LOGINOm Aziz. Pria itu jauh dari kata ideal dengan usia yang terpaut jauh, sikap dingin, status duda, serta dua anak gadis yang sudah cukup besar untuk membencinya sejak awal. Namun, justru pria itulah yang dipilihkan untuk Alena. Sebagai mahasiswi yang hidupnya berjalan tenang, Alena tak pernah membayangkan masa depannya akan direnggut secepat ini. Satu perintah dari sang ibu mengubah segalanya. Pernikahan muda, pernikahan terpaksa serta pernikahan yang bahkan tak memberinya ruang untuk menolak. Aziz bukan pria jahat. Tapi dinginnya cukup untuk membuat Alena merasa sendirian dalam ikatan yang seharusnya bernama rumah tangga.
View More“Apa? Menikah?”
Tangan Alena bergetar hebat hingga ponselnya nyaris tergelincir dari genggaman. Suara di seberang sana terasa seperti hantaman ombak yang tiba-tiba. Jalanan kota Medan sore itu tetap sibuk, namun di mata Alena, segalanya mendadak buram. Yang tersisa hanyalah denging panjang di telinga, beradu dengan suara ibunya yang terdengar begitu penuh beban.
“Sudah diputuskan, Na. Aziz itu orang baik. Kita sudah terlalu banyak menerima budi dari keluarga mereka,” suara ibunya melunak, namun justru nada pasrah itulah yang paling menyakiti Alena.
Perempuan 21 tahun itu menunduk dalam, menatap ujung sepatu flatnya yang sudah mulai kusam, seperti masa depannya yang mendadak tak menentu.
“Tapi... tapi aku ‘kan masih kuliah, Mak. Belum juga tamat. Gimana masa depan aku nanti?” bisiknya, suaranya nyaris tercekat di tenggorokan.
Ibunya menghela napas panjang, sebuah desahan yang sarat akan rasa bersalah sekaligus harapan. “Kau ingat ‘kan, Nak? Tanpa bantuan mereka, mungkin kau sudah berhenti sekolah sejak SMA. Mamak cuma ingin yang terbaik untukmu, dan Aziz... dia sanggup melindungimu.”
Alena memejamkan matanya rapat-rapat. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.
Om Aziz? Sosok yang selalu dibicarakan tetangganya dengan nada segan sekaligus takut? Duda dengan dua anak perempuan yang sudah remaja?
Pikiran itu membuat dadanya sesak. Bagaimana mungkin ia yang masih sibuk dengan tugas kuliah, tiba-tiba harus memikul tanggung jawab sebagai seorang istri sekaligus ibu sambung?
“Aku takut, Mak... Aku dengar kalau Om Aziz itu orangnya keras. Aku enggak tahu harus gimana menghadapi orang seperti dia,” suara Alena mulai bergetar, mencerminkan ketidakberdayaan yang murni.
“Jangan dengarin gosip, Na. Nak Aziz itu tidak seperti yang kau dengar. Dia hanya tegas karena memimpin banyak orang. Mamak yakin dia orang yang bisa bertanggung jawab,” hibur ibunya lembut.
"Mak, aku..."
"Sudah ya, Na. Percaya saja sama Mamak. Pokoknya kau tinggal terima beres," potong ibunya.
Alena menyandarkan punggungnya di kursi taman yang keras, memandangi langit yang mulai memerah. Ia merasa seperti burung kecil yang sayapnya tiba-tiba diikat.
“Mak, kenapa harus mendadak begini? Paling enggak ‘kan kami masih bisa kenalan dulu?” Alena berusaha membuat penawaran.
Namun, sang ibu tetap keukeuh dengan permintaannya.
“Cinta itu bisa tumbuh, Na. Mamak dulu juga begitu sama Bapakmu. Yang penting adalah rasa hormat dan tanggung jawab,” sahut ibunya lirih.
Alena tertunduk lesu setelah obrolan via udara tadi berakhir. Tak lama kemudian ponselnya berdenting. Sebuah pesan singkat masuk, membuat jantungnya berdegup kencang karena cemas.
[Besok sore kalian harus bertemu. Aziz ingin bicara langsung.]
Alena terpaku. Rasanya seperti baru saja dijatuhi vonis tanpa sempat membela diri. Besok? Secepat itu ia harus berhadapan dengan takdir yang tak pernah ia pilih?
Pesan berikutnya menyusul.
[Jangan terlambat ya, Na. Aziz itu orang yang sangat menghargai waktu.]
Alena menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang. Bukan kemarahan yang ia rasakan, melainkan rasa sesak karena tidak memiliki pilihan. Ia terikat pada hutang budi keluarganya, pada harapan ibunya, dan pada kenyataan bahwa ia hanyalah seorang gadis muda yang tak punya kuasa untuk menolak.
Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Alena hanya bisa menatap langit-langit. Pertanyaan itu terus berputar, merayap di sela-sela ketakutannya. Kenapa pria sehebat Aziz memilih gadis biasa sepertinya?
"Aku sangat yakin, Mas. Mbak Sandra butuh kebahagiaannya sendiri.” Aziz menatap istrinya dengan kekaguman yang sulit disembunyikan. Ia menarik napas lega, seolah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya luruh begitu saja. "Terima kasih, Sayang. Kamu jauh lebih bijaksana daripada yang aku kira." Satu bulan berlalu dengan cepat, membawa perubahan atmosfer yang luar biasa di kediaman mereka. Jakarta sedang memasuki musim yang lebih bersahabat, sama seperti hubungan Alena dan Aziz yang kini kian merekat. Tidak ada lagi sindiran tentang takaran gula aren atau kecemburuan buta. Semuanya terasa lebih ringan. Sore itu, halaman belakang rumah mereka tampak lebih ramai dari biasanya. Suara tawa pecah dari arah kolam renang. Sasya akhirnya pulang untuk liburan semester. Kehadirannya membawa energi baru yang ceria di rumah tersebut."Ma! Lihat Dek Arka, dia sudah bisa merespons panggilanku!" seru Sasya dengan riang. Ia mengenakan kaus santai, wajahnya t
"Tapi Mas Jimmy benar, Mas. Kamu memang enggak pernah melamarku secara romantis," ucap Alena lirih, memecah keheningan yang sempat menggantung setelah kepergian Jimmy yang terburu-buru. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Jimmy baru saja pamit dengan wajah kikuk, membawa serta aura canggung setelah tanpa sengaja memantik api dari masa lalu yang sensitif. Sementara kini Alena memperhatikan Aziz yang masih berdiri mematung di dekat meja kerja. Napas suaminya masih sedikit memburu, rahangnya terkatup rapat, sisa dari pembelaan emosional yang baru saja ia lontarkan di depan Jimmy. Ada rasa bangga sekaligus haru yang merayap di hati Alena. Ia tidak menyangka bahwa Aziz akan sebegitu tersinggungnya saat sejarah pernikahan mereka dianggap remeh. Meski dimulai dengan kata terpaksa, Aziz seolah menegaskan bahwa proses setelahnya adalah sesu
Tangisan Arka pecah, melengking tinggi bersahutan dengan isak tangis Alena yang tidak lagi bisa dibendung. Pertahanan yang ia bangun selama sebulan ini runtuh seketika melihat kemeja Aziz yang terbuka dan barang-barang wanita yang berserakan di sofa. Di mata Alena, ruangan ini bukan lagi kantor suaminya, melainkan bukti nyata dari pengkhianatan yang paling rendah.“Sayang, tenang dulu ya. Aku bisa jelasin,” Aziz mencoba mendekat dengan tangan gemetar.“Apa, hah?? Apa yang mau kamu jelasin, Mas?” jerit Alena pilu. “Sepatu ini? Pakaian ini? Atau kemejamu yang terbuka itu?” Tepat saat ketegangan itu berada di puncaknya, pintu jati besar itu kembali terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk dengan wajah ceria sembari menenteng sekotak cokelat mewah. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat Alena
Satu bulan telah berlalu sejak kepulangan Alena ke rumah itu. Perlahan namun pasti, Alena mulai menata kembali kepingan otoritasnya yang sempat tercerai-berai. Ruang makan kini kembali beraroma masakannya, dan setiap sudut rumah mulai memancarkan kembali seleranya yang lembut namun tegas. Pukul sebelas siang, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, namun suasana di dapur Alena terasa sejuk. Ia baru saja selesai menata kotak bekal mewah berisi nasi daun jeruk, empal gentong, dan sambal goreng ati kesukaan Aziz. Hari ini, Alena memiliki rencana spesial. Ia ingin memberikan kejutan makan siang ke kantor suaminya, sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia lakukan. Alena berdiri di depan cermin besar di lorong, merapikan gamis berwarna pastel yang ia kenakan. Kerudung senadanya
Keheningan yang pekat mendadak jatuh di antara mereka, menelan sisa-sisa gema suara Aziz yang baru saja meninggi. Alena terdiam, napasnya masih memburu keci
Udara di kamar yang baru saja direnovasi itu terasa begitu pekat, seolah-olah memori tentang Aksara dan kehadiran Arkananta sedang berebut ruang di sana. Aziz tidak memaksa Alena untuk langsung berdiri. Ia tetap membiarkan dirinya terduduk di lantai kayu yang dingin, mendekap erat tubuh
Uap tipis membubung dari cangkir porselen yang diletakkan Sandra di atas meja jati itu. Aroma kopi gula aren memenuhi ruanga. Namun bagi Alena, aroma itu mendadak terasa menyesakkan paru-paru. Ia berdiri mematung di ambang pintu, mendekap Arkananta yang mulai menggeliat kecil dalam gend
Udara pagi buta di Bandara Kualanamu terasa dingin, namun ada api kecil yang hangat di dada Alena. Ia menggendong Arkananta yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal, sementara tangan kanannya menarik koper besar berisi seluruh sisa hidupnya di Medan. Langkahnya mantap melewati ge






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews