FAZER LOGINTiga bulan setelah dijatuhkan talak tiga, Dewi pikir hidupnya sudah hancur—hingga mantan suaminya datang dengan satu permintaan yang mencengangkan: rujuk. Dengan syarat, Dewi harus menikah dengan seorang muhallil—laki-laki lain yang akan ‘menyentuhnya’, lalu menceraikannya. Baru setelah itu, Dewi bisa kembali pada Radit. Namun semuanya berubah saat Dewi mengetahui siapa pria yang dipilih untuk menjadi muhallilnya. Arkananta Daniswara Wijaya. Atasannya sendiri. Pria dingin yang dia benci setengah mati. Pernikahan itu pun dirahasiakan. Dari teman-teman kantor yang haus gosip. Dari adik-adik Dewi yang menyimpan rasa bersalah karena menggantungkan hidup pada Dewi—satu-satunya tulang punggung mereka. Saat dunia masih mengira Dewi sebagai istri dari Radit—mantan suaminya, saat itulah pernikahan Dewi dan Arkan diuji. Akankah keduanya rela menganggap ikatan sah ini berjalan hanya sebagai 'jembatan sementara'?
Ver mais“Talak tiga yang kuucapkan tiga bulan lalu … itu kebodohan paling fatal yang pernah aku lakukan, Dewi.” Radit menatap Dewi lurus. Kilatan matanya memantulkan penyesalan dan luka.
“Maaf.” bisik Radit rendah. Jakunnya tampak naik turun. Pria itu lantas berkata lirih, “Aku mau kita rujuk.” Dewi masih membeku. Napasnya tercekat mendengar kalimat yang tak dia sangka akan didengarnya dari mulut Radit—pria yang pernah membuatnya merasa tak cukup dipercaya. Dadanya sesak oleh luapan luka yang ditarik kembali, namun si penoreh luka, kini datang menawarkan penyembuh. Masih terlampau jelas dalam ingatan Dewi, kalimat yang diucapkan Radit dengan tatapan mendelik nyalang dan suara yang bergetar karena amarah yang tertahan. “Detik ini, tanpa paksaan dan dalam keadaan sadar sepenuhnya, aku jatuhkan talak tiga atas kamu Dewi Anggraini binti Wirawan. Mulai sekarang, kita bukan lagi suami istri. Kamu bisa pergi dari rumah ini.” Radit, satu-satunya pria yang pernah mengisi hati Dewi, satu-satunya pria yang dia pikir akan menjadi pendampingnya hingga nyawa tak lagi mengisi raga, menceraikan Dewi karena terpedaya oleh sebuah foto yang dikirim oleh nomor asing. Foto yang diyakini Dewi dihasilkan oleh teknologi kekinian itu, memperlihatkan Dewi sedang bercumbu dengan seorang pria tak dikenal. Dirinya dalam foto itu tampak begitu nyata hingga dia sendiri sempat terdiam beberapa saat ketika pertama kali melihatnya. Dan Radit—yang baru saja pulang dari kantor, langsung naik pitam karena hasil gambar itu terlalu identik. Amarah mengubur logika dan perasaannya hingga penjelasan Dewi tak dia terima. “Aku tahu aku keterlaluan karena nggak menyelidiki lebih dulu. Tapi, tolong mengerti aku, Wi. Foto itu terlalu mirip. Siapa pun pasti akan percaya.” Radit menarik napas dalam-dalam. Rambutnya diusap ke belakang dengan wajah frustrasi. “Tiga bulan ini, aku benar-benar hancur tanpa kamu, Dewi.” Radit menatap Dewi sendu. Suaranya tercekat seolah tangisnya sudah di ujung tenggorokan. “Apa kamu mengerti rasanya harus pisah dengan orang yang berharga hanya karena salah paham?” Dewi memalingkan wajah. Bibirnya gemetar. Dadanya bergemuruh oleh emosi yang bercampur aduk: kecewa, terluka, tetapi jauh di dalam sana, perasaan lain hadir dan menelusup semakin nyata: rindu. Radit menatap sepasang mata Dewi lekat, menemukan pantulan emosi yang sama dengan miliknya. Perlahan, pria itu menarik tangan Dewi. Membawanya ke dalam genggaman. “Kamu ingat, impian kita untuk bisa segera punya anak?” Radit berbisik serak, “Kamu ingat, baju bayi yang dulu kamu rajut untuk anak kita kelak? Kamu masih pegang impian itu kan?” Satu tetes air mata meluncur jatuh ketika Dewi menunduk. Tentu dia masih ingat. Memiliki keturunan dari Raditya Pradana—kekasihnya sejak masa kuliah, sekaligus pria yang mau menerima Dewi dengan segala keadaannya, adalah impiannya sejak awal menikah. Walau, kehendak Tuhan berkata lain—hingga tahun ketiga pernikahan mereka, nyatanya buah hati masih belum juga hadir. “Kita sudah melewati bermacam-macam ujian, Dewi. Kita bersama dalam waktu yang nggak sebentar.” Radit kembali menatap Dewi lurus, penuh keteguhan. “Aku nggak bisa tanpa kamu. Kamu juga kan?” “Kamu sudah jatuhkan talak tiga, Mas.” Dewi menyela. Wajahnya kemudian diangkat tegak. “Kita sudah nggak punya harapan untuk kembali.” “Ada, Dewi.” Radit memotong tegas. “Aku sudah tanya pada kenalanku yang mengerti soal ini.” Sebuah hembusan napas berat mengawali kalimat Radit, “Kita tetap bisa rujuk walau aku sudah jatuhkan talak tiga. Asalkan kamu … kamu menikah dulu dengan pria lain.” “Apa?” Dewi mengernyit tajam. “Muhallil. Kita butuh laki-laki yang bisa menikahi kamu untuk sementara, supaya kamu halal untuk rujuk kembali denganku.” Sepasang mata Dewi menyipit tajam. Tangannya gemetar mendengar kabar yang seakan mencekik akal sehatnya. “Kamu gila, Mas.” “Aku tahu. Tapi ini satu-satunya cara, Dewi.” Radit menggenggam tangan Dewi lebih erat. “Dan aku sudah menemukan orang yang tepat.” Dewi terdiam sejenak. Punggungnya menegang membayangkan bila dia menikahi seorang pria asing tanpa dia tahu kepribadiannya. “Siapa?” gumam Dewi, matanya mengerjap gugup. “Aku kenal dia di gym. Kami pernah beberapa kali mengobrol. Dia bilang … dia bukan orang yang ingin menjalani komitmen panjang seperti pernikahan. Tapi situasinya sekarang, Ibunya kritis, hampir nggak ada harapan hidup. Dia berharap sebelum Ibunya meninggal, dia bisa perlihatkan pada Ibunya kalau dia bisa menikah dengan bahagia.” Napas Dewi tercekat. Apa itu artinya dia harus bersandiwara sebagai istri yang bahagia demi seorang laki-laki yang tak dia kenali? “Kamu nggak perlu khawatir dia akan jatuh cinta sama kamu. Dia bilang sendiri kalau dia hanya perlu menikah demi Ibunya. Hanya pernikahan siri yang nggak lama, Dewi.” Lagi, Dewi kembali menunduk, menatap jari-jarinya yang saling bertaut. Bayangan akan hari-hari pernikahannya yang bahagia, dengan Radit yang selalu memperhatikannya, juga impiannya untuk bisa menimang bayi, berkeliaran di kepala. Di tengah kekalutan itu, usapan hangat Radit di tangannya membuat sesuatu dalam diri Dewi mengukuh. “Aku janji, setelah kita rujuk nanti, aku akan jadi suami yang lebih baik. Aku nggak akan desak kamu lagi untuk resign kerja. Aku juga akan bantu berikan kamu modal untuk buka usaha kafe, seperti impian kamu.” Kali ini, sepasang mata Dewi menatap Radit dengan kilatan penuh harap. Namun perlahan, wajahnya kembali ditundukkan. Tangannya meremat batang ponsel erat-erat. Dewi bukannya membenci penawaran untuk kembali pada Radit. Tetapi …. ‘Harus menikah dulu dengan laki-laki lain.’ Dewi menarik napas panjang. “Mas … beri aku waktu untuk berpikir.”“Yah … seharusnya aku kan nggak jatuh cinta sama kamu.” Tawa Dewi seketika menyembur. “Ngapain merasa bersalah? Dia yang buang aku. Dia aja hamili Anita dan aku nggak akan tahu kalau bukan Dokter Widya yang kasih tahu.” Arkan hanya menghela napas berat. Tak peduli bahwa tangan Dewi belum selesai mengobati, pria itu mendaratkan wajahnya di pundak Dewi, memeluknya erat. “Maaf, Wi.” Dewi yang tidak mengerti dengan permintaan maaf Arkan hanya tersenyum lembut. Tangannya terangkat mengelus punggung Arkan perlahan. “Kenapa kamu minta maaf?” Dewi berbisik, suaranya sangat lembut dan menenangkan. “Karena saya keras kepala pingin kamu ikut saya ke site.” Dewi hampir kembali tertawa. Suaminya itu—sejak tahu bahwa Dewi hamil, mulai sering bertindak manja, terlalu menempel dan sangat overprotective. “Aku juga lagi punya free time untuk cuti. Nggak apa-apa kok.” Arkan mengubah posisinya. Kali ini merebahkan kepalanya di pangkuan Dewi. Lihat? Seperti inilah Arkan yang sesungguhnya. “Jadi
Dunia di sekitar Radit seolah senyap, seakan seluruh pasokan oksigen di area proyek itu tersedot keluar. Suara deru mesin ekskavator di latar belakang mendadak menyublim, menyisakan bunyi detak jantung Radit yang bertalu-talu karena kepanikan yang merayap naik."D-Direktur...?" suara Radit serak saat tangannya yang semula mengepal, perlahan melemas.Perusahaan kontraktor yang dia rintis sedang megap-megap kehabisan dana. Jika sampai DWI Capital menolak pengajuan kreditnya, maka … hancurlah seluruh bisnis yang dia bangun.Dan sialnya, dia malah baru saja memukul direkturnya sambil melayangkan sumpah serapah. Radit menggeleng—tak bisa percaya dengan hal yang baru saja dia perbuat.Arkan berdiri tegak dibantu oleh asisten pribadinya. "Pak Radit," suara rendah Arkan memecah hening. Radit mendongak dengan tatapan bergetar.Kali ini bukan lagi karena amarah, melainkan rasa takut."Pesan singkat yang anda kirim ke ponsel saya satu jam lalu, dan penyerangan fisik yang baru anda lakukan di de
Satu bulan berikutnya, Radit membuka paket berupa surat yang diantar oleh kurir ke depan rumah. Saat membaca judul kop ‘Pengadilan Agama’ wajahnya seketika pucat. Tangannya gemetar saat matanya membaca kalimat di dalam isi surat itu.Surat Gugatan Cerai.Nama lengkap Dewi tertulis jelas sebagai pihak Penggugat, dan namanya sendiri—Raditya Pratama, tercantum di bawahnya sebagai pihak Tergugat.Tangan Radit gemetar hebat. Napasnya tercekat.Selama ini, Radit mengira perceraian mereka berbulan-bulan lalu—yang dipicu oleh foto jebakan buatan Anita—sudah memutus segalanya. Namun, dia terlalu bodoh dan terlena dalam kemenangan semu. Secara hukum negara, pernikahan mereka belum pernah disidangkan. Dan sekarang, Dewi bergerak maju secara resmi untuk memutus sisa rantai itu seutuhnya.Lembar kedua surat itu dibuka dengan sentakan kasar, memperlihatkan detail berkas gugatan. Di sana, tertulis nama firma hukum papan atas Jakarta yang menjadi kuasa hukum Dewi—sebuah firma hukum elite yang tarif
“Saya akan resign.”Hening.“Hah?” Langit menjadi orang pertama yang memecah senyap. Hani yang biasanya paling cepat berkomentar, kini mematung dengan mulut terbuka.Rian bahkan menjatuhkan pulpen yang dia putar-putar di antara jemarinya.Anita yang belum lama mengenal Arkan pun tampak terperangah—entah untuk alasan apa.Sekejap kemudian, ekspresi bingung itu berubah menjadi tatapan-tatapan penuh arti. Rian dan Langit saling melirik. Sudut bibir keduanya berkedut, seolah menahan sesuatu yang tidak pantas keluar dalam briefing pagi. Sedangkan Dewi yang sudah tahu dengan rencana Arkan, hanya berdiri dengan tenang sambil mengamati reaksi teman-temannya. Sampai akhirnya, matanya bertemu tatap dengan pria yang berdiri tegap memimpin briefing—Arkan.Senyum Dewi mengembang tipis. Matanya bergetar haru. Dadanya terisi penuh oleh rasa takjub dan hormat. Suami sekaligus atasannya itu, mengorbankan posisinya hanya agar Dewi tetap bisa bekerja di perusahaan ini. Dan itu jauh menyentuh hatinya,
“Saya duluan.” setelah mengucapkan kalimat itu, Arkan berlalu melewati seluruh kubikel di ruang keuangan dan langsung menuju pintu tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Dewi. Hari ini, pria itu sepenuhnya bersikap sebagai atasan. Tidak ada sedetik pun dia mengubah dirinya ke ‘mode suami’. Dew
“Hai, kamu yang namanya Dewi?” ucapnya sambil tersenyum lembut. Nadine melangkah mendekat. Ketukan stiletto-nya terdengar menggema di ruangan itu. Begitu pintu ditutup, Dewi memalingkan badannya, kini menatap Nadine yang tampak mengembangkan senyum lembut. Dewi mengangguk pelan. “Iya. Saya Dewi.
“Saya nungguin kamu.” Arkan menjawab dengan suara beratnya yang sedikit menyiratkan lelah. Kalimat itu, sukses membungkam Dewi. Menambah satu lagi daftar alasan yang membuatnya merasa semakin berhutang ‘salah’ pada Arkan. Arkan menunggunya menyelesaikan lemburan ilegal. Sesuatu yang tidak seharu
Dewi menatap pesan teks itu selama beberapa saat. Segenap udara yang melewati tenggorokannya mendadak terasa menyakitkan saat dia hembuskan. Siapa sangka akad yang dia kira akan menjadi ikrar suci sekali seumur hidup, ternyata harus kembali dia ulangi bersama laki-laki lain? Laki-laki yang tak dia












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações