LOGINPagi di rumah sakit, nampak Nyonya Mirasih, Nyonya Rindu, Ibunda Ayu,yang tengah mengupas apel untuk anakku.
"Yu, sebenarnya Kael kemana? Istri masuk rumah sakit kok nggak ditungguin?" ucap Bu Rindu dengan wajah kesal. Bu Mirasih yang tengah duduk di sofa itu mulai membuka obrolan. "Kael sudah gila! Dia sudah lupa sama istri sendiri. Memalukan keluarga Devgard saja." "Mbak, harusnya kamu bilangin anakmu. Ayu ini istri sah. Istri pertama. Lagian kenapa harus menikah lagi. Sakit hati saya, Mba Mira." "Sudah... sudah...." ucap Ayu sambil memijat pelipisnya. Bukannya tenang, kedua wanita paruh baya itu justru semakin memperkeruh suasana. "Sudah... sudah bagaimana, Yu. Mamah nggak terima. Sampai kapanpun aku nggak pernah terima kalau kamu diduakan oleh Kael." Bu Rindu menyuapi satu siung apel ke dalam mulut Ayu. "Kamu jangan berdiam diri, Yu. Kamu harus bertindak. Pokoknya, usir wanita itu dari hidup Kael. Buat Kael membenci Nuna." Nyonya Mirasih setuju. Ia langsung berdiri dan mendekati Ayu di brankar. "Mamahmu benar, Yu. Pokoknya kita harus cari berbagai cara untuk membuat Nuna pergi. Buat Kael benci Nuna. Kael paling tidak suka dengan penghianatan!" uhuk... uhuk... Tiba-tiba saja Ayu terdesak buah apel yang sedang ia kunyah. "Minum, Yu...." titah Bu Rindu dengan panik. Ayu menepuk-nepuk dadanya. "Kamu nggak apa-apa, Yu?" ucap Nyonya Mirasih yang nampak khawatir. "Aku nggak apa-apa, Mah." "Hati-hati dong makannya, Yu," imbuh Bu Rindu. Waktu terus berlalu. Jam di dinding ruang Bugenvil itu menunjukkan pukul sembilan lebih lima menit. Nyonya Mirasih hendak pamit pergi. Namun sebuah ketukan pintu ruangan terketuk menarik atensinya. "Siapa dia, Yu?" Pria jangkung dengan bahu lebar berdiri di depan pintu. Selang beberapa menit pria yang mengenakan jas hitam itu masuk dengan membawakan bulet bunga mawar yang terangkai indah. Bu Rindu dan Nyonya Mirasih terus menatap pria itu yang semakin mendekat. "Pagi, Ayu," ucapnya. Dia adalah Sandi. Rekan bisnis, Kael. Sekaligus pria yang di curigai menjadi selingkuhan Ayu. Sandi melempar senyuman pada keduanya. Dan Nyonya Mirasih membalasnya dengan senyuman hangat. "Nak Sandi?" ucapnya. Matanya menyipit. Sepertinya Nyonya Mirasih tidak begitu ingat dengan teman Kael ini. Sandi menyodorkan tangannya. "Ya, Saya Sandi,Nyonya Mirasih. Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Sandi. "Oh ya. Kamu ini teman Kael 'kan?" "Iya. Kita sudah cukup berteman lama. Saya dengar Bu Ayu masuk ke rumah sakit. Jadi saya mampir ke sini." "Oh ya?" Nyonya Mirasih menoleh ke arah menantunya. Wajah Ayu terlihat begitu tegang. Terpaksa ia menampilkan senyumnya. "Iya, Mah. Itu Sandi teman kerja Mas Kael." "Terima kasih, Sandi. Kamu memang anak yang baik. Terima kasih juga sudah menjenguk Ayu. Kalau Kael ada di sini, pasti dia ngobrol banyak denganmu." "Iya, Nyonya Mirasih." "Ya sudah. Silahkan kalian ngobrol. Aku pulang dulu. Mas Devgard sudah menungguku di rumah." "Baik, Nyonya. Hati hati di jalan." "Aku juga ikut, Mbak." "Mamah mau kemana?" "Mamah mau nyari kopi dulu, Yu. Silahkan kalian ngobrol." Suasana ruangan mendadak sunyi setelah mereka pergi. Yang ada hanya Ayu dan Sandi. "Apa yang kamu lakukan di sini, Sandi? Kenapa kamu datang?" desis Ayu dengan garis rahang yang mengeras. Sorot matanya menajam. Sepertinya Ayu nampak tidak suka dengan kedatangan Sandi untuk menjenguknya. Sandi tersenyum penuh makna. Pria itu menaruh buket di atas meja begitu saja. "Kenapa kamu cemberut, Ayu? Harusnya kamu senang karena Aku sudah datang ke sini menjenguk kamu dan anak kita!" mendengar kata 'anak kita' telinga Ayu terasa panas. "Mana suamimu? Dia hanya mementingkan istri barunya." "Tutup mulutmu, Sandi. Aku nggak ingin melihat kamu ada di sini!" Sandi semakin mengikis jarak di antara mereka. "Kamu harus hati-hati menjaga anak kita, Yu. Jangan pernah menyakiti dia." "STOP! Hentikan rancauan busukmu, Sandi. Aku nggak butuh kamu. Pergi sekarang dari sini!" seru Ayu dengan nada yang tinggi. "Jangan keras-keras Ayu. " Suara Sandi pelan, namun terdengar menakutkan. "Kenapa Aku nggak boleh ke sini? Kamu takut, jika Kael mengetahui hubungan kita?" Sandi tersenyum remah. Tangannya meraih jemari Ayu, namun wanita itu buru-buru untuk melepaskannya. "Bukan saatnya untuk bercanda, Sandi." Tatapan Ayu begitu dalam dan syarat akan kebencian. "Jangan sampai berani datang menemuiku." "Kamu mengancam?" "Akhiri hubungan ini, Sandi." Sandi menggeleng pelan. "Kamu ingin mengakhiri hubungan ini, setelah kamu tarik ulur perasanku, Yu? Aku rela diam. Aku rela menjadi tempat curahanmu di saat kamu terpuruk. Dan Aku rela...." tatapan Sandi berpindah pada perut Ayu yang masih rata. "Aku rela jika Kael menganggap ini anaknya. Tapi kamu justru membuang Aku begitu saja." "Terus apa maumu, Sandi? Aku nggak mungkin melepas Kael." Kael mencekeram lengan Ayu dengan kasar. Sorot matanya mengunci tatapan Ayu dalam-dalam. "Kamu nggak bisa pergi dari hidupku begitu saja, Ayu." bersambung...."Apa kamu baik-baik saja di sini?" Nuna tersenyum tenang khasnya. "Aku baik-baik saja, Om.""Kamu bisa ubah panggilanmu sekarang, Nuna.""Emmm..." Nuna terlihat canggung. "Mas... Emmm.. Mas Kael?" salah satu alis Nuna naik ke atas. Ada senyum tersembunyi di balik wajah Kael. Pria itu masih berdiri di teras. Menatap sosok istri kedua dari ujung kaki hingga rambutnya. Nuna terlihat baik-baik saja. Bahkan dari kacamata yang ia lihat, gadis yang masih berusia dua puluh tahunan itu terlihat tampil lebih cantik. "Mas kesini kenapa nggak kasih kabar dulu?""Apa perlu aku memberitahumu? Aku bisa datang kapan saja semauku. Bahkan sebaliknya, Nuna."Nuna menaikkan bahunya. "Ya, aku tahu itu.""Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Kael dengan serius. "Baik, Mas."Kael berjalan lebih dulu masuk ke dalam perumahan mewah di kota Alpha itu. Semua interiornya adalah pilihan Nuna. Tidak buruk, bahkan terlihat elegan. Mereka duduk di ruang tengah, di sana ada lukisan yang baru
"Mas kamu mau kemana?" Kael berhenti sejenak. Sopirnya, Pak Handi membawakan koper berukuran kecil miliknya ke dalam mobil yang terparkir di halaman depan. "Hari ke empat dan lima,enam, aku ke rumah Nuna."Tangan Ayu mengepal dikedua sisi tubuhnya. Ia tak bisa protes apa yang sudah menjadi keputusan suaminya. Meskipun dalam hatinya ia merasa marah dan kecewa. "Oh ya, aku lupa. Kapan kamu akan pulang, Mas? Bukannya pekerjaanmu di sini, dan rumah Nuna ada di kota Alpha akan mengganggu waktumu?"Kael tersenyum dingin. "Aku sudah atur semuanya. Mungkin aku akan membuka cabang di kota Alpha. Ini baru rencana. Ya seperti yang kamu katakan, bolak balik dari sini ke rumah Nuna pasti sangat lelah."Mendengar ucapan Kael yang begitu tenang membuat genggaman tangan Ayu semakin mengepal erat. "A-Apa? Kamu akan membuat kantor cabang di sana?" Wajah Ayu sudah panik. "Iya. Ada yang salah?"Kael menjeda kalimatnya sejenak. Lalu menatap Ayu beberapa detik. "Aku bisa melakukan apa saja yang aku m
Layar ponsel di tangan Kael menyala menampilkan notifikasi pesan singkat. Pengirimnya adalah Dokter Bayu—spesialis andrologi terkemuka yang menangani serangkaian pemeriksaan medis terkait kesuburan pria.[Pak Kael, hasil dari lab sudah keluar. Saya harap Pak Kael bisa menemui saya siang ini. Ada hal yang ingin saya katakan.]Seketika, udara di dalam kabin mobil terasa menipis. Pesan singkat itu tidak memberikan vonis secara langsung, namun cara penyampaiannya justru menyiksa batin Kael. Istilah medis mengenai kesuburan pria yang kerap menguji apakah seorang laki-laki memiliki kualitas sp3rma yang memadai untuk membuahi—berputar liar di kepalanya. Secara ilmiah, infertilitas pria dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan produksi sperma (seperti varikokel atau ketidakseimbangan hormon), penyumbatan saluran sperma, hingga faktor genetik dan gaya hidup.(sumber : google)Jika hasil laboratorium nanti menyatakan dirinya mandul, maka segalanya menjadi terang benderang. Ket
Hari ini hari yang dinanti oleh Aluna Diandra. Meneruskan kuliah yang sempat tertunda. Supir turun membuka pintu mobil SUV Hitam di depan gerbang Universitas Alpha. "Silahkan, Nona.""Terima kasih, Pak."Nuna melempar senyum pada Pak Dani, supir pribadi Kael. Pak Dani membungkuk. "Sama-sama, Nona."Kaki jenjang itu berjalan memasuki area kampus bergengsi di kota Alpha. Tidak sembarang orang-orang yang bisa masuk ke dalam universitas tersebut. Hanya orang-orang beruntung dan mempunyai koneksi saja. Dan Nuna, salah satu di dalamnya. Semua mata tertuju pada gadis bermata hazel itu. Tidak dipungkiri, Nuna memang cantik. Wajahnya terlihat tenang. "Aku nggak perduli dengan penilaian orang. Bukan itu yang aku cari di sini. Aku hanya ingin memanfaatkan fasilitasku sebagai istri kedua Om Kael," batinnya. "Hidupku sudah cukup pedih. Dan aku nggak ingin terus menjadi bodoh," imbuhnya. Ia terus berjalan menyusuri kampus Alpha. Kampus yang masih terasa asing untuknya. Ya, tujuan Nuna hanya
"Om, tunggu," ucap Nuna menghentikan langkah Kael. "Om, Kondisi Mba Ayu masih lemah. Kenapa Om pergi begitu saja." Sorot mata Kael tajam, menyimpan marah yang hampir saja meledak. "Kamu tahu, pria yang berpapasan denganmu di lobby?" Nuna seketika mengingat. "Ya.." "Dia sahabatku," balas Kael. "Terus kenapa dengan dia? Apa hubungannya dengan Mba Ayu?" Tatapan tajam Kael melesat tepat pada Nara. Seluruh bulu kuduknya merinding. "Kamu polos atau memang bodoh, Nara?" Lalu Nunamengernyit. "Maksud Om Kael... Pria itu..." "Mereka sudah berselingkuh sejak lama. Ayu merahasiakan semua ini dariku. Dia pikir aku tidak tahu apa-apa." Nuna menelan ludahnya. "Jadi... Ini alasan Om menikahi aku?" Kael menghela nafasnya. "Aku ingin membalas dendamku pada Ayu." Memang bodoh. Kenapa saat mendengar alasan Kael menikahinya karena balas dendam pada istrinya, justru Nuna merasa sakit hati. Bukannya ini bagus. Tapi perlakuan Kael padanya memang tidak terlalu buruk. Tidak s
Langkah Kael terhenti persis di ambang pintu. Tatapan matanya yang dingin sempat mencermati gesture Ayu—penuh dengan intrik dan kebencian yang terang-terangan diarahkan pada wanita di sampingnya. Di sisi Kael, Nuna mendongak pelan. Ada binar ketakutan dan ketidaknyamanan yang terpancar jelas dari manik matanya. "A-aku..." cicit Nuna, suaranya tercekat di tenggorokan. "Aku yang menyuruhnya datang ke sini," potong Kael cepat. Suara baritonnya memotong udara, menyisakan gema tegas yang seketika membungkam Ayu maupun Bu Rindu. Ayu mendesis sinis. "Lain kali, nggak usah bawa gundikmu ini, Mas. Aku nggak sudi melihat dia ada di sini!" Kael langsung menatap Ayu dengan sorot mata yang tajam. "Jangan sebut Nuna dengan sebutan yang tak pantas itu, Ayu! Apa kamu pikir kamu lebih baik darinya?" Ayu tersenyum pelik. "Kamu selalu membela dia di depanku, Mas. Kamu lupa semuanya? Semua tentang kita? " Kael berdehem pelan. Ia menyusupkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menampilkan gestu







