Home / Rumah Tangga / Istri Dingin Sang Presdir / Bab 105: Hanya Sekadar Mengabdi pada Masyarakat

Share

Bab 105: Hanya Sekadar Mengabdi pada Masyarakat

Author: Eariis
last update Huling Na-update: 2025-03-19 00:11:27

"Kenapa aku harus menemui ayahmu?"

Serena Caldwell menatap Lyra dengan ekspresi terkejut. Gadis ini lagi-lagi berakting dalam skenario macam apa?!

"Tentu saja untuk membahas pernikahan!"

Lyra menjawab dengan polos, seolah-olah itu adalah hal yang paling wajar di dunia. Ia sama sekali tidak merasa bahwa kata-katanya terlalu mengejutkan atau sulit dicerna.

Serena Caldwell menatap Clara Ruixi dengan ekspresi seakan ingin menangis tetapi tidak bisa. Sahabatnya juga tampak sama terkejutnya. “Apakah ini adalah adegan paling dramatis dalam hidupku? Sejak kapan hubunganku dengan Si Pria Es itu begitu serius sampai-sampai harus bertemu orang tua untuk membahas pernikahan? Apakah gadis ini masih bisa mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi?” pikirnya.

"Lyra, kau yakin tidak sedang demam? Kau benar-benar tidak sedang mengigau?"

Serena Caldwell memijat pelipisnya, merasa kepalanya mulai pusing. Jika saja bisa, ia ingin ada petir yang
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Istri Dingin Sang Presdir   Bab 212: Apa kau sedang marah?

    “Kian, apakah Ayah seburuk itu bagimu?” Aiden bersandar di ambang pintu. Senyum nakal terukir di wajahnya saat menatap ibu dan anak itu, sementara perasaan bahagia perlahan memenuhi hatinya.Kian segera melompat turun dari pelukan Clara dan berlari dengan penuh semangat ke arah Aiden.“Ayah, Ayah sudah pulang! Kenapa Ayah tidak meneleponku waktu di pantai?” serunya riang, sama sekali melupakan bahwa satu menit sebelumnya ia masih sibuk mengkritik kesalahan orang lain.“Oh? Kian ingin ke pantai lagi?” Aiden mengerutkan kening sambil mengangkat anak itu ke dalam pelukannya. “Pantai lagi? Apakah kenangannya masih begitu melekat? Tidak bisakah mereka pergi ke tempat lain? Namun, jika pergi bersama sebagai keluarga bertiga, rasanya tetap menyenangkan” pikirnya dengan riang.“Iya! Ayah, kapan kita bisa pergi bersama Ibu?” Tangan kecil Kian memainkan dasi Aiden, sementara senyum manis tak pernah lepas dari wajah tampannya.“Kamu harus bertanya pada Ibumu kapan dia punya waktu luang,” jawab A

  • Istri Dingin Sang Presdir   Bab 211: Ketegaran yang palsu

    “Jadi, namamu Clara. Apa hubunganmu dengan Serena Avila?” Seraphine tersenyum dingin. Di matanya, perempuan dari Keluarga Ruixi hanyalah sosok menjijikkan. Ia hanya belum tahu peran apa yang sebenarnya dimainkan perempuan ini. “Aku tidak mengenal Serena Avila. Namun, seharusnya kamu memperkenalkan diri terlebih dahulu, Nona,” jawab Clara dengan sikap tetap anggun dan berjarak. Ia jelas tidak menyukai nada interogatif lawan bicaranya. “Tidak penting siapa aku. Yang penting, akulah perempuan yang selalu dicintai oleh Aiden,” ujar Seraphine sambil mengibaskan rambut ikalnya yang seksi, tersenyum manis hingga tampak menggoda. “Oh, begitu. Kalau begitu, mungkin kamu bisa menjelaskan alasan mengapa kamu mengirimkan foto itu kepadaku?” kata Clara dengan nada jauh lebih tenang. Kepanikan yang sempat muncul saat pertama melihat foto itu kini telah menghilang. “Apa? Hanya itu reaksimu? Bukankah ini tidak normal?” Seraphine mulai kehilangan ketenangannya. Apa maksud perempuan ini sebenarnya?

  • Istri Dingin Sang Presdir   Bab 210: Aku akan menunggumu

    Senja merah menyala menyelimuti langit musim panas. Aiden memandang cakrawala, saat laut dan langit seolah menyatu dalam warna yang sama. Sepanjang sore itu, ia larut dalam kesendirian. Duduk diam di dalam mobil, ia tampak seperti batu penjaga yang membisu—sunyi dan sepi.Ia sendiri tidak ingat sudah berapa lama tidak duduk termenung dengan begitu santai. Sejak mengambil alih perusahaan, hari-harinya dipenuhi rapat tanpa henti, tumpukan dokumen yang tak ada habisnya, acara sosial, pesta malam, dan kehidupan malam yang melelahkan. Kesempatan untuk benar-benar menyendiri dan merenung seperti sekarang nyaris tidak pernah ia miliki.Nada dering ponsel yang lembut memecah ketenangannya. Aiden mengernyit, lalu meraih ponsel itu. Saat melihat nomor yang muncul di layar, kelembutan perlahan terpancar di mata gelapnya.“Halo, istriku. Apakah kamu sudah sampai di rumah?” tanya Aiden sambil mendongak menatap langit. Ia baru menyadari bahwa warna senja telah berubah menjadi temaram. Tanpa terasa,

  • Istri Dingin Sang Presdir   Bab 209: Keterpurukan Aiden

    “Kamu bilang aku ini kapitalis, ya? Baik, akan kutunjukkan padamu apa itu tenaga kerja murah yang sesungguhnya. Semua proyek pengembangan yang ada di tanganku sekarang menjadi tanggung jawabmu. Aku ingin melihat hasilnya lusa pagi,” ujar Aiden. Sosoknya yang muram tiba-tiba muncul di ambang pintu. Tatapan dinginnya membuat Xavier merinding. Ia hanya bisa mengeluh dalam hati “ini sungguh kejam. Apa Aiden tahu betapa rumitnya seluruh proyek pengembangan itu? Dan tenggat lusa pagi? Lebih baik langsung bunuh diri saja”“Senior, kamu yakin maksudmu seluruh rencana pengembangan? Ini bukan lelucon, kan?” tanya Xavier sambil diam-diam menyeka keringat dingin. Jika tahu akan berakhir seperti ini, mungkin menghadapi wajah datar Hugo terasa jauh lebih menyenangkan.“Kenapa, kau keberatan?” Aiden menaikkan alisnya. “Menurut pengamatanku, kamulah yang paling banyak waktu luang di seluruh perusahaan. Kalau aku tidak memberimu pekerjaan, bagaimana aku bisa pantas dengan julukan yang barusan kamu sem

  • Istri Dingin Sang Presdir   Bab 208: Adik ipar!

    “Apakah pihak keluarga sudah mengetahuinya?” Clara mengusap keningnya. Menurut pemahamannya, dengan sifat dingin dan arogan Viktor, yang begitu memanjakan adiknya hingga hampir berlebihan, seharusnya persoalan sebesar ini tidak akan ditanggapi dengan begitu tenang.“Sudah. Aku baru saja kembali dari rumah keluarganya sore ini. Situasinya memang tidak sesederhana yang dibayangkan,” jawab Cedric. Saat teringat kembali ekspresi dingin di wajah Viktor, ia tanpa sadar merasakan bulu kuduknya berdiri.“Lalu bagaimana dengan keluargamu? Apakah mereka bisa menerimanya?” tanya Clara. Ia sangat paham posisi keluarga Cedric di ibu kota—keberadaannya setara dengan keluarga bangsawan atau keluarga kerajaan pada masa lampau.“Tenang saja. Aku pastikan dia tidak akan tersakiti,” ujar Cedric dengan nada mantap. Ia menyadari kekhawatiran Clara bukan tanpa alasan. Namun, ia tidak pernah melangkah tanpa perhitungan. Jika ia tidak yakin mampu menghadapi semua konsekuensinya, ia tidak akan gegabah memutus

  • Istri Dingin Sang Presdir   Bab 207: Pertanyaan yang menjebak

    Cedric membawa Lyra kembali ke rumahnya di kota. Ia tahu bahwa dibandingkan dengan rumah besar yang dingin itu, bangunannya memang sedikit lebih kecil. Namun, bagi keluarga biasa, tempat ini sudah dapat dikategorikan sebagai rumah mewah.Lyra mengamati rumah tersebut dengan penuh rasa ingin tahu. Dekorasinya terasa hangat di setiap sudut, sesuatu yang cukup mengejutkannya. Ia tidak menyangka pria yang tampak kaku dan tegas itu justru memiliki selera yang lembut dalam menata rumah.“Bagaimana menurutmu?” tanya Cedric sambil tersenyum. Namun, jauh di lubuk hatinya, terselip sedikit rasa kehilangan. Ia menyadari bahwa meskipun orang yang berdiri di hadapannya adalah sosok yang ia cintai, perasaan bahagia yang muncul kini tidak lagi utuh, melainkan bercampur kepahitan.“Bagus sekali! Hangat dan nyaman. Desainnya juga sesuai dengan gaya favoritku, sederhana namun elegan,” ujar Lyra dengan gembira. Ia mulai berkeliling menjelajahi rumah itu. Setiap sudut yang ia singgahi memberinya kesan be

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status