首頁 / Romansa / Istri Dadakan Sang Raja / 13. Teror Malam Pertama (2)

分享

13. Teror Malam Pertama (2)

作者: Naomi Leon
last update publish date: 2026-06-17 00:04:36
BRAKK! DUK! DUK! DUK!

Suara hentakan keras di kaca membuatku memekik. Ranjang yang empuk sama sekali tidak membantu ketika jantungku seperti melompat ke tenggorokan.

Ada bayangan hitam tinggi di beranda luar jendela.

Selama beberapa detik, aku hanya bisa mematung, udara tertahan di paru-paru. Bayangan itu tidak jelas, hanya siluet menempel di kaca, tapi cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri.

“Olivia!” suaraku nyaris pecah. “Olivia!”

Pintu dalam kamarku terbanting terbuka. Olivia muncul lebih
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Istri Dadakan Sang Raja   15. Antara Dua Pilihan (2)

    Ian menatapku, seolah ingin memastikan setiap kata di layar ponselnya benar-benar terbaca olehku“Kalau begitu, saya permisi memeriksa Ibu,” katanya, kembali bersikap formal. Aku menggeser tubuh, memberi ruang agar ia masuk. Dalam gerakan yang terlihat biasa bagi seorang dokter, Ian membuka tasnya dan mengeluarkan kotak obat kecil, beberapa lembar formulir, dan sebuah buku catatan saku. Ibu duduk di kursi dekat jendela, tersenyum lebar. “Diperiksa lagi? Waduh, serasa pejabat,” selorohnya. “Justru karena Ibu bukan pejabat,” jawab Ian ringan, “kami harus memastikan kesehatannya baik. Pejabat biasanya sudah punya tim medis khusus. Ibu hanya punya saya.” Ibu tertawa, melirikku bangga. “Kayaknya dia lebih perhatian ke Ibu daripada kamu, Al.” Aku pura-pura tersenyum. "Namanya juga dokter keluarga."Saat Ian memeriksa tekanan darah dan nadi Ibu, aku beringsut ke meja kecil di dekat tempat tidur. Di atas meja, ada buku blok catatan dan pulpen. Aku tahu dari semua gestur Ian tadi kalau a

  • Istri Dadakan Sang Raja   14. Antara Dua Pilihan

    Olivia mengabariku tentang rencana pertunanganku dan Domnick sebelum upacara pernikahan. Rupanya pertunangan adalah rangkaian wajib yang perlu dilakukan pasangan Kerajaan sebelum mereka resmi mendapat gelar atau menduduki tahta.Begitu jadwal resmi pertunanganku diumumkan, hal pertama yang kulakukan bukan memilih gaun atau memikirkan riasan. Hal pertama yang kulakukan adalah mengirimi Domnick sebuah pesan.Yang Mulia, masih ingat janji Anda?Beberapa detik kemudian, balasan masuk.Janji yang mana? tanya Domnick.Buru-buru aku balas. Janji mendatangkan keluargaku ke Grindlandia kapan pun aku kangen. Aku mau keluargaku hadir untuk acara pertunangan. Terutama Bapak Ibuku dan Sasha.Ada jeda sebentar, lalu muncul balasan Domnick yang membuat dadaku lega.Sudah disiapkan. Visa khusus, pesawat, pengawalan. Bapak Ibumu dan teman-temanmu ada di daftar tamu utama.Sungguh?Sungguh. Buat apa bercanda tentang keluargamu?Aku menatap layar ponsel beberapa saat, menghela nafas berat sebelum menam

  • Istri Dadakan Sang Raja   13. Teror Malam Pertama (2)

    BRAKK! DUK! DUK! DUK!Suara hentakan keras di kaca membuatku memekik. Ranjang yang empuk sama sekali tidak membantu ketika jantungku seperti melompat ke tenggorokan.Ada bayangan hitam tinggi di beranda luar jendela.Selama beberapa detik, aku hanya bisa mematung, udara tertahan di paru-paru. Bayangan itu tidak jelas, hanya siluet menempel di kaca, tapi cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri.“Olivia!” suaraku nyaris pecah. “Olivia!”Pintu dalam kamarku terbanting terbuka. Olivia muncul lebih cepat dari yang kupikirkan, diikuti Mark dan dua pengawal lain. Mereka serempak menilai situasi: aku di ranjang, jendela yang baru saja bergetar, tirai yang masih bergoyang.“Ada apa?” tanya Olivia, mendekat.“Di jendela…” aku menunjuk dengan jari bergetar. “Tadi ada yang menggedor keras. Seperti… menabrak.”Mark segera memberi isyarat. Dua pengawal bergegas ke arah jendela, membuka tirai lebar-lebar. Beranda yang tadi dipenuhi bayangan hitam kini kosong, hanya diterangi lampu luar yang temaram.

  • Istri Dadakan Sang Raja   12. Teror Malam Pertama

    Malam pertamaku di Grindlandia kuhabiskan dengan berusaha keras agar tidak terlihat terlalu kampungan. Andai hidupku ini bisa dijadikan bahan unggahan, mungkin cocok sekali masuk serial “dari begini jadi begitu”. Dulu, aku terbiasa terjepit di tengah lautan ketiak manusia di gerbong KRL Bekasi. Sekarang, dalam hitungan hari, aku naik jet pribadi, turun ke sedan mewah yang interiornya mengkilap berkilauan. Aku sempat menggoda Domnick tadi di bandara, saat melihat barisan mobil hitam mengilap. “Kenapa tidak sekalian pakai limusin saja?” “Mobil itu terlalu murah,” jawabnya datar. Aku mengangguk-angguk saja, seolah paham, padahal harga satu mobilnya Domnick mungkin cukup untuk membeli dua belas rumah di kompleksku. Atau mungkin maksudnya “murah” di sini bukan soal harga, melainkan soal selera. Di titik ini, aku menyerah memahami sudut pandang orang yang kayanya keterlaluan. Kamar yang disiapkan untukku di Grindlandia lebih pantas disebut suite hotel paling mahal dibanding sekadar “ka

  • Istri Dadakan Sang Raja   11. Landing Grindlandia!

    Selama penerbangan dari Jakarta menuju Grindlandia, aku didudukkan di bagian kabin yang agak jauh dari tempat Domnick dan para stafnya. Olivia bilang, jarak itu sengaja diatur supaya kesibukan Domnick tidak mengganggu istirahatku. Katanya, aku perlu tenang sebelum tiba di rumah baruku. Rumah baru.Kata itu saja sudah cukup membuat perutku mual.Menjelang waktu makan malam, pintu sekat kabinku diketuk pelan. Domnick muncul, kali ini tanpa jas resmi, hanya kemeja putih dan celana bahan rapi. Tetap saja, auranya sulit disamakan dengan penumpang biasa. “Masih jauh?” aku bertanya lebih dulu, sekadar memecah hening. “Sekitar tiga jam lagi,” jawabnya.Tiga jam. Tiga jam lagi aku akan mendarat di negara yang bahkan letaknya baru kucari di peta seminggu lalu. Kalau tidak salah, Grindlandia berada di gugusan kepulauan kecil antara Samudra Pasifik dan Australia bagian utara, bekas jajahan Inggris yang kaya minyak dan gas. “Apa yang kamu pikirkan?” suara Domnick datang memotong renunganku.Ak

  • Istri Dadakan Sang Raja   10. Terjebak Masa Lalu

    Bapak masih tertawa-tawa di teras bersama Domnick ketika aku kembali ke ruang tengah. Suara mereka bercampur dengan bunyi sendok mengaduk teh, dan sesekali suara tetangga yang bersikeras mau menembus barikade ke rumahku.Aku duduk di ujung sofa, menatap keramik ruang tamu rumahku yang sudah berkali-kali direnovasi seadanya. Di dindingnya, foto-foto lama tergantung apa adanya. Foto wisudaku, foto random lagi jajan di kanal banjir timur alias BRT, foto keluarga waktu piknik ke Ancol, foto almarhum Kakek di depan warung kelontong. Semua terasa begitu… biasa-biasa aja.Tidak ada di antara foto itu yang cocok dengan kata “Ratu Grindlandia”.Suara Bapak kepada Domnick masih menggema di kepala.“Tolong sayangi Alyssa selama-lamanya.”Diucapkan Bapak begitu ringan, seolah yang diminta hanya diskon belanja bulanan di minimarket, bukan perjanjian hidup dan mati dengan seorang laki-laki asing.“Alyssa, kamu tidak apa-apa?” Ibu duduk di sampingku, menepuk pelan lututku.Aku memaksa tersenyum. “Ti

  • Istri Dadakan Sang Raja   8. Aspri Spek Bidadari

    Domnick datang ke kamar ketika aku baru saja selesai berdebat dengan bantal soal nasib. Ia mengetuk sekali, lalu membuka pintu tanpa suara.Di belakangnya, ada perempuan tinggi langsing dengan rambut kecokelatan diikat ekor kuda di atas bahu. Lekuk dan garis wajahnya sekilas mirip Domnick. Busanany

  • Istri Dadakan Sang Raja   7. Balada Tunangan Instan

    “Miss Khairan Alyssa, maukah kamu menikah denganku supaya aku bisa melindungimu?”Ternyata itu kalimat lengkapnya. Menyebalkan sekali.Begitu aku benar-benar siuman di rumah sakit, Domnick sudah ada di sisi ranjang. Wajahnya terlihat sangat khawatir.Domnick bercerita bahwa sopir mobil yang kutumpa

  • Istri Dadakan Sang Raja   6. Makan Siang Tanpa Ketenangan

    Aku terkaget-kaget sendiri ketika omongan Ian malam itu jadi kenyataan.Tiket pulang ke Indonesia yang sudah susah payah disiapkan pihak kedutaan berakhir dibatalkan begitu saja. Bukan karena masalah teknis, tapi karena kelakuan makhluk jejadian bernama Madam.“Besok aja pulangnya, saya belum packi

  • Istri Dadakan Sang Raja   5. Hari Gedebak Gedebuk

    “Orang kami, dari Indonesia.”Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status