INICIAR SESIÓN“Dom, apakah Jenderal itu membenciku?” tanyaku pelan ketika keributan di aula sedikit reda dan tamu mulai beralih ke meja jamuan.“Benci sekali,” jawab Domnick tanpa berusaha menghaluskan.Namun suaranya tetap datar. Ia melingkarkan lengan di sisi punggungku, menciptakan pagar tak terlihat. “Tapi tenang, tidak akan mengalahkan kebenciannya padaku.”Sebelum aku sempat mencerna kalimat itu, Domnick menunduk sedikit, merendahkan tubuhnya cukup untuk mengecup sisi bawah pipiku. Bukan di bibir, tapi terlalu dekat bibir.Kecupan curian Domnick begitu cepat sampai aku tidak sempat bereaksi, tanganku yang terangkat refleks langsung diturunkan kembali olehnya.“Kita butuh adegan ekstra,” bisiknya. “Jangan sampai momen datangnya Jenderal jadi yang terakhir ditangkap kamera.”Ya Tuhan.Kilat kamera menghujani kami lagi dan sepertinya hadirin kembali tersedot dalam fairytale yang disuguhkan Domnick. Seorang raja yang menikahi penyelamatnya, wanita biasa yang menjadi ratu karena keberaniannya. Mun
“Latihan ciuman itu apa?” Domnick memastikan. “Kamu perlu gladi resik untuk bagian ini?” “Ya… bukan gitu,” desisku.“Aku belum pernah ciuman sebelumnya. Lalu ciuman pertamaku dipakai buat pertunangan pura-pura, di depan pejabat semua, direkam kamera. Rasanya mubazir banget!” Alis Domnick terangkat sedikit. “Belum pernah?” Seluruh wajahku terasa memanas.“Intinya… aku tidak siap. Ciuman pertama itu kan, biasanya… romantis. Bukan begini… seperti… acara serah terima barang.”Aku yang jadi barangnya, batinku dalam hati. Domnick mengerutkan bibirnya, seakan menahan tawa. Ia berdeham sedikit, lalu seperti mencari kata-kata untuk menjelaskan “Alyssa, pertama, ini bukan pura-pura. Kontrak kita sementara, tapi pertunangan kita nyata. Kedua, ini hanya kecupan kering, tidak basah.” Aku mengerutkan kening. “Apa bedanya? Basah dan kering itu… maksudnya?” Domnick menatapku dengan ekspresi antara geli dan tidak percaya. “Astaga, Olivia harusnya yang mengajarimu begini,” gumamnya. Domnick men
Setelah episode tanda tangan kontrak bodoh itu, Domnick dan rombongannya kembali ke mansion tempatnya tinggal. Sementara, aku mencari Sasha.Kuajak satu-satunya sahabat yang aku punya itu menyusuri koridor terluar dari mansionku untuk menjernihkan pikiran, berjalan bersisian. Udara malam sangat sejuk tak terasa kami berjalan makin jauh meninggalkan bangunan utama.Setelah puas saling mencela soal gaun dan ketatnya pengawalan, dan betapa 'anjir kagak ada normal-normalnya hidup gue sekarang', Sasha tiba-tiba mengingat sesuatu.“Oh iya Al,” katanya. “Kemarin aku lihat Ibumu digandeng cowok ganteng waktu turun dari pesawat. Katanya dokter keluarga. Sejak kapan keluarga kalian punya dokter pribadi?”Aku hampir tersedak udara. “Sejak… hmm, bulan lalu,” jawabku gugup. “Biasa, bonus dari Domnick supaya keluarga calon istrinya sehat walafiat."Yesss, lanjutkan terus kebohonganmu, Alyssa.Sasha memeriksa ekspresiku, lalu justru berseru kagum. “Luar biasa. Dulu mau periksa bisul aja masih cari k
Ian menatapku, seolah ingin memastikan setiap kata di layar ponselnya benar-benar terbaca olehku“Kalau begitu, saya permisi memeriksa Ibu,” katanya, kembali bersikap formal. Aku menggeser tubuh, memberi ruang agar ia masuk. Dalam gerakan yang terlihat biasa bagi seorang dokter, Ian membuka tasnya dan mengeluarkan kotak obat kecil, beberapa lembar formulir, dan sebuah buku catatan saku. Ibu duduk di kursi dekat jendela, tersenyum lebar. “Diperiksa lagi? Waduh, serasa pejabat,” selorohnya. “Justru karena Ibu bukan pejabat,” jawab Ian ringan, “kami harus memastikan kesehatannya baik. Pejabat biasanya sudah punya tim medis khusus. Ibu hanya punya saya.” Ibu tertawa, melirikku bangga. “Kayaknya dia lebih perhatian ke Ibu daripada kamu, Al.” Aku pura-pura tersenyum. "Namanya juga dokter keluarga."Saat Ian memeriksa tekanan darah dan nadi Ibu, aku beringsut ke meja kecil di dekat tempat tidur. Di atas meja, ada buku blok catatan dan pulpen. Aku tahu dari semua gestur Ian tadi kalau a
Olivia mengabariku tentang rencana pertunanganku dan Domnick sebelum upacara pernikahan. Rupanya pertunangan adalah rangkaian wajib yang perlu dilakukan pasangan Kerajaan sebelum mereka resmi mendapat gelar atau menduduki tahta.Begitu jadwal resmi pertunanganku diumumkan, hal pertama yang kulakukan bukan memilih gaun atau memikirkan riasan. Hal pertama yang kulakukan adalah mengirimi Domnick sebuah pesan.Yang Mulia, masih ingat janji Anda?Beberapa detik kemudian, balasan masuk.Janji yang mana? tanya Domnick.Buru-buru aku balas. Janji mendatangkan keluargaku ke Grindlandia kapan pun aku kangen. Aku mau keluargaku hadir untuk acara pertunangan. Terutama Bapak Ibuku dan Sasha.Ada jeda sebentar, lalu muncul balasan Domnick yang membuat dadaku lega.Sudah disiapkan. Visa khusus, pesawat, pengawalan. Bapak Ibumu dan teman-temanmu ada di daftar tamu utama.Sungguh?Sungguh. Buat apa bercanda tentang keluargamu?Aku menatap layar ponsel beberapa saat, menghela nafas berat sebelum menam
BRAKK! DUK! DUK! DUK!Suara hentakan keras di kaca membuatku memekik. Ranjang yang empuk sama sekali tidak membantu ketika jantungku seperti melompat ke tenggorokan.Ada bayangan hitam tinggi di beranda luar jendela.Selama beberapa detik, aku hanya bisa mematung, udara tertahan di paru-paru. Bayangan itu tidak jelas, hanya siluet menempel di kaca, tapi cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri.“Olivia!” suaraku nyaris pecah. “Olivia!”Pintu dalam kamarku terbanting terbuka. Olivia muncul lebih cepat dari yang kupikirkan, diikuti Mark dan dua pengawal lain. Mereka serempak menilai situasi: aku di ranjang, jendela yang baru saja bergetar, tirai yang masih bergoyang.“Ada apa?” tanya Olivia, mendekat.“Di jendela…” aku menunjuk dengan jari bergetar. “Tadi ada yang menggedor keras. Seperti… menabrak.”Mark segera memberi isyarat. Dua pengawal bergegas ke arah jendela, membuka tirai lebar-lebar. Beranda yang tadi dipenuhi bayangan hitam kini kosong, hanya diterangi lampu luar yang temaram.
Selama penerbangan dari Jakarta menuju Grindlandia, aku didudukkan di bagian kabin yang agak jauh dari tempat Domnick dan para stafnya. Olivia bilang, jarak itu sengaja diatur supaya kesibukan Domnick tidak mengganggu istirahatku. Katanya, aku perlu tenang sebelum tiba di rumah baruku. Rumah baru.
Bapak masih tertawa-tawa di teras bersama Domnick ketika aku kembali ke ruang tengah. Suara mereka bercampur dengan bunyi sendok mengaduk teh, dan sesekali suara tetangga yang bersikeras mau menembus barikade ke rumahku.Aku duduk di ujung sofa, menatap keramik ruang tamu rumahku yang sudah berkali
Domnick datang ke kamar ketika aku baru saja selesai berdebat dengan bantal soal nasib. Ia mengetuk sekali, lalu membuka pintu tanpa suara.Di belakangnya, ada perempuan tinggi langsing dengan rambut kecokelatan diikat ekor kuda di atas bahu. Lekuk dan garis wajahnya sekilas mirip Domnick. Busanany
“Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpa







