FAZER LOGIN[Kamu udah enggak peduli ya sama anak ini?]
Aziz yang baru saja melangkah masuk ke ruang kerjanya sore itu tertegun. Ia masih mengenakan jas lengkap usai menghadiri rapat direksi yang cukup melelahkan. Dahi pria itu mengerut dalam. Ia kembali membaca pesan singkat di layar ponselnya, pesan pertama dari Alena setelah sekian bulan mereka hidup dalam kesunyian yang saling memunggungi.
&
Aziz terpaku di ambang pintu yang hanya menyisakan celah sempit. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ia menatap sofa kayu keras di luar, lalu beralih menatap ranjang berukuran queen yang terasa sangat mungil itu. Di sana, Alena meringkuk miring, tampak rapuh di balik selimut tipisnya."Kamu yakin, Len? Ranjang ini sempit, nanti kamu tidak nyaman tidurnya kalau aku di situ," bisik Aziz, suaranya parau menahan debar. Alena tidak berbalik. Ia hanya menggeser tubuhnya sedikit ke tepian, menyisakan ruang kosong yang pas-pasan di belakang punggungnya."Masih sakit, Mas. Kalau kamu di luar, nanti kalau aku butuh apa-apa bagaimana? Mamak sedang tidak ada." Rengekan itu meruntuhkan sisa-sisa pertahanan Aziz. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Aziz naik ke atas ranjang. Kasur busa itu amblas mengikuti beban tubuhnya, membuat posisi mereka mau tidak mau menjadi sangat dekat. Aziz berbaring menyamping, meng
“Sopnya kurang asin atau kamu mual lagi?"Alena menggeleng lemah, tangannya berpindah menumpu pada pinggiran meja. Wajahnya sedikit meringis, menunjukkan gurat kelelahan yang nyata. "Bukan... Pinggangku sakit sekali. Rasanya seperti ditarik-tarik sampai ke punggung bawah." Mendengar keluhan itu, Aziz segera bangkit dari kursinya. Ia melangkah menghampiri Alena, berdiri tepat di belakang istrinya."Mungkin efek kontraksi palsu tadi siang, ditambah kamu terlalu lama berdiri di toko roti. Mau aku bantu pijat sebentar? Siapa tahu bisa sedikit lebih rileks." Alena mendongak, menatap suaminya dengan tatapan ragu. Ada keraguan yang tersirat di matany, yakni rasa canggung yang mendalam karena sudah sekian lama mereka tidak terlibat dalam kontak fisik yang sedekat itu. Namun, rasa nyeri yang berdenyut di pinggangnya jauh lebih
Aziz terpaku di tempatnya berdiri, tangannya yang semula hendak meraih bahu Alena tertahan di udara. Wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah tergesa, meninggalkan Aziz dalam kepungan rasa bersalah yang menyesakkan di ruang tamu mungil tersebut. Alena menutup pintu tanpa suara debuman. Namun bagi Aziz, keheningan itu jauh lebih menyakitkan daripada teriakan. Di dalam kamar, Alena menumpahkan segala isi kepalanya. Ia merasa terhina. Alena merasa anak ini tidak dianggap sebagai individu, melainkan hanya sebagai objek tanggung jawab saja. Waktu merangkak lambat. Alena menghabiskan sore dengan berbaring, mencoba menenangkan perutnya yang sesekali masih terasa tegang. Hingga selepas maghrib, aroma gurih yang sangat ia kenal mulai menyusup dari celah pintu kamar. Bau kaldu yang kaya, rempah-rempah yang hangat, dan aroma daging sapi yang empuk. Aroma sop iga. Perut Alena mendadak merespons dengan keroncongan yang nyaring. Rasa l
"Usia kandungannya sudah cukup matang, tapi belum menunjukkan tanda-tanda persalinan yang sesungguhnya. Ini disebut dengan his atau kontraksi palsu. Biasanya dipicu oleh kelelahan atau tekanan psikologis," jelas dokter spesialis kandungan itu dengan nada tenang sembari merapikan alat ultrasonografi. Aziz, yang sejak tadi berdiri kaku di samping ranjang periksa dengan wajah pucat, langsung menyela dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan. "Tapi semuanya baik-baik saja 'kan, Dok? Istri saya tadi kesakitan sekali sampai sulit berdiri." Dokter itu tersenyum kecil, melirik Alena yang sedang dibantu asisten perawat untuk duduk. "Semuanya dalam batas normal, Pak Aziz. Detak jantung janin bagus, posisi memang belum masuk panggil. Jangan kahwatir karena ini bukan anak pertama. Bisa saja akan masuk panggul saat mau lahiran. Hanya p
Aroma ragi dan mentega yang terpanggang sempurna memenuhi setiap sudut dapur toko roti Maya, namun pikiran Alena berada ribuan kilometer jauhnya. Tangannya sibuk mengoleskan kuning telur ke atas adonan, tetapi telinganya seolah masih berdenging mendengar suara bariton yang pecah di seberang telepon dua hari lalu."Aku cinta kamu, Sayang." Kalimat tadi terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Alena ingat betul bagaimana jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu, sebelum akhirnya ia memutus panggilan secara sepihak dengan tangan gemetar. Ia tidak siap. Ia benci kenyataan bahwa satu kalimat sederhana dari Aziz bisa meruntuhkan benteng kemandirian yang ia bangun dengan susah payah selama di Medan.Ting! Bunyi oven listrik yang nyaring menyentak Alena dari lamunannya. Ia terlonjak sedikit, hampir menjatuhkan loyang panas yang baru saja ia keluarkan."Melamun lagi?" Maya muncul dari balik pintu penghubung, menatap sahabatnya dengan tatapan khaw
[Kamu udah enggak peduli ya sama anak ini?] Aziz yang baru saja melangkah masuk ke ruang kerjanya sore itu tertegun. Ia masih mengenakan jas lengkap usai menghadiri rapat direksi yang cukup melelahkan. Dahi pria itu mengerut dalam. Ia kembali membaca pesan singkat di layar ponselnya, pesan pertama dari Alena setelah sekian bulan mereka hidup dalam kesunyian yang saling memunggungi. Namun, alih-alih merasa lega, jantung Aziz justru berdegup tidak menentu karena kebingungan. Kenapa pertanyaan itu yang muncul? Ia baru saja mengirimkan perlengkapan bayi terbaik yang bisa dibeli oleh uangnya. Ia memastikan Alena mendapatkan kenyamanan maksimal tanpa harus merasa terintimidasi oleh kehadirannya. Jadi, di mana letak kesalahannya? Tak mau salah langkah dan merusak momentum







