LOGINHari Pernikahan adalah hari yang sangat di nantikan semua orang. Dimana seluruh kebahagian dan juga keceriaan termasuk di dalam nya. Bagaimana sebelum hari H, pengantin pria nya meninggalkan calon istrinya untuk selama nya. Rangkaian cinta, kasih sayang dan juga rancangan hidup telah pupus begitu saja. Bahkan yang tak dia sangka adalah kedua orang tuanya menjodohkannya langsung dengan orang yang ia benci sedari SMA sampai sekarang. "AKU ENGGA MAU! Walaupun Asher udah engga ada lagi, Aku tetap engga mau nikah sama siapapun itu!" "Kamu harus menerimanya, Zoe Callysta!"
View More"SAH"
Satu kata yang sakral membuat semuanya bahagia kecuali seorang gadis sang pengantin. Ada perasaan kosong, kecewa dan juga kesedihan yang tidak bisa dia utarakan sekarang ini. Dia melihat semuanya bahagia, kedua orang tuanya, mertuanya dan juga....suaminya. "Zoe sekarang kamu sudah menikah dan juga yang akan menjagamu bukan ayah lagi melainkan suamimu ini," ujar sang papa Adrian. Zoe hanya bisa diam dan diam memperhatikan semuanya. Dirinya masih terkejut dan juga tidak menyangka alur kehidupannya seperti ini sekarang. Dulu dia sangatlah menantikan hari ini, bahkan tidak pernah sekalipun dia melupakan hari ini. Tapi keadaan sekarang sangatlah berbeda dengan yang dulu. Mama Siska, menghampiri anaknya lalu berbisik, "Zoe, mulai sekarang kamu harus hormati Kenzo. Dia itu suami kamu. Mama engga minta kamu melupakan Asher, tapi setidaknya kamu menghormati suami kamu." Mama Siska sangat tau bagaimana sikap anaknya, makanya wanita itu memberikan kata - kata nasihat untuknya. Zoe ingin memprotes, tapi mama Siska langsung meletakan jari telunjuk di bibirnya. "Mama engga perlu kamu bicara, tapi mama mau kamu harus membuktikannya." Kedua orang tua Kenzo datang menghampirinya untuk mengucapkan selamat, "Zoe, selamat ya atas pernikahannya. Si Kenzo itu memang anak yang bandel tapi dia sebenarnya baik kok. Akur - akur kalian ya?" "Apa sih ma, aku engga bandel ya," jawab Kenzo yang tiba - tiba nimbrung, ia memegang sebelah tangan istrinya, "Lihat nih, kami akur - akur aja. Tenang aja di rumah engga ada yang recokin kalian lagi." Zoe menghentakkan sedikit kasar agar terlepas genggaman itu. Tubuh Zoe tidak merespon pelukan pasangan paruh baya itu di saat mereka memeluk nya. Sejujurnya dia juga sulit menerima keadaan, apalagi yang dia menikah dengan teman kampus nya yang sudah menjadi musuh bebuyutannya semenjak SMA. Ketengilannya dan juga kebandelannya, Zoe sangatlah hafal. *** Tamu undangan telah berpulangan ke rumah masing - masing, kedua keluarga menyuruh kedua pasutri itu untuk istirahat agar tidak kelelahan. Gadis itu menghembuskan nafas beratnya seraya menatap ke depan ke arah cermin. Baju pernikahan, dekorasi, dan juga tanggalnya menjadi impian untuk pernikahannya. Dan ya sekarang ini seharusnya menjadi pernikahan bahagianya bersama calon suaminya, tapi hal yang menyesakan tiba - tiba terjadi. Kenzo keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya. Dia menghampiri istrinya di saat melihat istrinya melamun di depan cermin dan ia berdiri tepat di belakangnya. "Kamu perlu bantuan?" ujarnya membuang kecanggungannya. Zoe menatap pria itu dari cermin, "Lo tau persis kejadiannya semalam. Sampai - sampai keluarga menikahkan kita. Jadi gue harap lo engga terlalu serius dengan pernikahan ini." Zoe membalikan tubuhnya menatap ke arah Kenzo, "Dan juga gue cuman cinta sama Asher. Sampai kapanpun itu dia ngga bisa gue lupakan, meskipun dia udah pergi jauh." Kenzo terdiam menatap dalam gadis yang sekarang ini telah sah menjadi istrinya, "Aku tau. Tapi aku harap pas di depan keluarga, kita dekat seperti suami istri beneran." Zoe mengangguk setuju. Dia hampir lupa sekarang, dengan segera ia mencari kertas itu di dalam laci nya dan ketemu. Lalu ia menyerahkannya pada Kenzo, "Gue engga mau lo terkekang sama pernikahan ini. Lo engga perlu kasihani gue karena kejadian semalam, jadi setelah 6 bulan kita akhiri drama ini." Mata kenzo membaca kata perkata tulisan di dalam kertas yang di genggamnya dan yang paling di rugikan di sini adalah gadis itu yang akan berstatus janda. Kenzo menyerahkan kembali kertas itu pada Zoe, sedangkan gadis itu merasa heran kenapa pria itu tidak menandatanginya. "Ken, kenapa lo engga tanda tangan?" Kenzo semakin mendekat ke arah Zoe yang sekarang ini adalah tanggung jawab nya, "Aku engga mau tanda tangan dan juga aku engga perlu perjanjian seperti itu" tegas nya sebelum pergi berlalu. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya, matanya menatap tak suka punggung itu yang mulai menjauh. Kenapa laki - laki itu seakan merasa tersakiti di sini. Padahal seharusnya dia menolak pernikahan ini dengan tegas, kalau memang dia benci dengan pernikahan ini. Zoe membenci semuanya termasuk.......suaminya kenzo Albern.Siang merambat pelan di pemakaman itu, seperti enggan mengusik kesunyian yang sedang dipeluk Kenzo. Angin menggerakkan kelopak bunga di atas tanah yang masih lembap. Nama di nisan itu tak pernah berubah, tapi setiap kali ia membacanya, rasanya selalu berbeda kadang seperti luka lama yang mengering, kadang seperti pisau yang baru diasah. Kenzo mengusap wajahnya, menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia tak menunggu sampai dadanya benar-benar tenang. Ada hal-hal yang lebih aman ditinggalkan setengah selesai seperti tangis, seperti doa yang terlalu jujur. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi, membawa beban yang tak ia ceritakan pada siapa pun. *** Zoe menghabiskan sore dengan membenahi catatan. Ia memindahkan deadline, menandai risiko, dan menyusun ulang prioritas. Kepalanya jernih, tangannya sigap. Beginilah caranya bertahan: fokus. Ia menolak membiarkan ruang kosong di pikirannya diisi hal-hal yang tak produktif. Namun menjelang magrib, saat cahaya meredup dan rumah kembali suny
Malam itu Zoe tidak benar-benar tidur lama. Pagi datang dengan kepala berat dan dada yang masih sesak, tapi pikirannya sudah lebih jernih. Ia bangun lebih awal, menyeduh kopi, lalu membuka laptop di meja makan. Angka-angka, jadwal, dan sisa kontrak klien memenuhi layar. Zosta belum mati belum. Zoe hari ini memastikan kemajuan Zosta hanya di rumah saja, dan dia juga menghindari sesuatu yang tak ingin terjadi seperti sebelumnya. Ketukan pelan di pintu terdengar sekitar satu jam kemudian. Kenzo berdiri di luar, kali ini rapi, tanpa hujan, membawa map tipis. Tidak ada basa-basi. Ia masuk setelah Zoe menggeser pintu sedikit, lalu langsung meletakkan map di meja. “Itu draft kerja sama. Timeline, anggaran, dan exposure media,” katanya singkat. Zoe mengangguk, membuka map, membaca. Matanya bergerak cepat. Ini masuk akal. Terlalu masuk akal untuk ditolak begitu saja. Kampanye amal otomotif, wajah publik yang positif, dan sorotan media yang terkontrol. Bukan penyelamat ajaib, tapi cukup
“Bu Zoe! Investor utama sudah di ruang meeting!” seru Tania tergesa, napasnya tersengal. Zoe berbalik pelan. “Semua sudah datang?” Tania menunduk. “Sebagian, Bu. Tapi mereka… sepertinya tidak datang untuk bicara baik-baik.” Zoe menghela napas panjang. “Baik. Siapkan proyektor, saya akan ke sana.” Ia menegakkan bahu, dan melangkah keluar dengan langkah yang tegas. Langkah sepatunya terdengar mantap di lantai marmer, menggema di koridor panjang. Begitu pintu ruang meeting terbuka, ruangan langsung hening. Tiga investor utama Zosta duduk di sana wajah mereka tegang, beberapa dengan tangan terlipat, sebagian menatap tajam ke arah Zoe. Suasana terasa seperti ruang sidang, bukan rapat bisnis. “Selamat siang.” Suara Zoe tenang, meski nadanya sedikit serak. Pak Raymond, investor tertua, menatap tajam. “Ini bukan masalah sepele, Bu Zoe. Tapi reputasi perusahaan ini itu masalah besar.” Zoe berjalan ke depan meja, meletakkan laptop, menatap mereka satu per satu. “Saya tahu isu
Pagi itu matahari terbit terlalu lambat, seolah enggan menampakkan diri di langit yang muram. Zoe menatap pantulan dirinya di dinding kaca besar kantor Zosta Wedding Organizer, perusahaannya yang dulu selalu penuh tawa, kini sepi bagai ruang rawat luka. Bias cahaya matahari menembus tirai, jatuh di wajahnya yang terlihat tegar namun letih. Di tangan kirinya, cangkir kopi sudah dingin sejak satu jam lalu. Di tangan kanan, ponsel yang terus bergetar tak henti. Notifikasi demi notifikasi masuk dari portal berita, media gosip, sampai pesan pribadi yang tak berani ia buka. “Calon Suami Meninggal, CEO Zosta Diduga Penyebabnya?” “Asher Hartono Tewas Karena Tantangan Tunangannya Sendiri?” “Tragedi Cinta di Balik Janur Gugur.” Zoe menggigit bibirnya, menahan gemetar di ujung jari. Ia menatap tajam layar ponsel itu, lalu mematikannya. Suara detik jam dinding terasa memekakkan di ruang kosong. “Biarkan mereka bicara…” gumamnya lirih, suaranya serak tapi dingin. “Gue nggak akan sembu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.