Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan

Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-12-31
Oleh:  Donat MblondoOngoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
9 Peringkat. 9 Ulasan-ulasan
198Bab
12.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Dibeli dengan harga 100 juta yuan, Anli si gadis buta itu hanya dianggap sebagai istri kontrak untuk melancarkan rencana Qin Yuze yang ingin menenangkan neneknya. Namun, takdir berkata lain. Di malam ketika Yuze nyaris kehilangan nyawa, Anli, istri yang selalu diremehkan itu justru menyelamatkannya dengan kemampuan luar biasa yang ia dapatkan dari masa lalunya. Siapa sangka, ternyata Anli adalah seorang ... #SquelTabibCantikMilikPangeran

Lihat lebih banyak

Bab 1

1. Transaksi

“Ayo!” bisik Yuze, serak, nyaris menyentuh kulit telinga.

Anli mengerutkan dahi, menoleh pelan. “Ayo apa?”

Yuze memutar wajah, sorot matanya gelap, menatap wanita dalam pelukannya. “Buat anak.” Napasnya memburu, jarak di antara mereka menipis dengan cepat.

“Hah?” Anli tersentak, tubuhnya menegang refleks. Kata-kata itu menghantamnya begitu saja.

Yuze, seolah tak memberi ruang untuk ragu, menggulung Anli kembali ke pelukannya lebih erat.

“Tuan—” Anli menarik napas pendek, suaranya pecah pada satu suku kata.

Sentuhan itu turun lagi, dan Anli bergerak sebelum garis itu terlewati. Jemarinya menahan pergelangan Yuze, cekatan dan tegas. “Bukankah Anda pernah bilang saya menjijikkan? Sekarang, mengapa Anda berbalik menginginkan saya?”

Napasnya memburu, kalimat itu terucap nyaris tanpa getar, tetapi jari Anli yang mencengkeram tangannya mengkhianati degup yang berantakan di dadanya. Yuze berhenti. Tatapannya menancap lekat ke mata Anli. Hitam, berat, terkoyak antara hasrat dan amarah yang menunju ke dirinya sendiri.

“Mengapa kau hanya bertanya padaku tentang itu?” Yuze membalas, suaranya serak namun bersinar tajam. “Bagaimana dengan Ibuku, yang dulu tidak pernah menganggapmu? Dan para pelayan yang dulu merendahkanmu? Mengapa kau tidak bertanya pada mereka… kenapa kini mereka segan padamu?”

Keheningan jatuh, menegangkan udara. Anli tidak langsung menjawab. Jemarinya masih memegang pergelangan Yuze, kini tidak hanya menahan, tetapi juga menakar getar urat nadi di sana. Detaknya cepat, bukan semata karena luka.

Tatapan Anli bergeser sedikit, buram namun tajam dengan caranya sendiri. “Saya tidak butuh jawaban mereka,” katanya akhirnya, tenang. “Saya butuh jawaban Anda.”

Yuze menelan pelan. Rahangnya bergerak, seperti menahan kata-kata yang terlalu panas untuk diucap. “Jawabannya sederhana,” desisnya rendah. “Kau ada di sini. Dan kau membuatku… tidak bisa tenang.”

***

“Cepat masuk! Hujan akan bertambah deras.”

Suara berat seorang pria berjas hitam memecah kesunyian jalan kecil yang berlumpur.

Anli berdiri di tengah jalan itu, rambut panjangnya basah menempel di wajah. Mata pucatnya hanya mampu menangkap siluet abu-abu samar. Ia menunduk sedikit, meraba tanah dengan ujung sepatu sebelum melangkah. Butiran hujan menetes di pipinya, dingin tapi tidak membuatnya gentar.

Langkahnya terlatih. Bertahun-tahun lalu, seseorang pernah menanamkan satu hal dalam dirinya: mata bukanlah satu-satunya cara untuk melihat dunia. Sejak itu, ia terbiasa membaca arah lewat suara, mengukur jarak lewat hembusan angin, dan menjaga keseimbangan meski penglihatannya terbatas.

Di lehernya tergantung liontin perak kusam berbentuk oval, dengan ukiran satu kata: Anli. Liontin itu satu-satunya petunjuk asal-usulnya, ketika tujuh tahun silam sepasang pemulung menemukannya di tepi Sungai Beishan. Saat itu, kepalanya berlumuran darah, penglihatannya rusak, dan ingatannya hilang.

Pasangan tua itu tidak punya apa-apa kecuali tangan yang kasar dan bubur tipis yang mereka bagi setiap pagi. Namun mereka merawatnya, memeluknya ketika mimpi buruk menghampiri, dan menyebutnya dengan nama yang tertulis di liontin.

Sayang, kemiskinan selalu lebih kuat daripada rasa kasih. Hutang menumpuk, penagih datang silih berganti. Hingga pada akhirnya, keputusan pahit diambil: menjual Anli.

Pagi itu, gerimis turun lembut. Anli berdiri di ambang pintu gubuk reyot, menggenggam botol kecil berisi salep herbal yang ia buat sendiri. Jemarinya mengenali daun-daun kering dari tekstur dan aroma, meski ia tak lagi ingat siapa yang pernah mengajarinya. Yang tersisa hanyalah bayangan samar seorang perempuan dengan suara lembut yang dulu menyebutkan nama-nama tanaman di telinganya.

“Akan ada yang memberimu makan di sana,” suara bapak angkatnya bergetar di antara batuk tua.

“Dan atap yang tak bocor,” sambung istrinya. Jemari keriputnya mengusap liontin Anli, seolah ingin meninggalkan kehangatan terakhir.

Anli mengangguk tenang. “Kalian sudah memberiku tujuh tahun hidup. Itu lebih dari cukup.”

Tidak ada air mata, hanya suara lirih yang membuat dada mereka terasa sesak.

Ia melangkah ke tanah becek. Di belakangnya, pasangan tua itu hanya bisa berdiri mematung, terlalu berat untuk mendekat, terlalu sakit untuk melepas.

Pintu mobil hitam terbuka. Pria berjas hitam tadi memegang payung besar, suaranya tegas: “Cepatlah. Hujannya semakin deras.”

Anli meraba tepian pintu mobil dengan hati-hati. Dari kejauhan, ia masih mendengar napas berat bapak angkatnya, dan isakan yang ditahan oleh ibu angkatnya. Liontin di leher terasa dingin menempel di kulit, jemarinya mengepalinya kuat-kuat. Itulah satu-satunya yang bisa ia bawa: aroma bubur jagung, suara batuk parau, dan hangatnya selendang yang dulu selalu dibetulkan dengan kasih.

Mobil bergerak, menelan bayangan gubuk reyot itu ke dalam kabut hujan.

---

Malam sebelumnya, hujan juga turun. Gubuk reyot itu diterangi lampu minyak yang redup, cahayanya berkelip tiap kali angin menyusup dari celah papan.

Bapak angkat Anli duduk di kursi reyot, jemarinya yang kasar menggenggam amplop tebal. Tangannya bergetar, entah karena usia, entah karena beratnya isi amplop itu.

Di hadapannya berdiri seorang pria muda, jas hitam licin menempel rapi, sepatu berkilau tanpa setitik lumpur. Tatapannya tajam, dingin, tidak menyisakan ruang bagi belas kasihan. Qin Yuze.

“Seratus juta yuan.” Suaranya datar, setenang malam yang dingin. “Anggap lunas semua hutang kalian. Setelah ini, kalian tak punya urusan lagi dengannya.”

Bapak angkat Anli menelan ludah, menoleh ke istrinya yang duduk di sudut, memeluk lutut erat-erat. “Tuan Qin… dia anak yang baik. Dia bisa bekerja. Tidak perlu—”

“Kalau bisa bekerja, sudah dari dulu ia melunasi hutang kalian sendiri,” potong Yuze. Nadanya tetap datar, seolah sedang membacakan laporan. “Aku tidak peduli kemampuannya. Yang kubutuhkan hanyalah status pernikahan untuk menenangkan Nenek.”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke lantai kayu, dingin, berat, tanpa rasa bersalah.

Ibu angkat Anli menegakkan tubuhnya, mata berkaca-kaca. “Tapi dia… buta, Tuan Qin.”

“Aku tahu.” Tatapan Yuze tidak bergeser. “Justru karena itu dia sempurna. Dia tidak akan menuntut. Tidak akan ikut campur. Dan yang terpenting…” sudut bibirnya bergerak tipis, “dia tidak akan membuat skandal.”

Ia menurunkan pandangan ke jam tangannya, lalu menambahkan singkat, “Besok pagi, sopirku datang. Pastikan dia siap.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi. Suara hujan menelan deru mesin mobilnya yang menjauh.

Di sudut ruangan, Anli duduk diam. Ia tak pernah melihat jelas wajah pria itu, hanya siluet tegap dan suara yang menusuk tanpa emosi. Namun ia mendengar setiap kata. Dan di tengah dinginnya malam, satu hal ia pahami, lelaki itu tidak membelinya untuk dicintai.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasanLebih banyak

Tama Fernandez
Tama Fernandez
Keren banget , Jangan lupa baca buku aku yaa berjudul " Pesona Ibu Tiri Temanku " Dijamin bikin ketagihan
2025-11-24 15:20:14
0
0
Donat Mblondo
Donat Mblondo
Ganti judul "Istri Buta 100 Juta Tak Tertandingi" menjadi "Ternyata Aku Seorang Putri Kerajaan"
2025-11-04 16:20:31
3
0
Joulee's JFk
Joulee's JFk
suka ceritanya hari ini selesai baca sampai bab terakhir update ...
2025-10-24 09:53:34
1
1
Chaca Aisyah
Chaca Aisyah
Ini lanjutan dari cerita Sua. Anli ini putri Sua yaaa, Miiiinnnnn ......
2025-10-17 03:39:19
1
1
Hany Noormalasari
Hany Noormalasari
Bagus ceritanya
2025-10-14 16:58:27
1
1
198 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status