Beranda / Romansa / Istri Dadakan Sang Raja / 15. Antara Dua Pilihan (2)

Share

15. Antara Dua Pilihan (2)

Penulis: Naomi Leon
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 16:51:41

Ian menatapku, seolah ingin memastikan setiap kata di layar ponselnya benar-benar terbaca olehku

“Kalau begitu, saya permisi memeriksa Ibu,” katanya, kembali bersikap formal.

Aku menggeser tubuh, memberi ruang agar ia masuk. Dalam gerakan yang terlihat biasa bagi seorang dokter, Ian membuka tasnya dan mengeluarkan kotak obat kecil, beberapa lembar formulir, dan sebuah buku catatan saku.

Ibu duduk di kursi dekat jendela, tersenyum lebar. “Diperiksa lagi? Waduh, serasa pejabat,” selorohnya.

“J
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Dadakan Sang Raja   18. Kecupan Kedua

    “Dom, apakah Jenderal itu membenciku?” tanyaku pelan ketika keributan di aula sedikit reda dan tamu mulai beralih ke meja jamuan.“Benci sekali,” jawab Domnick tanpa berusaha menghaluskan.Namun suaranya tetap datar. Ia melingkarkan lengan di sisi punggungku, menciptakan pagar tak terlihat. “Tapi tenang, tidak akan mengalahkan kebenciannya padaku.”Sebelum aku sempat mencerna kalimat itu, Domnick menunduk sedikit, merendahkan tubuhnya cukup untuk mengecup sisi bawah pipiku. Bukan di bibir, tapi terlalu dekat bibir.Kecupan curian Domnick begitu cepat sampai aku tidak sempat bereaksi, tanganku yang terangkat refleks langsung diturunkan kembali olehnya.“Kita butuh adegan ekstra,” bisiknya. “Jangan sampai momen datangnya Jenderal jadi yang terakhir ditangkap kamera.”Ya Tuhan.Kilat kamera menghujani kami lagi dan sepertinya hadirin kembali tersedot dalam fairytale yang disuguhkan Domnick. Seorang raja yang menikahi penyelamatnya, wanita biasa yang menjadi ratu karena keberaniannya. Mun

  • Istri Dadakan Sang Raja   17. Kecupan Pertama

    “Latihan ciuman itu apa?” Domnick memastikan. “Kamu perlu gladi resik untuk bagian ini?” “Ya… bukan gitu,” desisku.“Aku belum pernah ciuman sebelumnya. Lalu ciuman pertamaku dipakai buat pertunangan pura-pura, di depan pejabat semua, direkam kamera. Rasanya mubazir banget!” Alis Domnick terangkat sedikit. “Belum pernah?” Seluruh wajahku terasa memanas.“Intinya… aku tidak siap. Ciuman pertama itu kan, biasanya… romantis. Bukan begini… seperti… acara serah terima barang.”Aku yang jadi barangnya, batinku dalam hati. Domnick mengerutkan bibirnya, seakan menahan tawa. Ia berdeham sedikit, lalu seperti mencari kata-kata untuk menjelaskan “Alyssa, pertama, ini bukan pura-pura. Kontrak kita sementara, tapi pertunangan kita nyata. Kedua, ini hanya kecupan kering, tidak basah.” Aku mengerutkan kening. “Apa bedanya? Basah dan kering itu… maksudnya?” Domnick menatapku dengan ekspresi antara geli dan tidak percaya. “Astaga, Olivia harusnya yang mengajarimu begini,” gumamnya. Domnick men

  • Istri Dadakan Sang Raja   16. Tunangan tanpa Ketenangan

    Setelah episode tanda tangan kontrak bodoh itu, Domnick dan rombongannya kembali ke mansion tempatnya tinggal. Sementara, aku mencari Sasha.Kuajak satu-satunya sahabat yang aku punya itu menyusuri koridor terluar dari mansionku untuk menjernihkan pikiran, berjalan bersisian. Udara malam sangat sejuk tak terasa kami berjalan makin jauh meninggalkan bangunan utama.Setelah puas saling mencela soal gaun dan ketatnya pengawalan, dan betapa 'anjir kagak ada normal-normalnya hidup gue sekarang', Sasha tiba-tiba mengingat sesuatu.“Oh iya Al,” katanya. “Kemarin aku lihat Ibumu digandeng cowok ganteng waktu turun dari pesawat. Katanya dokter keluarga. Sejak kapan keluarga kalian punya dokter pribadi?”Aku hampir tersedak udara. “Sejak… hmm, bulan lalu,” jawabku gugup. “Biasa, bonus dari Domnick supaya keluarga calon istrinya sehat walafiat."Yesss, lanjutkan terus kebohonganmu, Alyssa.Sasha memeriksa ekspresiku, lalu justru berseru kagum. “Luar biasa. Dulu mau periksa bisul aja masih cari k

  • Istri Dadakan Sang Raja   15. Antara Dua Pilihan (2)

    Ian menatapku, seolah ingin memastikan setiap kata di layar ponselnya benar-benar terbaca olehku“Kalau begitu, saya permisi memeriksa Ibu,” katanya, kembali bersikap formal. Aku menggeser tubuh, memberi ruang agar ia masuk. Dalam gerakan yang terlihat biasa bagi seorang dokter, Ian membuka tasnya dan mengeluarkan kotak obat kecil, beberapa lembar formulir, dan sebuah buku catatan saku. Ibu duduk di kursi dekat jendela, tersenyum lebar. “Diperiksa lagi? Waduh, serasa pejabat,” selorohnya. “Justru karena Ibu bukan pejabat,” jawab Ian ringan, “kami harus memastikan kesehatannya baik. Pejabat biasanya sudah punya tim medis khusus. Ibu hanya punya saya.” Ibu tertawa, melirikku bangga. “Kayaknya dia lebih perhatian ke Ibu daripada kamu, Al.” Aku pura-pura tersenyum. "Namanya juga dokter keluarga."Saat Ian memeriksa tekanan darah dan nadi Ibu, aku beringsut ke meja kecil di dekat tempat tidur. Di atas meja, ada buku blok catatan dan pulpen. Aku tahu dari semua gestur Ian tadi kalau a

  • Istri Dadakan Sang Raja   14. Antara Dua Pilihan

    Olivia mengabariku tentang rencana pertunanganku dan Domnick sebelum upacara pernikahan. Rupanya pertunangan adalah rangkaian wajib yang perlu dilakukan pasangan Kerajaan sebelum mereka resmi mendapat gelar atau menduduki tahta.Begitu jadwal resmi pertunanganku diumumkan, hal pertama yang kulakukan bukan memilih gaun atau memikirkan riasan. Hal pertama yang kulakukan adalah mengirimi Domnick sebuah pesan.Yang Mulia, masih ingat janji Anda?Beberapa detik kemudian, balasan masuk.Janji yang mana? tanya Domnick.Buru-buru aku balas. Janji mendatangkan keluargaku ke Grindlandia kapan pun aku kangen. Aku mau keluargaku hadir untuk acara pertunangan. Terutama Bapak Ibuku dan Sasha.Ada jeda sebentar, lalu muncul balasan Domnick yang membuat dadaku lega.Sudah disiapkan. Visa khusus, pesawat, pengawalan. Bapak Ibumu dan teman-temanmu ada di daftar tamu utama.Sungguh?Sungguh. Buat apa bercanda tentang keluargamu?Aku menatap layar ponsel beberapa saat, menghela nafas berat sebelum menam

  • Istri Dadakan Sang Raja   13. Teror Malam Pertama (2)

    BRAKK! DUK! DUK! DUK!Suara hentakan keras di kaca membuatku memekik. Ranjang yang empuk sama sekali tidak membantu ketika jantungku seperti melompat ke tenggorokan.Ada bayangan hitam tinggi di beranda luar jendela.Selama beberapa detik, aku hanya bisa mematung, udara tertahan di paru-paru. Bayangan itu tidak jelas, hanya siluet menempel di kaca, tapi cukup untuk membuat bulu kudukku berdiri.“Olivia!” suaraku nyaris pecah. “Olivia!”Pintu dalam kamarku terbanting terbuka. Olivia muncul lebih cepat dari yang kupikirkan, diikuti Mark dan dua pengawal lain. Mereka serempak menilai situasi: aku di ranjang, jendela yang baru saja bergetar, tirai yang masih bergoyang.“Ada apa?” tanya Olivia, mendekat.“Di jendela…” aku menunjuk dengan jari bergetar. “Tadi ada yang menggedor keras. Seperti… menabrak.”Mark segera memberi isyarat. Dua pengawal bergegas ke arah jendela, membuka tirai lebar-lebar. Beranda yang tadi dipenuhi bayangan hitam kini kosong, hanya diterangi lampu luar yang temaram.

  • Istri Dadakan Sang Raja   6. Makan Siang Tanpa Ketenangan

    Aku terkaget-kaget sendiri ketika omongan Ian malam itu jadi kenyataan.Tiket pulang ke Indonesia yang sudah susah payah disiapkan pihak kedutaan berakhir dibatalkan begitu saja. Bukan karena masalah teknis, tapi karena kelakuan makhluk jejadian bernama Madam.“Besok aja pulangnya, saya belum packi

  • Istri Dadakan Sang Raja   5. Hari Gedebak Gedebuk

    “Orang kami, dari Indonesia.”Ian menjawab dengan mantap. Ia melangkah mendekat ke arahku, setelan gelapnya kontras dengan wajahku yang pasti sudah sepucat mayat. Tangannya hinggap di bahuku, menenangkan.“Ia saksi. Kami ingin membawanya ke dalam perlindungan kami sebelum mendengar semua ceritanya.

  • Istri Dadakan Sang Raja   4. Nyawa Orang Ganteng

    Rupanya bukan hanya dari Madam, pesan singkat dari Kenzo juga masuk bertubi-tubi memenuhi ponselku.Chat Kenzo: Al, urusan tempat duduk gala dinner sudah beres, kan? Kamu siapkan bahan obrolan untuk Bu Dewi. Siapa saja yang duduk di mejanya. Siapa yang duduk di meja VVIP. Kalau banyak tamu dari neg

  • Istri Dadakan Sang Raja   3. Kacung Makhluk Jejadian

    “Bawain koper saya yang bener! Koper mahal ini!”Begitu turun dari pesawat, aku sudah resmi berubah fungsi dari jurnalis menjadi porter.Siapa yang pernah memimpikan perjalanan kerja ke luar negeri bareng atasan yang kelakuannya persis makhluk jejadian?Hampir semua orang di kantor lebih rela pura-

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status