FAZER LOGINTiga bulan setelah dijatuhkan talak tiga, Dewi pikir hidupnya sudah hancur—hingga mantan suaminya datang dengan satu permintaan yang mencengangkan: rujuk. Dengan syarat, Dewi harus menikah dengan seorang muhallil—laki-laki lain yang akan ‘menyentuhnya’, lalu menceraikannya. Baru setelah itu, Dewi bisa kembali pada Radit. Namun semuanya berubah saat Dewi mengetahui siapa pria yang dipilih untuk menjadi muhallilnya. Arkananta Daniswara Wijaya. Atasannya sendiri. Pria dingin yang dia benci setengah mati. Pernikahan itu pun dirahasiakan. Dari teman-teman kantor yang haus gosip. Dari adik-adik Dewi yang menyimpan rasa bersalah karena menggantungkan hidup pada Dewi—satu-satunya tulang punggung mereka. Saat dunia masih mengira Dewi sebagai istri dari Radit—mantan suaminya, saat itulah pernikahan Dewi dan Arkan diuji. Akankah keduanya rela menganggap ikatan sah ini berjalan hanya sebagai 'jembatan sementara'?
Ver maisMata Salwa memaksakan diri untuk membuka tatkala merasakan sesuatu yang lembab dan basah menyapu ujung dadanya. Permukaan tubuhnya terasa mengigil, seolah-olah tiada kain yang melindungi tubuh kurus dari hawa dingin ruangan ber-AC itu. Dia terkesiap di saat matanya terbuka sempurna, lalu bersiap membuka mulut untuk berteriak. Akan tetapi, suaranya tertahan karena sebuah tangan kekar tiba-tiba membungkam mulutnya.
"Tugasmu belum selesai, Kucing Mungil!" ucap seorang lelaki yang telah mengganggu tidur lelap Salwa. Dia melepas bungkamannya setelah dirasa perempuan itu sedikit tenang.
"Tuan, ...." Belum selesai sebuah kalimat terucap, tetapi lelaki itu sudah memerangkap tubuh Salwa, menindih dengan memosisikan tubuh mungil itu di bawahnya. Dia menundukkan wajah, menempelkan ujung hidungnya ke ujung hidung Salwa.
"Aku tidak suka jika melakukan itu dengan wanita yang sedang tertidur. Kau harus tetap sadar ketika aku menginginkannya lagi."
"Tapi, ...." Dia ingin menyela, mengungkapkan ketidaksetujuannya, tetapi mulut itu telah dibungkam dengan ciuman ganas yang terasa kasar dan menyakitkan.
Rasa benci, jijik, malu, terhina, dan sakit melingkupi hati Salwa. Dia ingin berteriak, melawan sikap seenaknya lelaki itu, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain "menyerah".
***
Koowloon, Hong Kong.
Mobil sport jenis Lamborghini Veneno dengan warna hitam metalic itu melaju gesit, membelah keramain jalan raya di salah satu kota besar di Hong Kong. Lekuk body mobil itu terlihat begitu exotic di bagian tertentu, terlihat elegan juga mewah menambah kesan mahal dari segi harga dan kualitas.
Lelaki itu menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Pandangannya lurus ke depan terfokus ke jalanan, dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancung yang selalu terlihat tampan dan menawan.
"Kalian di mana?" ucapnya kepada seseorang berada nan jauh di sana yang kini sedang terhubung dengan lelaki itu melalui Smartphone keluaran terbaru versi limited edition.
Dia menyematkan earpiece di telinga, sementara tangannya sedang fokus mengendara agar segera sampai ke tempat tujuan.
"Bodoh! Benar-benar tidak berguna!" Umpatan kesal keluar dari mulut lelaki itu sembari memukul gagang setir mobil.
Kilat kemarahan tercetak jelas dari sorot matanya, gerahamnya pun mengeras bersamaan kening yang berkerut dalam. "Bunuh saja dia! Aku sudah tidak peduli dengan nyawa yang tak berguna itu."
Panggilan berakhir dengan hasil yang tidak memuaskan. Lelaki itu menambah laju kendaraannya, menerobos kepadatan jalan raya kota Kowloon.
Hampir tiga puluh menit berlalu, mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di sebuah lahan kosong dengan bangunan tua yang tampak menyeramkan. Tanaman rambat liar terlihat menghiasi bangunan itu, menjalar hingga ke atap, hampir menutupi permukaannya.
Lelaki itu turun tanpa ragu, menapakkan kaki jenjang yang beralas sepatu berkilat-kilat, melangkah ringan tanpa beban seolah-olah apa yang akan dia hadapi saat ini merupakan mainan tak berharga dan patut untuk segera dimusnahkan keberadaannya.
Dia berjalan melewati lorong gelap bangunan tua itu seorang diri. Begitu gelap, hingga dia harus mengaktifkan kacamata sensornya yang bisa melihat dalam gulita untuk bisa mengamati keadaan sekitar.
Layaknya seorang petinggi, saat dia datang, semua orang yang berpakaian sama yaitu setelan formal serba hitam, kacamata hitam dengan earpiece tersemat di telinga yang menghubungkan antara satu orang dengan yang lain segera menepi memberi jalan, membiarkan seseorang bernasib sial, yang kini sedang mengerang kesakitan akibat pukulan-pukulan yang telah diterima untuk bertemu dengan takdir sesungguhnya.
Derap langkah sepatunya berdentum, menggema melingkupi ruangan itu, hingga ketika kakinya sudah sangat dekat dengan seonggok tubuh, hampir menyentuh kepala lelaki malang yang sedang meringkuk di lantai, dia berhenti.
Satu kaki ditekuk ke belakang dengan kaki yang lain terlipat sebagai tumpuan. Dia memosisikan tangan kanan di atas lututnya yang ditekuk, sedangkan tangan kirinya menarik paksa rambut si lelaki malang hingga kepala itu tergiring menengadah.
"Siapa yang menyuruhmu!"
Bukan jawaban yang keluar dari bibir lelaki malang itu, melainkan sebuah senyuman mengejek yang sengaja ditujukan kepada seseorang yang telah menyiksanya. Dia mencoba memantik kemarahan sang singa, yang kini tampak mulai tidak sabar untuk melenyapkannya. Ya, dia adalah satu-satunya petunjuk yang masih tersisa setelah beberapa rekannya telah mati terbunuh.
"Ambilkan air!"
Sebuah perintah terdengar penuh ketegasan, dan dengan cepat seseorang telah datang seraya membawa sebuah wadah berisi air.
Lelaki itu mengambil alih wadah itu, menyiramkannya secara kasar ke wajah lelaki malang yang sedang meringkuk kesakitan. Sepatunya menginjak dada manusia yang tak berdaya itu dengan kejam. Dia membungkukkan tubuh, menunduk, lalu menatap tajam ke arah lelaki itu.
"Kau tahu bukan, siapa aku?" Dia tersenyum sinis, menambah daya tekan kakinya di atas dada lelaki malang itu. "Cari anak istrinya! Siksa mereka agar dia mau membuka mulut!"
Lelaki malang itu tercengang, tidak menyangka dengan ucapan yang terlontar dari bibir pria jahat itu. Dia lupa siapa yang sedang dihadapinya, sosok iblis yang tak berperikemanusiaan juga tak memiliki empati serta belas kasihan. Pikirannya seketika berkecamuk, saling beradu pendapat dan berakhir dengan sebuah jawaban, kematian.
Sungguh kematian lebih baik baginya daripada harus menyaksikan istri dan anaknya disiksa oleh lelaki bengis itu. Jika dia bersuara, seseorang yang telah menyuruhnya akan berbuat sama dengan keluarganya. Dua manusia kejam yang berdiri mengelilingi kehidupannya membuat lelaki malang itu tak sanggup untuk memilih, hingga sebuah keputusan sulit harus ditempuhnya.
Lelaki malang itu menjulurkan lidah semampu yang dia bisa, menggigitnya dengan kuat hingga darah segar menetes sedikit demi sedikit dan ....
Ya, kematian seperti keinginannya telah terwujud dan disaksikan langsung oleh lelaki kejam yang berdiri di atasnya, Sean Arthur.
"Singkirkan mayat yang tak berguna ini!" Dia berteriak kesal, menahan amarah yang bergemuruh di dada. Bahkan, tawanan rela memilih mati daripada harus membuka mulutnya untuk memberikan sebuah jawaban.
Sean Arthur melangkahi jenazah itu begitu saja, seolah-olah tubuh yang baru saja mengakhiri kehidupan di depan matanya tidak memiliki harga sama sekali.
***
Bertolak belakang dengan kehidupan seorang Sean Arthur. Di tempat yang berbeda, di salah satu sudut kota di Indonesia, tampaklah seorang gadis baru saja keluar dari pagar sekolahnya. Senyum mengembang terlihat jelas di wajah gadis berkerudung putih itu. Dengan semangat dia berlari sembari mencangklong tas sekolah di bahunya. Ijazah dengan nilai terbaik sudah berada di tangan kanannya. Dia ingin menunjukkan kepada orang tuanya bahwa nilai terbaik sudah berhasil ia dapatkan. Bukan hanya itu, tawaran beasiswa dari salah satu perusahaan terkemuka untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi juga telah berhasil dia raih.
Sungguh hari ini adalah hari keberuntungan bagi gadis itu, Salwa Humaira.
Mengabaikan peluh di dahi, Salwa Humaira yang baru saja menerima piagam kelulusan dari sekolah menengah atas berlari memasuki pelataran rumahnya. Rumah berbahan dasar bambu yang dianyam sebagai dinding, beralas semen yang tampak tidak rata permukaannya, dan bilah bambu yang dirakit sedemikian rupa untuk dijadikan ranjang tidur yang terletak di sudut teras rumahnya.
Salwa menghentikan langkah, ketika kakinya telah sampai di depan pintu rumah. Dia mengatur napas sejenak, sebelum pada akhirnya memasuki rumah itu yang tak terlihat terbuka pintu depannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Salwa memberi salam. Tiada jawaban yang terdengar dari dalam rumah. Dia terus melangkah, masuk ke dalam rumah yang terlihat sunyi, sangat berbeda dengan biasanya.
Sayup-sayup terdengar panggilan dari luar rumah, membuat Salwa segera meletakkan tas dan ijazah yang sedari tadi dia genggam. Dia buru-buru keluar tanpa sempat berganti pakaian.
"Salwa, Salwa!"
Gadis itu terus melangkah, hingga terhenti di depan pintu. Pandangannya bersirobok dengan seorang wanita berbadan tambun yang terlihat tak sabar ingin menyampaikan sesuatu.
"Bapakmu ... masuk rumah sakit." Wanita itu berbicara tanpa menunggu Salwa menanyainya.
Salwa ternganga, terkejut akan kabar yang baru saja dia terima. Patutlah tak ada seorang pun yang berada di rumahnya, karena mereka semua sedang sibuk di rumah sakit.
"Tante Ayi, bisakah mengantarkan saya ke sana? Saya ... tidak memiliki uang untuk pergi," pinta Salwa dengan ragu.
Kehidupannya memang sulit. Dia lebih banyak jalan kaki atau menumpang teman yang kebetulan searah dengannya jika akan berangkat atau pulang sekolah. Sepeda roda dua satu-satunya digunakan oleh kedua adik laki-laki Salwa yang masih mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama. Ya, Salwa adalah anak sulung dari empat bersaudara, hal itu membuatnya harus lebih banyak mengalah untuk kepentingan adik-adiknya daripada kepentingannya sendiri.
Tante Ayi mengangguk menyetujui. Dia sangat tahu bagaimana kondisi keluarga Salwa sehingga dia memilih untuk mengantarkan Salwa ke rumah sakit di mana bapaknya sedang dirawat.
"Tunggu sebentar, Tan! Saya akan berganti pakaian."
Salwa segera masuk kembali ke dalam rumahnya, bersiap diri untuk segera berganti pakaian. Tidak menunggu lama, gadis itu telah siap dengan pakaian rumahan juga kerudung instan yang dipakai alakadarnya, tak lupa juga tas punggung yang entah apa isinya.
Dia berlari kecil ke luar rumah agar Tante Ayi tidak terlalu lama menunggu kedatangannya. Dia mengangguk kemudian, menutup rapat pintu rumah, lalu mengikuti Tante Ayi pergi.
Hati Salwa begitu gelisah memikirkan apa yang baru saja terjadi. Bapaknya sedang sakit, sementara ibunya pasti harus bekerja lebih untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga. Apakah dia akan tega jika memutuskan untuk melanjutkan kuliah di tengah perekonomian keluarga yang sedang terpuruk?
Dia adalah anak sulung, dan di sana ada tiga orang Adik yang harus ditanggung kebutuhan juga pendidikannya. Bukankah sudah sepatutnya Salwa harus membantu kehidupan keluarga, meringankan beban sang Ibu agar tidak terlalu berat memikul masalah keluarga. Lantas, bagaimana dengan mimpi-mimpinya? Bagaimana dengan beasiswa yang berhasil diraihnya?
Salwa termenung di atas jok motor Tante Ayi yang sedang membawanya ke rumah sakit. Pikirannya saling bertentangan, beradu, mencari jalan keluar atas apa yang sedang menimpa keluarganya.
Antara melanjutkan kuliah atau mencari pekerjaan. Antara mengejar mimpi atau meringankan beban keluarga. Salwa harus bisa memilih di antara keduanya. Merelakan mimpi yang sudah hampir dia raih, atau merelakan mimpi itu pergi setelah perjuangan berat yang dia lakukan selama ini untuk mendapatkannya. Ya, keputusan itu harus diambil dengan segera oleh Salwa, karena hanya dia seorang yang bisa diandalkan dalam keluarganya untuk saat ini.
“Yah … seharusnya aku kan nggak jatuh cinta sama kamu.” Tawa Dewi seketika menyembur. “Ngapain merasa bersalah? Dia yang buang aku. Dia aja hamili Anita dan aku nggak akan tahu kalau bukan Dokter Widya yang kasih tahu.” Arkan hanya menghela napas berat. Tak peduli bahwa tangan Dewi belum selesai mengobati, pria itu mendaratkan wajahnya di pundak Dewi, memeluknya erat. “Maaf, Wi.” Dewi yang tidak mengerti dengan permintaan maaf Arkan hanya tersenyum lembut. Tangannya terangkat mengelus punggung Arkan perlahan. “Kenapa kamu minta maaf?” Dewi berbisik, suaranya sangat lembut dan menenangkan. “Karena saya keras kepala pingin kamu ikut saya ke site.” Dewi hampir kembali tertawa. Suaminya itu—sejak tahu bahwa Dewi hamil, mulai sering bertindak manja, terlalu menempel dan sangat overprotective. “Aku juga lagi punya free time untuk cuti. Nggak apa-apa kok.” Arkan mengubah posisinya. Kali ini merebahkan kepalanya di pangkuan Dewi. Lihat? Seperti inilah Arkan yang sesungguhnya. “Jadi
Dunia di sekitar Radit seolah senyap, seakan seluruh pasokan oksigen di area proyek itu tersedot keluar. Suara deru mesin ekskavator di latar belakang mendadak menyublim, menyisakan bunyi detak jantung Radit yang bertalu-talu karena kepanikan yang merayap naik."D-Direktur...?" suara Radit serak saat tangannya yang semula mengepal, perlahan melemas.Perusahaan kontraktor yang dia rintis sedang megap-megap kehabisan dana. Jika sampai DWI Capital menolak pengajuan kreditnya, maka … hancurlah seluruh bisnis yang dia bangun.Dan sialnya, dia malah baru saja memukul direkturnya sambil melayangkan sumpah serapah. Radit menggeleng—tak bisa percaya dengan hal yang baru saja dia perbuat.Arkan berdiri tegak dibantu oleh asisten pribadinya. "Pak Radit," suara rendah Arkan memecah hening. Radit mendongak dengan tatapan bergetar.Kali ini bukan lagi karena amarah, melainkan rasa takut."Pesan singkat yang anda kirim ke ponsel saya satu jam lalu, dan penyerangan fisik yang baru anda lakukan di de
Satu bulan berikutnya, Radit membuka paket berupa surat yang diantar oleh kurir ke depan rumah. Saat membaca judul kop ‘Pengadilan Agama’ wajahnya seketika pucat. Tangannya gemetar saat matanya membaca kalimat di dalam isi surat itu.Surat Gugatan Cerai.Nama lengkap Dewi tertulis jelas sebagai pihak Penggugat, dan namanya sendiri—Raditya Pratama, tercantum di bawahnya sebagai pihak Tergugat.Tangan Radit gemetar hebat. Napasnya tercekat.Selama ini, Radit mengira perceraian mereka berbulan-bulan lalu—yang dipicu oleh foto jebakan buatan Anita—sudah memutus segalanya. Namun, dia terlalu bodoh dan terlena dalam kemenangan semu. Secara hukum negara, pernikahan mereka belum pernah disidangkan. Dan sekarang, Dewi bergerak maju secara resmi untuk memutus sisa rantai itu seutuhnya.Lembar kedua surat itu dibuka dengan sentakan kasar, memperlihatkan detail berkas gugatan. Di sana, tertulis nama firma hukum papan atas Jakarta yang menjadi kuasa hukum Dewi—sebuah firma hukum elite yang tarif
“Saya akan resign.”Hening.“Hah?” Langit menjadi orang pertama yang memecah senyap. Hani yang biasanya paling cepat berkomentar, kini mematung dengan mulut terbuka.Rian bahkan menjatuhkan pulpen yang dia putar-putar di antara jemarinya.Anita yang belum lama mengenal Arkan pun tampak terperangah—entah untuk alasan apa.Sekejap kemudian, ekspresi bingung itu berubah menjadi tatapan-tatapan penuh arti. Rian dan Langit saling melirik. Sudut bibir keduanya berkedut, seolah menahan sesuatu yang tidak pantas keluar dalam briefing pagi. Sedangkan Dewi yang sudah tahu dengan rencana Arkan, hanya berdiri dengan tenang sambil mengamati reaksi teman-temannya. Sampai akhirnya, matanya bertemu tatap dengan pria yang berdiri tegap memimpin briefing—Arkan.Senyum Dewi mengembang tipis. Matanya bergetar haru. Dadanya terisi penuh oleh rasa takjub dan hormat. Suami sekaligus atasannya itu, mengorbankan posisinya hanya agar Dewi tetap bisa bekerja di perusahaan ini. Dan itu jauh menyentuh hatinya,
“Dewi. Kamu dipanggil Pak Arkan.” Ucap Hani setengah berbisik. Persis saat dia baru saja keluar dari ruangan sang atasan.Dewi yang sedang mengetik seketika tertegun. Kaget sekaligus gugup.Apakah Arkan akan menjatuhkan eksekusi hukuman untuknya? Apakah tadi Hani dipanggil sebagai saksi? Apakah in
Arkan membeku. Sebuah bayangan melintas di benaknya, saat dia dan Dewi bertengkar di kamar gara-gara datangnya paket tas-tas mewah senilai ratusan juta atas nama Dewi. Saat itu, Arkan berteriak marah, “Kamu jual mahar dari saya untuk beli barang-barang begitu?” “A-aku nggak pernah beli itu semua
[ Selamat siang Ibu Dewi. Berikut adalah detail tagihan rumah sakit yang harus anda bayarkan dengan tenggat hingga akhir minggu ini. ] Denyut menyakitkan di sisi kepala Dewi seketika menghantam lebih hebat. Dewi butuh uang dalam waktu dekat. Dalam jumlah banyak. Bagaimana dia mendapatkannya?
[ Mas, aku minta maaf. Aku tadi ngejar kamu turun ke lobby dan sekarang aku gak bisa masuk rumah karena belum punya kartu akses. Kamu ke mana? ]Dewi terjebak di lobby. Dia pun tidak mungkin tidur di sofa lobby. Arkan tidak menjawab pesan dan teleponnya. Sedangkan mata Dewi kini sudah sangat lelah


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações