tertembak, bersama Boris yang kini berdiri dalam kekalahan..Gagal menjaga Catelyna dari serangan pengeksekusian.Suara keributan itu telah sampai di telinga Grayson yang sudah lama berdiri di persimpangan jalan menantikan kedatangan Catelyna bersama Isela.Didorong oleh instingnya, Grayson langsung berlari mengejar asap hitam yang berjarak beberapa puluh meter dari keberadaannya.Dengan napas tersengal-sengal, mata Grayson bergerak melihat ke penjuru arah.Grayson mem

  • Isela: Putri yang Terbuang   Chapter 201

    Anak buah Nick bergegas membereskan Lilith yang kini tergeletak di tanah, mereka membawa wanita itu masuk ke dalam sedannya lagi yang kini harus ikut dibereskan dari tempat.“Beberapa menit lagi tukang derek akan sampai,” ucap Nick menepuk bahu salah satu anak buahnya yang ditugaskan untuk menunggu, membereskan Lilith ke tempat pembuangan seperti biasa.Nick kembali masuk ke dalam mobilnya, mengikuti perjalanan Isela yang sempat tertunda karena gangguan.Bersama Zudith, Isela diantar. Gadis itu tertunduk diam membisu, memandangi tangannya yang kini tidak berhenti gemetar hebat dan berkeringat dingin. Jantungnya berdebar begitu kencang tidak terkendali, tidak dapat mengidentifikasi apa yang kini sedang dia rasakan setelah menarik pelatuk untuk pertama kalinya dan membunuh seseorang.“Aku telah membunuh,” bisik Isela menggigil, kembali teringat suara letupan di telinga, teringat pemandangan mengerikan yang telah dibuat olehnya, melampiaskan seluruh amarah yang telah lama dia pendam.Apa

  • Isela: Putri yang Terbuang   Chapter 200

    Jach mengusap bibirnya dengan buku-buku jari, sepasang mata amber dibawah lebat bulu mata itu terpaku pada handponenya yang kini tidak bergerak sedikitpun di atas meja, menantikan kabar tentang apa yang kini sedang terjadi di luar sana. Jach tidak dapat muncul menunjukan diri, apalagi terlibat langsung dalam kepergian Catelyna yang sebentar lagi akan melarikan diri dari Neydish menuju pelabuhan. Perasaan Jach tidak tenang, dia ragu jika pekerjaan kali ini akan berhasil. Orang yang menjadi lawan Elisio adalah saudaranya sendiri, orang yang memiliki kekuatan sama, orang yang tahu kelemahan satu sama lainnya. Rasanya sangat janggal jika semalam Alexis mundur begitu saja saat di usir oleh Mante. Morgan Hemilton tidak protes meski dia tahu, kemungkinan Elisio berpihak pada Catelyna meski wanita itu telah membunuh ayah mereka. Tidak ada pertengkaran apapun.. Untuk orang-orang liar seperti paman dan bibinya, ini terlalu hening dan damai. Kecuali, mereka diam-diam bergerak dalam se

  • Isela: Putri yang Terbuang   Chapter 199

    Isela memaksakan diri untuk tetap tersenyum melihat mobil yang membawa Catelyna akhirnya telah bergerak cepat meninggalkannya lebih dulu. Dibawah cahaya pagi dan penglihatan yang masih pudar tak dapat menjangkau jauh. Mata Isela memicing dibalik kacamata yang dia kenakan, samar-samar dia melihat sebuah sedan merah yang terparkir di bawah pohon. Di dalam sedan itu, terdapat seorang perempuan berpenampilan glamour tengah menunggu dan bersiap untuk mengantar. Sedan itu akhirnya mendekat. “Isela!” teriakan suara yang familiar dipendengaran memanggil namanya, menuntun Isela untuk menoleh ke belakang, melihat siluet samar seseorang yang tengah berdiri dalam jarak lima puluh meter darinya. Isela tidak tahu, dia tidak dapat melihat dengan jelas siapa yang telah memanggilnya. Lilith menyeringai puas, menyaksikan kebutaan Isela yang semakin memudahkan dirinya menembak tanpa Isela tahu bahwa kini nyawanya sedang berada di detik-detik terakhirnya. Betapa beruntungnya Lilith, kini dia

  • Isela: Putri yang Terbuang   Chapter 198

    Dahlia duduk anggun di depan cermin besar, membiarkan diri untuk dirias, di dandani dengan pakaian terbaik, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dahlia ingin, segala sesuatu yang dapat terlihat oleh mata, semuanya harus cantik dan sempurna.Hari ini, Dahlia akan kembali berjumpa dengan Grayson setelah perpisahan mereka di malam pesta itu.Meski mereka akan berjumpa di persidangan, Dahlia tetap berharap bahwa Grayson luluh oleh kecantikannya. Mustahil, pernikahan mereka yang sudah berlangsung 30 tahun terlupakan begitu saja.Dahlia tidak akan menyerah untuk mendapatkan kembali hati suaminya yang sempat berpaling begitu jauh.Grayson harus tahu bahwa hanya Dahlia satu-satunya wanita yang sangat mencintai dan memujanya. Dan, hanya Dahlia satu-satunya orang yang pantas untuk Grayson.Dahlia begitu yakin, semuanya dapat diperbaiki jika saja Grayson memberi kesempatan terakhir untuknya. Mereka akan tetap bisa menjadi keluarga yang sempurna andai Grayson dan kedua putranya memaafkannya.'A

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status