Sebuah sedan hitam bergerak cepat melintasi kegelapan malam yang berkabut, suara mesin yang kasar terdengar berdecit setiap kali dipaksakan untuk melaju lebih kencang.
Catelyna menghisap rokoknya dalam-dalam, menyebarkan asap didalam sedan yang tengah dia kendarai, wajah cantiknya terlihat penuh dengan luka lebam sampai bibirnya mengalami robekan dengan sisa-sisa darah yang mengering. Di sisi Catelyna, terdapat seorang gadis muda yang tengah memeluk erat tasnya dengan gelisah, dua pasang bola mata yang berbeda warna itu memandangi spion dengan penuh ketukan, dalam hatinya dia tidak berhenti merapalkan do’a agar orang-orang yang mengejar mereka tidak dapat menyusul. “Ibu akan mengantarmu sampai halte, akan ada bus terakhir yang lewat sebentar lagi menuju ibukota. Katakan pada sopirnya agar kau berhenti di taman kota, di sana kau akan bertemu dengan seseorang bernama Lilith, dia akan membawamu ke rumah ayahmu,” ucap Catelyna. “Kenapa aku harus pergi sendiri? Kita bisa pergi berdua,” bisik Isela dengan suara bergetar menahan tangisan. “Kau lupa aku ini siapa? Aku ini pelacur, mana ada orang yang mau menerima kehadiran seorang pelacur di rumahnya. Jika aku memaksakan diri pergi denganmu, kau akan kembali mendapatkan masalah karena pekerjaanku.” Bibir Isela terkatup rapat menelan kepedihan menghadapi kenyataan bahwa ini adalah malam terakhirnya bersama ibunya. “Kenapa, baru sekarang Ibu memberitahu bahwa aku memiliki ayah?” bisik Isela nyaris tidak terdengar. Catelyna menggenggam erat kemudinya, sorot matanya berubah sendu menyembunyikan begitu banyak perasaan bersalah yang sulit untuk dia ungkapkan. Ada banyak alasan mengapa selama ini dia diam, namun Catelyna tidak ingin menjelaskannya karena itu akan sangat melukai hati Isela. Ada rahasia besar yang harus Catelyna simpan, dan orang yang berhak membuka rahasia itu bukanlah Catelyna, melainkan orang lain. Sebentar lagi, rahasia itu pasti akan segera Isela dengar setelah dia berjumpa ayahnya, dan Catelyna harus siap jika pada akhirnya Isela tidak lagi bersedia menemuinya. “Kau tidak perlu bertanya apapun dan kau tidak perlu memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Ayahmu pasti akan mengobati matamu dan menyekolahkanmu. Jadi, kau tidak perlu menangisi kehidupan miskin yang akan segera kau tinggalkan, kau harus bahagia disana dan lupakan saja aku.” “Aku juga bahagia saat bersama Ibu.” “Tapi aku tidak bisa menjamin masa depanmu Isela, karena itu kau harus pergi,” jawab Catelyna dengan suara yang meninggi untuk menutupi kesedihannya. Sebagai seorang ibu yang sudah mengurus Isela selama 17 tahun lamanya, sangat berat untuk Catelyna melepas putrinya begitu saja, disisi lain Catelyna sadar bahwa ini adalah keputusan yang terbaik untuk masa depan putrinya. Catelyna tidak akan membiarkan Isela melalui jalan yang sama seperti dirinya. Meski Isela hidup dengan mamakan hasil uang dari dirinya menjadi seorang wanita penghibur, Isela harus harus hidup lebih baik dari Catelyna. Catelyna tidaklah membuang Isela, dia hanya mengembalikan Isela pada keluarga dan tempat seharusnya. Jari-jari kurus Isela saling bertautan dipangkuan, gadis itu membuang muka menyembunyikan tangisan pedihnya, semakin jauh mereka melakukan perjalanan, semakin dekat pula waktu perpisahannya dengan sang ibu. “Bisakah suatu hari nanti kita bertemu?” “Sebaiknya tidak perlu, setelah menjadi anak dari keluarga terhormat, kau tidak perlu mengenal orang sepertiku lagi,” jawab Catelyna menolak. Tangan Isela meremas kuat tasnya, air mata yang telah dia tahan kembali berjatuhan membasahi pipi, “Kau adalah Ibuku.” Catelyna tersenyum menelan kesedihan. “Kau boleh menemuiku, setelah nanti kau bisa membuktikan bahwa kau bisa hidup lebih baik dariku.” “Suatu hari nanti aku akan membawa Ibu dari tempat terkutuk itu,” lirih Isela kembali menangis, menyembunyikan wajahnya dibalik tas yang dia peluk. Catelyna adalah seorang penari erotis di rumah bordil, seorang wanita penghibur bagi para pria hidung belang yang mencari kesenangan. Karena pekerjaan Catelyna, sejak kecil Isela pun akhirnya tinggal di rumah bedeng kawasan bordil, menyaksikan setiap kejahatan dan kemaksiatan. Saat memasuki bangku sekolah, Isela mulai merasakan bagaimana sulitnya memiliki ibu seorang wanita penghibur, dia kerap kali menjadi sasaran bully dan mendapatkan hinaan orang-orang. Catelyna telah berusaha untuk berhenti dari pekerjaannya, namun sang muncikari tidak pernah membiarkan hal itu terjadi. Catelyna hanya boleh berhenti asalkan mampu membayar tebusan dalam jumlah yang sangat besar. Sementara Catelyna tidak memiliki siapapun untuk bisa membantunya. Kini masalah kembali bertambah, muncikari itu berencana menggantikan Catelyna yang sudah mulai tua, dengan Isela tepat setelah nanti dia lulus sekolah SMA. Semalam, Catelyna bertengkar hebat dengan muncikari itu kala mencoba mengambil Isela untuk dibawa ke rumah khusus. Sebisa mungkin Catelyna bertahan menghalanginya meski harus dipukuli sampai babak belur. Ditengah malam saat semua orang mulai beristirahat, Catelyna meminta Isela untuk segera beres-beres dan membawanya pergi meninggalkan kota dengan mobil curian milik muncikari. Isela cukup terkejut saat Catelyna bercerita bahwa dia memiliki ayah bernama Grayson Benjamin dan mulai besok Isela akan tinggal dengannya. Isela tidak dapat menolak permintaan ibunya karena dia tahu, Catelyna ingin Isela aman. Catelyna memegang erat kemudi dan berkendara secepat mungkin melewati beberapa kendaraan didepannya. “Turun Isela!” perintah Catelyna begitu memarkirkan mobilnya di depan halte perbatasan kota. Isela melompat keluar membawa tas dan kopernya, dilihatnya Catelyna dengan air mata berlinangan, menatap ibunya dengan lekat, meresapi wajahnya yang akan sangat dia rindukan. Catelyna yang telah berusaha tegar sepanjang malam akhirnya tangisannya terpecah, wanita itu mendekat terburu-buru dan memeluk Isela dengan erat, mengecupi wajah putrinya yang telah basah oleh air mata. “Jaga kehormatanmu Isela, jangan pernah seperti ibu. Jika nanti kita tidak sengaja bertemu dan kau malu melihat ibu, bersikap asinglah, ibu tidak akan pernah marah. Kau harus sehat dan selalu menjadi anak yang baik, janji Isela?” Air mata Isela kian berderai merintih pilu, Isela mengangguk dengan berat. Perlahan pelukan Catelyna mengurai, melepas pergi putrinya. “Pergilah Isela.” Kaki Isela terpaku ditempatnya, begitu berat harus pergi, satu gerakan saja kakinya melangkah membelakangi Catelyna, maka itu adalah perpisahan mereka. “Pergi Isela!” bentak Catelyna agar putrinya tidak membuang waktu. Akhirnya, Isela pun berbalik dan berlari masuk ke dalam bus yang kebetulan sudah berhenti menunggu akan akan segera berangkat. Catelyna terisak memandangi kepergian Isela yang harus dia relakan dengan ikhlas. Catelyna akhirnya memasuki mobilnya, pergi melanjutkan perjalanan untuk mengecoh orang-orang yang telah mengejarnya. Dan benar saja, van hitam yang telah mengejarnya selama berjam-jam mulai kembali terlihat dari belakang. Catelyna berkendara secepat yang dia bisa selama itu bisa melancarkan kepergian Isela. Catelyn sadar bahwa dia akan menerima hukuman yang setimpal setelah mencuri mobil dan sejumlah uang untuk bekal Isela. Catelyna tidak menyesal telah melakukannya, selama dia berhasil membebaskan Isela, itu sudah lebih dari cukup baginya meski bagian yang terburuknya dia akan dilenyapkan.Wajah Isela terangkat, berusaha untuk tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang dan kaki gemetar lemas seperti jelly. Isela datang hanya untuk menegur, tapi pria itu membalasnya dengan cara yang kejam, menghadapkan langsung dirinya pada anjing besar yang siap menerkam. Geraman rendah dan hembusan napas panas hewan itu memperparah ketakutan Isela. “Aku datang untuk bicara denganmu, bukan untuk mati,” bisik Isela nyaris putus asa, “singkirkan anjingmu, aku mohon.” “Tidak mau,” tolak Jach menikmati ketakutan gadis dihadapannya seperti seekor kelinci yang terpojokkan. “Dia tidak akan menggigit kan?” tanya Isela lagi dengan napas tersengal. Jach menggeleng. “Hanya mengoyak.” Isela tercekat kaget. Dengan tangan gemetar dan sisa-sisa keberaniannya, Isela memutuskan untuk melepas kacamatanya, dan melemparkannya sejauh mungkin untuk mengalihkan perhatian anjing itu. Kilatan cahaya kaca yang terlempar langsung menarik perhatian anjing besar itu. Hewan itu melesat pergi mengambil be
Siang telah berlalu, Isela yang telah cukup lama beristirahat akhirnya pergi ke dapur untuk membantu Lilith dan Regina menyiapkan makan malam.Mengenyahkan segala kesedihan dan kecewanya dari kenyataan, Isela memutuskan untuk tidak terpuruk.Isela harus tetap memanfaatkan setiap kesempatan yang datang sekecil apapun itu, Isela harus optimis bahwa masih ada cahaya untuk masa depannya sekalipun rumah yang dia pikir akan menjadi tempatnya pulang hanya memberinya tempat berteduh sementara waktu.Isela tidak akan mengeluh, dia harus bertahan dan berjuang untuk mengubah masa depannya agar bisa menyelamatkan Catelyna.“Ibumu dan nyonya Dahlia pasti sangat dekat, sampai-sampai nyonya Dahlia bersedia menampung dan menyekolahkanmu disini,” kata Regina sambil bersandar di meja dapur.Isela hanya tersenyum tanpa kata, dia memilih fokus pada pekerjaannya mencuci satu persatu sayuran dan merapikannya di keranjang untuk dikeringkan."Bagaimana ibumu bisa mengenal artis papan atas seperti nyonya Dahl
Isela akhirnya duduk dihadapan Grayson, diam-diam gadis itu meremas berkas dalam genggamannya dengan napas memberat. Rasanya sangat sesak, duduk berhadapan dengan seseorang yang Isela tahu bahwa itu adalah sosok ayahnya, sementara ayahnya tidak mengenali siapa dirinya.Grayson menegakan tubuhnya perlahan, matanya bergerak lembut menyapukan pandangannya, melihat kembali lebam ditangan Isela yang sempat dia lihat satu jam lalu.Melihat kondisi gadis itu yang terlihat tidak begitu baik, Grayson sadar bahwa mungkin ini alasan isterinya bersedia menampung gadis itu di rumah.Isela mengalami sesuatu yang sulit dan dia butuh tempat untuk berlindung.“Isteriku sudah berbicara beberapa hal tentangmu. Setelah beberapa pertimbangan, aku mengizinkanmu tinggal di sini sampai nanti kau lulus sekolah menengah atas, kau bisa membantu pekerjaan rumah setiap selesai pulang sekolahmu, aku akan menghitungnya sebagai pekerja paruh waktu dengan gaji yang semestinya,” ucap Grayson memulai percakapan dengan
“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya, jika akan ada seseorang tinggal di rumah kita?” tanya Grayson, berbicara dengan isterinya melalui telepon. “Maafkan aku, Sayang. Ini sangat mendadak, aku sampai lupa untuk memberitahumu.” “Dia anaknya siapa? Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya,” tanya Grayson penasaran. “Isela anaknya teman semasa sekolahku dulu, orang tuanya telah tiada dan sebatang kara, karena itu aku membawanya. Kau bisa membantu proses beasiswanya? Aku berencana menjadikan dia pelayan untuk menggantikan Regina yang akan menikah. Dia bisa bantu-bantu Lilith saat keteteran melayani Avery, Sanders dan Riven.” Grayson mengusap keningnya dengan pijatan, ia tampak tidak begitu setuju denan rencana isterinya yang memberikan Isela bantuan sekaligus memberinya pekerjaan. “Dia masih muda, jika masih sekolah, lebih baik bawa dia ke panti asuhan,” ucap Grayson dengan serius. “Usianya sudah legal jika menjadi pekerja. Aku juga sudah berjanji pada ibunya, dia hanya ti
Remang-remang cahaya terlihat di upuk timur… Empat jam setelah perjalanan menuju ibukota, bus yang mengantar akhirnya berhenti di taman kota. Isela turun dengan kesulitan, menggendong dan menyeret koper kecilnya menyusuri pinggiran jalan yang begitu sunyi sepi hanya menampakan sisa-ssa kegemerlapan ibukota melalui lampu-lampu yang masih menyala. Ini untuk pertama kalinya Isela pergi keluar kota, berjalan sendirian hanya mengandalkan secarik kertas berisi alamat tujuannya andai dia tidak menemukan wanita yang bernama Lilith. Setiap langkah yang Isela ambil terasa begitu berat, dijejaki kesedihan dan harapan yang masih abu-abu. Hatinya hancur berantakan terpisahkan dengan ibunya yang tidak Isela ketahui seperti apa nasibnya setelah membantunya kabur. Langkah Isela perlahan terhenti kala melihat wanita paru baya yang tengah duduk sendirian sambil melihat-lihat jalanan. Menyadari kedatangan seorang gadis, Lilith yang telah cukup lama duduk menunggu perlahan bangkit dan menghampiriny
Sebuah sedan hitam bergerak cepat melintasi kegelapan malam yang berkabut, suara mesin yang kasar terdengar berdecit setiap kali dipaksakan untuk melaju lebih kencang.Catelyna menghisap rokoknya dalam-dalam, menyebarkan asap didalam sedan yang tengah dia kendarai, wajah cantiknya terlihat penuh dengan luka lebam sampai bibirnya mengalami robekan dengan sisa-sisa darah yang mengering.Di sisi Catelyna, terdapat seorang gadis muda yang tengah memeluk erat tasnya dengan gelisah, dua pasang bola mata yang berbeda warna itu memandangi spion dengan penuh ketukan, dalam hatinya dia tidak berhenti merapalkan do’a agar orang-orang yang mengejar mereka tidak dapat menyusul.“Ibu akan mengantarmu sampai halte, akan ada bus terakhir yang lewat sebentar lagi menuju ibukota. Katakan pada sopirnya agar kau berhenti di taman kota, di sana kau akan bertemu dengan seseorang bernama Lilith, dia akan membawamu ke rumah ayahmu,” ucap Catelyna.“Kenapa aku harus pergi sendiri? Kita bisa pergi berdua,” bis