Pagi itu, suasana rumah tampak seperti biasa. Aziz sudah berangkat ke kantor sebelum matahari terbit, sementara Sasya dan Zizi sedang bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Alena mencoba tersenyum kepada mereka, meskipun dalam hatinya ia merasa semakin jauh dari kedua anak tiri itu. Terutama Sasya."Sasya, Zizi, kalian enggak mau sarapan dulu?" tanya Alena sambil membuka tudung saji di meja makan.Zizi mengangguk dan duduk dengan patuh, mengambil roti panggang yang sudah disiapkan Alena. "Aku makan dulu, Kak," katanya lembut.Namun, seperti biasa, Sasya tetap dingin. Gadis itu hanya melihat sekilas ke arah makanan, lalu menggeleng. "Aku enggak lapar. Lagian, aku lebih suka sarapan di luar." Nada suaranya terdengar tajam dan tidak peduli.Alena berusaha menahan diri agar tidak menunjukkan rasa sakit di wajahnya. Ia tahu, berusaha mendekati Sasya akan memerlukan waktu dan kesabaran ekstra, tetapi kadang rasanya mustahil. "Oke, kalau kau enggak mau makan, hati-hati di jalan ya."Sasya tida
Dernière mise à jour : 2025-11-25 Read More