LOGINOm Aziz. Pria itu jauh dari kata ideal dengan usia yang terpaut jauh, sikap dingin, status duda, serta dua anak gadis yang sudah cukup besar untuk membencinya sejak awal. Namun, justru pria itulah yang dipilihkan untuk Alena. Sebagai mahasiswi yang hidupnya berjalan tenang, Alena tak pernah membayangkan masa depannya akan direnggut secepat ini. Satu perintah dari sang ibu mengubah segalanya. Pernikahan muda, pernikahan terpaksa serta pernikahan yang bahkan tak memberinya ruang untuk menolak. Aziz bukan pria jahat. Tapi dinginnya cukup untuk membuat Alena merasa sendirian dalam ikatan yang seharusnya bernama rumah tangga.
View More"Aku sangat yakin, Mas. Mbak Sandra butuh kebahagiaannya sendiri.” Aziz menatap istrinya dengan kekaguman yang sulit disembunyikan. Ia menarik napas lega, seolah beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya luruh begitu saja. "Terima kasih, Sayang. Kamu jauh lebih bijaksana daripada yang aku kira." Satu bulan berlalu dengan cepat, membawa perubahan atmosfer yang luar biasa di kediaman mereka. Jakarta sedang memasuki musim yang lebih bersahabat, sama seperti hubungan Alena dan Aziz yang kini kian merekat. Tidak ada lagi sindiran tentang takaran gula aren atau kecemburuan buta. Semuanya terasa lebih ringan. Sore itu, halaman belakang rumah mereka tampak lebih ramai dari biasanya. Suara tawa pecah dari arah kolam renang. Sasya akhirnya pulang untuk liburan semester. Kehadirannya membawa energi baru yang ceria di rumah tersebut."Ma! Lihat Dek Arka, dia sudah bisa merespons panggilanku!" seru Sasya dengan riang. Ia mengenakan kaus santai, wajahnya t
"Tapi Mas Jimmy benar, Mas. Kamu memang enggak pernah melamarku secara romantis," ucap Alena lirih, memecah keheningan yang sempat menggantung setelah kepergian Jimmy yang terburu-buru. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Jimmy baru saja pamit dengan wajah kikuk, membawa serta aura canggung setelah tanpa sengaja memantik api dari masa lalu yang sensitif. Sementara kini Alena memperhatikan Aziz yang masih berdiri mematung di dekat meja kerja. Napas suaminya masih sedikit memburu, rahangnya terkatup rapat, sisa dari pembelaan emosional yang baru saja ia lontarkan di depan Jimmy. Ada rasa bangga sekaligus haru yang merayap di hati Alena. Ia tidak menyangka bahwa Aziz akan sebegitu tersinggungnya saat sejarah pernikahan mereka dianggap remeh. Meski dimulai dengan kata terpaksa, Aziz seolah menegaskan bahwa proses setelahnya adalah sesu
Tangisan Arka pecah, melengking tinggi bersahutan dengan isak tangis Alena yang tidak lagi bisa dibendung. Pertahanan yang ia bangun selama sebulan ini runtuh seketika melihat kemeja Aziz yang terbuka dan barang-barang wanita yang berserakan di sofa. Di mata Alena, ruangan ini bukan lagi kantor suaminya, melainkan bukti nyata dari pengkhianatan yang paling rendah.“Sayang, tenang dulu ya. Aku bisa jelasin,” Aziz mencoba mendekat dengan tangan gemetar.“Apa, hah?? Apa yang mau kamu jelasin, Mas?” jerit Alena pilu. “Sepatu ini? Pakaian ini? Atau kemejamu yang terbuka itu?” Tepat saat ketegangan itu berada di puncaknya, pintu jati besar itu kembali terbuka. Seorang pria bertubuh tegap masuk dengan wajah ceria sembari menenteng sekotak cokelat mewah. Namun, langkahnya terhenti seketika melihat Alena
Satu bulan telah berlalu sejak kepulangan Alena ke rumah itu. Perlahan namun pasti, Alena mulai menata kembali kepingan otoritasnya yang sempat tercerai-berai. Ruang makan kini kembali beraroma masakannya, dan setiap sudut rumah mulai memancarkan kembali seleranya yang lembut namun tegas. Pukul sebelas siang, matahari Jakarta sedang terik-teriknya, namun suasana di dapur Alena terasa sejuk. Ia baru saja selesai menata kotak bekal mewah berisi nasi daun jeruk, empal gentong, dan sambal goreng ati kesukaan Aziz. Hari ini, Alena memiliki rencana spesial. Ia ingin memberikan kejutan makan siang ke kantor suaminya, sesuatu yang sudah lama sekali tidak ia lakukan. Alena berdiri di depan cermin besar di lorong, merapikan gamis berwarna pastel yang ia kenakan. Kerudung senadanya
Kamar itu hanya diterangi oleh lampu tidur temaram yang membiaskan bayangan panjang di dinding kayu. Detak jam dinding seolah berpacu dengan degup jantung Alena yang kian kencang. Ia menatap Aziz, mencari kepastian di balik netra gelap suaminya. Ada ketakutan, namun ada pula setitik rin
"Hei, aku enggak mesum." Aziz baru berkata demikian sesaat setelah mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Kalimat itu meluncur begitu saja, mencoba memecah kecanggungan yang membeku sejak dari ruang praktik Bidan Lastri tad
Aziz terpaku di ambang pintu yang hanya menyisakan celah sempit. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rongga dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ia menatap sofa kayu keras di luar, lalu beralih menatap ranjang berukuran queen yang terasa sangat mungil itu. Di sana, Alena meringk
Aziz terpaku di tempatnya berdiri, tangannya yang semula hendak meraih bahu Alena tertahan di udara. Wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar dengan langkah tergesa, meninggalkan Aziz dalam kepungan rasa bersalah yang menyesakkan di ruang tamu mungil tersebut. Alena menutup
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews